
"Akulah yang memilihmu dan memberkatimu untuk memimpin umat manusia menuju era baru, ingat?" Sosok misterius itu mengingatkan Shen Zhu.
"Hmh!" Shen Zhu mengangguk dengan yakin.
"Sekarang kau sudah terhubung dengan ruang warisan, kau bisa keluar-masuk ruangan ini sesuka hati."
"Ruang warisan?" Shen Zhu tidak mengerti.
"Ini adalah ruang dimensi dalam permata yang terdapat pada pedangmu, atau cincinmu sekarang. Disebut ruang warisan karena hanya orang yang mewarisi darah Tuan yang bisa masuk ke sini." sosok itu memberitahu.
"Darah Tuan?" Shen Zhu bertanya lagi.
"Setetes darahmu setara dengan Materai Tuan."
"Tuan siapa?"
"Tentu saja pemilik asli pedang ini," jawab sosok misterius itu sedikit kesal.
"Aku mengerti," kata Shen Zhu setengah menggumam. Lalu tertunduk dan mengerutkan dahi. Berpikir keras.
Shen Zhu tak sadar permata di pedangnya terkena cipratan darahnya sebelum ia jatuh pingsan. Itulah yang menghubungkannya dengan ruang warisan ini. Karena hanya dengan percikan darah baru bisa dibuktikan apakah ia mewarisi darah pemilik asli pedang ini.
Dengan kata lain, pemilik pedang karatan ini sebetulnya adalah leluhur Shen Zhu.
"Lihatlah semua manual ini," ia melayangkan sebelah tangannya yang hanya berupa asap ke arah deretan rak yang dipenuhi buku-buku tebal. "Seluruh ajaran dari semua aliran seni beladiri ada di sini. Kau harus mempelajarinya tahap demi tahap."
"Mustahil!" tukas Shen Zhu. "Setiap murid hanya boleh berguru pada satu orang, atau aku tak akan diakui. Mana boleh aku mempelajari semuanya?"
"Diakui?" Sosok misterius yang mengaku sebagai roh pedang itu tertawa. "Menurutmu… jika kau bisa menyapu satu benua hanya dalam satu tebasan pedang, apa kau masih butuh pengakuan?"
Shen Zhu mengerjap dan terkesiap.
"Seorang dewa tak butuh pengakuan," tutur sosok misterius itu. "Manusialah yang butuh pengakuan dewa. Tanpa pengakuan dewa, manusia tak bisa berbuat apa-apa. Karunia bakat, anugerah pengetahuan, kekuatan spiritual, semuanya berasal dari dewa."
Shen Zhu mengangguk tanda mengerti. Tapi sebetulnya masih belum percaya.
"Lagi pula… kau sendiri yang mengumpulkan semua manual itu." Sosok itu menambahkan.
"Aku?" Shen Zhu memekik terkejut sambil menunjuk hidungnya sendiri.
"Lupakan saja!" Sosok itu mengibaskan sebelah tangannya. "Kau tidak menyadarinya. Sekarang, cobalah arahkan tanganmu ke samping, salurkan sedikit tenaga dalam ke telapak tangan dan bayangkan kau sedang menghunus pedangmu!" instruksinya kemudian.
Shen Zhu masih terlihat ragu, tapi kemudian mengayunkan tangannya ke samping, dan seketika pedangnya yang karatan itu berada di dalam genggamannya. "Whoa—" pekiknya takjub.
"Sekarang lakukan sebaliknya," instruksi sosok itu lagi. "Bayangkan kau sedang menyarungkannya."
Shen Zhu mengikutinya dan seketika pedang itu hilang kembali.
"Selanjutnya, kau tak perlu menenteng pedang ke mana-mana. Cukup kenakan cincin itu saja." Sosok itu menasihati.
"Baiklah!" Shen Zhu membungkuk ke arah sosok itu sambil menautkan kedua tangannya di depan wajah. "Terima kasih!"
"Jangan membungkuk!" sergah sosok itu. "Karena akulah yang seharusnya membungkuk." Lalu sosok itu membungkuk. "Tuan," hormatnya kemudian. "Sekarang pergilah, ini adalah terakhir kalinya Tuan akan melihatku. Jika Tuan melihatku lagi… artinya Tuan sudah mati!"
"Apa?" Shen Zhu tergagap-gagap.
"Aku hanya roh," kata sosok itu lagi. "Hanya roh yang bisa melihat roh!"
__ADS_1
Lalu tiba-tiba sosok itu berputar dan kembali menjadi asap yang bergulung-gulung.
Shen Zhu terhempas tersapu pusaran gelap itu.
Murid-murid senior Bao Yu membeku, menatap tubuh Shen Zhu yang duduk terpuruk di kaki tebing tanpa berkedip. Bahkan tidak ingat bernapas. Seluruh warna terkuras dari wajah mereka.
Bao Yu menelan ludah dan terkesiap. Diam-diam khawatir setengah mati. Apa dia benar-benar mati? pikirnya. Dia tak mungkin mati semudah ini, kan?
"Adik!" salah satu muridnya mendesis dengan suara tercekat.
Sejurus kemudian, mereka semua sudah menghambur ke arah Shen Zhu dan berebut meraup tubuhnya.
Mata Bao Yu berkaca-kaca. Hatinya serasa teriris. Tiba-tiba merasa begitu sedih.
Apa aku keliru menanganinya?
Atau keliru mengartikan kata-kata Jyang Yue?
Murid-murid senior itu menggotong Shen Zhu ke tempat yang lebih lapang, membaringkan Shen Zhu di atas rerumputan.
Wajahnya terlihat pucat dan dingin.
Benar-benar mati, batin Bao Yu terpukul. "Shen Zhu," desisnya sambil mendekat ke arah kerumunan, lalu berjongkok dan merenggut pergelangan tangan Shen Zhu untuk mengecek denyut nadinya.
Murid-murid lainnya mengerjap dan saling bertukar pandang. Tidak mengerti apa yang dipikirkan guru mereka.
Dia begitu kejam beberapa saat yang lalu, pikir mereka.
Sesaat kemudian dia terlihat begitu cemas.
Begitu sedih.
Murid-muridnya terlihat ragu.
"Cepatlah!" desak Bao Yu setengah menghardik.
Murid-muridnya tersentak dan dua orang di antaranya segera memegangi Shen Zhu.
Bao Yu duduk bersila di belakang anak laki-laki itu, menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya di depan dada, mencoba memusatkan energi spiritual ke telapak tangannya untuk membuat manna pemulihan dan menyalurkannya ke tubuh Shen Zhu melalui punggungnya.
Sebuah bola cahaya berwarna putih kebiruan yang lebih dikenal dalam istilah manna itu tercipta di telapak tangannya. Tapi lalu tiba-tiba menguap meninggalkan kepulan asap berwarna hitam.
Bao Yu memekik tertahan. Dahinya berkerut-kerut. Matanya terpicing.
Murid-muridnya ikut memekik.
Sekujur tubuh Bao Yu mengeluarkan asap tipis berwarna gelap melalui pori-pori kulitnya.
Apa yang terjadi? pikir Bao Yu gusar.
Lalu tiba-tiba semua orang mengalami hal yang sama.
Murid-murid Bao Yu tersentak memeriksa dirinya masing-masing.
Semua orang mengepulkan asap tipis berwarna gelap.
Asap gelap itu berangsur-angsur menjalar membentuk sulur yang kemudian meresap ke dalam tubuh Shen Zhu.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" pekik semua orang bernada gusar.
Tubuh Shen Zhu tiba-tiba terangkat hingga berdiri. Tapi kepalanya masih tertunduk lemas dan dengan kedua bahu menggantung lemas di sisi tubuhnya. Kedua tangannya terkulai.
Shen Zhu belum sadarkan diri!
Tapi tubuhnya tiba-tiba bangkit berdiri dan kedua kakinya mengambang di atas permukaan tanah. Seperti orang yang sedang digantung.
Semua orang menatapnya dengan campuran rasa takjub dan ngeri.
Tubuh Shen Zhu melayang semakin tinggi.
Sulur-sulur kabut berdatangan dari berbagai arah, semakin lama semakin banyak. Kemudian semakin cepat.
Suasana berubah mendung. Langit tiba-tiba menjadi gelap.
Semua orang di berbagai tempat terperangah melihat fenomena itu. Kemudian memekik melihat orang lain, dan mengamati dirinya sendiri. Semua orang, di berbagai penjuru tempat, mengeluarkan asap hitam, lalu secara serentak asap hitam itu menjalar ke satu titik yang sama---Shen Zhu.
Bao Yu tertunduk mengamati kedua tangannya dengan mata dan mulut membulat. Tiba-tiba merasa segala kotoran terhisap keluar dari tubuhnya. Semua hambatan seolah terurai di setiap titik sarafnya.
Sebenarnya apa yang terjadi? Bao Yu bertanya-tanya dalam hatinya.
Dia menyerap semua aura gelap!
Bao Yu bisa merasakan penyakit lamanya sembuh dalam sekejap. Penyakit rahasia yang disembunyikan sekte. Bottleneck yang membuatnya dikucilkan karena tak dapat menerobos tingkat.
Sekarang ia bisa merasakannya. Aku sudah menerobos! batinnya takjub.
"Lihat!" Murid-muridnya berseru tak kalah takjub.
Luka di sekujur tubuh mereka yang didapat saat terpelanting akibat hentakan kaki Bao Yu mendadak sembuh dan hilang seketika.
Perguruan sekte pedang di kaki bukit itu bergemuruh oleh pekikan takjub.
Semua orang merasakan hal yang sama.
Semua kotoran dalam tubuh, semua sumbatan, seakan menguap secara ajaib. Tapi mereka tak tahu apa yang terjadi.
Hanya melihat kegelapan itu menuju satu titik di puncak gunung.
Pemilik perguruan itu mendongak menatap kegelapan misterius yang menarik semua pesakitan itu.
Ada apa di puncak bukit? pikirnya. Lalu memerintahkan beberapa orang untuk melihatnya.
Sejumlah murid senior terbaik terbang melesat ke puncak bukit itu.
Tubuh Shen Zhu masih terkulai tidak sadarkan diri. Melayang tinggi di tengah pusaran kabut gelap yang menggemuruh.
Lalu ketika sulur-sulur kabut itu menerjangnya secara serentak, tubuh Shen Zhu bergetar dan menegang kemudian menghentak-hentak.
Detik berikutnya, jeritan kesakitan melengking nyaring dari mulutnya. Membahana ke seluruh tempat seperti gemuruh halilintar.
Bersamaan dengan itu…
DUAAAAARRRR!
Ledakan cahaya berwarna-warni membuncah dari tubuhnya seperti aurora.
__ADS_1
Seketika langit kembali terang. Jauh lebih terang dari sebelumnya. Seluruh tempat disekelilingnya terlihat berkilauan seperti permata.