
"Selanjutnya!" Pemandu acara melanjutkan. "Elementalis Nomor Tujuh melawan Peramal Nomor Empat-delapan!"
Anio bertepuk tangan dengan semangat, menampakkan ekspresi senang dan antusias seorang anak kecil. "Akhirnya… aku bertemu lawan yang cantik!" serunya gembira. Lalu melayang ke lantai arena dengan payungnya sambil berdendang dan menari-nari. "Na na na na!"
Xie Ma melayang dan mendarat ringan dengan elegan.
"Kakak, kau sangat cantik!" puji Anio dengan riang sambil mengayun-ayunkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.
"Xiao Meimei," Xie Ma memperingatkan dengan nada membujuk. "Aku tidak akan bersikap lembut," katanya. "Sebaiknya kau berhati-hati!"
"Baik!" Anio menanggapi dengan antusias seperti anak kecil yang dijanjikan hadiah jika ia bersikap patuh. "Aku akan berhati-hati!" katanya sambil menelengkan kepalanya dan tersenyum imut.
"Pertarungan dimulai!" Pemandu acara memberi aba-aba.
Xie Ma menggerakkan jemari tangannya di sisi wajah dalam tarian singkat yang luwes. Tongkat sihirnya muncul dalam genggaman.
Anio melompat-lompat ke belakang seperti kelinci, kemudian menerbangkan payungnya seperti melepaskan lampion terbang.
Xie Ma mengayunkan tongkatnya dan melontarkan sejumlah kartu tarot transparan ke seberang arena.
Anio memutar-mutar tubuhnya seperti gangsing dengan pinggang meliuk-liuk lentur untuk menghindari semua kartu yang melesat ke arahnya mengincar titik-titik paling mematikan.
Xie Ma menjentikkan jarinya dan sejumlah kartu lainnya muncul dalam keadaan sudah tersusun membentuk kipas. Ketika ia melontarkannya, ukurannya membengkak sepuluh kali lipat, dan kipas itu membentang semakin lebar hingga membentuk lingkaran yang melesat ke arah Anio.
Pemanggil Kecil itu memantulkan tubuhnya ke udara dan menangkap gagang payungnya, lalu terbang berputar-putar di atas lingkaran yang tercipta dari kartu tarot Xie Ma.
Xie Ma memutar telunjuknya di sisi wajah, kemudian gambar kartunya menyembul keluar membentuk sosok transparan sesuai masing-masing gambar. Ada singa, kambing makara, banteng dan lain-lain. Semuanya keluar dari dalam kartu seperti ditarik dari air.
Anio memutar tubuhnya dalam gerakan salto, kemudian meluncur dengan kepala di bawah. Payungnya menyeruak menembus lingkaran sihir yang tercipta dari susunan kartu tarot itu dan meledakkannya.
DUAAAAARRRR!
Arena menggelegar dan berguncang, tersapu gemuruh angin dan badai cahaya.
Semua orang terperangah dengan takjub.
Xie Ma terpekik dengan ngeri. Teknik keduanya merupakan keterampilan ranah galaksi. Berapa sebenarnya kekuatan spiritual gadis kecil ini? pikirnya penasaran.
Gadis itu mendarat di lantai dengan posisi berlutut, permukaan lantai berkeredap dan menyala di bawah telapak tangannya yang bertumpu pada lantai.
Lalu sebuah lingkaran formasi sihir tercipta dalam sekejap.
__ADS_1
Gawat! batin Xie Ma sedikit panik. Ternyata dia menggunakan dua teknik sekaligus.
Payung mungilnya yang berenda berputar-putar di tengah lingkaran itu sementara Anio menarik bangkit tubuhnya dengan tarian ringan dengan satu tangan terangkat ke atas sementara tangan lainnya bergerak-gerak di sisi tubuhnya. Satu kakinya terangkat dan kaki lainnya berjingkat, lalu berputar-putar dengan bertopang hanya pada ujung jarinya. Seperti sedang menari balet.
Xie Ma mengerutkan keningnya. Gerakan ringan ini… memberikan tekanan yang sangat besar! batinnya sedikit kewalahan. Sebulir keringat menggelinding di pelipisnya.
Tak ingin ambil risiko, Xie Ma memutuskan untuk menggunakan teknik andalannya. Membelah diri dengan teknik dua belas zodiak.
Tapi ketika ia menghentakkan kakinya dalam sikap kuda-kuda, lantai di bawah kakinya tiba-tiba terkuak membentuk retakan besar.
Sebuah gerbang emas berbentuk sepasang sayap menyembul keluar dari lantai, tersangkut pada gagang payung berenda milik Anio.
Tapi bukan itu yang membuat Xie Ma gemetar.
Retakan di lantai itu terasa sangat familier.
Tiba-tiba saja Xie Ma terpuruk dan gemetar. Wajahnya memucat. "Iblis!" desisnya terengah-engah.
Anio terperangah seraya membekap mulutnya dengan jemari tangan.
"IBLIIIIIS!" jeritan Xie Ma melengking nyaring di antara gemuruh angin dan gemeretak lantai yang terkoyak.
Ketua Aliansi dan para pejabat kehormatan serentak berdiri dan menegang.
Sesuatu, seperti tentakel mirip belalai gajah melecut keluar dari dalam retakan lantai, kemudian menyusul tentakel lainnya.
"Ulat Tanah Hydra Tingkat Delapan!" pekik semua orang hampir bersamaan. Lalu semua orang berdiri serentak dengan gusar.
Detik berikutnya…
DUAAAAARRRR!
Gedung arena meledak dan semua orang tersapu hingga radius ratusan meter.
Pekik jerit kengerian membahana di sana-sini. Semua orang berteriak seperti orang gila, membuat dunia seakan kiamat.
Xie Ma dan Anio terpelanting dalam sentakan keras, jauh tinggi di atas puncak bangunan.
Gerbang gaib Anio menghilang. Payung mungilnya terombang-ambing di tengah kepulan asap yang membumbung tinggi.
Shen Zhu melesat ke arah kakaknya, tapi pada waktu bersamaan, seseorang menerjang dari arah lain, merenggut pinggang Xie Ma dan menangkap tubuhnya.
__ADS_1
Shen Zhu mengerjap dan terkesiap.
Ternyata Jyang Ryu.
Pemuda itu mengerling sekilas pada Shen Zhu dan mengangguk samar. Lalu terbang menjauh melarikan Xie Ma.
Shen Zhu tergagap sesaat, kemudian mengerjap dan memalingkan wajahnya ke arah Gadis Pemanggil yang menjerit dan meronta-ronta, tangan dan kakinya mengais-ngais, mencoba menangkap payungnya tapi hanya meraih udara kosong. Kekuatan spiritualnya sudah habis dan ia tak bisa lagi mengontrol payungnya.
Para ksatria berbaju besi, lengkap dengan helm tertutup, terbang menyeruak dari segala arah.
Shen Zhu mengayunkan sebelah tangannya ke samping dan menyentakkan jemarinya membentuk cakar. Lalu dalam sekejap seuntai rantai berwarna hitam melesat keluar dari telapak tangannya dan menyergap pinggang Anio.
Ryu terkesiap dan mengerling melewati bahunya. Rantai Petaka! batinnya seraya tersenyum miring.
Shen Zhu menyentakkan rantainya dan menarik Anio ke dalam rengkuhannya, kemudian membopong gadis itu menepi.
Guru Anio melayang menghampirinya dan mengambil alih tubuh Anio. "Terima kasih," katanya pada Shen Zhu.
Gadis Pemanggil itu masih menjerit-jerit. "Bukan aku yang melakukannya!" pekiknya terengah-engah. "Aku belum membuka gerbangnya! Bukan aku yang memanggilnya!"
"Shhhh! Shhhhh!" Gurunya menenangkan gadis itu dan melarikannya ke tempat aman.
Shen Zhu bergeming dengan alis bertautan. Melayang diam di udara, sementara semua orang di bawah berlarian ke sana-kemari dengan kalang-kabut, mencoba menjauh dari sosok raksasa bertentakel yang belum sepenuhnya merangkak keluar.
Para ksatria sudah mengepungnya di sekeliling.
Shen Zhu memutar tubuhnya ke belakang dan bergeming. Dari reaksi kakaknya, Shen Zhu akhirnya bisa menyimpulkan monster raksasa bertentakel itu adalah penyebab kehancuran desa mereka.
Monster ini tidak keluar dari Gerbang Gaib! pikir Shen Zhu. Tapi merangkak keluar dari dalam tanah.
Lantai arena itu tidak terkoyak oleh kemunculan Gerbang Gaib Nomor Tujuh.
Monster ini tinggal di bawah Markas Besar Aliansi!
Kalau begitu… sudah bisa dipastikan yang menghancurkan desa kami adalah monster yang sama. Shen Zhu menyimpulkan. Keberadaan monster ini jelas bukan suatu kebetulan!
"Amankan Kaisar!" Teriakan lantang itu menggema di udara.
Shen Zhu mengedar pandang ke sekeliling dan mendapati Ketua Aliansi sudah membentuk barikade yang siap tempur. Pria itu menunggangi kuda perak bersayap bersama para ksatria tingkat tinggi. Para ksatria di belakangnya juga menunggangi kuda perak bersayap. Kuda perak bersayap itu adalah binatang spiritual yang khusus dipelihara Aliansi Ksatria sebagai kendaraan militer.
Para ksatria yang menyerang di garda terdepan adalah kelompok prajurit yang rata-rata diambil dari aliran tinju.
__ADS_1