
"Menjalankan formasi besar hanya bisa dilakukan seratus tahun sekali," tutur tetua suci penjaga Tanah Perjanjian Darah. "Takutnya… manusia biasa tak bisa bertahan hidup selama itu."
"Itukah sebabnya Penjaga Harta Karun itu mengatakan kalau tidak segera keluar bisa terjebak selamanya di dimensi lain?" tanya Shen Zhu.
"Benar," jawab tetua suci. "Kecuali ksatria ranah galaksi tingkat tinggi, tak ada orang yang bisa melewati usia seratus tahun."
Bao Yu mengerling ke arah Shen Zhu dengan mata terpicing.
Shen Zhu tertegun dengan dahi berkerut-kerut. "Aku memang menemukannya sudah sekarat," gumamnya. "Tapi bukan karena usia. Seseorang membelenggunya di dalam lubang. Dia bahkan tak lebih tua dariku."
"Ini aneh!" gumam tetua suci sambil mengusap dagu dengan buku jarinya.
Shen Zhu bertukar pandang dengan gurunya.
"Anak Muda, terima kasih sudah memberitahuku hal ini!" Tetua suci menautkan kedua tangannya di depan wajah dan membungkuk sedikit. "Aku akan membicarakannya dengan para penjaga lain. Takutnya masalah ini tak sederhana."
"Merepotkan Tetua Suci!" Shen Zhu balas membungkuk.
"Ini memang tanggung jawabku!" tukas tetua suci sambil mengibaskan sebelah tangannya.
"Kalau begitu kami undur diri!" Bao Yu akhirnya berpamitan.
Tetua suci itu menanggapinya dengan anggukan singkat.
Bao Yu dan Shen Zhu akhirnya pulang ke perguruan.
Para tetua menyambut mereka dengan tatapan curiga dan penasaran.
Tapi ketika mereka melihat Shen Zhu melompat turun dari tunggangan Bao Yu, semuanya mengerang pelan.
Shen Zhu bergabung dengan Tiao dan yang lainnya.
Semua mata mengerling padanya.
Tetua Yun mendesah pendek dan menggeleng samar. "Sudah kuduga tak mungkin mendapat pengakuan monster di usia semuda ini!" gumamnya bernada kecewa.
Shen Zhu tersenyum kikuk sambil mengusap bagian belakang kepalanya. "Aku—" Shen Zhu tergagap dan mengerling sekilas pada Bao Yu.
Pria itu menanggapinya dengan anggukan samar.
Shen Zhu mendesah dan tertunduk. Rekan monster kecilnya melongokkan kepala dari balik bahunya.
Seisi ruangan serentak terpekik.
"Kucing hitam pembawa sial?!" geram Bao Yun dengan suara yang menggelegar. "Ranah galaksi hanya mampu menaklukkan sampah tak berguna ini? Apa kau sedang menghujat sekte?" hardiknya sambil mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya.
__ADS_1
Shen Zhu menjatuhkan dirinya di lantai dan berlutut.
Bao Yun melayang turun dari balkon seraya menghunus pedangnya dan mengayunkannya ke arah Shen Zhu.
SLAAAASSSH!
Bao Yu serentak melejit sambil melontarkan kipasnya, menangkis pedang Bao Yun.
"Apa kau masih ingin melindungi sampah ini?" Bao Yun meledak murka. Kemudian menerjang ke arah Shen Zhu sambil mengayunkan pedangnya lagi. Pedang dan sekujur tubuhnya menyala merah dan berkobar-kobar. "Datang dengan kekuatan spiritual lemah dan kondisi fisik yang payah. Sekarang kau juga masih ingin mempermalukan sekte dengan sampah pembawa sial!"
Bao Yu melontarkan energi cahaya berbentuk kubah untuk membentengi Shen Zhu.
"Kau berani memprovokasiku hanya demi melindungi pemberontak ini?" hardik Bao Yun pada Bao Yu. "Benar-benar cari mati!"
"Tetua!"
Kesembilan finalis peringkat atas serentak berlutut di depan Bao Yun.
Bao Yun menurunkan pedangnya dan mengetatkan rahang. Sekujur tubuh dan juga pedangnya masih menyala berkobar-kobar. Ia tertunduk dan mengedar pandang, meneliti wajah-wajah para finalis itu satu per satu.
"Mohon Tetua mempertimbangkan," pinta Tiao. "Rekan monster ksatria tak selalu berupa tunggangan!"
"Benar," sergah Bao Yun dengan marah. "Tapi bukan berarti boleh memilih sampah pembawa sial!"
Seisi aula membeku dalam kengerian. Semua mata serentak berpaling ke arah pintu.
Tiga pria tua berjubah putih dengan tudung kepala melayang turun di depan pintu aula yang terbuka.
Seketika pedang di tangan Bao Yun terlepas dan jatuh tercampak ke lantai.
"Tetua Suci!" Semua orang serentak berlutut ke arah pintu.
"Siapa yang berani mengatakan harta karun Tanah Perjanjian adalah sampah pembawa sial?" Salah satu dari tetua suci itu menggeram dengan suara menggemuruh.
"Harta karun Tanah Perjanjian?" semua orang menggumam gelisah.
Ketiga Tetua Suci itu mendarat di lantai aula.
Bao Yun menjatuhkan dirinya di depan ketiga tetua suci itu hingga tersungkur di lantai.
"Kalau Sekte Bao tak menginginkan pemuda ini…" gumam salah satu tetua suci dengan nada menantang. "Sekte Darah tak keberatan untuk menampungnya!"
Semua orang menahan napas. Para tetua sekte mengkerut bersamaan.
Siapa yang tidak tahu kekuasaan Sekte Darah di seluruh benua. Mereka tak pernah mengangkat murid kecuali jika orang itu benar-benar memiliki potensi.
__ADS_1
"Aku sungguh bodoh tak bisa menilai," sesal Bao Yun memohon-mohon.
"Jadi kau masih membutuhkannya atau tidak?" tantang tetua suci itu sekali lagi.
"Tentu, Tetua Suci!" jawab Bao Yun cepat-cepat. "Dia adalah satu-satunya murid dengan kekuatan spiritual tertinggi yang kami miliki. Mohon Tetua mengerti. Aku hanya tersulut emosi sesaat."
Semua orang mengerling ke arah Shen Zhu.
Shen Zhu hanya tertunduk dan menelan ludah. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Sudah seperti ini baru mengakuiku, batinnya getir.
Para tetua suci dari Klan Darah itu mengerling ke arah Shen Zhu. Lalu kembali menatap Bao Yun. "Aku datang untuk menjemputnya," kata salah satu dari mereka.
"Apa—" Bao Yun tersentak bersama seisi ruangan. Ia mengangkat wajahnya, mencoba memberanikan diri untuk menatap wajah para tetua suci itu.
Seisi ruangan menatap Shen Zhu dengan mata dan mulut membulat.
Bao Yu membungkuk ke arah para tetua suci itu dengan hormat tentara, "Dengan segala hormat, Tetua Suci," katanya dengan sopan. "Liu Shen Zhu adalah muridku. Mari bicarakan saja hal ini denganku."
"Kalau begitu, bicara di tempat lain saja!" kata pimpinan tetua suci. "Di sini terlalu... sempit," sindirnya sambil mengerling ke arah Bao Yun.
Bao Yun langsung tertunduk.
Bao Yu menggiring para tetua suci itu ke Asrama Tujuh, diikuti Shen Zhu dan murid-murid lainnya, sementara semua orang dibubarkan dari aula.
Setiap orang yang dilewati Shen Zhu mengerling ke arah kucing kecil yang bertengger di bahu pemuda itu.
"Harta karun Tanah Perjanjian," gumam beberapa orang bernada takjub..
Tanah Perjanjian dan Tanah Perjanjian Darah adalah dua tempat yang berbeda. Tanah Perjanjian adalah hutan monster dunia dewa. Sementara Tanah Perjanjian Darah adalah hutan pemeliharaan binatang spiritual milik Sekte Darah.
Bukit Perjanjian di Tanah Perjanjian Darah adalah pintu gerbang hutan monster dunia dewa untuk mengirim keluar binatang spiritual ke Tanah Perjanjian Darah. Dan Monster Dewa Penjaga Harta Karun itu perantara dua dunia.
"Kudengar Tanah Perjanjian itu berada di dunia atas." Beberapa orang yang lainnya berbisik-bisik.
"Bagaimana dia mendapatkannya?" bisik yang lain-lainnya lagi.
"Sebenarnya apa latar belakang anak ini?" gumam sejumlah murid.
"Sejujurnya… kami hanya ingin bicara dengan muridmu," salah satu tetua suci memberitahu Bao Yu setelah mereka berada cukup jauh dengan semua orang.
"Aku sudah tahu, Tetua Suci!" sahut Bao Yu sambil tersenyum tipis. "Terima kasih sudah membantuku memberi penjelasan."
"Wah! Kau masih muda, tapi sudah begitu bijaksana. Pengertianmu mengalahkan para tetua dari kaummu," puji salah satu tetua suci.
"Tetua Suci berlebihan," tukas Bao Yu merendah. Lalu berhenti di depan pintu Wisma Tamu Asrama Tujuh dan membungkuk seraya melayangkan sebelah tangannya, mempersilahkan mereka masuk.
__ADS_1