Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
76


__ADS_3

Hari kedua Babak Final Ujian Ksatria…


TRANG!


TRANG!


SLAAAASSSH!


SLAAAASSSH!


DUAAAAARRRR!


Lantai arena berdentum dan berkilat-kilat.


Dua sosok melesat-lesat ke sana kemari, memantul-mantul di antara badai cahaya dan ledakan logam yang berbenturan. Berkeredap dan berpindah-pindah tempat dalam sekejap seperti tali petir yang bertautan.


Keduanya sama-sama cepat.


Para penonton sampai tak rela berkedip. Tak ingin melewatkan satu detik pun.


Itu adalah pertarungan paling sengit selama Ujian Ksatria.


Tentu saja!


Itu adalah Shen Zhu!


Berhadapan dengan Shi Tan, Peserta Jalur Juara dari aliran zen. Pemuda berpakaian ninja dengan dua katana.


Setiap gerakan mereka menciptakan ledakan cahaya. Setiap ayunan pedang mereka meninggalkan hempasan angin kencang. Setiap jejak kaki mereka membuat arena berguncang.


"Karena pedangku sudah terhunus, sebaiknya kau jangan mengecewakanku!" geram Shen Zhu seraya menyapukan tendangan memutar ke tengkuk Shi Tan.


Shi Tan membungkuk sambil mengayunkan kedua pedangnya ke belakang.


SLAAAASSSH!


Angin kencang melecut dari ujung pedangnya, melontarkan energi cahaya berbentuk sabit yang terbang meliuk dan menerjang ke arah Shen Zhu dari sisi kiri dan kanannya.


Shen Zhu memantulkan tubuhnya dan bersalto untuk menghindari keduanya.


DUAAAAARRRR!


Kedua energi cahaya itu berbenturan dan meledak. Cahaya terang benderang membuncah dari ledakan itu.


Kedua peserta itu menghilang sesaat dari pandangan, kemudian muncul kembali seperti dua komet yang melesat dari dua arah berlawanan dengan warna berlainan.


Kemudian bertubrukan.


TRAAAAANG!


Shi Tan menyilangkan kedua pedangnya di depan wajah, sementara Shen Zhu mendorong kedua pedang itu dengan pedangnya.

__ADS_1


"Sebaliknya," gumam Shi Tan seraya balas mendorong. "Karena pedangmu sudah terhunus… sebaiknya berikan serangan yang berbobot!"


GLAAAAAAARRRR!


Benturan energi spiritual keduanya meledak tak terbendung.


Keduanya sama-sama terpental.


Lalu dengan cepat, keduanya segera menguasai diri dan berlari secepat kilat dari arah berlawanan, bersiap untuk kembali saling menerjang.


Shi Tan melambungkan tubuhnya seraya mengayunkan kedua pedangnya bersilangan. Seberkas cahaya berbentuk sabit bersilangan melesat ke arah Shen Zhu.


Shen Zhu melentingkan tubuhnya ke belakang seraya memegangi pedangnya di depan wajah dengan kedua tangan, kemudian mengayunkan ke atas.


DUAAAAARRRR!


Energi cahaya keduanya kembali berbenturan.


Para penonton mengerjap dan terkesiap.


Detik berikutnya, Shen Zhu sudah melejit melewati Shi Tan dengan gerakan meliuk, kemudian memutar ke belakang punggung Shi Tan seraya mendaratkan sikutnya di tengkuk ninja itu.


Shi Tan terhuyung sedikit, tapi tak sampai jatuh. Dengan cepat, ia memutar tubuhnya menghadap ke arah Shen Zhu, kemudian memutari pemuda itu dengan cara yang sama.


Lalu keduanya berputar-putar seperti gangsing, saling baku hantam dari jarak dekat.


Shi Tan mengayunkan sikutnya mengincar rusuk Shen Zhu.


Bersamaan dengan itu, Shen Zhu juga mengayunkan lututnya mengincar pinggang Shi Tan.


Tapi dengan cepat, Shi Tan juga berhasil menangkisnya dengan telapak tangan.


Tak lama kemudian, keduanya saling mendorong dengan pedang bertautan. Badai cahaya dan angin kencang berpusar mengelilingi keduanya.


Ledakan kembali membuncah dari telapak tangan keduanya dan lagi-lagi keduanya terpental ke dua arah yang berlawanan.


Keduanya mendarat di tepi arena berseberang-seberangan. Lalu sama-sama memasang kuda-kuda lagi.


Shi Tan melambungkan tubuhnya ke udara seraya menyilangkan kedua pedangnya di depan wajah, kemudian mengayunkannya ke belakang. Sebuah lingkaran formasi sihir tercipta dari kibasan keduanya dan mengendap turun ke telapak kakinya, membentuk lantai transparan sebagai tumpuan kakinya.


Shen Zhu menjatuhkan dirinya ke lantai dalam posisi berlutut, satu kakinya terlipat ke belakang, kaki lainnya tertekuk di depan dadanya. Satu tangannya bertumpu pada gagang pedangnya yang tertancap di lantai, tangan lainnya meninju antai. Lingkaran formasi sihir tercipta di lantai.


Para penonton terlihat makin bersemangat.


Akhirnya mulai terlihat seperti aliran zen! pikir semua orang.


Sejurus kemudian, keduanya sudah melayang dengan bertumpu pada lingkaran sihirnya masing-masing. Keduanya memasang kuda-kuda dengan pedang terhunus.


Shen Zhu memegangi pedangnya di depan wajah dengan kedua tangan seraya memejamkan matanya. Menyalurkan elemen api ke telapak tangan dan mengalirkannya ke ujung pedang.


Shi Tan merentangkan kedua tangannya ke samping dengan masing-masing pedang terjulur lurus di sisi tubuhnya. Kemudian mengayunkannya ke depan dan menyilangkannya di depan wajah.

__ADS_1


GROAAAAAAARRR!


Sepasang naga berlainan warna menggeliat dari balik punggungnya. Satunya berwarna emas, satunya lagi berwarna putih kebiruan. Lalu keduanya berpusar di sekeliling tubuhnya.


GLAAAAAARRRRRR!


Pedang Shen Zhu meledak memancarkan kobaran api setinggi lima meter dari ujung pedangnya seperti laser.


Sedetik kemudian, keduanya saling menyerang dari jarak jauh, melontarkan elemen masing-masing.


DUAAAAARRRR!


Arena menggelegar tersapu cahaya dan ledakan halilintar.


Ilusi naga emas dari elemen logam menguap sementara naga putih kebiruan dari elemen air menerjang ke arah Shen Zhu dan memadamkan elemen api di pedangnya.


"Apakah dia akhirnya akan kalah di ronde ini?" para penonton bertanya-tanya.


Tapi pada waktu bersamaan, Shen Zhu mengetatkan genggaman kedua tangannya di gagang pedangnya dengan sedikit sentakan dan seketika telapak tangannya mengalirkan energi dingin ekstrem dari elemen es yang dalam sekejap meledak di ujung pedangnya dan membekukan ilusi naga yang diciptakan dari elemen air.


Semua orang terpekik dan terkesiap.


Shi Tan mengerjap dan menyentakkan pedangnya lagi untuk menyalurkan elemen ketiga yang dimilikinya.


Tapi Shen Zhu sudah melejit di tengah-tengah patung naga es itu sembari mengayun-ayunkan pedangnya dalam tarian gesit yang menyerampang ke sana kemari dalam hitungan detik.


DUAAAAARRRR!


Patung naga es itu meledak menyemburkan cahaya putih tajam seperti ratusan laser yang dipancarkan di sana-sini.


Para penonton terpekik sambil menyilangkan tangan mereka di depan wajah.


Shi Tan membeku dengan dahi berkerut-kerut, berpikir keras. Dia memiliki semua elemen, ia mengingatkan dirinya. Teknik elemen takkan berguna padanya. Apa yang masih kumiliki? ia mencoba berpikir cepat.


Shi Tan mendesah berat dan menggeleng-geleng. Lalu menurunkan kedua tangannya dan mengaku kalah.


Teknik elemen adalah satu-satunya keterampilan andalan aliran zen.


"Ksatria Nomor Tujuh-tujuh menang!" Pemandu acara mengumumkan.


Arena menggelegar oleh tepuk tangan spektakuler. Para wanita menjerit-jerit dengan histeris sambil berjingkrak-jingkrak.


Shen Zhu tertunduk dengan raut wajah muram. Merasa sedikit kecewa. Dia sangat menggebu-gebu di awal, katanya dalam hati. Bertarung mati-matian demi mendapatkan manna biru. Apa hanya begini saja?


Shi Tan menghampirinya dengan raut wajah tak berdaya, "Maaf," sesalnya. "Aku mengecewakanmu. Tapi ketahuilah selain teknik elemen tak ada lagi yang bisa kubanggakan. Kau bukan orang aliran zen, tapi kau menguasai teknik elemen lebih baik dari orang aliran zen itu sendiri. Kau memang seorang ksatria yang tak terkalahkan!"


Shen Zhu mengerjap dan tercenung. "Teknik elemen bukan satu-satunya yang dimiliki aliran zen," katanya sambil membungkuk dengan hormat tentara. "Bahkan bukan yang utama!"


Shi Tan balas membungkuk dengan dahi berkerut-kerut.


"Yang utama dari aliran zen adalah kesejatian!" Shen Zhu menandaskan. Kemudian berbalik dan berlalu dari arena.

__ADS_1


Shi Tan menelan ludah dan tercengang. Apa dia benar-benar baru lima belas tahun? batinnya.


__ADS_2