Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
134


__ADS_3

Shen Zhu melipat kedua tangannya di depan dada, kemudian melayang di atas tembok benteng.


Para ksatria di sana-sini tengah sibuk mengevakuasi jenazah rekan-rekannya.


Shen Zhu mengerling ke arah menara di mana peniup terompet selalu berjaga.


Sedetik kemudian, Shen Zhu sudah menghilang dan berpindah tempat.


Liu Tang berbalik dan menyibukkan dirinya membantu para ksatria mengevakuasi jenazah yang bergelimpangan, pura-pura tidak melihat keberadaan Shen Zhu.


Shen Zhu mendarat di balkon menara, tepat di depan ksatria yang membawa terompet.


Ksatria itu terkesiap dan menghardiknya, "Siapa kau? Bagaimana bisa—"


"Apakah orang yang sudah mau mati saja pantas mengetahui namaku?" desis Shen Zhu memotong perkataan ksatria itu.


"Kau—" ksatria itu tergagap-gagap, lalu dengan cepat memasang terompet di mulutnya, bersiap untuk meniupnya.


"Pilar Dewa Iblis sedang rapat!" sergah Shen Zhu seraya merebut terompet itu dengan telekinesis. "Mereka tak akan datang meskipun kau membuat panggilan sekarang."


"Omong kosong apa yang kau bicarakan?" ksatria itu beringsut selangkah ke belakang.


"Terompet ini…" Shen Zhu mengangkat terompet itu di depan wajahnya dan menelitinya, "Dirancang untuk tanda bahaya," tuturnya tanpa ekspresi. "Begitu kau meniupnya, bahaya benar-benar mendatangimu."


"Aku tidak mengerti!" ksatria itu berkilah seraya menarik tangannya ke belakang dengan diam-diam, bersiap menghunus pedangnya. "Siapa kau sebenarnya?" tanyanya mencoba mengalihkan perhatian. "Kenapa kau bisa berada di sini?"


Shen Zhu mengangkat wajahnya dan tersenyum miring, menatap ke dalam mata ksatria itu.


Lalu dalam seketika, ksatria itu terbelalak dan membeku. Tidak bergerak lagi.


Mati berdiri.


Shen Zhu berbalik memunggungi ksatria yang telah mati itu dengan kedua tangan terlipat di belakang tubuhnya, mengawasi setiap sudut area dengan ekspresi datar.


Lima Pilar Dewa berderet di sekeliling benteng pertahanan yang rata-rata dibangun dari pusaka hasil rampasan, baik itu secara halus maupun secara terang-terangan.


Ada dua jenis Pilar Dewa yang bisa dijadikan sumber saluran kekuatan spiritual atau Pusat Kendali Spiritual.


Yang pertama dibangun dengan cara mengumpulkan pusaka dewa tertentu, dan yang kedua ditunjuk oleh dewa itu sendiri.


Kedua-duanya memiliki kekuatan dewa yang tiada batas. Kedua-duanya adalah sumber saluran berkat dari dewa tertentu. Fungsinya sama seperti gardu listrik di zaman modern di mana setiap orang mendapat sumber daya.


Yang membedakan keduanya hanyalah cara mendapatkan kekuatannya.


Pilar Dewa yang dibangun dengan pusaka, harus terhubung secara langsung untuk menyerap kekuatannya seperti menyerap kristal darah di mana setiap orang harus bermeditasi di dekat bangkai monster terkait untuk menyerap kekuatannya. Tak jarang pula menjalankan ritual tertentu untuk mendapatkan kekuatan yang lebih besar. Dan itu mungkin membutuhkan izin suatu pihak karena rata-rata Pilar Dewa yang dibangun dengan pusaka adalah milik perorangan atau golongan tertentu.


Sementara Pilar Dewa yang ditunjuk langsung oleh dewa hanya membutuhkan kepercayaan, seperti berdoa atau menautkan simbol dewa terkait sebagai jimat.


Singkatnya, Pilar Dewa milik Aliansi Ksatria bisa dihancurkan.

__ADS_1


Jadi Shen Zhu memutuskan untuk menghancurkan kelima Pilar Dewa itu.


Tapi setiap Pilar Dewa dijaga seorang Ksatria Pilar Dewa dengan separuh kekuatan dewa terkait, jika kelimanya menggabungkan kekuatan, itu sama saja dengan melawan dua orang dewa.


Tapi Shen Zhu bukan sekadar dewa.


Dia adalah Kaisar Dewa. Dewa di atas segala dewa, di mana setiap keputusannya adalah hukum.


Shen Zhu menerobos ke salah satu kuil dan mendarat di tengah-tengah ruangan.


Ksatria Pilar Dewa yang menjaga kuil itu spontan terusik, "Siapa?" tanyanya dalam bisikan nyaring serupa tiupan angin. Pria itu memiliki tampilan setengah abad, namun bisa dipastikan usianya sudah ratusan tahun. Ia duduk bersila di tengah altar menghadap dinding yang memajang patung dewa kekayaan.


Shen Zhu meneliti patung dewa kekayaan itu. Kemudian tatapannya terhenti di bagian kaki patung yang ditopang meja batu kotak yang ia yakin sebagai pintu menuju ruang bawah tanah di mana pusaka dewa tersimpan.


Ksatria Pilar Dewa itu mengerling melewati bahunya dengan mata terpicing. "Kau bukan ksatria!" katanya bernada tajam.


Shen Zhu tidak menjawab. Hanya menaikkan sebelah tangan di sisi bahu dengan jemari membentuk cakar menghadap ke atas. Kemudian mengepal.


DUAAAAARRRR!


Patung dewa kekayaan itu meledak.


Ksatria Pilar Dewa itu tersentak dan menarik bangkit tubuhnya dari lantai, "Lancang!" hardiknya seraya memutar tubuhnya dan menerjang ke arah Shen Zhu.


Shen Zhu menjulurkan sebelah tangannya ke arah Ksatria Pilar Dewa itu dengan telapak tangan menghadap ke depan, sementara tangan lainnya masih terangkat di sisi wajahnya.


SLAAAASSSH!


Shen Zhu menggerakkan jari tengah dan telunjuknya di sisi wajah dan seketika sejumlah pusaka melayang keluar dari lubang kotak di bawah kaki patung dewa kekayaan yang telah terguling dan hancur berkeping-keping.


Ksatria Pilar Dewa itu mengayunkan telapak tangannya ke atas dan seketika lonceng besar di puncak menara berdentang nyaring.


Shen Zhu menyerap semua pusaka dewa kekayaan ke dalam cincin penyimpanannya, kemudian menurunkan tangannya. Ia melipat kedua tangannya ke belakang dan berjalan pelan ke arah Ksatria Pilar Dewa itu.


Pria itu beringsut ke belakang, "Kau pemberontak!" tudingnya.


"Kau yang pemberontak!" tukas Shen Zhu tanpa ekspresi, kemudian menjulurkan sebelah tangannya dengan jemari membentuk cakar menghadap ke arah Ksatria Pilar Dewa itu.


Pria itu memekik seraya memegangi lehernya. Tubuhnya terangkat dari lantai. Kedua kakinya menendang-nendang udara kosong, meronta-ronta dengan kalang-kabut.


Tak lama kemudian, suasana di luar kuil berubah gaduh.


Suara-suara sepatu tentara yang beradu dengan lantai batu kuno berdebam ribut dan menggema ke dalam ruangan.


Sedetik kemudian…


BRUAK!


Pintu kuil terkuak membuka, sejumlah ksatria menyeruak ke dalam ruang ibadah.

__ADS_1


Shen Zhu mengayunkan tangannya yang terulur itu ke samping.


SLAAAASSSH!


Ksatria Pilar Dewa yang mengambang di lantai altar itu terlempar ke arah para ksatria.


BRUAK!


Sejumlah ksatria tertimpa dan turut terlempar bersama Ksatria Pilar Dewa itu.


Ksatria lainnya menerjang ke arah Shen Zhu.


Shen Zhu hanya mengerling melewati bahunya.


DUAAAAARRRR!


Kuil itu meledak dan semua orang di dalamnya tersapu ke pekarangan.


Ksatria lainnya lagi menyeruak dari berbagai sudut di dalam benteng.


Shen Zhu menghilang dengan meninggalkan kepulan asap hitam, lalu berpindah tempat ke salah satu menara.


Dua orang ksatria penjaga menara itu serentak menyerangnya.


Shen Zhu hanya menjentikkan jarinya dan seketika kedua ksatria itu menguap menjadi debu.


Sejumlah ksatria dengan kemampuan terbang, menyeruak ke arah menara itu sambil menjujukan tombak.


Shen Zhu hanya memutar-mutar seruling di antara jari tengah dan telunjuknya.


WUSSSHHH!


Angin kencang meledak dari ayunan seruling itu dan seketika para ksatria yang sedang melesat ke arahnya langsung tersapu.


Shen Zhu menaruh ujung serulingnya di bibirnya dan mulai memainkannya.


Suara seperti peluit melengking berirama.


TRAAAAANG!


TRAAAAANG!


Pedang-pedang dan perisai juga senjata lainnya berjatuhan dari tangan para ksatria.


Para ksatria itu mengerang dan terhuyung, lalu mengangkat kedua tangannya ke telinga.


Irama seruling yang terdengar seperti peluit itu membuat mereka tersiksa. Beberapa dari mereka mulai mimisan. Beberapa bahkan mengeluarkan darah dari lubang telinga dan kelopak mata.


Lalu dalam sekejap semuanya bergelimpangan.

__ADS_1


__ADS_2