
Segala sesuatu dalam diri Shen Zhu terlihat mengagumkan. Memancarkan aura Kaisar Dewa yang mempesona.
Peri-peri kecil bersayap kupu-kupu berwarna emas meliputinya seperti perhiasan.
Jubah putihnya seterang matahari.
Mahkota peri berbentuk sepasang sayap emas di belakang kedua telinganya tampak memukau.
Apakah dia masih Liu Shen Zhu yang kami kenal? pikir semua orang.
Jialin menatap Shen Zhu tanpa berkedip.
Long Hua Ze membungkuk dengan kedua tangan tertaut di depan wajahnya memberikan salam soja. Semua orang di belakangnya serentak berlutut.
"Berdiri!" perintah Shen Zhu dengan aura raja yang begitu sadis. Lalu mengerling pada Hua Ze, "Tak kusangka Kaisar Jiangnan akan datang sendiri," katanya.
"Sudah kuduga latar belakangmu tak sederhana," sahut Hua Ze tanpa ekspresi.
"Sudah kuduga kau masih licik," balas Shen Zhu tanpa selera humor.
Hua Ze terkekeh menanggapinya.
Empat orang pria tua menuntun empat ekor kuda putih bersayap untuk Long Hua Ze, Bao Yu, Jyang Ryu dan Ketua Sekte Shu. Keluarga mereka diangkut dengan kereta kuda. Begitu pun para tetua sekte.
Empat kuda para pemimpin dan kaisar berjalan sejajar dengan tunggangan Shen Zhu di baris paling depan.
Peri-peri kecil menghambur keluar dari sudut-sudut hutan yang berkilauan seperti kebun permata, menaburkan serbuk berwarna emas menyambut iring-iringan itu.
Para penduduk berderet di sepanjang jalan, mulai dari pasar tradisional hingga ke benteng istana. Sosok mereka terlihat seperti malaikat yang bercahaya.
Membuat para pendatang merasa seperti terserap ke dalam ilusi di negeri dongeng.
"Sungguh memalukan," bisik Lim Hua pada Tiao. "Orang-orang di sini tidak ada yang jelek!"
"Kau yang paling jelek," ejek Tiao balas berbisik.
Lalu keduanya berdesis menahan tawa.
"Rasanya tak ingin pulang," gumam Hua Ze di sisi Shen Zhu.
Shen Zhu menanggapinya dengan tersenyum samar. "Tinggallah di sini kalau kau sudah bosan menjadi kaisar," tantangnya.
"Bagaimana kalau satu divisi tentara ditukar beberapa gadis untuk menjadi selir?" kelakar Hua Ze.
"Boleh saja kalau kau tahan merangkak setiap pagi menuju singgasanamu," Shen Zhu balas berkelakar tanpa tertawa.
Bao Yu tersenyum tipis di sisi lainnya.
Sesampainya di istana, mereka disambut perjamuan meriah.
Hua Ze memanfaatkan kesempatan itu untuk berbincang-bincang lebih banyak dengan Shen Zhu mengenai rencana penghapusan otoritas Aliansi Ksatria.
__ADS_1
Menjelang petang, Hua Ze kembali ke Benua Xuang bersama Liu Tang dan satu legiun tentara yang dijanjikan.
Kakak-kakak seperguruan Shen Zhu juga kembali ke Gunung Zainan bersama mereka untuk memulai pelatihan militer bersama Qianxi dan yang lainnya.
"Bawa kembali kapal ilegalmu!" kelakar Shen Zhu pada Hua Ze ketika mengantar keberangkatan mereka.
Shen Zhu memang tidak berniat menjadikan kapal pesiar itu sebagai miliknya sekalipun Hua Ze tak ikut serta. Sejak awal ia sudah berniat mengembalikan kapal itu saat mengirim para tentara untuk menghemat kekuatan spiritual mereka. Tidak menduga Hua Ze akan ikut serta dalam rombongan itu.
Misi penyelamatan kedua berjalan lancar.
Tapi situasi di pintu gerbang perbatasan ibukota Jiangnan masih berlangsung kisruh sejak sejumlah tawanan Aliansi Ksatria melarikan diri.
Gerbang kota ditutup dan dijaga ketat.
Sejumlah ksatria dari markas daerah juga berkeliaran di mana-mana. Menyisir seluruh tempat hingga ke pelosok-pelosok pinggiran kota.
Liu Tang menyamar sebagai pemimpin legiun saat mengantar Hua Ze ke istananya. Lalu kembali ke Kota Pangkalan sebagai jenderal. Pihak Aliansi Ksatria belum mencurigainya.
Sejumlah mata-mata dari klan dewa pemburu juga masih bertahan sebagai ksatria.
Entah berapa lama lagi Ketua Aliansi akhirnya akan menyadari konspirasi mereka. Tapi berkat penyamaran Liu Tang selama bertahun-tahun, sistem keamanan dan jalur rahasia Aliansi Ksatria berada di bawah pengawasannya.
Liu Tang adalah duri dalam daging bagi Aliansi Ksatria. Mata-mata yang paling berbahaya.
Situasi kembali tenang dalam beberapa hari, tapi tak sampai sepekan, kekacauan terjadi lagi.
Sekte Alkemis yang dipimpin Tjia Xiawu diserang dan dihancurkan. Celakanya, pelaku utamanya adalah warga sipil. Membuat mereka tak sampai hati untuk melawan.
Seorang mata-mata Sicarii menyampaikan kabar itu ke Gunung Zainan.
Qianxi bergegas menjemput mereka bersama Li Qinfeng dan Shi Tan.
Pada saat itulah tentara Aliansi Ksatria menyergap mereka.
Sekitar lima kelompok ksatria patroli dengan masing-masing anggota berjumlah sepuluh orang lebih mengepung mereka.
"Tangkap para buronan itu!" Pemimpin pasukan ksatria patroli memerintahkan, dan seketika para ksatria itu menerjang ke arah mereka.
Celakanya, anggota sekte alkemis tak banyak yang bisa bertarung.
BUG!
Qianxi menghadang mereka dengan hanya mengandalkan kecepatan tinjunya.
Para anggota sekte alkemis itu berusaha menyisi.
Tapi sekelompok ksatria menghadang mereka dari sisi lain.
SLAAAASSSH!
Shi Tan melesat seraya menghunus kedua pedangnya.
__ADS_1
TRAAAAANG!
Sejumlah mata tombak bertautan di depan wajah Qianxi.
SLAAAASSSH!
SLAAAASSSH!
Sejumlah belati melesat dari sudut-sudut tersembunyi di sekeliling hutan.
BRUAK!
Para ksatria yang mengepung Qianxi terpuruk satu per satu.
"Sicarii!" teriak salah ksatria.
WUSSSHHH!
Sekelebat bayangan gelap melesat ke arah ksatria itu dan menumbangkannya dalam sekejap.
"Tangkap Sicarii itu!" teriak ksatria lainnya seraya menudingkan telunjuk ke arah bayangan gelap itu. Ksatria lainnya mengikuti arah telunjuknya, tapi bayangan gelap tadi sudah menghilang. Membuat mereka lengah sesaat.
Rombongan sekte alkemis memanfaatkan kesempatan itu untuk berpencar dan melarikan diri.
Para ksatria serentak menahan mereka.
Qianxi menerjang ke arah para ksatria itu untuk mengalihkan perhatian mereka. Li Qinfeng menyerampang di belakangnya dengan posisi saling memunggungi.
Shi Tan memantul-mantul di ke sana-kemari seraya mengayun-ayunkan kedua pedangnya dengan kecepatan luar biasa.
Beberapa orang dari sekte alkemis berhasil lolos dari kepungan dan menyelinap ke semak-semak. Sejumlah Sicarii menyergap mereka diam-diam dan melarikannya.
Xiawu hampir tertangkap.
DUAAAAARRRR!
Shi Tan melontarkan energi cahaya berbentuk sabit bersilangan ke arah ksatria yang hampir menangkap Xiawu.
Bersamaan dengan itu, seorang ninja melemparkan bola asap ke tengah-tengah kepungan, lalu dalam sekejap ninja lainnya melarikan Xiawu, Shi Tan, Qianxi dan Li Qinfeng.
"Aku belum puas bertarung!" gerutu Qianxi seraya menggeliat-geliut di dalam cengkeraman seorang ninja yang melarikannya.
"Kau suka cari mati, ya?" hardik Sicarii yang menyelamatkannya. "Hari ini cukup sampai di sini!"
Sicarii itu menurunkan Qianxi setelah mencapai tempat yang aman.
Sicarii lainnya mendarat di belakang mereka dengan masing-masing membawa satu orang.
Qianxi mendengus seraya menyentakkan bahunya dari cengkeraman Sicarii itu. Kemudian memalingkan wajahnya dengan cemberut.
"Sudahlah," bujuk Li Qinfeng seraya menepuk bahu Qianxi. "Jangan menyusahkan Saudara Yanxi lagi. Bagaimanapun Dewa Zhu sudah menitipkan kita padanya," tuturnya seraya mengerling ke arah Sicarii yang menyelamatkan Qianxi. "Kalau terjadi sesuatu pada kita, Dewa Zhu akan menyalahkannya."
__ADS_1
"Lagi pula…" Shi Tan menyela seraya mendekat pada Qianxi dengan kedua tangan bersilangan di depan dada, kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Qianxi dan menambahkan, "Ini misi penyelamatan," ia mengingatkan sambil menunjuk ke arah saudara kembar Qianxi dengan ekor matanya.