
"Sudah kubilang jangan berpikir terlalu banyak!" Jyang Yue mengingatkan.
Shen Zhu terkekeh tipis seraya mengusap bagian belakang kepalanya. "Maaf, aku sudah salah paham," katanya.
"Salah paham?" Bao Yu menatap Jyang Yue dan Shen Zhu bergantian.
"Dia mendengar semua orang memanggilku Nyonya Besar," jawab Jyang Yue. "Coba tebak apa yang dipikirkannya!"
Bao Yu terkekeh tipis dan menggeleng-geleng.
"Adik!" Dua pria di belakang Bao Yu berebut mengerumuni Shen Zhu.
"Kakak!" Shen Zhu tersenyum lebar.
Bao Tiao dan Lim Hua menghampirinya.
"Kenapa kalian terlihat sedikit lebih tua?" goda Shen Zhu.
"Bocah Tengik!" Tiao tertawa sambil meninju lengan Shen Zhu.
"Masuklah!" ajak Bao Yu. Kemudian berbalik memimpin jalan menuju wisma tamu. Anak dan istrinya mengekor di belakangnya, diikuti Shen Zhu yang diapit kedua kakak seperguruannya.
"Di mana Tuan Hu?" tanya Shen Zhu setelah mereka sampai di ruang duduk.
Para pelayan menyajikan teh dan aneka kudapan mereka, sementara mereka berbincang-bincang.
"Setelah Ujian Ksatria, dia memutuskan untuk mengasingkan diri, menempuh kedamaian batin sebagai Tetua Suci," cerita Bao Yu. "Mau tak mau… aku menempati kursinya karena Tiao tak cukup siap. Jadi… seseorang harus bertindak!"
Tiao mengangguk membenarkan ucapan Bao Yu.
"Bagaimana kabar kakakku?" Shen Zhu bertanya lagi.
"Dia juga sudah menjadi Nyonya Besar di Sekte Majusi," Jyang Yue mengambil alih jawaban. "Mereka sudah memiliki seorang putri. Usianya baru tiga tahun."
"Jyang Ryu sudah menjadi ketua sekte?" terka Shen Zhu.
Jyang Yue mengangguk sambil tersenyum.
"Kakak-kakak seperguruanmu, semuanya sudah menjadi guru," Tiao menambahkan. "Bagaimana denganmu?"
"Aku hanya tertidur selama tiga hari," cerita Shen Zhu sambil tertunduk mengusap kepala Xiao Mao dan tersenyum muram. "Tahu-tahu waktu sudah berlalu sepuluh tahun. Apa yang bisa kuceritakan?"
"Sudah kuduga gadis Sicarii itu Xiao Mao!" Bao Yu menyimpulkan.
Seisi ruangan spontan menoleh ke arah kucing kecil di pangkuan Shen Zhu.
"Tampaknya Guru mengetahui lebih banyak tentang Xiao Mao," gumam Shen Zhu.
"Pertama, karena aku seorang ahli teori. Kedua, karena aku adalah gurumu!" Bao Yu berkilah.
__ADS_1
"Baiklah! Karena Guru sudah tahu, tak ada yang perlu dirahasiakan lagi," Shen Zhu tersenyum dan menurunkan Xiao Mao di atas salah satu alas duduk di sampingnya.
Sesaat kemudian, tubuh kucing itu berkeredap dan berubah menjadi seorang gadis.
Seisi ruangan terperangah bersamaan. Tatapan mereka sekarang terpaku pada sosok memukau berpakaian serba ketat berwarna hitam mengkilat dengan hiasan kepala berbentuk sayap di belakang kedua telinganya.
Sangat cantik! pikir semua orang tanpa bisa menutupi kekaguman mereka.
"Tuan Yu!" Xiao Mao membungkuk ke arah Bao Yu dengan kedua tangan tertaut di depan wajahnya, memberikan salam soja. Lalu beralih ke arah Jyang Yue. "Nyonya!"
"Tak perlu bersikap formal!" tukas Jyang Yue bernada riang yang bersahabat. "Bagaimanapun kau adalah pasangan Xiao Zhu," katanya sambil menepuk-nepuk lembut punggung tangan Xiao Mao. "Xiao Zhu menganggap kami sebagai orang tuanya. Sebaiknya kau juga!"
"Tunggu dulu!" Shen Zhu menyela terbata-bata. "Apa maksudnya pasangan?"
"Kalian sudah terikat perjanjian darah!" sergah Bao Yu tanpa beban. "Bukankah itu berarti kalian sudah menjadi satu daging?"
"Tidak benar!" protes Shen Zhu. "Kalau rekan monster dianggap pasangan, bagaimana dengan…"
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan?" Bao Yu mengetuk dahi Shen Zhu dengan ujung telunjuknya. "Bukankah sudah jelas Xiao Mao bukan monster?"
"Tapi—" Shen Zhu tergagap dan melirik Xiao Mao.
Gadis itu tersenyum lebar dan mengerjap-ngerjapkan matanya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di dekat pipinya, menelengkan kepalanya sedikit, menampakkan ekspresi senang seorang anak kecil.
"Lupakan saja," gumam Shen Zhu tak berdaya.
Tiao dan Lim Hua serempak menggoda Shen Zhu sembari cengengesan.
"Adik!" Mereka semua berteriak seperti anak-anak.
Wajah-wajah mereka sudah seperti seumuran Bao Yu dan Jyang Yue, sementara Bao Yu dan Jyang Yue seakan tak pernah menua.
"Semakin tua kau semakin mirip dengan Ketua!" kelakar kakak-kakak seperguruan Shen Zhu yang baru datang itu. Mereka semua berebut mengerumuni Shen Zhu dan memeluknya kecuali Jialin.
"Sudah setua ini, kenapa begitu ribut?" gerutu Shen Zhu bercanda.
Jialin berdiri salah tingkah dan tertawa gelisah melihat Xiao Mao di sisi Shen Zhu.
Xiao Mao menatap gadis itu dengan mata dan mulut membulat. Menampakkan ekspresi polos dan penasaran seorang gadis kecil. Tapi tentu saja tidak sepolos kelihatannya. Bagaimanapun gadis itu mengetahui lebih banyak hal tentang Shen Zhu dibanding Shen Zhu sendiri.
Xiao Mao tahu persis Jialin menyukai Shen Zhu. Tidak diragukan gadis itu patah hati melihat kehadiran gadis lain di sisi Shen Zhu. Lebih dari itu, Xiao Mao adalah tipe pencemburu.
Jadi ketika tiba giliran Jialin menyapa Shen Zhu, Xiao Mao dengan terang-terangan menggamit sebelah lengan Shen Zhu dan menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu seraya tersenyum pada Jialin dengan basa-basi.
"Ah—" Jialin menyapa tergagap-gagap. "Adik, bagaimana kabarmu?"
"Sangat baik," Shen Zhu menautkan kedua tangannya di depan wajah, memberikan salam soja. "Bagaimana kabar Kakak?"
"Baik!" Jialin menjawab cepat-cepat, "Sangat baik!" ulangnya sedikit kikuk. Bola matanya bergerak-gerak gelisah ketika ia melirik Xiao Mao.
__ADS_1
Kemeriahan itu berlanjut hingga acara perjamuan yang digelar mendadak di aula singgasana ketua.
Para guru yang telah menjadi tetua menyambut kepulangan Shen Zhu seperti menyambut seorang pejabat.
Aula singgasana ditata meriah seperti pasar malam, dipasangi lampion di langit-langit, bunga-bunga di antara meja-meja rendah di sepanjang sisi ruangan membentuk garis lurus yang menyisakan jalan masuk dari pintu ke singgasana. Meja-meja rendah lesehan itu dipenuhi aneka hidangan berupa kudapan dan buah-buahan di samping teh dan arak.
Mereka juga mengundang Jyang Ryu selaku ketua sekte Majusi meski tujuan utamanya adalah mempertemukan Shen Zhu dengan kakak perempuannya.
Para guru dan para tetua menjamu mereka bersama Bao Yu di dekat podium sementara para wanita berias di kediaman pribadi Bao Yu.
Jyang Yue merombak habis-habisan penampilan Xiao Mao seperti putri kerajaan.
Jialin tak mau kalah.
Ketiga wanita itu muncul belakangan di ruang perjamuan dan menyedot perhatian semua orang.
Mata Shen Zhu hampir tidak berkedip melihat perubahan Xiao Mao.
Jialin menyadari pandangan pemuda itu, kemudian mengerjap dengan gelisah dan tertunduk dengan raut wajah muram. Kemudian menyibukkan dirinya untuk menyapa semua orang yang menghadiri perjamuan itu, pura-pura ceria sementara lirikan matanya hampir tak lepas dari Xiao Mao yang menempel pada Shen Zhu sepanjang waktu. Gadis Tengil dari mana dia sebenarnya? gerutunya dalam hati.
Para wanita pengagum sekaligus pembenci Shen Zhu yang pernah meremehkan Shen Zhu di masa lalu mulai bergunjing dan berkasak-kusuk.
"Siapa gadis itu?"
"Tak bisa melihat situasi!"
"Sampai kapan dia akan terus menempel?"
"Kudengar dia istrinya?"
"Apa? Semuda ini sudah menikah?"
"Tidak mungkin! Siapa yang mengatakannya?"
"Aku menanyakannya pada Guru Lim!"
"Ceritakan padaku! Ceritakan padaku!"
Jialin melirik kerumunan para wanita itu dan mengikuti lirikan mata mereka.
Para pria melirik Xiao Mao tanpa bisa menutupi kekaguman mereka.
Putra Bao Yu berlarian ke sana kemari membuat sibuk para pengasuh dan mengacaukan setiap kerumunan orang yang sedang bergosip.
Sementara itu, Shen Zhu dengan tenang menyapa semua orang yang menghampirinya tanpa memikirkan keberadaan Xiao Mao. Bisa dikatakan tidak merasa terganggu.
Lalu entah bagaimana caranya kabar Sekte Bao mengadakan perjamuan itu akhirnya sampai ke meja Ketua Aliansi.
Perjamuan yang dimaksudkan untuk menyambut kepulangan Shen Zhu dicurigai sebagai konspirasi terselubung antara Sekte Bao dan Sekte Majusi.
__ADS_1
Sekelompok oknum pun dikirim sebagai pengacau yang mengatasnamakan sekte tertindas yang terlupakan.