Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
65


__ADS_3

Hari ketiga Putaran Kedua Ujian Ksatria…


"Ksatria Nomor Tujuh-tujuh melawan Penyihir Nomor Empat-delapan!"


Shen Zhu dan kakak-kakak seperguruannya terpekik bersamaan.


Xie Ma dan Jyang Yue membekap mulutnya dengan telapak tangan.


Jyang Ryu tersenyum samar. Ini dia! serunya dalam hati. Akhirnya pertarungan kakak-beradik. Bagaimana kau akan menghadapi yang satu ini?


Shen Zhu mengerling ke arah kakaknya dengan gelisah. Begitu juga sebaliknya.


Lalu keduanya melangkah turun ke arena dengan raut wajah tegang.


Shen Zhu mengepalkan kedua tangannya, mengetatkan genggamannya pada batang pedangnya, lalu berhenti dengan sikap tegak seorang ksatria.


Para penonton terkesiap.


Itu adalah pertama kalinya Shen Zhu tampil serius. Biasanya dia berdiri santai dengan kedua tangan terlipat di belakang atau di depan dada. Matanya terpicing dengan waspada.


Sebaliknya, Xie Ma terlihat begitu gugup dan salah tingkah. Ia mengeluarkan tongkat sihirnya dan terperanjat, lalu buru-buru menghilangkannya.


Membuat semua orang mengerutkan dahi dengan isyarat bertanya-tanya.


"Nomor Empat-delapan," tegur pemandu acara. "Kenapa kau malah menyimpan tongkat sihirmu?"


"Tidak apa-apa!" sergah Xie Ma terbata-bata. "Jika Nomor Tujuh-tujuh tidak mengeluarkan pedangnya, aku juga tidak akan mengeluarkan tongkatku," tuturnya beralasan.


"Baiklah," kata pemandu acara seraya mengedikkan bahunya dengan sikap menyerah. "Kalau begitu langsung saja. Pertarungan dimulai!" Ia menginstruksikan.


Shen Zhu mengetatkan rahangnya dan genggaman tangannya. Mengeluarkan pedang? katanya dalam hati. Benar juga!


Orang-orang yang sedang menantikan dirinya menarik pedangnya keluar bertaruh cukup besar hingga sejumlah oknum bahkan memanfaatkan sejumlah peserta untuk memprovokasinya.


Rata-rata mereka dijanjikan hadiah yang cukup tinggi untuk peserta mana pun yang berhasil memancing pedangnya keluar.


Mungkin sudah saatnya aku memberi kejutan pada mereka, pikir Shen Zhu.


Kakak, ini akan menjadi kehormatanmu! tekadnya dalam hati. Jangan kecewakan aku!


Shen Zhu mengangkat pedangnya di depan wajah, "Bagaimana kalau aku menghunus pedangku?" tantangnya. "Apa kau akan mengeluarkan tongkatmu?"


Para hadirin terkesiap.


Xie Ma mengerjap dan menelan ludah. Ia beringsut selangkah ke belakang dengan sedikit terhuyung. Tapi segera menguasai diri dan memasang kuda-kuda. Menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya di depan wajah, mengaktifkan rune yang terhubung dengan tunggangannya.


BLAAASSSHHH!


Seekor rusa putih bersayap dengan satu tanduk berbentuk bulan sabit di puncak kepalanya melesat keluar dan mendarat di tengah arena.


Kemilau cahaya berwarna-warni menebar ke seluruh arena seperti dandelion.


"Masih tak mau mengeluarkan senjata?" dengus Shen Zhu memprovokasi. "Baiklah!" katanya seraya menurunkan pedangnya lagi. Kemudian menggerak-gerakkan jemari tangannya di depan dahi. Simbol perjanjian darah di dahinya berkeredap menyala.

__ADS_1


Para penonton terlihat bersemangat.


"Akhirnya dia mengeluarkan tunggangan!" seru beberapa peserta dengan antusias.


Para juri dan para pejabat kehormatan menegang bersamaan. Menunggu dengan penasaran.


Lalu seekor kucing kecil melompat ke lantai dengan cara konyol dan seketika semua orang melengak dengan ekspresi bingung. Lalu mengerang bersamaan.


Xie Ma tertunduk dengan mata dan mulut membulat. Kucing? pikirnya sedikit kecewa.


Gouw Anio, Si Gadis Pemanggil Merah Muda, tiba-tiba menjerit dan menghambur dari tempat duduknya, kemudian berlari tunggang langgang meninggalkan gedung arena.


Semua mata spontan berpaling pada gadis itu dengan tatapan heran.


"Hanya kucing kecil!" gumam peserta Jalur Juara dari aliran tinju. "Kenapa reaksinya seheboh itu?"


"Ternyata hanya seekor kucing kecil," gerutu beberapa orang di bangku penonton seraya menghempaskan punggung mereka ke sandaran kursinya.


"Pantas saja tak pernah dikeluarkan!" dengus para pejabat dengan sikap mencemooh. Lalu memutar-mutar bola mata mereka dan menggeleng-geleng.


Long Hua Ze tergelak dan terbahak-bahak.


Semua mata sekarang mengerling ke arahnya dengan alis bertautan.


Bao Hu berdeham dan bergerak gelisah di tempat duduknya. Ketua dan Kaisar serentak meliriknya.


"Dia tungganganmu?" Xie Ma mendesis dengan suara tercekat.


"Kenapa?" tanya Shen Zhu tanpa beban sedikit pun. "Kau takut?"


"Tidak sebanding?" Shen Zhu mendengus menanggapi kakaknya. "Boleh percaya boleh tidak," katanya sambil tersenyum miring. "Kucing kecilku ini bisa menghancurkan satu wilayah!"


"Kau menghujat dewa!" Xie Ma memarahinya seraya menudingkan telunjuk ke arah Shen Zhu.


"Menghujat dewa atau tidak…" Shen Zhu mengerling ke arah wasit. "Kita lihat saja!" katanya, lalu membungkuk ke arah wasit dengan hormat tentara, "Dengan segala hormat, Master!"


"Ada apa?" tanya wasit sekaligus pemandu acara itu.


"Aku butuh ranah untuk membatasi arena," kata Shen Zhu.


"Ranah?" Sekeliling arena terpekik bersamaan. "Apa tidak terlalu berlebihan?"


Wasit mengerling ke arah Ketua dengan isyarat bertanya. Tak yakin dengan permintaan Shen Zhu.


Ketua mengangguk samar. Lalu berdiri dan mengetukkan tongkatnya ke lantai. "Pengawal!" ia memerintahkan.


Sejurus kemudian, dua belas ksatria melesat dari delapan penjuru angin dan mendarat di sekeliling arena dalam posisi kuda-kuda.


TRANG!


TRANG!


Perisai mereka menyala satu per satu, memancarkan cahaya terang berwarna emas yang kemudian memantulkan ilusi perisai dengan corak yang sama seperti aslinya, kemudian ilusi perisai itu melayang cepat dan terbang berputar-putar di sekeliling arena.

__ADS_1


Xie Ma mengedar pandang dengan terperangah.


Sebuah lingkaran formasi sihir tercipta di lantai arena yang kemudian menyemburkan cahaya ke langit membentuk tabung transparan berwarna emas.


Para hadirin terkesiap. Beberapa sebenarnya terlihat kebingungan.


Apa sebenarnya yang ingin dilakukan peserta nomor tujuh-tujuh ini? pikir beberapa orang.


"Bersiaplah, Kakak!" Shen Zhu memperingatkan.


Xie Ma tergagap-gagap dan memasang kuda-kuda dengan sedikit kikuk.


Detik berikutnya, Xiao Mao melengkungkan punggungnya dan seketika ledakan api berwarna merah darah membuncah seperti gunung meletus.


Para hadirin tersapu dalam teriakan ngeri.


Jeritan Xie Ma melengking dari dalam kobaran api ketika tubuhnya terpelanting dan membentur dinding transparan yang disebut ranah itu.


Jyang Yue terpekik seraya membekap mulutnya dengan jemari tangan.


Para ksatria di sekeliling arena terkesiap. Mendongak menatap jangkauan api yang menembus langit.


"Sebenarnya apa yang coba dipamerkan Nomor Tujuh-tujuh?" seorang gadis dari Sekte Majusi beranjak berdiri dan berkacak pinggang. "Ksatria menindas peramal, apanya yang hebat?"


"Tak perlu berlebihan!" seloroh Shen Zhu pada kakaknya. "Aku tahu api surgawi tidak berpengaruh apa-apa padamu!"


Xie Ma jatuh terpuruk dengan posisi duduk bersimpuh dan terengah-engah.


"Kau mau bertarung atau tidak?" tantang Shen Zhu dengan sikap mengejek.


Xie Ma mengetatkan rahangnya dan menarik bangkit tubuhnya.


"Segera kuasai dirimu dan hadapi kenyataan!" teriak Shen Zhu sambil menghunus pedangnya.


GLAAAAAARRRRR!


Arena kembali meledak seperti gunung meletus.


Sekeliling arena menegang dalam kengerian yang tak terkira.


"Hanya melawan peramal," gumam para peserta di bangku penonton. "Bukankah ini terlalu berlebihan?"


Xie Ma mengepalkan kedua tangannya dengan gemetar, kemudian tongkat sihirnya muncul dalam genggaman.


"Kakak…" Shen Zhu membungkuk menekuk kedua lututnya dalam sikap kuda-kuda. "Aku tak ingin tahu apa yang pernah kau lihat dalam visimu. Tapi percayalah aku tak akan mati dengan mudah."


Xie Ma mengerjap dan memasang kuda-kuda.


"Aku tak akan mati di tanganmu, begitu juga sebaliknya!" teriak Shen Zhu. "Tapi aku akan memenangkan pertarungan ini!"


SLAAAASSSH!


Shen Zhu melesat ke arah kakaknya sambil mengayunkan pedangnya.

__ADS_1


Sekeliling arena terpekik dan menahan napas.


__ADS_2