Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
125


__ADS_3

Setelah pertimbangan panjang yang membingungkan, Long Hua Ze akhirnya mengambil keputusan paling gegabah selama ia menjabat sebagai kaisar.


Menjalin kerjasama diplomatik dengan negara yang tak hanya asing tapi juga gaib, bukan saja bisa menuai kritik dan mendatangkan kontroversi, tapi juga memancing kecurigaan organisasi.


Hua Ze tak ingin mengambil risiko itu. Tapi ia juga tak ingin melepas peluang itu meski berisiko.


Celakanya, setiap kekaisaran di Benua Xuang disusupi pejabat Aliansi Ksatria.


Menjalin kerjasama diplomatik dengan negara asing di luar benua juga harus melewati prosedur yang diberlakukan organisasi elit global.


Sebagai kaisar, Hua Ze tidak berdaya.


Jadi ia memutuskan untuk menjadikan transaksi ini sebagai proyek pribadi, memanfaatkan seorang saudagar yang biasa terlibat perdagangan gelap.


Hua Ze menyamar sebagai saudagar kaya dari negeri asing dan membeli kapal ilegal.


Para buronan diselundupkan ke dalam kapal di tengah jalan melalui perahu-perahu nelayan.


Shen Zhu sudah berangkat lebih dulu ke Benua Jingling untuk menyiapkan segala sesuatunya.


Begitu semua orang memasuki kapal, Hua Ze tersentak mendapati semua buronan berada dalam kapalnya. "Ternyata kalian!" pekiknya terbata-bata.


Para buronan yang menyamar sebagai nelayan berpakaian lusuh itu menurunkan penutup kepala mereka masing-masing. Ada yang mengenakan caping, ada yang hanya memakai kain selubung, ada juga yang memakai tudung yang menjadi satu dengan mantel mereka.


"Merepotkan Kaisar!" para buronan itu membungkuk serempak memberikan salam soja.


Hua Ze mendesah kasar dan menggeleng-geleng. Kemudian menatap mereka seraya berkacak pinggang. "Beraninya mengarang cerita dengan cap kekaisaran gaib," gerutunya. "Beruntung aku tidak melibatkan kekaisaran untuk menanggapi permintaan kalian. Jangan bilang satu legiun tentara yang kalian janjikan juga fiktif belaka!"


"Kami tidak berani," Jyang Ryu membungkuk dengan hormat. "Lagi pula cap kerajaan Liuwang itu benar-benar asli!"


"Jangan bercanda!" sembur Hua Ze tak sabar.


"Bercanda atau tidak, kita buktikan setelah sampai di perbatasan!" Bao Yu menyela dengan sopan dan membungkuk dengan hormat.


"Perbatasan apa?" sergah Hua Ze. "Kapal ini mengarah ke Laut Elemen!"


"Benua Jingling adalah kawasan spiritual tingkat tinggi." Liu Tang menyela. "Diyakini sebagai Surga yang Hilang."


"Dan dipercaya sebagai Taman Surga!" Hua Ze menimpali. "Siapa yang tidak tahu legenda itu," katanya setengah menggerutu. "Tapi siapa yang pernah membuktikan tempat itu benar-benar ada? Laut Elemen hampir sepanjang waktu dikunjungi para petapa!"


"Kita akan membuktikannya!" tukas Jyang Ryu. "Dan mengenai satu legiun tentara… Kaisar telah melihat contohnya dalam Ujian Ksatria."


"Jangan bilang Kaisar Liuwang itu Si Pengacau Tingkat Langit!" Hua Ze menoleh pada Jyang Ryu dengan mata terpicing, melontarkan tatapan tajam.


Semua orang hanya tersenyum menanggapinya.

__ADS_1


Hua Ze mendesah dalam. "Seharusnya aku sudah bisa menebak," erangnya seraya memutar-mutar bola matanya. "Benar-benar karangan bebas!"


Keesokan harinya, mereka sampai di Laut Elemen.


Sejumlah kapal mengapung di permukaan air laut yang menyala berwarna-warni.


Bagian laut yang menyala berwarna-warni itulah yang disebut sebagai Laut Elemen.


Dua ksatria berbaju zirah perak dengan jubah armor putih bersinar, lengkap dengan helm baja tertutup dan sepasang sayap melayang turun dari langit. Keduanya membawa tombak dan perisai perak yang berkilauan.


Para penumpang kapal yang mengapung di sekeliling Laut Elemen itu tidak menyadarinya.


Hanya penumpang kapal pesiar yang bisa melihat mereka. Para penumpang kapal pesiar itu tercengang takjub.


Kedua sosok ksatria bersayap itu adalah penjaga Gerbang Ilahi. Gerbang gaib yang menjadi batas wilayah antara dunia manusia dan dunia peri.


Mereka mengendap turun dan mendarat berdampingan di permukaan air, beberapa puluh meter dari kepala kapal.


"Turunkan jangkar!" perintah Liu Tang mengambil alih komando.


Nahkoda mereka terlihat ragu.


"Kita sudah sampai!" Liu Tang memberitahu.


Para awak kapal bertukar pandang dengan nahkoda mereka, lalu mengerling pada Hua Ze.


Setelah mereka menurunkan jangkar, kedua sosok bersayap itu menyilangkan tombak mereka satu sama lain.


TRAAAAANG!


Semburat cahaya emas meledak dari benturan tombak mereka, seperti lampu yang mendadak dinyalakan.


Laut Elemen di belakang mereka berubah gelap tersapu cahaya emas yang terang benderang. Kegelapan itu berangsur-angsur membias meninggalkan bayang-bayang pepohonan di tepi pantai.


Para penumpang kapal terkesiap.


Sebuah pulau membentang di depan mereka, tak jauh di belakang ksatria bersayap tadi.


Kapal mereka tahu-tahu sudah bersandar di pelabuhan yang sebelumnya tidak terlihat.


Ketika mereka menurunkan jangkar, sebuah pesisir seolah terangkat dari dasar laut.


Benar-benar negeri ajaib! pikir semua orang.


Bao Yu melirik ke arah Liu Tang melalui sudut matanya. Diam-diam mengamatinya. Dia tampak tidak terkejut sama sekali, pikirnya. Tampaknya bukan kali pertama!

__ADS_1


Awak kapal menurunkan tangga dan satu per satu para penumpang kapal melangkah turun.


Liu Tang berjalan lebih dulu dan menghampiri kedua ksatria bersayap itu seraya memperlihatkan pelat pada mereka.


Salah satu dari mereka mengambil pelat itu dan memeriksanya. Kemudian mengembalikannya pada Liu Tang.


Kedua ksatria itu menarik tombak mereka dan seketika sebuah gerbang terlihat dari sela-sela kedua tombak itu seiring gerakan mereka yang saling menjauh.


Semua orang kembali terperangah.


Liu Tang memimpin jalan. Gerak-geriknya terlihat seperti telah mengenal tempat itu dengan cukup baik.


Bao Yu melirik batu giok yang menggelantung di ikat pinggang Liu Tang. Batu giok itulah yang diperlihatkan pada penjaga tadi. Pelat khusus keluarga kaisar.


Liuwang! pikir Bao Yu. Dinasti Liu! Ia menyadari.


Beberapa ratus meter dari gerbang adalah kota pesisir yang dihuni peri laut sekaligus pusat perdagangan sekelas pasar tradisional bernuansa laut.


Para penduduk pesisir berseliweran di sana-sini seraya mengerling ke arah rombongan tamu asing itu.


Rata-rata mereka bertubuh tinggi semampai dengan rambut biru. Beberapa dari mereka memiliki sisik di dahi dan pelipisnya.


Pakaian mereka terlihat glamor dengan hiasan kepala dan pelindung bahu mencolok bermotif sirip ikan mencuat di sana-sini.


Wajah mereka jauh lebih cantik dari klan manusia, bahkan para lelaki terlihat cantik.


"Sekarang aku tahu dari mana Adik Zhu mewarisi paras cantiknya," komentar Tiao setengah menggumam.


"Benar," Lim Hua menanggapi. "Dikatakan yang terjelek di negeri peri adalah yang tercantik di negeri manusia. Tak terbayang seperti apa yang tercantik dari mereka!"


"Aku tak bisa membayangkan yang lebih cantik dari Xiao Zhu!" Tan Nuo menyela mereka.


"Memangnya siapa yang bisa dibandingkan dengan dia yang bukan manusia!" sergah Zhang Junda ikut-ikutan.


Tak lama mereka tergelak.


"Aku bakal kerasan tinggal di sini!" gumam Tan Liu bersemangat.


Dua makhluk hibrida setengah manusia setengah kuda menyeruak membelah kerumunan. Masing-masing mereka membawa tombak trisula. "Kaisar tiba!" mereka mengumumkan.


Para penduduk serentak menyisi membuka jalan, kemudian berlutut.


Tak lama kemudian, Shen Zhu muncul dengan pakaian kebesarannya, menunggangi seekor kuda putih bersayap diapit dua pria tua berambut putih.


Sejumlah pengawal berzirah perak dengan jubah armor putih mengawal di belakangnya.

__ADS_1


Para pendatang itu membeku dengan ekspresi terpukau.


__ADS_2