
Kebekuan menyergap seluruh tempat dalam waktu yang lama. Semua orang tergagap dengan mata dan mulut membulat.
"Apa yang terjadi?" Beberapa orang akhirnya mengeluarkan suara.
"Bagaimana bisa?" Yang lainnya menimpali.
Ketua Aliansi masih membeku dengan mata terpicing, menatap arena dengan dahi berkerut-kerut.
Arena terlihat seperti reruntuhan kuno. Bongkahan batu berserakan di permukaan lantai yang berlubang di sana-sini.
Semua mata serentak tertuju pada Shen Zhu.
Pemuda itu berdiri tegak dengan pedang terhunus setengah di depan wajahnya.
Semua orang memicingkan matanya dengan sorot bertanya-tanya.
Apakah dia baru saja menebas tunggangan itu?
Apakah dia akhirnya menghunus pedangnya?
Peserta nomor sembilan-sembilan terperangah dengan ekspresi terguncang. Ia tertunduk untuk memeriksa rekan monsternya. Tapi tidak menemukan tanda-tanda bekas sayatan benda tajam.
Shen Zhu memasukkan kembali pedangnya dan seketika seluruh tempat kembali tersapu dalam ledakan cahaya dan gelegar halilintar.
Giliran peserta nomor sembilan-sembilan itu sekarang yang terlontar dan jatuh terjerembab seperti tunggangannya.
"Dia belum sepenuhnya mencabut pedang!" Seorang tetua menyadari.
Jyang Ryu duduk membungkuk dengan kedua siku tangan bertopang pada lutut, jemari tangannya tertaut di depan mulutnya dan tersenyum samar. Semakin menarik! pikirnya bersemangat.
"Baru menghunus setengah pedangnya sudah meluluh lantakkan seluruh arena," gumam seorang pejabat dengan raut wajah ngeri. "Apa anak ini benar-benar manusia?"
"Ujian Ksatria kali ini sangat menarik!" komentar Kaisar seraya tersenyum puas. "Dari mana datangnya anak muda itu?" Ia bertanya seraya menunjuk Shen Zhu dengan dagunya.
"Dari desa yang dihancurkan," jawab Ketua. "Sekte Pedang Baohu mengadopsinya karena undian!"
"Kelihatannya dia belum genap dua puluh tahun? Tapi kekuatan spiritualnya seperti sudah mencapai ranah galaksi!" gumam Kaisar sambil melipat kedua tangannya di depan dada, kemudian mengerling ke arah Ketua.
"Benar," jawab Ketua. "Tahun ini, usianya baru genap lima belas tahun. Aku sudah menyelidikinya sejak ia ditemukan. Liu Shen Zhu memiliki terlalu banyak rahasia. Latar belakang keluarganya juga tak sederhana. Kematian ayahnya telah menuai banyak kontroversi. Anak itu diliputi aura gelap yang bukan aura iblis. Ditolak di laut elemen, bahkan kabarnya ditolak oleh semua monster di Tanah Perjanjian Darah!"
"Dalam sejarah Aliansi Ksatria, memang belum pernah ada orang yang mendapat pengakuan monster di bawah usia dua puluh tahun," tukas Kaisar.
"Benar," sahut Ketua Aliansi. "Tapi bukan itu poin pentingnya. Dia diberkati Monster Dewa Penjaga Harta Karun dan mendapat kesempatan untuk memilih monster dari Rimba Ilahi!"
__ADS_1
"Apa?" Kaisar berdesis dengan alis bertautan.
"Dewa Monster sendiri yang menjalankan formasi besar untuk mengirimnya ke Rimba Ilahi," Ketua menambahkan. "Pada hari yang sama, salah satu dewa turun di bukit perjanjian itu."
"Menarik!" gumam Kaisar sambil mengusap-usap dagu dengan buku jarinya. "Aku jadi tak sabar untuk melihat rekan monsternya. Kurasa dia benar-benar mendapatkan pengakuan dari Monster Dewa."
"Itulah yang ditunggu sekian banyak orang!" bisik Ketua sambil membungkuk mencondongkan tubuhnya ke arah Kaisar, lalu mengerling ke kiri-kanan mereka.
"Dengan kata lain…" Kaisar menggumam pelan seraya tersenyum miring. "Diam-diam semua orang juga sedang memperhatikannya?"
"Benar," bisik Ketua sambil terkekeh tipis. Lalu menarik wajahnya menjauh dan kembali menatap Shen Zhu. "Kabar tentang turunnya salah satu dewa di Bukit Perjanjian menjadi pembicaraan hangat di kedai-kedai minuman, restoran dan penginapan. Anak itu sedang menjadi sorotan publik!"
Pemuda itu sekarang sudah meniti tangga di gang antara deretan bangku-bangku penonton.
Kaisar memandangi punggung pemuda itu dengan tatapan dalam. "Kurasa… legenda baru akan terlahir di Aliansi Ksatria," gumamnya dipenuhi arti.
Ketua Aliansi mengerjap dan meliriknya. Lalu kembali menatap Shen Zhu.
Pemuda itu sekarang sudah berbelok dan menyelinap di depan deretan bangku gerombolannya.
Bao Yu beranjak dari tempat duduknya dan tersenyum bangga. "Kerja bagus!" pujinya sambil menepuk sebelah bahu Shen Zhu.
Kakak-kakak seperguruannya spontan merubung dan berebut untuk memberikan selamat.
Kaisar kembali menautkan alisnya. "Ada yang aneh dengan perilakunya," bisiknya pada Ketua. "Dia menjadi orang yang berbeda saat berada di arena."
"Sudah kubilang dia memiliki banyak sekali rahasia!" tukas Ketua.
Ketika Shen Zhu dan kakak-kakak seperguruannya meninggalkan gedung arena, para wanita di sana-sini menghambur ke teras menyerbu pemuda itu sambil menjerit-jerit histeris.
Shen Zhu dan kakak-kakak seperguruannya tergagap kebingungan.
Dan sebelum mereka mengerti apa yang terjadi, sebelum mereka dapat bereaksi, para wanita itu sudah merubung mengerumuni mereka sambil berebut untuk mendekat ke arah Shen Zhu.
Salah satu guru dari aliran elementalis menguak kerumunan dan menyergap Shen Zhu.
"Bi---bibi! Apa yang kau lakukan?" Shen Zhu bertanya terbata-bata.
Wanita itu meraba-raba dadanya, memutar tubuhnya ke sana-kemari seperti boneka, menepuk-nepuk bahu, pinggang, paha, hingga bokongnya. "Ternyata kau memang laki-laki!" serunya bersemangat. "Proporsi tubuhmu sangat sempurna. Imutnya…"
Shen Zhu tergagap-gagap dengan kalang kabut.
Guru wanita itu menggamit lengannya sambil tersenyum-senyum seperti orang mabuk.
__ADS_1
Tiao dan yang lainnya membekap mulut mereka dengan kepalan tangan. Bahu mereka berguncang menahan tawa.
Jialin memelototi kerumunan itu dengan rahang mengetat. Hampir tak bisa menahan diri untuk tidak menyemburkan kata-kata kasar.
Para wanita lainnya sekarang mulai berebut untuk menyentuh Shen Zhu menirukan ulah guru wanita itu.
Shen Zhu menggeliat-geliut mencoba melepaskan diri. Kemudian menyentakkan tangan guru wanita itu dan berhasil melarikan diri.
Para wanita itu serentak menghambur untuk mengejarnya.
Shen Zhu sudah berbelok di ujung gang, dan ketika para wanita itu sudah hampir mencapai ujung gang itu, seorang gadis berpakaian serba ketat berwarna hitam mengkilat tiba-tiba melesat keluar dari kelokan di mana Shen Zhu menghilang, kemudian menyapukan tendangan memutar di udara.
BLAAAAASHHH!
Ledakan cahaya berbentuk sabit membuncah dari ayunan kakinya dan menyapu semua wanita yang coba mengejar Shen Zhu.
Para wanita itu menjerit dan menarik perhatian lebih banyak orang lagi.
Gadis berpakaian serba ketat berwarna hitam mengkilat tadi mendarat di ujung koridor itu dengan sikap kuda-kuda. Sebelah tangannya terlipat di depan dada, sementara tangan lainnya terlipat di sisi bahunya. Jemari keduanya membentuk cakar. Punggungnya melengkung dalam posisi siap menerkam. Mata rubahnya terpicing dengan waspada.
Kakak-kakak seperguruan Shen Zhu terperangah bersamaan.
Jialin memicingkan matanya dengan raut wajah terguncang. Siapa gadis itu? pikirnya merasa tersengat.
Orang banyak merangsek ke ujung koridor untuk melihat apa yang terjadi.
Bao Yu dan Bao Yuwen menyeruak keluar dari pintu gedung arena. "Apa yang terjadi?" pekik mereka bersamaan.
"Adik—" Jialin menjawab terbata-bata.
Bao Yu dan Bao Yuwen serentak menghambur mengikuti arus kerumunan tanpa menunggu Jialin selesai menjawab.
Tiao dan yang lainnya mengekor di belakang mereka, menyeruak di antara kerumunan.
Jialin mengikuti mereka dengan tergopoh-gopoh. Kedua lututnya mendadak terasa goyah. Kehadiran gadis misterius yang membentengi Shen Zhu membuat dadanya serasa dihantam gada. Isi kepalanya serasa terbakar. Apa dia kekasih Adik? ia bertanya-tanya dalam hatinya. Sejak kapan dia memiliki kekasih?
"Apa yang terjadi di sini?" Sekelompok ksatria patroli menghambur ke arah kerumunan.
"Pelacur kecil itu tiba-tiba menyerang kami!" jerit salah satu wanita sambil menunjuk gadis misterius berpakaian serba ketat berwarna hitam mengkilat di ujung koridor itu.
Semua mata serentak tertuju pada gadis itu.
Gadis itu menurunkan kedua tangannya dan meluruskan tubuhnya. Kemudian berkacak pinggang.
__ADS_1
Para ksatria itu melengak menatap wanita-wanita itu dengan ekspresi syok. Lalu mengerling ke arah gadis misterius itu dengan ekspresi ngeri.