
Shen Zhu duduk bersila di depan meja makan dengan pipi bersandar pada kepalan tangan, dan sebelah siku bertopang pada meja.
Piring kosong teronggok di depannya bersama gelas yang juga kosong. Jari telunjuknya bergerak-gerak di depan hidung kucingnya yang sedang mencakar-cakar sambil mengendus-endus ujung telunjuk yang masih berbau ikan itu dan berusaha menggigitnya tapi tak pernah berhasil.
Shen Zhu memutar telunjuknya setiap kali kucing itu hampir berhasil menancapkan taringnya, sementara pikirannya melayang-layang.
Perkataan para Tetua Suci Sekte Darah kemarin siang membuatnya tak habis pikir sepanjang hari.
Menentang langit? Apanya yang menentang langit? Ia bertanya-tanya dalam hatinya. Aku hanya mencari tunggangan saja! batinnya sedikit jengkel.
"Dewa Pemburu telah turun ke Bukit Perjanjian," kata tetua suci penjaga gerbang Tanah Perjanjian Darah. "Mencarimu!"
Di Aliansi Ksatria, ada tujuh dewa utama yang diagungkan. Salah satunya adalah Dewa Pemburu. Dewa Pemburu adalah dewa penjaga Rimba Ilahi dan binatang spritual. Penguasa hutan di Tanah Perjanjian di mana Shen Zhu mendapatkan rekan monsternya.
"Anak Muda," tetua suci lainnya menimpali. "Aku tak tahu apa yang kau lakukan di dimensi lain. Tapi cobalah kau ingat-ingat lagi. Dikhawatirkan… kau melakukan sesuatu yang menentang langit?"
"Mungkinkah… ini ada hubungannya dengan orang yang kulepaskan?" Shen Zhu tercenung dengan dahi berkerut-kerut.
"Omong kosong!" sergah tetua suci lainnya. "Kami sudah membicarakan ini dan menyelidikinya. Terakhir kali portal itu dibuka, Dewa Pemburu hanya mengirim binatang spiritual. Tak ada yang masuk ke Rimba Ilahi selama tiga ratus tahun terakhir!"
"Anak Muda," timpal tetua suci lainnya lagi. "Tanah Perjanjian dilindungi sihir ilusi. Meskipun benar ada manusia di sana. Seharusnya kau tak melihatnya."
"Kau bilang, kau sempat tidak sadarkan diri," tetua suci penjaga gerbang mengingatkan. "Khusus untuk yang satu ini… kurasa… kau hanya berhalusinasi!"
Halusinasi katanya? Shen Zhu tertunduk muram. Aku kehilangan kesadaranku karena menolongnya! bantahnya dalam hati. Tapi tidak berani mengatakannya. Cara penyembuhan seperti itu harus tetap dirahasiakan.
"Betul-betul hebat!" gumam Bao Yu setelah para tetua suci itu pergi. "Akhirnya kau benar-benar menjadi pengacau tingkat langit," katanya bernada ironis. "Belum resmi jadi ksatria sudah menyinggung dewa!"
"Guru!" Shen Zhu akhirnya mengerjap dan mengangkat wajah, menatap ke arah gurunya di seberang meja. Secara spontan telunjuknya berhenti bergerak-gerak.
Kucing kecil itu berhasil menangkapnya dengan mulutnya dan menggigitnya hingga berdarah.
Shen Zhu menepiskan tangannya dan kembali menatap gurunya. Lalu terperangah melihat asap tipis berwarna gelap meresap keluar dari dada gurunya, yang secara perlahan terhisap ke dalam luka di ujung telunjuknya. "Kau terluka?" desisnya khawatir.
Semua mata di sekeliling meja serentak bergulir ke arah Bao Yu.
Kilas balik peristiwa ketika Bao Yu menangkis pedang Bao Yun melintas di kepala mereka.
"Tetua Yun—" Tiao memekik tertahan.
"Hanya cidera kecil," sergah Bao Yu sambil mengibaskan tangannya sekilas. "Lanjutkan!" katanya pada Shen Zhu.
__ADS_1
Shen Zhu mengerjap dan menelan ludah. Lalu tercenung sesaat sebelum melanjutkan, "Apa yang akan terjadi jika seseorang melakukan sesuatu yang menentang langit?"
Semua orang serempak mengerjap dan meliriknya.
"Dewa akan turun di luar Bukit Perjanjian," jawab Bao Yu.
Seisi ruangan serentak menahan napas.
Kemunculan dewa di luar Bukit Perjanjian bisa meluluhlantakkan satu wilayah.
"Sungguh celaka!" komentar Lian Ze. "Kalau sampai Dewa Pemburu yang turun, kita semua akan tamat!"
"Asal bukan Dewa Petaka!" tukas Lim Hua. "Kalau sampai Dewa Petaka yang turun, novelnya juga akan tamat!"
Seisi ruangan menegang.
"Tindakan seperti apa yang menentang langit menurut Hukum Rimba Ilahi?" Shen Zhu bertanya lagi.
"Dalam Hukum Rimba Ilahi hanya berlaku satu etika," Bao Yu mengacungkan telunjuk di sisi wajahnya. "Jangan pernah menghujat dewa!"
"Etika itu berlaku dalam semua hukum di alam semesta!" tukas Shen Zhu.
"Kalau begitu kau sudah tahu tindakan apa saja yang menghujat dewa!" sergah Bao Yu.
Lim Hua menyeringai, "Ternyata dia lumayan pintar," selanya mencemooh. "Hanya sedikit lamban!"
Murid-murid lainnya berdesis menahan tawa.
"Aku sudah ingat!" sergah Shen Zhu cepat-cepat sambil menurunkan tangannya lagi ke meja. "Menyebut nama dewa dengan sembarang, membumbui hukumnya, mencemari bait sucinya—tapi…" Shen Zhu menggantung kalimatnya sesaat. Dahinya kembali berkerut-kerut. "Apakah di hutan belantara juga ada bait sucinya?"
"Tentu," sahut Bao Yu. "Di mana pun di setiap tempat, di seluruh alam semesta selalu ada bait suci dewa. Bahkan di dunia ilusi sekalipun. Di hutan belantara, itu semacam tempat keramat atau daerah terlarang yang dibatasi rune!"
Rune adalah istilah umum dunia master spiritual untuk menyebutkan simbol-simbol misterius yang terdapat pada lingkaran formasi sihir dan segel.
"Bagaimana kalau tidak sengaja?" Shen Zhu menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak terasa gatal.
Bao Yu spontan menoleh ke arah Shen Zhu dengan mata terpicing. "Jadi kau memang melanggar hukum langit?" tanyanya setengah menggeram.
Shen Zhu tertawa gelisah sambil mengusap bagian belakang kepalanya lagi. "Aku tak yakin," jawabnya dalam gumaman tak jelas. "Seingatku aku tidak melihat ada rune. Tapi aku ingat aku terperosok ke dalam lubang di puncak gunung dengan aura dewa!"
"Sudahlah!" Bao Yu menutup pembicaraan. "Ujian Ksatria tak lama lagi, kalian harus berlatih dengan tunggangan untuk beradaptasi."
__ADS_1
Murid-muridnya mengangguk bersamaan. Lalu mulai beranjak satu per satu. Sebagian merapikan meja, sebagian mencuci perangkat makan. Sebagian membersihkan dapur. Lalu mulai berlatih dengan tunggangan mereka masing-masing.
Shen Zhu masih tercenung.
Waktu berlalu…
Ujian Ksatria hanya tinggal hitungan hari.
Sementara kakak-kakak seperguruannya sudah mulai beradaptasi dengan tunggangan mereka masing-masing, Shen Zhu dan kucingnya masih bertahan dengan agenda berebut ikan dan kejar-kejaran.
Mengacaukan dapur dan ruang makan.
Bao Yu hanya bisa mendesah dan memijat-mijat pelipisnya melihat kekacauan itu setiap hari.
Kalau sudah begitu, biasanya Shen Zhu akan menghampirinya. Menuntunnya ke meja teh dan mendudukkannya di sana. Menuangkan teh dan memijat-mijat bahunya diikuti kucing kecilnya di sisi lain.
Ya! Kucing kecilnya juga ikut memijat bahu Bao Yu!
"Kalian berdua pengacau kecil yang pandai merayu!" erang Bao Yu tanpa bisa menyembunyikan senyuman geli.
Pada akhirnya, rekan monster kecilnya hanya semakin menambah kekacauan.
Para tetua tidak berani berkomentar.
Harta Karun Tanah Perjanjian! pikir mereka tak berdaya.
Hingga…
Tiba saatnya Ujian Ksatria akan dimulai, Shen Zhu dan rekan monsternya masih saja berebut ikan dan bermain kejar-kejaran sementara semua orang sudah menunggu di pekarangan, bersiap untuk berangkat.
Mata dan kepala semua orang bergulir ke sana-kemari mengikuti gerakan mereka.
Di satu waktu Shen Zhu terlihat mengejar kucingnya, di waktu lain kucingnya yang mengejar Shen Zhu.
Sesekali mereka terlihat melesat atau memantul-mantul di atap asrama.
Sesekali mereka menyeruak di antara kerumunan dan mengacaukan barisan.
Sesekali mereka melintas di depan semua orang. Lalu menghilang di ujung gang, dan muncul lagi di gang lainnya.
"Haish!" erang Tetua Yun sambil memijat pelipis dan menggeleng-geleng.
__ADS_1
"Benar-benar tak bisa diandalkan!" gerutu guru Jialin.
Jialin berdesis menahan tawa di belakang gurunya sambil membekap mulutnya dengan jemari tangan.