Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
66


__ADS_3

Dalam keadaan tak cukup siap, Xie Ma tersentak dan melejit ke atas tunggangannya, secara refleks menangkis serangan Shen Zhu dengan tongkat sihirnya.


Para penonton terkesiap. Tidak mengira seorang peramal bisa mengimbangi seorang ksatria.


Shen Zhu tersenyum samar. "Sudah kuduga kau tidak selembut kelihatannya!" gumam Shen Zhu di antara gemuruh yang tercipta dari perpaduan aura mereka.


Xiao Mao melejit ke arah Xie Ma dari sisi lain seraya mengayunkan cakarnya.


Tunggangan Xie Ma menjejakkan satu kakinya ke lantai, kemudian melambungkan tubuhnya ke udara, dan terbang meliuk menghindari terjangan Xiao Mao, lalu menukik tajam ke arah Shen Zhu.


Xie Ma mengayunkan tongkatnya lagi, melontarkan energi cahaya berbentuk sabit.


GLAAAARRR!


Shen Zhu berhasil menangkisnya dengan kibasan pedangnya, kemudian melejit dan terbang melayang di udara.


SLAAAASSSH!


Tunggangan Xie Ma melesat ke arah Xiao Mao, mengangkat kedua kaki depannya, bersiap menindas kucing kecil itu.


Xiao Mao berguling dan menggeliat-geliut di lantai seperti sedang digelitik. Kemudian menangkap kaki rusa itu dengan dua kaki depannya dan menancapkan cakarnya.


Rusa itu tersentak dan jatuh tersungkur dengan kedua kaki depan tertekuk.


Xie Ma terpekik dan melambungkan tubuhnya ke udara dan mendarat dengan sikap kuda-kuda.


Xiao Mao berdiri di depannya dengan punggung melengkung. Bulu-bulunya menebarkan kobaran api berwarna merah darah.


Shen Zhu mendarat di belakang Xiao Mao dalam posisi kuda-kuda seraya mengangkat pedangnya di sisi wajah. "Kakak," katanya bernada membujuk. "Jangan kecewakan aku. Aku sudah mengeluarkan rekan monsterku dan menggunakan pedang. Orang-orang banyak menawarkan hadiah besar untuk peserta mana pun yang bisa membuatku mencabut pedang atau mengeluarkan rekan monsterku. Bukankah ini suatu kehormatan bagimu?"


"Dari mana kau mewarisi mulut besarmu?" dengus Xie Ma seraya menjejakkan sebelah kakinya ke lantai. Dan seketika, tubuhnya berpendar dan memunculkan banyak sosok mirip dirinya.


Para penonton terperangah bersamaan.


"Peramal bisa begitu?" pekik Tjia Qianxi, si gadis maskulin, peserta Jalur Juara dari aliran tinju.


"Kenapa tidak?" Jyang Ryu tersenyum lebar. "Beberapa peramal menguasai Figur Zodiak."


"Figur Zodiak?" Peserta Jalur Juara lainnya penasaran.


"Sosok-sosok refleksi itu merupakan manifestasi dari kedua belas Figur Zodiak," jelas Jyang Ryu. "Masing-masing sosok membawa takdir sendiri."


Shen Zhu tersenyum lebar. "Akhirnya kau mulai terlihat seperti Ibu," katanya.


"Kalau begitu aku mewakili Ibu untuk mengajarimu!" teriak Xie Ma sambil menerjang ke arah Shen Zhu, yang secara otomatis membuat sosok-sosok dirinya yang lain ikut menerjang.


Shen Zhu akhirnya terkesiap dan terlihat sedikit panik ketika rombongan itu terbang berputar-putar mengepung dirinya tanpa bisa dibedakan lagi. Yang mana yang asli? pikirnya sedikit kehilangan fokus.


Sosok pertama meregangkan busur dan melesatkan anak panahnya ke arah Shen Zhu.


Shen Zhu melentikkan tubuhnya ke belakang dalam posisi kayang.

__ADS_1


Xie Ma yang lain melesat ke arahnya seraya menyiramkan air dari dalam guci. Seekor naga berwarna biru transparan menggeliat keluar dari dalam guci itu dan menerjang ke arah Shen Zhu.


Xiao Mao melesat lebih cepat seraya mengayunkan cakarnya melontarkan energi cahaya berbentuk kubah untuk menangkis serangan naga itu.


Xie Ma ketiga melejit ke arah mereka, mengayunkan sepasang pedang berbentuk sabit dalam gerakan memutar di udara.


Dari atas, sosok Xie Ma lainnya menukik seraya menghujamkan tombak.


Di sekelilingnya, sosok-sosok Xie Ma yang lain sudah bersiap dengan formasi sihir yang mengeluarkan kepala singa, banteng, kambing makara dan lain sebagainya.


Para penonton membeku dengan mata dan mulut membulat.


"Bagaimana dia akan menghadapinya sekarang?" gumam seseorang.


"Nomor Tujuh-tujuh yang hebat itu, sepertinya hanya akan berhenti sampai di sini!" komentar seorang pejabat.


Bao Hu mengerling melewati bahunya.


"Benar," timpal seorang tetua dari sekte lain.


Giliran Bao Yun sekarang yang mengerling ke arah tetua itu.


"Manifestasi Figur Zodiak adalah teknik penggandaan level kekuatan," tutur tetua sekte tadi. "Sehebat apa pun bakat ksatria, melawan tiga belas sosok dengan level kekuatan sepuluh saja sudah setara dengan ksatria level seratus tiga puluh!"


"Ini adalah pertama kalinya Nomor Tujuh-tujuh terlihat tak tenang," timpal tetua yang lainnya. "Sepertinya… sejak awal dia sudah tahu kemampuan tersembunyi peramal itu!"


"Peramal yang bisa mengendalikan Figur Zodiak, setidaknya sudah mencapai ranah galaksi!" seru salah satu juri.


"Kalau begitu Nomor Tujuh-tujuh itu benar-benar sial!" timpal juri lainnya.


Bersamaan dengan itu, lantai arena meledak oleh semburat cahaya terang berwarna-warni.


Tubuh Shen Zhu meledak memancarkan cahaya seperti aurora.


Para penonton terpekik dan menahan napas.


"Apa yang terjadi?" Mereka bertanya-tanya.


Ketiga belas sosok Xie Ma tersentak dan berpencaran tersapu cahaya yang menyilaukan itu.


Sedetik kemudian…


DUAAAAARRRR!


Arena menggelegar dan berguncang.


Para ksatria di sekeliling arena terseret ke belakang dengan lutut tertekuk, kedua tangan mereka terbentang di depan wajah mereka dengan gemetar, menahan dorongan kuat yang hampir meledakkan ranah yang mereka buat.


Shen Zhu tiba-tiba muncul di atas arena dengan kucing kecilnya sudah bertengger di bahunya.


Para penonton menggumam bersamaan.

__ADS_1


Xie Ma tersentak dan mendongak dengan mata dan mulut membulat.


"Dia menggunakan teleportasi untuk melepaskan diri!" Beberapa orang menyadari.


"Tidak sesederhana itu," gumam Kaisar dengan dahi berkerut-kerut. "Aku merasa… seperti ada akumulasi momentum."


"Benar!" timpal Ketua Aliansi. "Hanya saja… ada yang aneh dengan akumulasi momentum anak itu."


"Penyatuan Agung!" seru seorang juri.


"Penyatuan Agung?" para pejabat terperangah.


Penyatuan Agung adalah teknik ilmu spiritual tertinggi dalam dunia ksatria. Teknik pemecahan simetri seperti meledakkan diri sendiri untuk menghindari serangan. Ilmu semacam ini hanya dimiliki beberapa master spiritual dengan elemen cahaya di ranah surgawi.


Semua mata di deretan bangku ketua sekte serentak bergulir ke arah Bao Hu.


"Jangan memelototiku," dengus Bao Hu. "Aku hampir tak pernah meliriknya selama bertahun-tahun," ia mengaku. "Aku juga tak tahu perkembangannya!"


Ketua Aliansi tersenyum masam. Anak itu terlihat lemah saat diambil, kenangnya getir. Para pemilik sekte ini berebut untuk menolaknya. Bahkan Laut Elemen, pusaka dan kitab keramat juga menolaknya. Apa artinya?


Pada saat yang sama, arena kembali bergejolak.


Tiga belas sosok Xie Ma sudah menerjang kembali di sana-sini sementara adiknya menyerampang ke sana-kemari, mengayun-ayunkan pedang seraya menyapukan tendangan memutar di udara secara bertubi-tubi, untuk menghalau setiap serangan.


BUM!


BUM!


DUAAAAARRRR!


DUAAAAARRRR!


Arena membuncah oleh ledakan cahaya dan gelegar halilintar.


Kucing kecil Shen Zhu berkeredap dan berpindah-pindah tempat dalam sekejap sambil mengayun-ayunkan cakarnya. Setiap gerakannya menciptakan semburat cahaya di sana-sini.


Sosok-sosok Xie Ma terlempar ke sana-kemari dalam berondongan pukulan secepat kilat.


Begitu cepat hingga Shen Zhu terlihat seperti lebih dari satu.


Para penonton terkesiap dengan mata dan mulut membulat. Tanpa sadar menahan napas.


Tak lama kemudian…


BUUUUUUUMMMMM!


Aula menggelegar tersapu ledakan dahsyat yang tak terkira.


Ketiga belas sosok Xie Ma terjerembab dan terserak setengah terkubur di lantai arena yang telah meledak.


Xie Ma yang asli terpuruk di lantai dalam posisi duduk bersimpuh. Kedua bahunya menggantung lemas di sisi tubuhnya. "Akhirnya kau terlihat seperti Ayah," katanya terengah-engah.

__ADS_1


__ADS_2