Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
28


__ADS_3

Sisa perjalanan itu dilanjutkan dengan masing-masing orang mengenyampingkan harga diri dan membiarkan Shen Zhu mengatur semuanya, karena tidak satu pun bisa berpikir waras.


Para kusir dan pengawal mereka semua terbaring, bergelimpangan dalam kubangan darah akibat sayatan sicae yang menancap pada daging, tangan terpotong, perut terkoyak, dan mereka tahu persis mereka tak akan pernah bisa memperbaiki keadaan tubuh terkoyak yang sudah sekarat.


Tak ada lagi yang bisa dilakukan. Setidaknya tak ada yang bisa mereka lakukan.


Tak ada yang bisa dilakukan siapa pun untuk mencegah mereka mati.


Bao Tiao terpaksa menerima tawaran Shen Zhu untuk menjadi saisnya.


Karena melihat para pengawalnya mati adalah pemandangan yang tidak tertahankan seperti apa pun keadaannya, lebih daripada yang bisa ia tahan.


Dan karena gerakan itu, berjalan menjauh dari para pengawal yang mati dan meninggalkan mereka di lumpur, telah memicu sesuatu yang lebih daripada sekadar rasa tak berarti.


Seperti retakan yang merayap pada dinding yang curam. Itu adalah dindingnya, dan dinding itu mulai runtuh.


Tiba-tiba sesuatu terlepas dari dalam diri Tiao. Rasa tegang, kegelisahan dan kemarahan yang biasa memacunya selama ini, merespons dan bertindak dengan gegabah, menjadi terkulai seperti parasut yang menyentuh tanah.


Ia melihatnya sekarang. Kematian anggota sektenya tertelungkup di sisi jalan, kematian dalam perang adalah kematian yang berbeda dari yang mati di jalan-jalan.


Ya, ia melihatnya sekarang.


Kita sebenarnya bisa pergi meninggalkan sesosok tubuh, meninggalkan orang itu di lumpur, seperti hewan yang membusuk kehujanan.


Bangkai berdarah, setengah telanjang karena pakaiannya telah robek-robek.


Kita dapat pergi, atau harus pergi meninggalkannya supaya kita bisa melanjutkan hidup, karena ada terlalu banyak mayat atau karena tidak ada yang bisa dilakukan.


Kematian di tengah debu, di atas tanah, selalu berkaitan dengan mayat-mayat itu, meminta kita untuk menutup matanya, membersihkan tanah yang mengotorinya, mengusap darahnya, menggunakan tangan kita, mengangkatnya pada bahu kita.


Inilah rupa dunia kematian setiap hari di banyak bagian dunia.


Dan sisa perjalanan itu mereka lewati dalam kebisuan panjang yang membingungkan.


Tianba dan rekannya dengan senang hati menawarkan diri untuk menjadi kusir Jialin.


Lim Hua menjadi kusir kereta satunya, sementara kereta satunya lagi terpaksa ditinggalkan begitu saja di tepi jalan bersama sais dan para pengawal yang sudah mati.

__ADS_1


Tidak disangka mereka semua akan dipimpin oleh seorang anak yang paling muda yang selama ini selalu dipandang lemah.


Tidak disangka dalam kondisi yang paling genting justru dialah satu-satunya yang bisa tetap berpikir waras.


Lebih dari itu, Shen Zhu sebenarnya bahkan sudah memperhitungkan kemungkinan terburuk.


Aliansi Sicarii bukan kelompok yang mudah disinggung. Membunuh anggotanya sama saja dengan menantang kelompok mereka.


Cepat atau lambat, kematian para Sicarii itu akan diketahui anggota lainnya. Dan cepat atau lambat, mereka akan mengincar Sekte Bao.


Namun terlepas dari semua itu, Shen Zhu bisa mengendus adanya konspirasi di balik penyerangan tadi.


Seseorang telah menghabiskan banyak uang untuk menyewa pembunuh bayaran. Dan ia tahu apa yang diincarnya.


Pusaka Dewa Petaka!


Gurunya sudah memperingatkan tentang hal ini.


"Mulai sekarang kau harus berhati-hati. Segel Dewa-mu sudah keluar. Nyawamu mungkin terancam. Orang-orang akan mengincar pusakamu."


Namun… pikir Shen Zhu. Segel dewa petaka baru keluar di perguruan. Seharusnya baru orang dalam yang tahu. Ada pun orang luar yang mengetahuinya, hanya Jyang Yue dan kakaknya. Shen Zhu percaya mereka tak mungkin membocorkan rahasianya.


Bagaimanapun Segel Dewa Petaka adalah pusaka penting yang paling diincar. Orang-orang dalam tak akan rela bersaing dengan lebih banyak orang.


Jadi, yang paling memungkinkan berniat merebut pusakanya adalah orang Sekte Bao sendiri.


Mengingat situasi tadi, Shen Zhu sudah mengantongi empat nama yang mungkin terlibat. Murid-murid Asrama Tujuh tidak termasuk.


Tapi setelah Shen Zhu menilik lebih jauh ke dalam mata Bao Tiao yang menatap nanar para pengawalnya tewas, ia pun mencoret nama Tiao dari daftar orang yang dicurigai.


Sisa tiga orang di kereta ekslusif itu yang harus diwaspadai di samping ancaman aksi pembalasan pihak Sicarii.


Dapatkan saja kristalnya! Tuntaskan misi ini! nasihat dirinya yang tenang dan buas akibat ditempa oleh banyak kerugian yang membuat dirinya menjadi bulan-bulanan keadaan, sisi dirinya yang selama ini membantunya tetap bertahan hidup demi menguak kebusukan para bajingan yang mengincar pusaka keluarganya.


Kau akan segera keluar dari sini secepatnya, menyusup ke Markas Besar Aliansi Ksatria sebagai peserta ujian dan mendapat kesempatan untuk memanta-matai para bajingan yang telah menimbun pusaka keluargamu!


Semakin cepat ia mendapatkan kristal dewa iblis, maka semakin cepat ia bisa kembali ke perguruan dan kembali berlatih. Kalau ia bisa melewati semua prosedur Ujian Ksatria, maka ia bisa memburu para perampok bertopeng ksatria dan melaksanakan balas dendam.

__ADS_1


Dengan cara timur—kau sentuh harta karunku, maka kepalamu akan berada di ujung pedangku.


Shen Zhu mengarahkan kuda-kuda penarik kereta itu menyusuri lapangan rumput yang landai dan terpesona oleh pemandangan hijau yang tersaput gelapnya malam yang menghampar luas di sekelilingnya.


Udara yang berbuih, begitu ringan bagaikan gumpalan awan, membelai lehernya. Rambut panjangnya yang diikat kencang ke belakang, melecut-lecut menyerupai ekor kuda.


Ia memandang sekeliling.


Di ujung sana lapangan, permukaan tanah kembali melandai dan terus menurun. Pohon-pohon kurus berderet di antara semak-semak ilalang setinggi pinggang orang dewasa.


Ia tak dapat memperkirakan seberapa luas lapangan rumput itu.


Tiga ratus enam puluh derajat hamparan warna biru keunguan dan tanah yang gelap, pegunungan dan lembah, di mana biru berubah menjadi ungu kemudian abu-abu dan hitam.


Itu hanya sejenak, satu embusan napas. Satu saat ketika segala sesuatunya naik satu oktaf dan ia merasakan getaran di tulang punggung.


Setelah berjalan cukup jauh, mereka akhirnya sampai di tepi ngarai, dan menemukan hutan belantara yang lebih gelap dari yang dapat mereka bayangkan di bawah sana.


Hutan di lembah ngarai itu adalah tujuan mereka.


Lalu secara serentak dan tanpa aba-aba, mereka semua menghentikan kereta dan satu per satu semua orang melompat turun, dan menambatkan kuda-kuda mereka di sana.


Hari sudah larut malam ketika mereka tiba di tepi ngarai itu, sementara mereka juga sudah terlalu lelah untuk berburu. Dan hutan di bawah sana terlalu gelap. Terlalu berisiko.


Jadi mereka memutuskan untuk beristirahat menunggu pagi.


Shen Zhu membuat perapian, sementara kakak-kakak seperguruannya mengeluarkan bekal mereka dari kereta.


Jialin dan Tianba memisahkan diri bersama rekan mereka ketika rombongan Asrama Tujuh mulai menikmati makan malam mereka.


Bao Tiao menepi cukup jauh dari gerombolan adiknya dengan ekspresi tertekan.


Shen Zhu memperhatikan mereka diam-diam. Lalu tersenyum sinis. "Tidak mau bergabung?" sindirnya. "Apa bisa kenyang hanya dengan menelan harga diri?"


"Kau—" Jialin menudingkan telunjuk ke arah Shen Zhu dengan rahang mengetat. Tapi lalu terkesiap ketika kakaknya melangkah pelan melewatinya tanpa menoleh, lalu bergabung dengan rombongan Asrama Tujuh.


Tianba dan rekannya mengawasi punggung Tiao dengan mata terpicing, ketika pemuda itu mulai berbaur meskipun kikuk.

__ADS_1


Jialin spontan mendelik dan memutar tubuhnya membelakangi kakaknya dengan cemberut.


__ADS_2