
"Perhatikan baik-baik! Malam ini juga, aku ingin mereka semua mati. Tidak boleh ada kesalahan. Habisi tanpa sisa!"
"Baik!"
"Kalian ke pintu belakang!"
"Baik!"
"Kalian blokir kiri-kanan!"
"Baik!"
"Sisanya ikut aku!"
Suara ini… Shen Zhu menggumam di antara kesadarannya yang timbul-tenggelam.
Suara bisik-bisik itu berasal dari radius seratus atau dua ratus meter dari pekarangan belakang Asrama Tujuh.
Kelopak mata Shen Zhu tersentak membuka. Telinganya spontan waspada.
Waktu sudah hampir dini hari ketika ia akhirnya terlelap dan mendengar suara-suara kaki mengendap di sekeliling asrama mereka. Ia menarik paksa kesadarannya setelah mendengar bisik-bisik itu.
Ada penyergapan! ia menyimpulkan. Kemudian menghela duduk tubuhnya dengan perlahan dan mengedar pandang.
Kakak-kakak seperguruannya sedang terlelap. Sebagian menggumam, sebagian mendengkur. Sebagian lagi terbaring tenang tanpa suara.
Biasanya mereka yang berjaga secara bergiliran untuk menjagaku setiap malam, kenang Shen Zhu. Sekarang giliranku menjaga kalian! katanya dalam hati.
Shen Zhu memicingkan matanya ketika ia menoleh ke tempat tidur yang telah lama kosong dan sudah dibenahi, yang seharusnya sudah ditempati penghuni baru.
Tiao tak ada di tempat tidurnya!
Di mana dia? Shen Zhu bertanya-tanya dalam hatinya. Lalu menyingkap selimutnya dan melangkah turun dari tempat tidurnya dengan hati-hati, kemudian menyelinap keluar tanpa meninggalkan suara.
SLAAAASSSH!
Shen Zhu melesat ke dalam kegelapan dan mendarat di atas dahan sebatang pohon, kemudian meneliti sekeliling dengan waspada.
Kastil tua tinggi menjulang itu tersaput kabut menampilkan celah-celah tak terduga dengan warna-warna gelap, yang semakin menekankan konteks antara peninggalan kuno dan nuansa klenik.
Di sekelilingnya terbentang hutan hijau yang indah. Pohon-pohon persik yang langsing dan pohon-pohon birkin tumbuh melengkung ke pekarangan. Di baliknya, hutan tampak gelap karena ditumbuhi pohon-pohon bambu.
Cahaya pucat bulan tersaring celah-celah dedaunan, menebarkan titik-titik terang di permukaan lantai hitam kastil. Kunang-kunang terbang ke sana kemari, keluar-masuk berkas cahaya kelabu pucat yang menyorot dari atas.
SRAK!
Pucuk pohon tersentak ketika sebuah bayangan melesat dari kaki tebing dan melompatinya. Lalu sepasang kaki bersepatu armor mendarat ringan di lantai batu kuno kastil. Ujung jubahnya melecut lembut menyapu dedaunan kering.
Shen Zhu memicingkan matanya ketika merasakan pergerakan halus lainnya dalam kegelapan.
SAAAAT!
__ADS_1
SAAAAAT!
Shen Zhu melihat dua bayangan gelap melesat ke atap asrama.
SLASH!
SLASH!
Dua bayangan lainnya menyelinap ke balik dinding.
Bersamaan dengan itu, ia mendengar suara lain di belakangnya.
Shen Zhu menyentakkan kepalanya ke samping dan tertunduk.
Tiao berjalan tepat di bawah pohon di mana Shen Zhu bertengger.
Shen Zhu serentak menautkan alisnya dan mengawasi pemuda itu dengan curiga.
Pemuda itu berjalan menuju beranda asrama, dan ketika ia mengulurkan sebelah tangannya untuk menguak pintu, sesosok bayangan gelap melesat ke arahnya dan menyergapnya.
Sial! umpat Shen Zhu dalam hatinya. Lalu menepuk dahinya sendiri.
Sekarang Tiao bergulat dengan sosok tak diundang itu dan menggeliat-geliut mencoba melepaskan diri.
Sungguh salah besar telah mencurigainya berlaku curang! batin Shen Zhu menyesal. Kemudian menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya di depan wajah dan melontarkan energi cahaya berbentuk jarum ke arah sosok berpakaian ninja itu.
Tiao tersentak dan mengedar pandang dengan kebingungan. Dan sebelum ia menyadari apa yang terjadi, sosok berjubah gelap lainnya melontarkan belati ke arah pemuda itu.
Tiao masih tergagap-gagap kebingungan. Tapi akhirnya sadar bahaya. Dengan meningkatkan kewaspadaan, ia mengeluarkan pedang dari cincin penyimpanannya dan melesat ke pekarangan samping.
SLAAAASSSH!
SLAAAASSSH!
Sejumlah belati menerjang di sana-sini, di susul sejumlah pria berseragam ninja.
Gawat! Shen Zhu akhirnya tak tinggal diam. Dengan cepat ia melesat ke arah Tiao dan menghalau semua serangan itu dengan tendangan memutar di udara. Kemudian mendarat di sisi Tiao.
"Adik!" Tiao terpekik kaget.
"Ssssttt!" Shen Zhu menempelkan telunjuk di bibirnya dan memasang kuda-kuda. "Jangan sampai membangunkan Guru," bisiknya memperingatkan.
"Siapa mereka?" tanya Tiao balas berbisik, sambil memutar tubuhnya membelakangi Shen Zhu dan memasang kuda-kuda.
"Sicarii!" jawab Shen Zhu.
"Kenapa mereka lagi?" pekik Tiao yang dalam sekejap ditanggapi serangan beruntun.
SLASH!
SLAAAASSSH!
__ADS_1
Shen Zhu menyerampang ke sana-kemari untuk menghalau belati-belati itu dengan energi cahaya.
Tiao juga melakukannya dengan membekukan setiap pergerakan dengan teknik elemen.
Detik berikutnya, tiga Sicarii menerjang ke arah mereka seraya melontarkan energi cahaya berbentuk sabit. Bersamaan dengan itu, mereka juga melontarkan sejumlah belati dari sela-sela jemarinya masing-masing.
Shen Zhu dan Tiao melambung dan memantul-mantul di tengah kepungan, menarikan tarian Malaikat Jurang maut dalam kebisuan gaib, dengan tetap saling membelakangi satu sama lain.
Setiap kali mata pedang Tiao menyerampang ke samping, tendangan Shen Zhu melambung ke atas dengan kedua kaki merentang 180 derajat.
Saat pedang Tiao menukik ke bawah, Shen Zhu melambung dengan tendangan memutar di udara. Saat pedang Tiao membadai di udara, Tendangan maut Shen Zhu menyerampang dari bawah.
Bagaimana pun bentuk serangan yang menerjang ke arah mereka, keduanya selalu berhasil menghalaunya bersama-sama. Gerakan mereka seolah sudah terlatih untuk saling melindungi satu sama lain.
Jumlah pria berseragam ninja itu semakin bertambah setiap kali mereka berhasil menumbangkan salah satunya.
Salah satu dari mereka melesat ke arah Shen Zhu sambil mengayunkan pedangnya, mengincar tenggorokan Shen Zhu.
Shen Zhu spontan mengelak dengan melentingkan tubuhnya ke belakang dalam posisi kayang.
Tidak benar! pekiknya dalam hatinya. Sicarii tidak membawa pedang.
SLASH!
Dua belati lagi melesat rendah mengincar mata kaki Tiao
Tiao melejit ke dinding asrama dan menjejakkan sebelah kakinya untuk kemudian memantulkan tubuhnya lagi sambil memutar, melontarkan jarum-jarum es dari sela-sela jemari tangannya yang bebas, sementara tangan satunya mengayunkan pedang.
Bersamaan dengan itu tiga buah belati melesat cepat mengincar leher dan dada Shen Zhu.
Shen Zhu hanya mengedikkan bahunya sedikit seraya mengibaskan tepi hanfunya.
Salah satu Sicarii terbang menukik dari atap ke arah Shen Zhu dengan kedua kaki merentang lurus di udara dalam split sempurna, mencoba menghujamkan tumitnya ke bahu pemuda itu. Tapi dalam sekejap pemuda itu sudah berpindah tempat dan tumit Sicarii itu mendarat di lantai trotoar.
Sicarii itu melompat lagi, melambungkan tubuhnya hanya setinggi dua kaki sambil melayangkan tendangan memutar, mengincar pinggang Shen Zhu. Tapi pemuda itu menangkap pergelangan kakinya dan melemparkan tubuhnya ke samping.
BUG!
Punggung Sicarii itu membentur dinding asrama dengan sentakan keras.
Shen Zhu berjalan ke arah Sicarii yang membawa pedang dengan langkah-langkah lebar.
"Adik!" Tiao tersentak dan menatapnya dengan khawatir.
SLASH!
Dua buah belati melesat lagi ke arah mereka.
Tiao spontan menghalaunya dengan teknik elemen yang telah dilatihnya sejak kembali dari Hutan Perburuan. Lalu bergegas mengekori Shen Zhu dengan tetap mempertahankan posisi saling membelakangi, berjalan mundur sambil menghunus pedang dengan waspada.
Shen Zhu berhenti di depan Sicarii yang membawa pedang itu dan bersedekap sembari menyeringai. "Tengah malam begini, membawa begitu banyak orang untuk memberi salam padaku… bukankah terlalu berlebihan, Tianba?" selorohnya bernada mencemooh.
__ADS_1
"Apa?" Tiao terpekik dan menoleh ke belakang. "Tianba?"