
Menjelang pagi, Shen Zhu baru terlelap sebentar ketika pengawal bayangannya kembali dan menyelinap ke dalam kamarnya.
Pengawal bayangan itu memekik tertahan mendapati seorang gadis berbaring di satu ranjang bersama Shen Zhu. Ia berniat berbalik diam-diam, tapi karena terlalu syok, ia menyenggol meja teh dan menyentakkan Shen Zhu.
Shen Zhu terbangun dan terperanjat mendapati Xiao Mao tengah memeluknya dalam bentuk seorang gadis, lalu menoleh ke arah meja teh dan gelagapan melihat pengawal bayangannya. Dengan cepat ia mendorong kepala Xiao Mao ke dalam selimut dan mengubahnya menjadi kucing.
Xiao Mao tersentak dan terbangun.
Shen Zhu terduduk dan menyapa pengawal bayangannya dengan salah tingkah, "Kau sudah kembali?" tanyanya berbasa-basi.
"Ah—haha!" Pengawal bayangan itu tertawa gelisah dan berbalik menghadap Shen Zhu. "Maaf—" ungkapnya tergagap-gagap. Kemudian melirik ke belakang Shen Zhu.
Kepala Xiao Mao muncul dari balik pinggang Shen Zhu dalam bentuk kucing.
Pengawal bayangan itu menghela napas diam-diam dan memaksakan senyum. "Semuanya sesuai instruksi Tuan," katanya sedikit kikuk.
"Kalau begitu kau beristirahatlah!" perintah Shen Zhu sambil menyingkap selimutnya dan melangkah turun dari tempat tidurnya. "Aku ingin berjalan-jalan," katanya sambil berjalan ke ruang pemandian.
Xiao Mao melompat turun dari tempat tidur dan mendarat di lantai, kemudian mendongak ke arah pengawal itu dan menelengkan kepalanya sedikit.
"Tak perlu sungkan!" teriak Shen Zhu dari ruang pemandian. "Tidurlah di tempat tidurku!"
Pengawal bayangan itu tertunduk menatap Xiao Mao dengan salah tingkah. Kucing itu mengawasinya dengan sorot mata yang seolah mengatakan, "Jangan coba-coba tidur di ranjangku!"
"Aku tidur di lantai saja!" tukas pengawal itu dengan terbata-bata.
Matahari belum muncul ketika Shen Zhu melangkah keluar dari penginapan, hanya semburat cahaya jingga keemasan berpendar di kaki langit.
Jalanan di sepanjang pusat perbelanjaan sudah dipadati para pedagang yang bersiap membuka lapak mereka masing-masing.
Shen Zhu berjalan pelan melewati pasar tradisional itu sembari menggendong Xiao Mao, memasuki jalanan yang lebih kecil yang mengarah ke sebuah desa.
"Desa Shu!" Xiao Mao memberitahu melalui suara dalam kepala Shen Zhu. "Sekte kecil aliran Tao!"
"Mari kita buat sedikit kekacauan," bisik Shen Zhu seraya tersenyum miring.
__ADS_1
"Kekacauan? Aku suka!" seru Xiao Mao bernada antusias kekanak-kanakan.
Tak lama kemudian, Shen Zhu sudah berada di depan gerbang sebuah akademi beladiri.
Dua penjaga berbaju zirah menghadang Shen Zhu dengan menyilangkan tombak mereka satu sama lain. "Tanpa rune mantra tak boleh masuk!"
"Mantra?" Shen Zhu menanggapi dengan senyuman sinis, kemudian melipat sebelah tangannya ke belakang dan membusungkan dada, "Kalau begitu silahkan pilih sendiri!" katanya sambil mengaktifkan untaian huruf berbentuk rantai emas yang meliliti sekujur tubuhnya seperti jaringan saraf.
Kedua penjaga gerbang itu tersentak dan tergagap. "Bagaimana bisa Ksatria Tingkat Lima—" pekik mereka bersamaan. Tapi lalu hanya bergeming melihat rantai cahaya emas di tubuh Shen Zhu.
Untaian rantai emas yang terdiri dari huruf-huruf yang membentuk kata demi kata itu menjalar melewati gerbang seperti gambar titi nada, kemudian menebar ke halaman perguruan dan menyelinap ke tiap sudut seperti sulur asap.
Seluruh perguruan mendadak dibuat gempar.
Kedua penjaga gerbang itu menyisi dan berlutut di kiri-kanan gerbang, "Tetua!" hormat mereka dengan terbata-bata, kemudian mempersilahkan Shen Zhu masuk.
Shen Zhu melangkah masuk seraya tersenyum miring. "Tak disangka menjadi tetua aliran tao begitu mudah," bisiknya bernada licik.
Beberapa saat kemudian, pekarangan perguruan dipenuhi banyak orang. Semua orang menatap Shen Zhu dengan ekspresi campuran antara takjub dan waspada.
Shen Zhu tidak menjawab, hanya berdiri santai sambil mengusap-usap kepala Xiao Mao.
Dua biksu tetua lain bergabung dengan tetua yang pertama, lalu saling melirik dengan mata terpicing.
"Siapa kau sebenarnya?" salah satu tetua menghardik Shen Zhu.
"Aku adalah aku," jawab Shen Zhu acuh tak acuh. Lalu mengangkat wajahnya dan mengedar pandang tanpa ekspresi.
Para biksu itu kembali bertukar pandang dengan ekspresi ngeri.
Siapa yang tidak takut mendengar kalimat "Aku adalah aku?" Setiap Master Spiritual yang memegang teguh ajaran para dewa meyakini istilah itu sebagai identitas dewa tunggal tertinggi.
Pikiran pertama yang melintas dalam benak setiap orang ketika mendengar istilah itu adalah utusan dewa atau penyesat.
Menghadapi seorang Ksatria Tingkat Lima yang bahkan belum genap tiga puluh tahun membuat mereka sangsi, namun melihat kitab kehidupan meliputnya membuat mereka tidak berani bertindak gegabah.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan?" Pertanyaan frontal itu akhirnya keluar dari mulut salah satu tetua. Hanya tujuan akhir yang akan membuktikan apakah ia utusan dewa atau si penyesat, katanya dalam hati.
"Hanya hal sepele," jawab Shen Zhu tak kalah frontal. "Sepuluh kuota Ujian Ksatria!"
"Lancang!" hardik biksu tetua tadi seraya mengetukkan ujung tongkatnya ke lantai batu yang menjadi pelataran bangunan utama perguruan itu.
Lingkaran cahaya emas berpendar dari ujung tongkatnya mengempaskan debu dan angin kencang.
Rambut dan jubah Shen Zhu melecut di sekeliling tubuhnya, tapi tubuhnya tidak tergoyah.
"Beraninya menghujat dewa demi kepentingan politik!" hardik biksu tetua lain seraya menudingkan telunjuk ke arah Shen Zhu.
Shen Zhu menelengkan kepalanya sedikit dan tersenyum miring, seketika seluruh tempat berdesir oleh tiupan angin yang misterius.
Semua orang di pelataran gedung perguruan itu beringsut selangkah ke belakang.
"Bicara kepentingan politik…" Shen Zhu melangkah perlahan mendekati ketiga biksu tetua dengan ekspresi tenang, lalu berhenti tiga langkah di depan mereka. "Mendaftar dan bertarung untuk mendapatkan kedudukan di Aliansi Ksatria, menjadi budak dari generasi ke generasi, menurutmu… apakah lebih baik dari memerdekakan diri?"
"Kau ingin memberontak?" desis salah satu tetua bernada tajam.
"Siapa para petinggi Aliansi Ksatria dibanding para dewa?" tukas Shen Zhu tanpa ekspresi.
"Mereka adalah pemilik lima pilar dewa!" sergah salah satu tetua. "Siapa kita dibanding mereka?"
"Lima pilar dewa di Kota Pangkalan dibangun oleh tujuh kekaisaran," tutur Shen Zhu. "Para ksatria diambil dari semua sekte. Tanpa tujuh kekaisaran dan para ksatria, Aliansi Ksatria tidak memiliki apa-apa."
"Anak Muda!" biksu tetua lainnya menyela Shen Zhu. "Kau cukup bernyali untuk mengira kami takkan mengadu pada pihak Aliansi!"
"Semua orang cukup bernyali mengatakan hal yang sama," sanggah Shen Zhu. "Tapi tidak seorang pun berani mengatakannya secara terang-terangan!"
"Kalau kau begitu bernyali, lakukan saja sendiri!" hardik biksu tetua yang pertama. "Jangan melibatkan sekte kecil kami!"
"Kalau begitu serahkan Sekte Shu padaku!" pinta Shen Zhu tanpa beban.
Semua orang menggumam bersamaan. "Sayang sekali! Masih muda sudah gila!"
__ADS_1