
Long Yueyan berjalan mondar-mandir dengan gusar di antara deretan bangku-bangku penonton. Satu kata yang mondar-mandir di kepalanya adalah: Celaka! Celaka! Celaka!
Sudah cukup buruk melawan Alkemis brutal berotot tak berotak, dan sekarang aku juga harus bertarung dengan orang paling mengerikan di tahun ini!
Tidak bisa! katanya dalam hati. Masih ada sedikit waktu! Aku harus mengganti manna! ia memutuskan. Lalu ia mengerling ke deretan bangku di seberang tangga di gang antara deretan bangku-bangku penonton dan mendapati Tjia Xiawu sedang beramah-tamah dan duduk bersisian dengan Liu Xie Ma.
Dua gadis lembut berpakaian elegan, pikir Yueyan. Pasti hatinya mudah dirayu dan sangat sensitif. Lalu bergegas ke arah mereka dengan gaya elegan yang berlebihan.
"Coba lihat kalian!" seru Yueyan dengan riang. "Dari seberang sana, aku mengira bidadari kembar baru saja mendarat!"
Xiawu dan Xie Ma menoleh serempak ke arah Yueyan, lalu mengerjap dan terperangah dengan ekspresi bingung.
"Omong-omong…" Yueyan menyelinap dan duduk di tengah-tengah mereka, "Namaku Long Yueyan! Kalian dengar, kan? Long… Yueyan!" katanya dengan sengaja mengulang namanya dan memberikan tekanan ketika menyebutkan nama depannya. "Aku putri tertua Kaisar Jiangnan. Juara pertama di Babak Penyisihan Aliran Sihir. Genius Nomor Satu di Jiangnan. Penyihir Mulia paling berbakat yang tak terkalahkan dalam sejarah. Calon Ketua Sekte Sihir, Pewaris Tahta Jiangnan yang tidak diragukan lagi," cerocosnya seolah tidak bernapas.
Xiawu dan Xie Ma kembali mengerjap dan bertukar pandang. Tapi lalu keduanya beranjak dan dengan kikuk mereka membungkuk. "Salam kenal, Tuan Putri!"
"Ah—tidak perlu bersikap formal begitu!" sergah Yueyan sambil merenggut pergelangan tangan keduanya dan menarik mereka untuk kembali duduk di kiri-kanannya.
Xiawu dan Xie Ma memaksakan senyum.
"Jujur saja," kata Yueyan. "Aku merasa sangat berjodoh dengan kalian. Dan kita bertiga kelihatan sangat cocok. Cantik, lembut, elegan!" pujinya sambil mencolek dagu keduanya bergantian.
Xiawu dan Xie Ma mengernyit bersamaan.
"Seperti kata pepatah, di rumah mengandalkan saudara, di luar mengandalkan teman," cerocos Yueyan tidak ada habisnya. "Jika tidak keberatan, kita bertiga bersumpah, kelak kita akan saling menjaga!"
Xiawu dan Xie Ma menelan ludah dengan raut wajah ngeri.
Yueyan menatap keduanya bergantian dengan mata mengerjap-ngerjap dengan gaya menggoda. "Kalau tidak menolak berarti kalian setuju," katanya agak memaksa. "Ternyata kalian sangat tulus padaku!" ia menambahkan. "Jika aku masih punya keegoisan dan merahasiakan sesuatu dari kalian aku benar-benar jahat dan sangat berdosa."
Xiawu dan Xie Ma tak tahan lagi. Dengan halus mereka menarik tangan mereka, berusaha melepaskan diri dari genggaman Yueyan.
"Jujur saja!" Yueyan mengetatkan cengkeramannya di pergelangan tangan keduanya. "Orang-orang hebat dalam Ujian Ksatria ini telah kuselidiki dengan jelas," bisiknya sambil membungkuk dengan gaya dramatis. "Dan asal kalian tahu, dalam tim kalian ada banyak sekali orang hebat. Benar-benar gawat!"
Xiawu dan Xie Ma mengangguk singkat seraya memaksakan senyum sekali lagi. Tapi tidak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Lebih tepatnya sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk mengucapkan sepatah dua patah kata.
Yueyan mendominasi pembicaraan!
"Biar kukatakan saja secara terus terang," lanjut Yueyan tidak peduli. "Hanya tim biruku ini saja yang kemampuannya paling lemah," katanya seraya mengeluarkan manna berwarna biru dari balik lengan hanfunya. "Sekarang kalian dalam bahaya, dan aku, sebagai teman, tak mungkin tidak peduli!"
__ADS_1
Xiawu dan Xie Ma saling mengerling dengan isyarat memohon.
"Sayangnya aku hanya punya satu manna berwarna biru!" erang Yueyan dengan ekspresi menyesal yang jelas dibuat-buat. "Padahal aku punya dua teman baik sekarang!" ia menambahkan dengan gaya dramatis seperti pemain opera. "Aku benar-benar sulit untuk memilih!"
Xiawu dan Xie Ma berusaha menyingkirkan tangan Yueyan dengan tekanan lembut.
"Sebagai Pewaris Tahta Jiangnan yang tidak diragukan lagi, aku tak boleh acuh tak acuh karena sulit memilih dan menjebak temanku sendiri!" Yueyan mengetatkan cengkeramannya lagi dengan sedikit sentakan peringatan. "Pepatah mengatakan, keberhasilan diberikan kepada orang yang tegas. Maka, kesempatan untuk mengubah nasib ini, hanya akan diberikan kepada siapa saja di antara kalian yang paling duluan! Jadi… siapa yang ingin bertukar denganku?" tantangnya seraya mengulurkan manna di telapak tangannya.
Xiawu dan Xie Ma akhirnya berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Yueyan, lalu secara serentak keduanya beranjak dan menjauh.
"Hei—" Yueyan tergagap-gagap, memandangi keduanya.
Xiawu melipat kedua tangannya di depan dada dan membungkuk ke arah Yueyan. Kemudian menaikkan alisnya dengan sopan, "Tuan Putri," katanya dalam bujukan tegas yang membuat Yueyan langsung terdiam. "Aku datang ke sini untuk berkompetisi dan menemukan lawan yang kekuatannya seimbang. Kalau lawannya terlalu lemah, bukankah itu terlalu membosankan?"
"Benar!" Xie Ma menimpali. "Aku malah berharap bisa bertemu lawan yang lebih kuat," katanya tak kalah sopan. "Melawan yang terkuat untuk memperkuat diri!"
Kalau begitu sungguh gawat! batin Yueyan. Tampaknya aku salah siasat!
Tidak kehabisan akal, Yueyan beranjak sambil memekik dan membekap mulutnya dengan gaya makin dramatis. "Ternyata aku memang tidak salah menilai!"
Xiawu dan Xie Ma memutar bola matanya diam-diam.
Yueyan menarik mereka lagi dan menggamit lengan keduanya. "Sudah kuduga kalian bukan tipe penindas," katanya berlebihan. "Sekarang aku jadi semakin yakin. Aku ingin menjadi sahabat kalian!"
"Baiklah! Baiklah!" kata Yueyan cepat-cepat. "Sebenarnya… di dalam tim biruku ini, memang ada peserta paling hebat di musim ini! Kabarnya, orang ini memenangkan semua pertandingan dan tak terkalahkan!"
Xie Ma mengerang dalam hatinya.
Xiawu membeliak diam-diam.
"Sayang sekali!" Yueyan berdecak dan menggeleng-geleng. "Tampaknya…" ia menggantung kalimatnya dan berjalan pelan menjauhi Xiawu dan Xie Ma, pura-pura tak peduli. Kemudian berhenti dan mengacungkan manna birunya ke atas, menerawangnya dengan sebelah mata terpejam dan bersikap seolah-olah dirinya baru saja mendapatkan anugerah. "Hanya aku, Juara pertama di Babak Penyisihan Aliran Sihir. Genius Nomor Satu di Jiangnan. Penyihir Mulia paling berbakat yang tak terkalahkan dalam sejarah, yang layak bertanding melawan yang terkuat di musim ini!"
Xiawu dan Xie Ma membekap mulut mereka bersamaan menahan tawa.
Bertepatan dengan itu, seorang pria berotot menyeruak ke arah Yueyan dari puncak tangga, "Tuan Putri! Bagaimana kalau kita bertukar?"
Yueyan terbelalak dengan mata berbinar-binar.
"Jangan! Bertukar denganku saja!" teriak pria lainnya dari dasar tangga.
__ADS_1
"Tidak bisa!" teriak pria yang di atas. "Aku yang duluan!"
"Kalau begitu kita bertarung saja!" geram pria yang di bawah. Lalu melesat dan merenggut manna biru di tangan Yueyan.
Pria yang di atas spontan menerjang.
Sedetik kemudian, keduanya mulai saling baku-hantam.
Yueyan menyeringai seraya menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya.
Dua manna terlontar dari kedua tangan pria itu.
Yueyan bersiap menangkap salah satunya.
Tapi tiba-tiba Xiawu menyenggolnya dari belakang. "Maafkan aku!" pekiknya seraya membekap mulutnya dengan jemari tangan.
Yueyan hampir meledak murka.
Tapi dengan cepat Xiawu segera menghiburnya. "Begini saja," katanya. "Kebetulan aku menangkap dua manna yang sama. Bagaimana kalau kau bertarung saja denganku di babak final? Kau Juara pertama di Babak Penyisihan Aliran Sihir, aku Peserta Jalur Juara aliran alkemis. Bukankah kita sangat cocok?"
Alkemis? Yueyan menimang-nimang.
"Sahabat!" Xiawu menambahkan seraya mengerjap-ngerjapkan matanya dengan menggoda, menirukan gaya Yueyan.
"Baiklah!" Yueyan menyetujuinya.
"Baguslah!" Xiawu menjejalkan manna ke telapak tangan Yueyan dan berlanting menjauhinya.
Xie Ma berdesis menahan tawa di belakangnya.
Detik berikutnya, Yueyan menjerit ngeri begitu menyadari manna yang diberikan Xiawu berwarna biru. Dengan gamang ia memanggil kedua pria yang sedang saling baku-hantam di tangga itu seraya mengulurkan manna di telapak tangannya. "Jangan bertarung lagi! Aku punya satu lagi!"
Dan sebelum kedua pria itu mendengar apa yang dikatakannya, Long Hua Ze tiba-tiba melintas di tangga di depan Yueyan, kemudian berhenti dan menekan manna di telapak tangan kakak perempuannya itu dan memecahkannya.
"TIDAAAAAAAK!" Lolongan Yueyan menggema ke seluruh arena. "Kenapa kau selalu merusak rencanaku?" hardiknya pada Hua Ze.
Hua Ze mendongakkan hidungnya seraya mengayunkan kipasnya, "Juara pertama di Babak Penyisihan Aliran Sihir. Genius Nomor Satu di Jiangnan. Penyihir Mulia paling berbakat yang tak terkalahkan dalam sejarah, melawan orang terkuat musim ini, bukankah itu sangat seru?" selorohnya sembari menyeringai. "Apanya yang merusak rencana?"
"Kau---" Yueyan menudingkan telunjuknya ke wajah Hua Ze. "Wanita yang mau menikahimu benar-benar akan sial!"
__ADS_1
Hua Ze mengetatkan rahangnya dan menggertakkan gigi, "Urus saja masalahmu sendiri!" geramnya sambil menginjak punggung kaki Yueyan.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAA!" Lolongan Yueyan menggema sekali lagi.