Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
53


__ADS_3

SLAAAASSSH!


SLAAAASSSH!


Dua belati melesat di kiri-kanannya.


Shen Zhu mengerjap dan memutar tubuhnya dengan cepat.


TRAAAAANG!


TRAAAAANG!


Kepala pengawal yang pernah diselamatkan Shen Zhu melejit dan terbang memutar sambil mengayunkan pedangnya untuk menangkis semua serangan yang ditujukan pada Shen Zhu.


DUAAAAARRRR!


DUAAAAARRRR!


Benturan energi di udara membuat bumi berguncang dan bergemuruh.


Shen Zhu menjejakkan sebelah kakinya ke permukaan tanah, kemudian memantulkan tubuhnya ke udara. Sementara tubuhnya melambung, kedua tangannya bergerak-gerak di depan dada membentuk jurus-jurus spiritual.


Tiba-tiba dahinya berkeredap dan berkedut-kedut, simbol kuno misterius yang ditanam tetua suci penjaga Tanah Perjanjian Darah menyala.


Kucing kecilnya melesat keluar dan menerjang ke arah pimpinan Sicarii seraya mengayunkan cakarnya.


SLAAAASSSH!


Angin kencang membuncah bersama ledakan cahaya berwarna emas. Berkas cahaya berbentuk sabit melesat ke arah pemimpin Sicarii itu.


DUAAAAARRRR!


Benturan energi tak terhindarkan ketika pimpinan Sicarii itu coba menangkisnya dengan kedua lengan bersilangan di depan wajahnya. Cahaya biru api berpendar dari pergelangan tangannya.


Bersamaan dengan itu, Shen Zhu menerjang di sisi lain sambil mengayunkan tinjunya yang menyala berkobar-kobar seperti bintang berekor.


BUG!


Tinju membara itu mendarat di pinggang pemimpin Sicarii.


Pria itu terhenyak dan terlempar ke belakang. Tapi tak sampai jatuh. Ia menatap Shen Zhu dengan terbelalak. Kedua kakinya masih berpijak di udara kosong. Kuat sekali! pikirnya terkejut. Diakah yang membunuh semua anak buahku?


Shen Zhu dan kucing kecilnya bergabung kembali dan memasang kuda-kuda lagi.


Dengan cepat pemimpin Sicarii itu memasang kuda-kuda juga sambil menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya di depan wajah. Sekujur tubuhnya serentak menyala merah. Asap gelap keluar seperti sulur dari lidah-lidah api yang menyelubunginya.

__ADS_1


Sejurus kemudian, semburat cahaya seperti laser melesat dari ujung jari tengah dan telunjuknya ke arah Shen Zhu.


Bersamaan dengan itu, kucing kecil Shen Zhu juga melesat ke arah pemimpin Sicarii itu dengan kecepatan komet.


Pimpinan Sicarii itu terkesiap menatap kucing itu. Pusaka dewa! pekiknya dalam hati. Lalu menatap ke arah Shen Zhu dengan alis bertautan. Level galaksi! pekiknya lagi dalam hatinya. Masih begitu muda sudah mencapai level galaksi. Apa latar belakang anak ini?


Bahan yang bagus, tak boleh disinggung! katanya pada diri sendiri. Lalu tiba-tiba menghilang dengan meninggalkan ledakan cahaya dan angin ribut.


Semua orang terpekik dan terkesiap. Bahkan para Sicarii.


Sejurus kemudian, para Sicarii itu meledakkan bom asap secara serentak dan menghilang bersamaan.


"Apa yang terjadi?" pekik semua orang kebingungan. "Kenapa mereka tiba-tiba meninggalkan pertempuran?"


Bao Hu dan adik-adiknya memicingkan mata.


Ini aneh! pikir Shen Zhu. Lalu mendarat di dekat kereta kuda ketua dengan dahi berkerut-kerut. Kucing kecilnya sudah kembali bertengger di bahunya.


Para tetua dan guru-guru yang bertarung di udara mendarat satu per satu.


Murid-murid yang bergeletakan mulai beranjak dan berkerumun.


Semua orang bergerak lambat dalam kebisuan di tengah kepulan asap. Tatapan mereka menyapu sekeliling dengan kebingungan.


Apa yang membuat mereka tiba-tiba pergi? Semua orang bertanya-tanya dalam hatinya.


Para tetua dan guru-guru menghampiri mereka.


Para pengawal dan murid-murid bahu-membahu untuk membantu teman-teman mereka yang cidera, beranjak dan menyisi.


"Ini tak wajar," gumam Bao Hu dalam bisikan tajam.


"Tak perlu dipikirkan!" Tetua Yun menasihati. "Ujian Ksatria segera dimulai. Kalian bergegaslah!"


Para peserta berkerumun di dekat Shen Zhu menunggu keputusan.


Bao Hu mendesah berat, kemudian mengerling pada adik-adiknya. Bao Yu dan Bao Yuwen mengangguk singkat.


"Baiklah!" Bao Hu memutuskan. "Kembali ke dalam kereta. Kita akan berangkat sekarang. Kalian semua bisa memulihkan diri di dalam kereta."


Para peserta membungkuk serempak dengan hormat tentara. Lalu kembali ke tempat duduknya masing-masing di dalam kereta.


Bao Yu dan Bao Yuwen juga kembali ke kereta mereka masing-masing.


Perjalanan menuju Markas Besar Aliansi Ksatria dilanjutkan.

__ADS_1


Beberapa murid mulai berkonsentrasi untuk memulihkan diri.


Shen Zhu masih melamun sementara kucingnya mulai mendengkur di pangkuannya.


Sepasang mata pimpinan Sicarii itu berkelebat dalam benaknya. Terutama caranya menatap Shen Zhu. Shen Zhu bisa melihat getar kecemasan pada sepasang mata Sicarii itu. Sebenarnya apa yang dia lihat? pikirnya khawatir.


"Shen Zhu," suara datar Bao Yu yang khas menyentakkan Shen Zhu dari lamunan. "Apa yang salah?"


Shen Zhu mengerjap dan mengerling ke arah gurunya yang duduk di sampingnya. "Tidak ada," jawabnya singkat. Lalu tertunduk dan mengusap-usap kepala kucingnya dengan alis bertautan.


Bao Yu mengawasinya dengan mata terpicing. "Kenapa kau tak memulihkan diri?" tanyanya sekali lagi.


Shen Zhu balas bertanya alih-alih menjawab, "Guru, apa kau tak merasa aneh?"


"Apanya yang aneh?" tukas Bao Yu. "Pemimpin Sicarii itu sudah mencapai ranah surgawi. Dia bisa melihat potensi."


"Melihat potensi?" Shen Zhu spontan menoleh pada gurunya. Kilat kekhawatiran tergambar jelas pada sorot matanya.


"Hanya potensi," Bao Yu menenangkannya. "Tidak berarti mengetahui rahasia!"


"Aku sudah mengerti," kata Shen Zhu akhirnya.


"Pulihkan dirimu!" instruksi Bao Yu. "Sembunyikan Xiao Mao."


"Hmh!" Shen Zhu mengangguk singkat dan mengaktifkan rune di dahinya. Xiao mao---kucing kecil itu menghilang ditelan cahaya rune yang menyorot dari dahinya.


Matahari sudah condong ke barat ketika mereka melintas di pusat perbelanjaan di pinggiran ibukota. Cahayanya yang pucat menembus awan berwarna jingga-kelabu menyinari bercak-bercak warna yang lebih cerah pada kedai-kedai jalanan. Tumpukan jian bing, buah pomelo, kumquats, loquats, wampee, kabosu dan aneka manisan.


Orang-orang bergerak cepat, sibuk, menghindari tumpukan reruntuhan dan bangunan-bangunan yang roboh, seperti kawanan semut yang mematuhi perintah dan mengikuti aliran yang sudah ditetapkan, tanpa peduli dengan rintangan.


Di mana-mana terdapat kedai jalanan, kios-kios yang menjual obat, perona pipi, gundukan-gundukan buah segar dan kismis, gerobak-gerobak keledai yang sarat dengan berbagai barang.


Orang-orang yang melayani penukaran batu energi mengambil kantong-kantong uang mereka yang kotor dari balik jubah labuh mereka, menghitung kepingan-kepingan uang logam yang sudah menghitam.


Para wanita melintas menyeberang jalan, seperti berkas kabur berwarna merah, terlihat seperti hantu. Kelebat bayangan mereka menyatu dengan udara kemudian lenyap di belakang kereta kuda.


Barisan pria berjalan berduyun-duyun membentuk jalur sendiri, atau mendorong gerobak di sisi jalan.


Anak-anak mengemis dan tertawa, tidak menunjukkan kesedihan maupun sikap yang mengundang belas kasihan. Tapi justru tampak lancang dan ceria, memamerkan bakat kelucuan yang memberi kesan bahwa mereka sekadar meminta uang lebih untuk bersenang-senang dan bukan karena kebutuhan.


Pintu gerbang Markas Besar Aliansi Ksatria yang ada di lima puluh meter di depan sana macet oleh barisan kereta kuda yang dipaksa berhenti. Arus kendaraan di sana berhenti sama sekali.


Kereta-kereta kuda yang ada di depan mereka hanya berbelok-belok di sekitar kendaraan yang berhenti.


Shen Zhu melongok keluar ketika kereta kuda mereka melintas di depan toko senjata. Lalu tercenung dengan dahi berkerut-kerut.

__ADS_1


"Guru!" Shen Zhu menoleh pada gurunya. "Bolehkah aku turun di sini? Ada sesuatu yang ingin kubeli!"


"Jangan mengacau!" pesan Bao Yu.


__ADS_2