
"Sampai di sini, kita akan berpencar menjadi beberapa tim!" Shen Zhu mengusulkan setelah mereka mendarat di dasar ngarai dengan menggunakan aerokinesis—ilmu meringankan tubuh.
Jialin memutar tubuhnya dan bergegas mengambil arah tanpa menunggu Shen Zhu selesai bicara. Tianba dan rekannya serentak mengekor di belakangnya seperti anak anjing.
"Aku belum selesai bicara," gumam Shen Zhu sambil mengawasi punggung Jialin dengan alis tertaut.
"Jangan pedulikan dia!" sergah Tiao dengan ekspresi dingin.
Shen Zhu mengerling ke arah Tiao dengan dahi berkerut-kerut. Mereka tak pernah akur, pikirnya.
Kakak-kakak seperguruannya saling bertukar pandang.
"Kakak!" Shen Zhu beralih pada Lim Hua, "Kalian atur sendiri pembagian tim. Aku pergi dengan Kak Tiao," katanya sambil menoleh pada Tiao.
Pemuda itu mengangguk singkat tanda setuju.
Lim Hua sesaat terlihat ragu, begitu juga dengan rekan-rekannya. Tapi anggukan samar Shen Zhu meyakinkan mereka.
"Baiklah," kata Lim Hua. "Jangan pergi terlalu jauh!" pesannya.
"Hmh!" Shen Zhu mengangguk singkat.
"Dan jangan lupakan pesan Guru!" Lim Hua mengingatkan. "Kalau tidak terpaksa, jangan mengusik monster yang tidak diperlukan. Carilah monster dengan aura yang paling mendekati!"
Setelah mengatakan itu, Lim Hua dan lainnya berpencar menjadi dua tim, lalu terbang melesat dan menghilang.
"Apa maksudnya monster dengan aura yang paling mendekati?" tanya Tiao setelah mereka hanya tinggal berdua.
"Kak Tiao elemen apa?" Shen Zhu balas bertanya.
Tiao kemudian menadahkan telapak tangannya di depan dada dan mengeluarkan energi cahaya berbentuk bola kristal berwarna biru muda transparan.
"Elemen es," Shen Zhu menyimpulkan. "Kalau begitu, tipe monster yang paling mendekati Kak Tiao adalah beruang kutub," katanya.
"Aku mengerti!" kata Tiao. Lalu berbalik sambil melipat kedua tangannya di belakang, dan melangkah pelan memimpin jalan.
Hutan Perburuan itu terbentang seperti perwujudan mimpi buruk di masa kecil. Pohon-pohon besar tumbuh melengkung silang-menyilang seperti jembatan runtuh. Di baliknya, belantara hutan terlihat gelap karena ditumbuhi pohon-pohon cemara, ek dan mapel yang hanya berupa siluet di tengah kabut.
Cahaya matahari tersaring celah-celah dedaunan, menebarkan titik-titik terang di permukaan lantai hutan. Burung-burung hutan terbang ke sana kemari, keluar-masuk berkas cahaya putih yang menyorot dari atas.
Dari bukit landai mereka melihat danau di lembah di dekat sebatang pohon yang hanya terlihat seperti siluet. Kabut yang mengambang di permukaan danau terlihat seperti uap air panas di dalam cangkir.
__ADS_1
Mereka melangkah ke dekat danau. Rumputnya basah oleh sisa embun meski hari sudah menjelang siang.
Lalu secara serempak kedua pemuda itu berhenti, terusik oleh suara gemeresik keras.
Bunyi gemeretak di belakang membuat keduanya berbalik badan.
Hening.
Keheningan yang mencurigakan.
Kedua pemuda itu bergeming, menyimak. Mereka saling melirik melalui sudut mata mereka dengan raut wajah tegang. Kemudian mengeluarkan pedang mereka masing-masing dan mengedar pandang dengan waspada.
Krrrsk. Krrrsk. Krrrsk.
Shen Zhu berbalik dan mengikuti suara itu ke bawah bukit. Suara itu makin keras ketika mereka mulai mendekati tepi danau.
Suara berkeresak ribut dari dalam hutan mendekat setentak ke arah mereka dari berbagai penjuru hutan.
Kedua pemuda itu memekik tertahan ketika suara-suara mendengus dan menggeram mendekat ke arah mereka.
Sejurus kemudian, sejumlah serigala perak melesat ke arah mereka dan menyerang secara serentak.
Serigala perak adalah sejenis monster berkulit keras seperti dinosaurus. Monster iblis level sepuluh. Bulunya berupa jarum perak. Tingginya setengah meter dengan panjang tubuh satu meter. Memiliki perisai duri sekeras batu gunung di punggungnya. Sepasang gigi taringnya sekeras perisai di punggungnya. Bersifat buas dan suka bertempur.
SLAAAASSSH!
SLAAAASSSH!
Energi cahaya berbentuk kubah melesat dari kibasan pedang mereka.
Dua serigala terpelanting.
Auman mengerikan membahana ke dinding-dinding tebing.
Shen Zhu melontarkan energi cahaya berbentuk jarum dari tangan lainnya ketika seekor serigala menyerang ke arah Tiao.
JLEB!
Jarum cahaya itu menembus leher serigala.
Serigala itu mendengking dan tersentak-sentak, lalu jatuh ambruk dan tak bergerak lagi.
__ADS_1
Serigala lainnya mundur perlahan dengan punggung melengkung, seperti sedang bersiap untuk melejit.
Shen Zhu tidak membuang-buang waktu, ia melontarkan energi cahaya berbentuk jarum lagi ke arah salah satu dari serigala itu, sementara Tiao melesat ke arah serigala lainnya seraya menyapukan tendangan memutar di udara.
BLAAAASSH!
Tumit sepatu Tiao mendarat di tengkuk serigala itu dan seketika serigala itu mendengking dan terlempar.
Shen Zhu menimpalinya dengan melontarkan energi cahaya berbentuk jarum lagi dan menghujamkannya di leher serigala itu.
Dua-tiga serigala---mungkin lebih, akhirnya terkapar dan tidak bergerak lagi. Sisa lima serigala yang masih berdiri garang yang langsung melompat ke arah mereka dengan gerakan membabi-buta.
Tiao melejit dari tempatnya dan mengayunkan kaki depannya setinggi kepala, lalu menginjak salah satu dari mereka.
Serigala itu mendengking dan tersentak mundur, namun tidak terluka.
Shen Zhu memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat manna---mengubah energi spiritual menjadi jarum dan melesatkannya ke arah salah satu serigala, dan serigala kelima akhirnya tumbang.
Lalu pada saat keempat serigala lainnya kembali menyerang, Shen Zhu menyentakkan kelima jarinya dan seketika empat jarum cahaya melesat keluar dari sela-sela jemarinya ke arah mereka dan menumbangkan keempat serigala itu dalam hitungan detik.
Keheningan menyergap mereka beberapa saat, lalu terdengar suara berkeresak dari tumit sepatu Tiao yang mendarat dengan posisi jongkok.
Shen Zhu membungkuk di atas bangkai salah satu serigala dan melayangkan sebelah tangannya di atas dahi serigala itu, dan seketika energi cahaya berwarna merah darah memancar keluar dari telapak tangannya.
Pada saat yang sama dahi serigala itu menyala putih mengeluarkan sebongkah kristal bening seukuran buah pir bercorak simbol astrologi berwarna perak.
Tiao menarik bangkit tubuhnya dan mengerutkan dahi.
Nilai kristal serigala perak itu tak seberapa mengingat kultivasinya baru sepuluh tahun. Hanya bisa meningkatkan satu level kekuatan spiritual.
"Serigala itu elemen logam!" Tiao memberitahu.
"Aku tahu," sahut Shen Zhu. "Sudah terlanjur membunuh mereka. Jangan sia-siakan kerja keras kita," katanya. "Adik-adik seperguruan mungkin membutuhkannya!"
Adik-adik seperguruan? pikir Tiao. Dalam keadaan seperti ini masih memikirkan orang lain, katanya dalam hati. Entah benar-benar tulus atau terlalu polos!
Tapi lalu ia mendesah dan menggeleng. Kemudian membantu Shen Zhu mengumpulkan kristal serigala perak itu.
Shen Zhu melayangkan semua kristal yang telah dikumpulkannya, bersiap untuk memasukkan semuanya ke dalam cincin penyimpanannya.
"Kau memiliki elemen api," kata Tiao. "Elemen logam bisa melebur di tanganmu. Biar aku saja yang menyimpan kristal ini untukmu!" ia menawarkan.
__ADS_1
"Baiklah!" Shen Zhu melayangkan semua kristal itu ke arah Tiao dan berterima kasih sambil membungkuk dan menautkan kedua tangannya di depan wajah.