
Satu legiun tentara merangsek ke arah gerbang Markas Besar Aliansi Ksatria.
Kaisar Jiangnan, Long Hua Ze memimpin sendiri pasukan itu untuk memulai revolusi.
"Bebaskan Tetua Sekte Darah atau perang?"
Itu adalah pilihan yang ditawarkan oleh Hua Ze.
Para penjaga gerbang terlihat gusar. Salah satu penjaga pekarangan meniup terompet perang.
Para ksatria menyeruak keluar dari berbagai sudut di seluruh gedung di dalam benteng pertahanan Markas Besar Aliansi Ksatria.
Sayang sekali setengah pasukan sedang berada di Gunung Zainan.
Seorang pejabat mengutus seorang ksatria ke Gunung Zainan untuk menyampaikan kabar penyerangan itu pada Ketua Aliansi, sementara pasukan tentara yang tersisa diperintahkan untuk berperang.
Sementara itu, di Sekte Liu, pertarungan antara para ksatria melawan para ninja Sicarii berlangsung semakin sengit di luar ranah pelindung.
Di dalam ranah pelindung, pasukan gabungan dari empat sekte yang dihancurkan sudah bersiap dengan jurus masing-masing.
Aneka bentuk formasi sihir terlihat seperti kebun permata dalam cahaya ribuan lampu di seluruh pekarangan.
Ketua Aliansi membeku di tengah-tengah kepungan dengan raut wajah tegang. Tapi bukan mereka yang membuatnya merasa sedikit terancam.
Tapi singa berkepala manusia yang disebut-sebut sebagai Monster Dewa Penjaga Harta Karun itu yang membuatnya cemas.
Siapa yang tidak tahu binatang dewa itu bisa membuat formasi besar yang terhubung dengan kerajaan langit.
Singa berkepala manusia di depannya menjejakkan kakinya dan mendongak ke langit sambil mengaum. Sebuah formasi sihir dengan aura dewa tercipta di bawah kakinya. Membuat seluruh tempat berguncang dan bergemuruh.
Langit terbuka di atas gunung, awan bergolak dan bergulung-gulung. Semburat cahaya emas berpendar dari permukaan tanah menembus langit seperti tiang cahaya.
DUAAAAARRRR!
Ledakan halilintar menggelegar seperti mimpi buruk.
Seluruh negeri dicekam kegelapan gaib yang tiba-tiba muncul dari seluruh penjuru bumi seperti sulur kabut berwarna gelap.
Semua orang berteriak seperti orang gila seraya mendongak menatap langit dengan ketakutan.
Tiba-tiba seluruh energi spiritual di muka bumi seakan terkuras dan terhisap ke tengah pusaran awan gelap di atas Gunung Zainan.
Ketua Aliansi mengerjap gelisah dan mengangkat wajah, menatap langit yang kian bergolak.
"Long Qiuyun!" Sebuah suara menggemuruh dari tengah-tengah gumpalan awan yang bergulung-gulung.
Ketua Aliansi terkesiap. Tanpa sadar beringsut selangkah ke belakang.
__ADS_1
Semua orang di seluruh penjuru negeri bisa mendengar suara itu. Semua orang membeku menatap langit.
Begitu juga dengan semua orang yang sedang bersiap mengepung Ketua Aliansi di Sekte Liu.
Warna cahaya yang terpancar dari masing-masing orang mendadak redup.
"Menyerahlah!" perintah suara yang menggemuruh di langit itu. "Lawanmu bukan mereka."
Lim Hua mengerjap dan menoleh pada Lian Ze. Merasa sedikit familer dengan suara itu.
GROAAAAAAARRR…!
Singa berkepala manusia itu mengaum lagi seraya mendongakkan kepalanya.
Sebuah lingkaran sihir baru berpendar di permukaan tanah, lebih besar dari lingkaran yang pertama.
Seluruh tempat berguncang semakin kencang.
Tubuh Anio gemetar tak terkendali, keringat membanjir di wajahnya yang kian memucat. Gadis itu sudah tak sanggup mengontrol energi spiritual yang dipanggilnya. Kekuatan yang dipanggilnya terlalu besar.
"Bantu dia!" Jieru bereaksi spontan, kemudian melejit ke udara, melayang di belakang Anio seraya menyalurkan energi spiritual dari telapak tangannya ke punggung gadis itu.
Para wanita dari klan peri serentak mengayunkan tangan mereka, menyalurkan energi cahaya dari telapak tangan masing-masing ke arah Anio.
Ketua Aliansi mengerjap dan mengedar pandang. Lalu mengibaskan tepi jubahnya dan menghilang.
WUSSSHHH!
Para ksatria dan para Sicarii di luar ranah terpelanting dan terserak seperti daun kering.
Jeritan Anio melengking nyaring dan menggema ke dinding-dinding tebing. Tubuhnya terlempar hingga radius ratusan meter.
Semua orang terpekik seraya mengulurkan tangan mereka ke arah gadis itu, tapi hanya menggapai udara kosong.
Tubuh Anio terus meluncur semakin tinggi.
GRAK!
Seuntai rantai berwarna gelap melecut dari balik awan dan menyergap pinggang gadis itu.
Semua orang terkesiap dan membeku.
Para tentara Aliansi Ksatria memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri menyusul ketua mereka.
DUAAAAARRRR!
Halilintar tiba-tiba menyambar sejumlah ksatria yang berusaha kabur.
__ADS_1
Para Sicarii membeku dalam posisi setengah duduk setengah berbaring di tempat mereka terjerembab.
Rantai gelap di langit itu perlahan melecut dalam gerak lambat, kemudian menurunkan Anio ke pekarangan.
Para wanita serentak menghambur ke arah gadis itu dan berebut meraup tubuhnya, sementara para pria menelisik rantai itu dengan tatapan mereka, mencoba menemukan ujungnya. Tapi rantai itu terlihat seperti diturunkan langsung dari langit.
Sebagian besar dari mereka tahu siapa pemilik rantai itu.
"Dewa Zhu!" seru beberapa orang dengan semringah. Lalu berlutut serempak dengan kedua tangan tertaut di depan wajah.
"Berdirilah!" instruksi suara Shen Zhu dari balik gulungan awan.
Semua orang beranjak berdiri dengan ekspresi gembira.
"Shouhu!" bisik suara tanpa wujud itu, tetap bergemuruh meski sudah mencoba memperlembut suaranya.
Singa berkepala manusia itu menggeram dan merunduk seperti turut memberi hormat, lalu duduk meringkuk seperti kucing penurut. Menggoyang-goyangkan ekornya yang seperti ekor ular.
Dua lapis lingkaran sihir di bawah kakinya berkeredap menghilang.
Bersamaan dengan itu, langit di atas kepala mereka mendadak tenang dan kembali terang.
Aura Shen Zhu pun lenyap seketika.
Orang-orang di Sekte Liu menatap hampa udara kosong di atas kepala mereka.
Semua orang di seluruh negeri tercengang menatap langit yang tiba-tiba cerah.
Sekarang semua orang di Sekte Liu tertunduk menatap singa berkepala manusia di tengah-tengah mereka dengan alis tertaut.
"Aku tak bisa kembali," kata singa berkepala manusia itu yang secara otomatis membuat semua memekik tertahan, tidak mengira singa itu bisa bicara. "Gadis itu benar-benar payah," katanya seraya menggerakkan dagunya ke arah Anio yang tergolek tidak sadarkan diri di atas pangkuan salah satu gadis dari klan peri. "Pulihkan Pemanggil itu," katanya pada kelompok gadis berpakaian anggun berwarna putih dengan cadar transparan yang berkerumun di sekeliling Anio.
Para gadis itu serentak beranjak dan menggotong tubuh Anio ke dalam salah satu bangunan yang paling dekat dengan kerumunan.
Para Sicarii yang berpencar di luar Ranah bermunculan satu per satu, kemudian bergabung dengan kerumunan di pekarangan.
"Untuk sementara, aku akan menjaga Kuil Zainan," tutur singa berkepala manusia itu seraya menarik bangkit tubuhnya dan melengkungkan punggungnya seperti sedang menggeliat. Lalu berjalan pelan meniti tangga menuju Kuil Zainan.
Beberapa orang mengekor di belakangnya.
"Tetua, apa Dewa Zhu yang mengirimmu ke sini?" tanya Tiao penasaran.
"Bukankah Pemanggil itu yang memanggilku?" tukas singa penjaga itu.
Tiao langsung terdiam.
Jialin menghambur di belakangnya dengan tergopoh-gopoh bersama beberapa orang yang pernah berpartisipasi dalam Ujian Ksatria sepuluh tahun lalu. "Tetua!" pekiknya sedikit terlalu bersemangat. "Apa yang tadi Dewa Zhu?"
__ADS_1
Semua mata serentak bergulir ke arah Jialin.
Jialin spontan mengerjap gelisah dan tersenyum dengan salah tingkah.