
Hari pertama Babak Final Ujian Ksatria…
"Ksatria Nomor Tujuh-tujuh, melawan Penyihir Nomor Tiga-tiga!"
Yueyan hampir pingsan mendengar pengumuman itu. Celaka! Celaka! Celaka! batinnya kalang kabut.
Shen Zhu melangkah dengan tenang ke lantai arena, dan tidak membawa pedang.
Hua Ze melirik kakak perempuannya seraya tersenyum licik.
Semua mata bergulir ke arah Yueyan.
Gadis itu spontan berdeham dan memasang wajah arogan seorang bangsawan kelas satu. Lalu berjalan ke lantai arena dengan langkah-langkah elegan yang jelas dibuat-buat. Kedua lututnya sebenarnya gemetar. Ia berhenti dan bersedekap, kemudian mendongakkan hidungnya. "Adik Kecil," katanya bernada mengintimidasi. "Wajahmu lumayan tampan. Apa tak takut sihirku merusaknya? Aku ini—"
"Juara pertama di Babak Penyisihan Aliran Sihir," potong Shen Zhu dengan raut wajah dingin. "Genius Nomor Satu di Jiangnan. Penyihir Mulia paling berbakat yang tak terkalahkan dalam sejarah. Selain wanita yang paling cantik di Benua Xuang tentunya. Calon Ketua Sekte Sihir, Pewaris Tahta Jiangnan yang tidak diragukan lagi," tuturnya mendominasi, tak memberikan kesempatan Yueyan untuk bicara.
"Kau sudah tahu?" Yueyan terperangah dengan gaya dramatis. "Kalau begitu kau mengaku kalah saja!" pintanya sambil menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya di depan dada dengan gaya sok imut. Matanya mengerjap-ngerjap dengan gaya menggoda.
Shen Zhu tetap bergeming dengan raut wajah dingin.
"Dengar," kata Yueyan. "Sihirku—"
"Tidak punya mata!" Lagi-lagi Shen Zhu memotong perkataan Yueyan.
Sial! batin Yueyan. Bocah Tengik ini ternyata sudah menghapal semua argumentasiku!
"Kalau begitu…" Yueyan menggantung kalimatnya dan tersenyum gelisah, kemudian mengeluarkan tongkat sihirnya. "Kau juga pasti sudah tahu tongkat sihirku?"
Pemandu acara mengerang bosan dan membeliak sebal. "Nomor Tiga-tiga!" tegurnya tak sabar. "Jangan pamer lagi! Ini adalah pertandingan!"
Yueyan langsung terdiam.
"Pertarungan dimulai!" Pemandu acara memberikan aba-aba.
Yueyan spontan kalang kabut.
Shen Zhu menyentakkan jemari tangannya di sisi wajah membentuk cakar. Keredap cahaya kilat berwarna biru muda memancar keluar dari telapak tangannya dan melilit ke pergelangan.
Yueyan terbelalak dengan ngeri dan menjatuhkan dirinya di lantai dengan posisi berlutut, "Aku mengaku kalah!" pekiknya cepat-cepat.
Sekeliling arena serempak mengerang dengan sikap mencela.
Shen Zhu tersenyum miring dan melontarkan manna elemen yang sudah terlanjur dikeluarkannya ke lantai. Empat jarum cahaya mendarat di permukaan lantai, satu tertancap miring, tiga lainnya tidak berhasil menembus lantai dan jatuh bergeletakan dengan menyedihkan. Tak lama kemudian, jarum yang tertancap miring juga jatuh terkulai.
Yueyan terperangah dengan raut wajah menyesal. Ternyata hanya jarum cahaya tingkat satu! pikirnya masam. Dia bahkan tak bisa menembus lantai. Dibandingkan dengan sihir pertahananku… lantai ini tak ada apa-apanya! ratapnya dalam hati.
Para wanita berdesis menahan tawa sambil membekap mulut mereka dengan telapak tangan.
"Ksatria Nomor Tujuh-tujuh menang!" Pemandu acara mengumumkan.
Arena meledak oleh tepuk tangan meriah.
"Selanjutnya!" Pemandu acara melanjutkan. "Peramal Nomor Empat-delapan melawan Ksatria Nomor Tujuh-enam!"
__ADS_1
Jialin menyentakkan kepalanya ke samping, menatap deretan bangku peserta dari aliran Majus.
Xie Ma mengangguk singkat pada Jialin, kemudian melayang dengan ringan menuju arena.
Jialin menelan ludah dan menoleh pada gurunya. Wanita itu mengangguk menyemangatinya.
"Semangat!" Shen Zhu mengepalkan tangannya di sisi wajah, menyemangati Jialin dengan ekspresi datar.
Jialin tersenyum muram dan bergegas ke arena.
Xie Ma menyambutnya dengan hormat tentara.
Jialin balas membungkuk dengan hormat tentara yang sama.
Lalu keduanya bersiap-siap.
"Dua wanita berkelahi!" seru salah satu peserta pria. "Pasti seru!"
"Betul, betul!" Teman-temannya menanggapi dengan antusias.
"Pertarungan dimulai!" Pemandu acara memberikan aba-aba.
Xie Ma mengeluarkan tongkat sihirnya.
Jialin menghunus pedangnya.
Lalu kedua-duanya memasang kuda-kuda.
Xie Ma mengulurkan sebelah tangannya ke depan dan mengembangkan telapak tangannya.
Empat keping kartu tarot seperti kaca melesat ke arah Jialin.
Jialin mengayunkan pedangnya dan melontarkan energi cahaya berbentuk sabit.
SLASH!
Kartu-kartu itu terpotong-potong dengan masing-masing menjadi dua bagian.
Xie Ma mengepalkan tangannya dengan posisi lengan masih terulur ke depan.
Kartu-kartu yang terpotong itu menyatu kembali dan terbang berputar-putar, kemudian meliuk ke belakang Jialin.
Jialin memantulkan tubuhnya ke udara kemudian memutar seperti gangsing.
Xie Ma menjentikkan jarinya dan satu kartu lagi melesat ke arah Jialin.
Jialin spontan menghindar dengan melentikkan tubuhnya ke belakang dan bersalto.
Xie Ma memutar telapak tangannya menghadap ke atas, kemudian menggerakkan jemarinya.
Kartu-kartunya memutar dan terbang melesat ke arah sebaliknya.
Jialin mengayunkan pedangnya sambil menjatuhkan dirinya di lantai dengan split sempurna.
__ADS_1
Xie Ma tersenyum miring. Lalu menjejakkan kakinya.
Lantai arena berkeredap dan sekeping kartu tarot tercipta di telapak kakinya seukuran pintu istana.
Jialin terpekik dan melompat dari lantai. Lalu menekuk lututnya dengan sikap kuda-kuda.
Kartu tarot raksasa di lantai itu bergambar iblis bertanduk kambing.
Para penonton terpekik bersamaan.
"Kartu Iblis!" gumam beberapa orang bernada ngeri.
Celaka! pekik Jialin dalam hatinya. Dan sebelum ia dapat bereaksi, tanduk kambing mencuat dari lantai dan sosok iblis dalam kartu merangkak keluar menyergap pergelangan kakinya.
Jialin menyentakkan kakinya, berusaha melepaskan diri, kemudian mengayunkan pedangnya ke arah leher makhluk setengah manusia setengah kambing itu.
Tapi ketika mata pedangnya hampir mengenai lehernya, makhluk itu sudah melompat keluar dan menerjang ke arah Jialin.
Jialin beringsut ke belakang dengan kalang kabut, mengayunkan pedangnya lagi.
Iblis itu menangkisnya dengan pergelangan tangannya yang ternyata dibelenggu dengan seuntai rantai putus berjumbai dari gelang belenggu itu. Rantai itu menyergap pedang Jialin dan melilitnya, kemudian merenggutnya dari genggaman Jialin.
Pedang itu terlontar ke tepi arena.
Jialin melompat ke belakang dan memasang kuda-kuda, mencoba memusatkan energi ke telapak tangannya dan melontarkan energi cahaya berbentuk bola kristal ke perut iblis itu.
Tapi bola cahaya itu seakan tenggelam ke dalam lubang gelap tanpa dasar dan tidak berpengaruh apa-apa.
Bersamaan dengan itu, Jialin juga menyentakkan telapak tangannya ke arah pedangnya yang tergolek di tepi arena dan menariknya dengan telekinesis.
Xie Ma menerjang ke arah pedang itu dan menangkisnya dengan tongkat sihirnya.
Pedang itu kembali terlempar.
Jialin tersentak dan memasang kuda-kuda lagi.
Tapi Xie Ma sudah melesat mengayunkan tendangan memutar dan menjegal kaki Jialin.
Jialin jatuh terjengkang.
Iblis bertanduk kambing itu menyergap pergelangan kakinya dan menariknya ke dalam kartu.
Para penonton mengerjap dan menahan napas.
Jialin berusaha meronta. Tapi cengkeraman tangan iblis itu sekuat tang. Lalu ia melontarkan energi cahaya berbentuk bola dari telapak tangan kiri dan kanan secara bergantian dengan membabi-buta. Tapi lagi-lagi bola cahaya itu menguap begitu saja dan tidak berpengaruh apa-apa, sementara tubuhnya terus terseret semakin dalam menembus lantai.
"Pertarungan berakhir!" Pemandu acara mengumumkan.
Xie Ma melayangkan telapak tangannya di atas lantai berlapis kartu itu, dan seketika kartu itu menguap seperti kertas terbakar.
Jialin mendesah lega dan menarik bangkit tubuhnya dari lantai.
Xie Ma membungkuk padanya dengan hormat tentara, kemudian berbalik dan melayang kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1