
"Apa kau belum makan?" Pertanyaan Bao Yu membuat semua mata dalam ruangan spontan tertuju pada Tiao.
Pemuda itu mengerjap dan tertunduk dengan mulut terkatup. Tidak menjawab pertanyaan Bao Yu.
Mereka baru saja tiba di dalam ruangan ketika Bao Yu tiba-tiba berhenti dan menoleh pada Tiao.
"Kakak! Kau tenang saja," kata Shen Zhu pada Tiao sambil menuntun pemuda itu ke tengah ruangan dalam Wisma Tamu Asrama Tujuh dan menariknya duduk di depan sebuah meja rendah lesehan, di mana guru mereka biasa menjamu tamu. "Kak Hua sangat ahli dalam memasak," katanya bersemangat. "Kau harus mencoba bubur masakannya."
Tiao mengerling ke arah Lim Hua seraya memaksakan senyum.
Lim Hua membalas senyumnya dan mengangguk. "Aku akan pergi memasaknya sekarang!" katanya antusias.
"Aku akan membantumu!" Shen Zhu menawarkan tak kalah antusias.
"Kalau begitu, kami akan membantu mengambil kayu bakar!" Tan Liu menimpali sambil merangkul dan menepuk-nepuk bahu adiknya. Tan Nuo mengangguk menanggapinya.
"Dan kami akan membantu mengambil air!" timpal Zhen Juan sambil menaik-naikkan sebelah alisnya ke arah Zhang Junda seraya bersedekap. Zhang Junda menanggapinya dengan mengepalkan tangan di sisi wajahnya.
"Aku akan membantu mengawasi Adik!" Lian Ze menambahkan sambil cengengesan, ditanggapi gelak tawa semua orang.
Bao Yu melipat kedua tangannya di depan dada kemudian mengedarkan pandangan geli ke arah murid-muridnya sambil tersenyum tipis, lalu menoleh pada Tiao.
Tiao mengikuti lirikan pamannya dan tersenyum kikuk.
"Kau tunggulah di sini!" Shen Zhu menepuk-nepuk bahu Tiao.
Tiao hanya mengangguk samar dan tersenyum sendu. Suasana hangat kekeluargaan di dalam asrama itu membuatnya ingin menangis.
Benar-benar terasa seperti rumah dibanding sebuah asrama, katanya dalam hati. Berbeda dengan rumahku yang megah namun terasa seperti penjara.
Bao Yu duduk bersila di seberang meja di depan Tiao, sementara murid-muridnya menghambur ke arah dapur sambil bercanda dan tertawa-tawa. Berjejal di ambang pintu, saling tarik-menarik, berebut untuk menerobos lebih dulu.
Tiao mengerling sekilas pada mereka dan tertunduk kaku.
Keheningan menyergap ruangan dalam waktu yang lama.
Lian Ze kemudian muncul membawa sepoci teh dan menuangkannya untuk Bao Yu dan Tiao, lalu kembali meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Tiao mendengar kegaduhan di ruang dapur. Suara berkeriut dan berdebuk ribut di antara tawa riang murid-murid Asrama Tujuh. Sesekali terdengar teriakan kasar setiap kali mereka saling melemparkan lelucon satu sama lain. Suara kesibukan yang menandakan bahwa mereka benar-benar hidup.
Aura nyata semangat juang meski mereka nyaris ditindas sepanjang waktu.
Tidak satu pun pernah menganggap mereka. Tapi mereka menghargai keberadaan satu sama lain.
Aku tak pernah bersikap baik pada mereka. Tapi mereka menerimaku dengan lapang dada, kenang Tiao getir.
Entah karena Shen Zhu terlalu handal menyatukan kebersamaan atau Paman Yu yang mengajarkannya, pikir Tiao. Mereka seperti satu tubuh.
Semangat mereka membara seperti api abadi.
Mental mereka setangguh rajawali.
Dan aku benar-benar sekarat, batinnya getir. Hidup segan, mati tak mau. Aku hidup tapi seperti orang mati. Seperti mayat hidup tanpa jiwa yang dikendalikan perintah iblis.
"Kau sungguh tak ingin tahu apa yang terjadi pada ibumu?" tanya Bao Yu setelah sejenak terdiam. Suaranya yang lembut menyentakkan Tiao, seakan itu adalah suara terkeras pertama yang didengar Tiao.
Tapi Tiao tetap bungkam. Kedua tangannya tertangkup di sekeliling cangkir teh di depannya. Kepalanya tertunduk, sementara tatapannya terpaku pada kepulan uap tipis di atas cangkir tehnya.
Tiao mengerjap tanpa mengalihkan pandangannya dari cangkir teh di atas meja. Bayang-bayang perlakuan ibunya melintas dalam benaknya.
"Betul-betul payah!" dengus ibunya sambil mendelik dan mendongakkan hidungnya, menanggapi kekalahan Tiao di hari Kejuaraan Perguruan. "Kalau bukan karena peraturan sekte yang melarang wanita memimpin, tahta ketua itu pasti akan menjadi milik adikmu!"
Itu dikatakannya di depan semua orang. Dan itu bukan sekali ini saja.
"Dia yang mengajariku!" desis Tiao dengan suara parau.
"Tiao," Bao Yu mengulurkan sebelah tangannya di atas meja, kemudian menepuk lembut punggung tangan Tiao. "Kau tak harus membalas pedang dengan pedang," ia menasihati.
Tiao tertunduk semakin dalam. Entah sejak kapan ia tak bisa memaafkan ibunya. Segala perlakuan ibunya dari waktu ke waktu, selalu meninggalkan bekas luka di relung hatinya.
"Makna pedang bukan tentang menyerang dan membunuh," tutur Bao Yu. "Tapi tentang bertahan hidup. Tentang pusaka yang harus kau jaga nilai-nilainya. Tentang waktu yang tepat untuk menggunakannya."
Tiao akhirnya mengangkat wajah, menatap pamannya dengan ketertarikan baru. Tiba-tiba ia merasa baru saja menemukan rumah yang tepat untuk beristirahat. Melepaskan semua lelahnya tanpa khawatir orang lain melihat kelemahannya.
"Paman Yu," bisiknya hampir tidak terdengar. "Sebuah pepatah mengatakan, 'Surga di telapak kaki ibu!' Menurutmu, jika surga sudah tak berada di kaki ibumu… di mana letak surgamu?"
__ADS_1
Bao Yu mendesah pendek dan tersenyum samar. Kemudian menarik tangannya dari punggung tangan Tiao dan kembali bersedekap. "Meski jika surga benar-benar berada di telapak kaki ibu, kau tak harus menjadi budak bagi ibumu," tuturnya hati-hati. "Tapi kau juga tak harus menjatuhkannya!"
Tiao menatap wajah pamannya dengan alis bertautan. "Jangan bilang aku harus mengikuti jejaknya!" tukasnya tak sabar.
Bao Yu kembali tersenyum samar. Kemudian menggeleng pelan. "Buat dia duduk berleha-leha!" tandasnya.
Tiao langsung terdiam. Sekarang aku tahu apa yang membuat Asrama Tujuh begitu hidup, katanya dalam hati.
Perkataan yang membangun!
Itu adalah sesuatu yang tidak pernah diterima Tiao. Sepanjang hidupnya, ia terbiasa menelan perkataan pahit yang mematahkan hatinya, meremukkan jiwanya sampai ke tulang. Membuatnya terus terpuruk dari waktu ke waktu.
Aku butuh nyawa yang seperti ini, katanya dalam hati. Didikan seorang ayah dan nasihat seorang ibu.
Ayah dan ibunya hanya tahu cara mendidik, tapi tak tahu caranya menasihati. Kedua-duanya berperan sebagai ayah.
Paman Yu, katanya dalam hati. Kau memiliki keduanya. Keperkasaan dan kelemah-lembutan.
Lalu tiba-tiba Tiao beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan memutari meja dan berlutut di dekat Bao Yu.
Bao Yu tersentak ketika tahu-tahu Tiao sudah berpindah tempat dan tersungkur ke arahnya. "Anak Bodoh!" pekiknya terkejut, lalu buru-buru menarik bahu Tiao. "Apa yang kau lakukan?"
Tiao tetap tersungkur dengan dahi menyentuh permukaan lantai. "Paman Yu, jadikan aku muridmu!" pintanya.
"Kau—" Bao Yu tergagap.
Shen Zhu dan kakak-kakak seperguruannya melongok ke dalam ruangan, berjejal di ambang pintu dengan mata dan mulut membulat.
Bao Yu mengerling ke arah mereka, dan seketika anak-anak itu tersentak dan melejit menjauhi pintu.
Bao Yu membuka mulutnya dengan sebelah tangan terulur ke arah mereka dan hanya menggapai udara kosong.
Ia menarik tangannya dan memindahkannya ke belakang kepalanya. Tak tahu apa yang harus dilakukan pada tangannya. Akhirnya ia menurunkan tangannya dan menyentuh kepala Tiao. Lalu berdeham.
"Mengenai hal ini…" Bao Yu berkata terbata-bata. "Kurasa… kau memerlukan persetujuan ayahmu."
"Untuk menjadi muridmu, aku hanya perlu persetujuanmu," tukas Tiao.
__ADS_1