
"Shen Zhu!" Bao Yu melesat ke arah Shen Zhu dan menangkap tubuhnya ketika pemuda itu kembali terkulai lemas dan meluncur jatuh.
Bao Yu mendarat ringan di permukaan tanah sambil membopong Shen Zhu.
"Guru…"
Bao Yu mendengar Shen Zhu mendesis lirih. Ia tertunduk menatap wajah anak laki-laki itu dengan wajah semringah.
Kelopak mata anak itu bergetar, lalu membuka dan mengerjap lemah. "Terima kasih," ungkapnya dengan suara tak kalah lemah. Matanya berkilat-kilat memancarkan cahaya keemasan. Lalu meredup seiring kelopak matanya yang kembali terkatup.
"Shen Zhu!" Bao Yu kembali memekik gusar. Lalu mengguncang tubuh Shen Zhu.
Shen Zhu tak bereaksi.
Bao Yu merunduk dan memiringkan sedikit kepalanya, mendekatkan telinganya ke hidung Shen Zhu untuk mengecek hembusan napasnya. Kemudian mendesah lega.
Napas Shen Zhu terdengar teratur seperti orang sedang tertidur.
Bao Yu tersenyum samar sementara kedua matanya berkaca-kaca. "Anak bodoh!" bisiknya. Aku baru saja menindasmu sampai sekarat, dan kau bilang terima kasih?
Murid-murid lainnya membeku di sekelilingnya, menatap guru mereka sedikit takut-takut.
"Ayo kita pulang!" ajak Bao Yu.
Murid-muridnya tetap bergeming. Hanya mengerjap dan kembali tergagap.
Bao Yu mengedar pandang meneliti wajah-wajah mereka satu per satu. Lalu kembali tersenyum samar. "Kalian ingin tahu kenapa tadi aku merundungnya?" tanya Bao Yu.
Murid-muridnya kembali mengerjap. Akhirnya mengangkat wajah.
Bao Yu tersenyum kecut. "Karena kupikir… dengan begitu dia akan menjadi lebih kuat," jelasnya dengan raut wajah muram.
Murid-muridnya tertunduk. Diam-diam saling bertukar pandang.
Bao Yu berbalik ke arah jalan setapak yang menuju ke perguruan, "Aku berjanji tak akan terulang lagi," tandasnya setengah berteriak sambil menjejakkan sebelah kakinya di permukaan tanah untuk kemudian melambungkan tubuhnya ke udara, lalu terbang melesat ke asrama sambil membopong Shen Zhu.
Murid-muridnya masih membeku, lalu mengerjap. Kemudian mendesah bersamaan.
Anak-anak itu memungut pedang mereka masing-masing yang terserak di sana sini akibat hempasan kaki guru mereka, lalu semuanya kembali terkesiap.
Mereka merasa pedang mereka begitu ringan seolah hanya terbuat dari kayu.
"Aneh sekali," gumam salah satu dari mereka dengan dahi berkerut-kerut. "Kenapa rasanya pedangku jadi enteng."
__ADS_1
"Pedangku juga!" timpal yang lainnya.
"Pedangku juga!" timpal yang lainnya lagi.
"Sepertinya kekuatan spiritual kita naik beberapa tingkat!" komentar yang paling tua.
"Apa?" yang lainnya terperangah bersamaan.
"Semua kotoran dan sumbatan dalam tubuh terhisap ke tubuh Adik," gumam murid lebih tua lainnya. "Ini terasa seperti… pembangkitan ilahi."
Pembangkitan ilahi adalah ritual khusus atau pembaptisan untuk membangkitkan kekuatan spiritual bawaan.
"Benar!" sahut murid paling tua yang pertama.
Lalu salah satu dari mereka memungut pedang Shen Zhu dan menimang-nimang dengan tangannya sambil mengerutkan dahi. Pedang karatan itu terasa berat di tangannya.
"Kita harus membicarakannya dengan Guru!" kata murid yang paling tua tadi mengusulkan.
Sesaat kemudian, mereka sudah melayang menyusul Bao Yu.
Bersamaan dengan itu, para murid senior asrama lain menyeruak ke arah mereka. Gerombolan Bao Jialin. Murid-murid senior yang diutus pemilik perguruan untuk memeriksa ke puncak bukit. Tapi karena mereka semua tinggi hati, melihat rombongan Asrama Tujuh baru saja turun bukit, mereka sama sekali tidak berinisiatif untuk bertanya. Padahal itu lebih mudah.
Tentu saja mereka tidak berpikir fenomena tadi ada hubungannya dengan murid-murid Asrama Tujuh. Murid-murid Asrama Tujuh sudah seperti sampah di mata mereka.
Beberapa dari mereka bahkan sengaja menyikut murid-murid Bao Yu ketika mereka berpapasan di udara, hingga salah satu dari murid Bao Yu terpelanting kehilangan keseimbangan.
Murid-murid senior arogan itu menyeruak melewati mereka sambil tertawa-tawa seolah baru saja mendapatkan hiburan.
Murid-murid Bao Yu berusaha mengabaikan mereka walaupun kesal. Mereka hanya terbang menyisi sambil mengetatkan rahang. Lalu melesat mempercepat terbangnya.
Tak sampai satu menit, mereka semua sudah mendarat di pekarangan belakang perguruan di belakang Bao Yu, disambut rombongan pemilik perguruan dan para tetua.
"Xiao Yu! Apa yang terjadi?" tanya salah satu tetua sambil menghambur ke arah Bao Yu dan meneliti tubuh Shen Zhu yang berlumuran darah dengan mata terpicing.
"Hanya kecelakaan saat berlatih," jawab Bao Yu tak ingin panjang lebar.
Murid-muridnya membungkuk ke arah pemilik perguruan dan para tetua.
Pemilik perguruan dan para tetua itu tidak menggubris mereka, dan mereka sama sekali tidak merasa heran.
Penghuni Asrama Tujuh memang tak pernah dianggap keberadaannya. Mereka sudah seperti hantu, bergentayangan di tempat yang sama namun berbeda alam.
Merasa tak nyaman dengan situasinya, Bao Yu segera berpamitan dan membimbing murid-muridnya ke asrama mereka.
__ADS_1
"Adik!" pemilik perguruan itu menghentikannya. "Apa kalian berlatih di bukit?"
"Benar, Kakak!" Bao Yu berusaha tetap bersikap sopan. Ia membungkuk ke arah kakaknya meski kedua tangannya masih membopong Shen Zhu.
"Kami semua melihat sesuatu di puncak bukit," tutur kakaknya dengan isyarat menyelidik. "Bisakah kau katakan apa yang terjadi?"
"Sesuatu?" Bao Yu balas bertanya, pura-pura tidak mengerti. Ia melirik murid-muridnya dengan isyarat halus yang tidak kentara. "Apa kalian melihat sesuatu?" tanyanya pada mereka.
Murid-murid itu menggeleng bersamaan. Memasang raut wajah yang sama. Pura-pura tidak mengerti.
"Sudahlah!" pemilik perguruan itu mengibaskan sebelah tangannya dan berbalik.
Bao Yu membungkuk sekali lagi dan bergegas meninggalkan kakaknya, diikuti murid-muridnya.
Para tetua mengawasi punggung mereka dengan curiga, kemudian bertukar pandang.
Bao Yu bisa merasakan tatapan mereka membakar punggungnya.
Mereka berbelok di ujung koridor dan melesat cepat ke asrama mereka yang paling terpencil. Lebih mirip Menara Sepi yang biasa digunakan untuk mengasingkan orang-orang bermasalah di dalam sebuah kerajaan.
Dan memang begitulah pada mulanya.
Bao Hu, pemilik perguruan itu memang berniat mengasingkan Bao Yu setelah mengetahui adiknya mengalami luka fatal akibat pertarungan terakhirnya yang membuat ia cacat secara permanen.
Asrama itu sudah lama tak digunakan karena dianggap memiliki aura negatif setelah penghuni terakhirnya dibantai dalam semalam, seratus tahun yang lalu. Jauh waktu sebelum Bao Hu mewarisi kepemilikan sekte Bao, bahkan ayahnya.
Perguruan Sekte Pedang Baohu itu dulunya bernama Perguruan Sekte Bao.
Setelah hak kepemilikan Sekte Bao jatuh ke tangan Bao Hu, ia mengganti nama perguruan itu menjadi Perguruan Sekte Pedang Baohu.
Sejak saat itulah, Bao Yu kehilangan kehormatannya sebagai Tuan Muda Bao. Segala keputusannya diatur di bawah kendali kakaknya.
Dan Bao Hu menempatkan Bao Yu di tempat itu dengan dalih penelitian. Ia mencoba mempersulit Bao Yu dengan banyak tugas yang bersifat teori untuk diselidiki. Tapi siapa sangka hal itu malah menghantarkan Bao Yu menjadi ahli teori dan menerbitkan banyak buku.
Bukunya sudah tersebar ke seluruh benua dan ia mendapatkan lencana kelas satu ahli teori.
Lencana kelas satu ahli teori yang diraihnya membuat Bao Yu mendapatkan kembali kehormatannya dan memiliki hak penuh atas bangunan itu.
Bao Yu berhasil mengatasi kepahitan dalam hatinya dan berdamai dengan masa lalunya meski kekuatan spiritualnya tidak berkembang.
Sampai…
Beberapa saat lalu.
__ADS_1
Mungkin muridnya yang paling tua itu benar.
Ini memang terasa seperti ritual pembangkitan ilahi!