Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
25


__ADS_3

"Guru, apakah dengan mengalahkan Kaisar Raja Iblis kita bisa mengusir klan iblis dari benua kita?" Shen Zhu bertanya ketika mereka menyusuri jalan setapak di pekarangan belakang perguruan mereka.


Bao Yu menoleh padanya dan mengangguk. "Tapi ini adalah jalan yang sangat panjang dan sulit," katanya. "Meski aku sudah menerobos Ranah Galaksi Tingkat Tinggi juga masih belum cukup."


Shen Zhu mengerutkan keningnya. "Jadi bagaimana cara mengalahkannya?" tanyanya tak sabar.


"Sabar!" jawab gurunya seakan menyindir ketidaksabarannya. Tatapannya lurus ke depan dengan ekspresi datar.


Shen Zhu menatap wajah gurunya. Sebelah alisnya terangkat tinggi.


"Setinggi apa pun sebuah gunung, asal kau mendaki dengan gigih, kau pasti akan mencapai puncaknya," tutur Bao Yu tetap memandang lurus ke depan dengan ekspresi datar.


Shen Zhu mengerjap dan tertunduk. Merasa sedikit tak puas dengan jawaban gurunya. Bersabar, batinnya getir. Aku sudah bersabar terlalu lama!


"Kau masih memikirkan kakakmu?" Pertanyaan Bao Yu membuat Shen Zhu merasa tercubit di ulu hatinya. Lebih dari itu, Bao Yu bahkan menotok setiap titik luka di relung hatinya. "Kau tak bisa berhenti memikirkan bagaimana desamu dihancurkan? Membayangkan dirimu melepas kehancuran yang menyebabkan semua orang yang kau cintai mati hingga kakakmu sendiri takut padamu dan membencimu? Lalu sekarang kau juga tak bisa memaafkan diri sendiri?"


Shen Zhu menelan ludah dan tertunduk semakin dalam.


"Kau pasti berpikir… bagaimana bisa aku melihat begitu banyak padahal aku bukan ahli majusi?" Bao Yu mengerling ke arah Shen Zhu melalui sudut matanya.


Shen Zhu menelan ludah sekali lagi.


"Aku memang bukan ahli majusi. Tapi kau jangan lupa aku ahli teori!" Bao Yu menambahkan. "Ahli majusi mendapat gagasan berdasarkan apa yang dilihatnya. Ahli teori menggali apa yang tidak terlihat berdasarkan gagasannya."


Shen Zhu mengerling ke arah gurunya dengan tatapan kagum.


"Xie Ma melihat dirimu terlalu banyak hingga ia terlalu bingung untuk menilai," Bao Yu balas mengerling ke arah Shen Zhu dengan tatapan sinis. "Dan kau… dengan keras kepala berusaha melihat apa yang mungkin dilihatnya?"

__ADS_1


Shen Zhu mengerjap dan terkesiap.


"Itu bukan ranahmu, Liu Shen Zhu!" Bao Yu menambahkan dalam bisikan tajam.


Shen Zhu tiba-tiba menjatuhkan dirinya, berlutut dan tertunduk dengan kedua bahu menggantung lemas di sisi tubuhnya.


Bao Yu menghentikan langkahnya sambil mencoba menahan dirinya untuk tidak menoleh ke belakang. Tak sampai hati untuk melihat pemuda itu terpuruk merendahkan dirinya. "Kau tak harus menjadi buta untuk mengetahui dunia orang buta," kata Bao Yu.


Shen Zhu masih bergeming. Masih tak tahu apa yang harus dilakukan.


"Kau tahu, apa kelemahanmu?" Bao Yu memperlembut suaranya. "Memiliki kasih adalah hal baik," katanya, akhirnya menoleh ke belakang. "Tapi kepahitan tak akan membawamu ke mana-mana. Kepahitan tak bisa membantu dirimu menjadi lebih kuat. Kepahitan hanya akan membuatmu kehilangan penilaian. Kepahitan adalah racun paling mematikan yang bisa membunuhmu secara perlahan. Menggerogotimu dari dalam, lalu secara perlahan mematikan seluruh indera hingga kau buta, di mana kau tak bisa lagi melihat tujuanmu."


Shen Zhu mulai mengerti. Tapi masih tak yakin ke mana arah pembicaraan gurunya.


"Kau akan berakhir dengan mengenaskan, dihantui bayang-bayang semu masa lalumu. Kepahitan akan membunuhmu!" Bao Yu menambahkan. Tapi masih belum sampai kepada intinya.


"Beberapa hari yang lalu, kau sangat bertekad untuk menjadi lebih kuat," tutur Bao Yu, akhirnya mulai mengarah pada intinya. "Lalu sekarang, setelah kau memilikinya, kau tidak menginginkannya lagi."


Shen Zhu merasa tertohok di ulu hatinya.


"Kau tahu, berapa banyak orang yang menginginkan kekuatanmu?" Bao Yu memutar tubuhnya dan bersedekap. "Percayalah! Kau tak akan sanggup menghitungnya!"


Shen Zhu mendongak menatap wajah gurunya dengan dahi berkerut-kerut.


"Orang lain membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mencapai apa yang kau miliki sekarang," tutur Bao Yu. "Dan kau menerobosnya dalam hitungan hari. Kau tahu apa artinya?" Ia tertunduk menatap Shen Zhu dengan alis tertaut. "Kau memiliki karunia bakat yang tidak dimiliki oleh orang lain!"


Shen Zhu mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya, berusaha memotivasi diri dan menguatkan kembali tekadnya di dalam hati.

__ADS_1


"Apa kau tidak tahu bahwa setiap anugerah selalu datang bersama kutukan?" tanya Bao Yu.


Shen Zhu kembali tertunduk.


"Seperti kata pepatah: Seiring kekuatan besar, datang tanggung jawab yang besar!" petuah Bao Yu—mengutip pesan moral sebuah film box office. "Dan itu artinya, tanggung jawabmu lebih besar dibanding orang biasa. Kau akan dituntut untuk melindungi lebih banyak orang yang lebih lemah darimu, ditempatkan di garda terdepan sebagai mata pedang sekaligus perisai. Kau akan diuji melebihi siapa pun yang ada di muka bumi. Tapi coba lihat dirimu!"


Shen Zhu mengerjap ketika gurunya mengerling padanya, dengan sikap mencela.


"Kau menjadi lengah hanya karena mendengar teriakkan seseorang. Dan kau hampir kehilangan nyawamu karena itu!" Bao Yu mengingatkan. "Bagaimana bisa kau melindungi lebih banyak orang kalau satu orang saja sudah membuatmu tak fokus?"


Reka ulang adegan ketika ia sudah setengah jalan berada di depan musuh lalu terusik oleh teriakan kakaknya yang panik melintas dalam benaknya, kemudian menyadari hal itu sebagai kesalahan fatal.


"Lalu sekarang kau juga menghukum diri sendiri hanya karena seseorang yang kau sayangi menghakimimu, menjauhimu," Bao Yu melanjutkan. "Kau menjadi tawar hati hanya karena seseorang membenci apa yang kau miliki sampai kau sendiri ingin melepas apa yang kau miliki."


Udara di paru-paru Shen Zhu berdesing keluar. Kedua matanya melebar. Kesadarannya terbentang seketika.


"Begitu banyak orang yang menginginkan apa yang kau miliki sekarang," sesal Bao Yu. "Dan kau dengan mudahnya ingin menyerah begitu saja. Entah kau bodoh karena tak tahu, atau gegabah karena tak peduli!"


Sekali lagi, Shen Zhu merasa tertohok di ulu hatinya.


"Kalau begini terus…" Bao Yu mendesah dan menggeleng. "Tak butuh waktu lama, kau akan kehilangan kekuatanmu secepat kau mendapatkannya!" Ia menandaskan.


"Guru…" Shen Zhu akhirnya membuka suara. "Banyak hal yang masih belum aku pahami," ia mengaku. "Mengetahui diriku adalah penyebab kehancuran desa kelahiranku sendiri… hingga kematian kedua orang tuaku… hingga… perguruan kita, aku sudah tidak mengerti. Mengetahui diriku adalah Pusaka Dewa Petaka… aku semakin tidak mengerti. Mengetahui banyak orang menginginkan Pusaka Dewa Petaka… aku lebih tidak mengerti lagi. Aku bahkan tidak mengerti kenapa manusia begitu ingin menjadi dewa?!"


Bao Yu mendesah pendek sekali lagi, lalu mendekat ke arah Shen Zhu, membungkuk dan merenggut kedua bahu pemuda itu, kemudian menariknya berdiri. "Kita tak bisa menyelami hati manusia," katanya. "Tapi setiap kita diberkati pengetahuan untuk mengerti kehendak Dewa!"


Shen Zhu mengerjap dan menelan ludah. Menatap gurunya tanpa bisa menutupi kekagumannya. Tersengat oleh rasa hormat yang teramat tinggi.

__ADS_1


"Lakukan saja bagianmu," Bao Yu menasihati. "Sisanya bagian Tuhan!"


__ADS_2