
"Perjalanan kali ini, tak tahu kapan akan kembali," gumam Shen Zhu ketika Yanxi membantunya menata rambut. "Maksudku… siapa yang tahu di mana Benua Jingling!"
Yanxi baru saja membuka mulutnya, bersiap mengutarakan pendapatnya ketika pintu paviliun Shen Zhu diketuk dari luar.
"Siapa?" tanya Shen Zhu.
"Aku!" jawab seseorang yang tahu-tahu sudah muncul di tengah ruangan.
"Paman?" Shen Zhu mengerjap dan menoleh ke belakang melewati bahunya. Pada saat itu ia sedang duduk di depan meja rias menghadap ke arah cermin.
Yanxi segera menyisi dan membungkuk pada Liu Tang memberikan salam soja.
Liu Tang berpindah tempat dalam sekejap ke sisi Shen Zhu dan mengeluarkan sesuatu dari cincin penyimpanannya. "Kau melupakan pusaka lain," katanya.
Sebuah kotak kayu berwarna hitam mengkilat berukiran simbol-simbol kuno muncul di meja rias Shen Zhu.
Shen Zhu menatap kotak itu sesaat dan mendongak menatap pamannya.
Liu Tang mengangguk samar, mengisyaratkan supaya Shen Zhu membuka kotak itu.
Shen Zhu membuka kotak itu dan mendapati seperangkat pakaian putih terang berhias sulaman benang perunggu, mahkota rambut dari perunggu, ikat pinggang sutra perunggu, pelindung tangan dan bahu yang juga dari perunggu, lalu sepasang sepatu kain setinggi lutut yang juga berwarna putih dengan sulaman sutra perunggu.
"Seragam Dewa Kecil?" terka Shen Zhu.
Liu Tang mengangguk lagi.
Dewa Kecil adalah istilah untuk menyebutkan identitas dewa baru atau dewa yang baru lahir. Sama halnya seperti Ksatria Tingkat Satu atau Master Spiritual dengan level kekuatan spiritual sepuluh di dunia manusia.
"Ini terlalu mencolok!" tukas Shen Zhu.
"Seragam Dewa Kecil bisa meredam penyebaran aura yang tidak perlu," jelas Liu Tang. "Selain itu, bisa merawat dan membantu mempercepat kultivasi. Semua hiasan itu akan berubah menurut tingkatan kekuatan spiritual. Saat mencapai tingkat menengah, warna perunggu akan berubah dengan sendirinya menjadi warna perak, dan emas. Pada saat itulah kau akan menjalani Ujian Puncak Pewarisan. Saat warna emas berubah menjadi warna kristal, kau akan dilantik menjadi Kaisar Dewa."
"Apa warnanya bisa diganti hitam?" tanya Shen Zhu.
"Yanxi, bantu Dewa Kecil berganti pakaian!" perintah Liu Tang pada Yanxi, tidak menggubris permintaan Shen Zhu.
Shen Zhu tergagap-gagap berusaha memprotes, tapi Yanxi bergerak lebih cepat seperti dirasuki roh taklukan yang hanya mengikuti perintah Liu Tang.
"Begini lebih cantik!" kelakar Liu Tang tanpa tertawa setelah Shen Zhu selesai berganti pakaian.
Shen Zhu menanggapinya dengan mendelik, memasang wajah cemberut.
__ADS_1
Liu Tang menyingkirkan kotak kayu penyimpan pakaian dewa itu dari meja rias Shen Zhu kemudian mengeluarkan gulungan berisi peta kuno dan menunjukkan letak Benua Jingling.
"Peta ini diambil dari Kitab Dewa Petaka setelah masa kegelapan," tutur Liu Tang. "Ayahmu menyimpannya di kuil dan memintaku menjaga peta ini dengan nyawaku."
Shen Zhu mempelajari peta itu dengan dahi berkerut-kerut.
Benua Jingling terletak di sebelah timur Jiangnan di mana mereka tinggal sekarang. Untuk mencapai tempat itu, dia harus melewati Markas Besar Aliansi Ksatria, dan menyeberangi Laut Elemen yang menjadi pembatas wilayah antara kekaisaran Jiangnan dan kekaisaran Lingnan.
Benua Jingling tersembunyi secara gaib di tengah Laut Elemen.
Aku harus menemuinya dulu, kata Shen Zhu dalam hati. Tapi pakaian ini bisa menarik perhatian. Lalu ia merenggut jubah hitamnya dari gantungan dengan telekinesis.
Liu Tang mendesah pendek dan bertukar pandang dengan Yanxi. Lalu menoleh pada Shen Zhu. "Jangan bertindak gegabah sebelum kau mendapatkan Tongkat Kaisar Dewa!" ia memperingatkan.
"Aku hanya ingin bertemu Xiao Mao!" tukas Shen Zhu.
"Ingat, hanya Kaisar yang bisa bernegosiasi dengan Kaisar!" Liu Tang menasihati.
Shen Zhu langsung terdiam. Berpikir keras.
Yang dimaksud Liu Tang adalah, "Jika ingin mendapatkan Kipas Petaka di tangan Hua Ze, kau harus menjadi kaisar terlebih dulu!"
"Aku hanya ingin bertemu Xiao Mao!" ulang Shen Zhu. Tentu saja ia mengerti kekhawatiran pamannya. Namun ia tak sanggup menahan perasaannya.
Shen Zhu mendesah kasar dan terduduk dengan kedua bahu menggantung lemas di sisi tubuhnya.
"Setelah kau menguasai Benua Jingling, kau bisa memasuki Markas Besar Aliansi Ksatria sebagai petinggi bermartabat," Liu Tang meyakinkannya. "Dan bukan sebagai buronan!" Ia menambahkan.
"Aku mengerti," gumam Shen Zhu akhirnya. Kemudian mencampakkan jubahnya.
Liu Tang tersenyum tipis dan berbalik ke arah pintu, menuntun jalan ke pekarangan di mana semua orang sudah menunggu, bersiap mengantar keberangkatan Shen Zhu.
Shen Zhu beranjak dari tempat duduknya dan mengekor di belakang pamannya. Lalu diam-diam merenggut jubah gelapnya menggunakan telekinesis dan menyembunyikannya ke dalam cincin penyimpanan.
Yanxi melihatnya dan mendesah diam-diam. Lalu menggeleng-geleng dengan ekspresi tak berdaya.
Shen Zhu berjalan melewatinya seraya tersenyum miring.
Yanxi mengikutinya tanpa berkata-kata.
Liu Tang menguak pintu paviliun itu tanpa menyentuhnya.
__ADS_1
Semua orang di pekarangan membungkuk pada mereka.
Seekor kuda putih dari ras dewa sudah menunggunya di jalan masuk yang mengarah lurus ke beranda paviliun Shen Zhu.
Jingwei berdiri di sisi kuda itu sambil memegangi tali kekang, lalu membungkuk pada Shen Zhu. "Doa kami menyertai Tuan!" katanya dengan santun.
"Doa kami menyertai Tuan!" semua orang di pekarangan berlutut serempak.
"Sejatinya sebuah takdir adalah untuk dijalani," petuah Liu Tang sambil menepuk pelan bahu Shen Zhu. "Ketika takdir memilihmu, tanggung jawabmu sudah dimulai!"
"Bicara begitu berbelit-belit hanya untuk mencambukku," gerutu Shen Zhu sambil melangkah menuruni tangga.
Liu Tang tersenyum geli dan menggeleng-geleng.
Sejurus kemudian, Shen Zhu sudah melangkah naik ke panggung kudanya dan melesat pergi meninggalkan sekte.
Ia mendaratkan kudanya di puncak sebuah gunung, tak jauh dari Markas Besar Aliansi Ksatria dan termenung beberapa saat. Memandang lepas ke arah benteng dengan raut wajah hampa. "Xiao Mao, jaga dirimu!" bisiknya dengan sedih.
Alunan seruling di kejauhan menarik perhatian Shen Zhu.
Shen Zhu menoleh ke samping dan memicingkan matanya, menyimak dengan waspada. Dari mana datangnya suara seruling itu? ia bertanya-tanya dalam hatinya, merasa sedikit familier dengan irama seruling itu.
Suaranya selembut angin, namun menyayat ke relung hati.
Tembang Perhentian! Shen Zhu menyimpulkan.
Tembang Perhentian adalah irama seruling Zainan untuk menghentikan waktu dan menjebak jiwa seseorang di dunia ilusi.
Pengetahuan itu didapatkan Shen Zhu secara otomatis seiring lahirnya kekuatan dewa. Kitab Kehidupan yang ada dalam dirinya memberikan seluruh informasi mengenai segala sesuatu.
Setiap hal yang dipikirkannya akan memunculkan manual terkait dan membuka halaman yang berisi informasi tentang apa yang dipikirkannya. Menjawab pertanyaan dalam benaknya. Mendidiknya sebagai dewa yang maha tahu.
Ternyata begini rasanya menjadi dewa! Shen Zhu membatin takjub. Lalu mengedar pandang untuk mencari sumber suara seruling itu.
Asap gelap seperti jelaga melayang dari sebuah lembah di belakangnya.
Shen Zhu menelan ludah dan membeku dengan alis bertautan.
Suara seruling itu datang dari desa yang dihancurkan.
Pemakaman keluarganya!
__ADS_1
Seruling itu! Shen Zhu menyadari. Pusaka Dewa Petaka yang belum sampai ke Aliansi Ksatria.
Seruling Petaka!