Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
130


__ADS_3

Detik-detik sebelum Ksatria Pilar Dewa Muncul…


Ksatria Pilar Dewa itu sebenarnya menarik Shouhu ke Dunia Bawah, "Daripada itu, lebih baik lakukan sesuatu yang lebih bernilai!"


Shouhu terkesiap mendapati dirinya tahu-tahu sudah berada di dunia bawah. "Apa maksudnya sesuatu yang lebih bernilai?" tanyanya seraya melontarkan tatapan curiga. "Memangnya ada hal yang lebih bernilai dari pengabdian?"


"Tentu saja ada!" jawab Jingwei yang tumbuh dewasa dalam hitungan hari berkat perbedaan waktu di Dunia Bawah.


Jingwei telah melewati sepuluh tahun meditasi di dunia bawah menemani Xiao Mao. Usianya sekarang sudah dua puluh satu tahun. Tapi Xiao Mao tak juga menerobos tingkat sementara situasi di dunia persilatan semakin genting.


"Katakan!" Shouhu menanggapinya dengan antusias.


"Pengorbanan," jawab Jingwei tanpa ekspresi.


"Kau ingin membunuhku?" geram singa berkepala manusia itu bernada jengkel.


"Tidak juga!" sergah Jingwei acuh tak acuh. "Kecuali jika kau memandang hidup tanpa kedewaan seperti mati."


"Apa pentingnya kedewaan?" tanya Shouhu.


"Benar!" timpal Jingwei. "Apa pentingnya kedewaan menurutmu?"


"Menurutku, tak penting apakah aku monster dewa atau binatang biasa. Takdirku tidak berubah!" tutur Shouhu.


"Lalu jika aku meminta kedewaanmu, apa kau rela melepasnya?" tanya Jingwei.


"Oh," Shouhu mencibir. "Bicara begitu berbelit-belit ternyata hanya menginginkan kedewaanku?"


"Bukan untukku," jawab Jingwei. "Tapi untuk Permaisuri Langit!"


Singa berkepala manusia itu spontan tergelak. "Jika aku mendapatkan kehormatan seperti itu, mati pun aku takkan menyesal," katanya bernada sangsi.


"Kalau begitu kau bisa mati dengan tenang," tukas Jingwei.


Singa itu spontan memelototinya.


"Lihat di sana!" Jingwei mengerling ke dinding tebing yang berlubang.


Lubang itu berupa gua kecil yang menyala merah darah. Seekor kucing berbulu hitam meringkuk di dalamnya dengan tubuh mengeluarkan lidah-lidah api yang berkobar-kobar.


Xiao Mao!


"Kau tahu siapa dia?" tanya Jingwei.

__ADS_1


Singa itu mengawasi Xiao Mao dengan mata terpicing. Merasa sedikit familer dengan auranya. "Dia…"


"Pasangan Dewa Zhu yang ditakdirkan!" Jingwei menginterupsi.


"Benar-benar Permaisuri Langit!" seru Shouhu dengan semangat. Lalu tersungkur ke arah Xiao Mao memberikan hormat.


"Seorang penguasa dunia manusia telah merenggut kedewaannya," tutur Jingwei menjelaskan situasinya. "Butuh waktu jutaan tahun untuk memulihkan kedewaannya. Meski perbedaan waktu di Dunia Bawah bisa membantu mempercepat kultivasinya, tapi situasi di dunia manusia tak mau menunggu."


"Aku sudah mengerti," sahut singa itu. "Bisa memberikan kedewaanku untuk Permaisuri merupakan kehormatan bagiku."


Lalu monster dewa itu menyerahkan kedewaannya. Kemudian memilih tinggal di sekitar gua di mana Xiao Mao memulihkan diri dan menjadikan tempat itu sebagai Kuil Suci Permaisuri Langit.


Xiao Mao menyerap pil dewa yang diberikannya selama sehari penuh, namun hanya beberapa detik di dunia manusia.


Begitu Xiao Mao kembali ke bentuk manusia, ia kembali ke Kuil Zainan bersama Jingwei dalam bentuk manusia. Namun kekuatan spiritualnya hanya mencapai level Dewa Kecil.


Dibandingkan pil dewa yang telah direnggut, level kedewaan Shouhu memang jauh lebih rendah. Tapi jelas sangat membantu pemulihan Xiao Mao.


"Setelah aku resmi menjadi Permaisuri Langit, aku akan mengembalikan kedewaanmu," janji Xiao Mao pada Shouhu sebelum meninggalkan Dunia Bawah.


Pada saat itulah Jingwei muncul dalam formasi di altar kuil Dewa Zainan sementara Xiao Mao terhempas keluar kuil menembus kubah tinggi menjulang yang terbuka selama formasi berjalan.


.


.


.


"Lieren!" pekik Jieru dengan wajah semringah.


Kuil Zainan berubah gaduh, para wanita yang berada di dalam ruangan penyembahan itu berteriak gembira dan memancing perhatian semua orang di luar kuil. Lalu dalam sekejap ruangan itu dipenuhi banyak orang.


"Dewi Lieren sudah kembali!" teriak seorang gadis dari teras kuil dan memancing lebih banyak orang lagi.


Sementara itu…


Shen Zhu sedang berada di aula singgasananya bersama sejumlah pejabat istana dan para ketua sekte yang dibawanya untuk membahas penempatan keempat sekte di Benua Jingling ketika rune perjanjian darah di dahinya tiba-tiba menyala berkedut-kedut.


Tanpa pikir panjang dan tanpa peduli sekitar, Shen Zhu beranjak dari tempat duduknya, kemudian menghambur keluar aula.


Setengah dari pejabat istana terlempar saat dia melintas. Sisanya hanya tercengang termasuk gurunya.


Di pekarangan, para pengawal jatuh berlutut akibat hempasan kakinya saat dia berlari dan melompat untuk kemudian melesat ke langit tinggi.

__ADS_1


WUSSSHHH!


Peri-peri kecil di taman tersapu oleh hempasan angin yang ditinggalkannya saat dia menghilang.


Sejurus kemudian, Shen Zhu mendarat di altar Kuil Zainan.


BUUUUUMMMM!


Kuil kecil itu pun meledak. Semua orang di dalamnya terlempar dan terserak di pekarangan.


Xiao Mao dan Jingwei terperangah di depan dan belakangnya dengan mata dan mulut membulat.


Shen Zhu membeku sambil meringis, kemudian menoleh perlahan ke arah semua orang yang bergelimpangan di sana-sini.


Xiao Mao menggeleng-geleng di depannya sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Jingwei mendesah di belakangnya. "Tuan…" bisiknya setengah mengerang. "Apa kau ingin memusnahkan alam semesta?"


"Maaf," bisik Shen Zhu berhati-hati, kemudian merunduk perlahan dan menjatuhkan wajahnya ke ceruk bahu Xiao Mao dalam gerak lambat.


Xiao Mao mengulum senyumnya dan mengusap lembut bagian belakang kepala Shen Zhu. "Lihat dirimu," bisiknya pura-pura memarahi. "Sudah sebesar ini masih saja jadi pengacau. Apa ada Dewa Pangeran sepertimu?" gerutunya dalam gumaman tertahan.


"Aku tidak sengaja…" Shen Zhu semakin memelankan suaranya.


Semua orang mengerang di sana-sini, kemudian beranjak sembari meringis. Beberapa dari mereka hanya duduk terpuruk sembari mengusap-usap pinggang.


"Kebetulan sekali…" kata Yanxi dengan suara tercekat akibat menahan sakit. "Kau sudah datang."


Shen Zhu menarik wajahnya dari bahu Xiao Mao dan menoleh dengan gerakan yang sangat pelan. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan hati-hati.


"Kau bahkan meledakkan kuilmu sendiri," sahut Yanxi tersendat-sendat, kemudian menghela bangkit tubuhnya, memaksa dirinya untuk berdiri. "Bayangkan tubuh kami manusia-manusia yang lemah lembut dan baik hati ini…"


Xiao Mao berdesis menahan tawa sembari membekap mulutnya dengan jemari tangan.


Jialin melirik ke arah Xiao Mao dengan raut wajah jengkel, kemudian menoleh pada Shen Zhu dengan tatapan terluka. Dia segera datang begitu Xiao Mao kembali, katanya dalam hati.


"Banyak hal yang ingin disampaikan, tapi aku tak tahu bagaimana memulainya," Tiao menghampiri Shen Zhu sambil meringis dan memegangi dadanya.


Jialin menggamit sebelah lengannya, menempel rapat di sisinya sambil tertunduk muram.


Shen Zhu menggores ujung telunjuknya dengan kuku di ibu jarinya, lalu menggores pula ujung jari tengah, jari manis dan kelingkingnya, kemudian menjulurkan tangannya ke arah pekarangan di mana semua orang bergelimpangan dengan telapak tangan menghadap ke arah semua orang.


Asap gelap mengepul dari tubuh semua orang dan terhisap ke dalam luka di tiap jemarinya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, semua orang bangkit dalam kondisi prima.


__ADS_2