
Apa boleh buat, pikir Bao Yu tak berdaya. Sepertinya tidak ada cara lain selain memohon pada Kakak.
Pusaka Liu Hanzou ini takkan jadi perkara mudah.
Jyang Yue benar, "Sejujurnya aku telah mengatakan terlalu banyak," katanya, beberapa saat sebelum mereka berpisah di taman itu. "Seperti kata pepatah, satu kata berjuta makna."
Dan satu nama berjuta cerita…
Liu Hanzou!
Begitu nama itu tersiar, satu benua akan berperang memperebutkan harta karunnya.
"Pusaka terakhirnya membawa petaka," kata Jyang Yue.
Dan sisanya akan menjadi sengketa.
Pantas saja ketua aliansi begitu murka! pikir Bao Yu.
Sekarang ia mengerti kenapa sampai ada rapat rahasia.
Sekarang ia bisa membayangkan situasi macam apa yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk meneliti pusaka yang tak bertuan.
Tetap saja… kata Bao Yu dalam hatinya. Penyebabnya hanya satu.
Pusaka terakhirnya membawa petaka.
Menyusul petaka lainnya.
Jika ia dapat mencabut kutukan pusaka terakhir Liu Hanzou, petaka lainnya akan berakhir.
Itu juga dikatakan Jyang Yue ketika Bao Yu bergegas pulang sementara Jyang Yue masih ingin mencoba meminta izin meski tahu takkan berhasil.
Kedua kakak-beradik Liu itu hampir tak bisa dipisahkan. Tapi Jyang Yue berhasil membujuk mereka. "Aku berjanji kalian bisa saling mengunjungi satu sama lain," katanya. Lalu memberikan pelat pada Shen Zhu supaya ia dapat masuk Sekte Majusi sesuka hati.
Sebaliknya, Bao Yu juga memberikan pelat kepada Xie Ma untuk menjamin kunjungannya tak akan dipersulit.
Tiba-tiba saja Shen Zhu berlutut.
"Siapa yang mengajarimu?" hardik Bao Yu saat Shen Zhu berlutut pada Jyang Yue. "Laki-laki tidak boleh sembarang berlutut. Kenapa kau berlutut pada orang lain? Apa aku mengajar ulat yang lemah?"
"Sehari sebagai guru, seumur hidup sebagai orang tua," jelas Shen Zhu tanpa berani mengangkat wajah. "Guru Jyang adalah guru kakakku, dan itu artinya Guru Jyang akan menjadi orang tuanya seumur hidup. Orang tuanya orang tuaku juga. Guru Jyang layak menerima hormatku."
Lalu Xie Ma ikut berlutut---berlutut pada Bao Yu. "Begitu pun Anda," katanya. "Saya bisa melihat, Anda adalah orang pertama yang melindungi Adik. Dan selamanya akan jadi orang pertama."
"Tunggu dulu!" Bao Yu mengangkat sebelah alisnya. "Apa maksudnya bisa melihat?" ia bertanya pada Jyang Yue.
"Bukankah sudah cukup jelas," sahut Jyang Yue dengan ekspresi datar. "Dia bisa melihat artinya Majus sejati. Pikirmu kenapa aku memilihnya?"
Mengenai Shen Zhu, Jyang Yue juga berpesan, "Anak itu mungkin sedikit merepotkan," katanya. "Tapi percayalah dia tahu cara membalas budi."
Hanya itu yang dikatakannya. Tapi jelas meninggalkan kesan mendalam di hati Bao Yu. Ia tahu perkataannya tidak sesederhana itu.
Bagaimanapun wanita itu seorang Majus. Ahli visi dan ramalan master.
__ADS_1
Pusaka Liu Hanzou! Bao Yu mengulang-ulang kalimat itu dalam kepalanya hingga kehilangan makna.
Tatapannya terpaku pada Shen Zhu yang sedang berlatih dengan keenam kakak seperguruannya.
Sejak awal ia sudah menduga anak ini tak sederhana. Hanya tak banyak yang melihatnya. Bahkan ia sendiri.
Ia tidak bisa melihat tapi bisa merasakannya.
Jyang Yue mungkin bisa melihat tapi tak ingin mengatakannya. Hanya "tahu cara membalas budi."
Dan apa artinya itu? Bao Yu bertanya-tanya dalam hatinya.
Setiap murid membalas budi gurunya!
Memang ada yang lebih baik dari itu?
Bao Yu mendesah pelan dan menggeleng. Seakan mencoba mengenyahkan sesuatu dari benaknya.
Pada akhirnya ia memutuskan untuk tidak memikirkan risiko dan keuntungan.
Bukankah ia tidak ada bedanya dengan para pejabat korup di Markas Besar Aliansi Ksatria Pemburu Iblis jika ia memikirkannya?
Jalani saja! perintahnya pada diri sendiri.
.
.
.
Keadaan Liu Shen Zhu tak kunjung mengalami perubahan.
Kekuatan spiritualnya tidak berkembang.
Kemampuan bela dirinya tetap bertahan di tingkat pemula.
Dan ia masih kerap ditindas murid-murid asrama lain. Terutama putri pemilik perguruan.
Gadis kejam itu memiliki gerombolannya sendiri untuk menindas siapa saja yang tidak disukainya.
Tapi Bao Yu dan keenam muridnya selalu melindungi Shen Zhu dari waktu ke waktu.
Belum lagi masalah gangguan tidurnya yang masih belum teratasi. Kakak-kakak seperguruannya sampai harus berjaga secara bergiliran setiap malam. Bao Yu menugaskan mereka secara diam-diam.
Perkara pusaka keluarganya bahkan seperti tabu yang tidak boleh dibicarakan lagi, namun tetap menjadi sengketa.
Wajah pemilik perguruan semakin tak enak dilihat dari waktu ke waktu. Memendam kekecewaan begitu lama, membuatnya menutup mata untuk semua permasalahan Shen Zhu. Ia bahkan tak sudi melihat anak itu melintas di depan matanya. Membuatnya bersikap dingin dan selalu sinis. Tanpa sadar melukai Shen Zhu begitu dalam hingga membekas di relung hatinya.
Inikah saat di mana ramalan Jyang Yue terbukti: "Anak itu mungkin sedikit merepotkan."
Tapi apa artinya dia tahu cara membalas budi?
Pertanyaan itu akhirnya kembali pada Bao Yu setelah terlupakan bertahun-tahun.
__ADS_1
Lelah dan frustrasi membuat Bao Yu memutuskan untuk bertanya langsung pada Jyang Yue.
Ia menemui Jyang Yue ketika mengantar Shen Zhu mengunjungi kakaknya dan menanyakannya secara terus terang.
Tapi lagi-lagi Jyang Yue memberinya teka-teki. "Tidak ada burung yang lebih kuat dari rajawali," katanya. "Kau tahu kenapa? Rajawali terbang tak pernah diantar!"
Bao Yu kembali terjebak dalam tanda tanya besar yang sama.
Apa maksudnya?
"Tak ada kebangkitan tanpa kematian!" Jyang Yue menambahkan.
Pada saat itulah Bao Yu mulai mengerti.
Pusaka Dewa Prahara telah memilihnya, pikir Bao Yu. Dia tak mungkin selemah ini.
Jadi kenapa dia begitu lemah?
Karena Bao Yu dan murid-muridnya selalu melindungi Shen Zhu.
Terlalu memanjakannya!
Rajawali menjadi burung yang kuat karena dia mandiri. Tidak bergerombol seperti burung-burung yang lain.
Tapi apa maksudnya "tidak ada kebangkitan tanpa kematian?"
Bao Yu menatap Shen Zhu.
Anak laki-laki itu sekarang sudah lima belas tahun.
Tinggi, langsing dengan rambut hitam mengkilat selurus penggaris yang panjang terurai melewati bahunya, sebagian diikat di puncak kepala dalam gaya Hun.
Wajahnya lancip dan putih seperti topeng marmer. Hidungnya mancung mendongak di atas sepasang bibir tipis bersemu merah.
Cantik!
Seperti ibunya.
Sekaligus juga tampan. Namun tidak punya wibawa seperti ayahnya.
"Shen Zhu?" tegur Bao Yu ketika mereka sudah sampai di depan gerbang sekte mereka. "Apa kau ingin menjadi lebih kuat?"
Shen Zhu mengerjap dan menatap Bao Yu. Sebelah alisnya terangkat tinggi.
"Kuat sampai tak terkalahkan. Sampai tak ada yang menandingi!" Bao Yu menambahkan.
"Hmh!" Shen Zhu mengangguk penuh tekad. "Aku berharap aku bisa melindungi orang yang sangat penting bagiku."
"Jika sebelum itu kau harus sangat menderita, melalui banyak ujian sampai kau dipaksa hancur, apakah kau juga masih ingin menjadi kuat?" tanya Bao Yu lagi.
"Apa pun rintangannya aku tak akan takut!" tekad Shen Zhu.
Bao Yu tersenyum muram.
__ADS_1
Kalau begitu tak ada cara lain, katanya dalam hati.
Bao Yu mendesah pendek dan merenggut pergelangan tangan Shen Zhu, kemudian menghelanya ke Asrama Tujuh. Ia memanggil keenam murid seniornya dan membimbing mereka semua bersama Shen Zhu ke bukit di belakang perguruan mereka.