Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
34


__ADS_3

Kesepakatan terakhir mereka malam ini akhirnya membuktikan satu hal, Tianba memang tak beres!


Jadi, Shen Zhu berniat untuk menyelidikinya. Tapi kemudian jatuh kasihan mengetahui pemuda itu kembali ke sungai di mana mereka menaklukkan monster Ulat Lumpur Hydra untuk mengambil kristal yang lupa mereka ambil. Lalu bergegas ke arah jalan pulang.


Sebagai orang yang paling sering dirundung oleh Tianba, Shen Zhu tahu persis pemuda itu memiliki elemen batu, sementara Ulat Lumpur Hydra, meski tinggal di dalam sungai, elemennya adalah tanah.


Tampaknya para guru di Sekte Pedang Baohu tak pernah mengajarkan teori penting mengenai kristal yang cocok untuk diserap esensinya, pikir Shen Zhu prihatin.


Misi perburuan ini bukan semata-mata untuk mendapatkan kristal. Tapi untuk menguji pengetahuan para peserta mengenai hal ini.


Shen Zhu sebenarnya sudah menyiapkan kristal untuk Tianba seandainya pemuda itu mau bekerja sama.


Sayang sekali! katanya dalam hati. Kristal Badak Panglima ini tampaknya akan menjadi poin bonusku!


Pada akhirnya, Shen Zhu berusaha melupakan pemuda itu untuk sementara waktu. Masih ada misi yang harus dituntaskan, pikirnya. Lalu mengalihkan visinya lebih jauh ke dalam hutan untuk meninjau tujuan mereka.


Satu-satunya kristal yang belum mereka dapatkan adalah milik bintang spiritual dengan elemen es.


Kristal elemen es termasuk yang paling langka mengingat keberadaannya yang sangat sulit. Tingkat rendah saja nilainya setara dengan kristal tingkat menengah dari elemen lain.


Tapi Shen Zhu tak ingin menyia-nyiakan perjalanannya. Sudah sampai sejauh ini, pikirnya. Harus dapat barang bagus!


Ia memfokuskan penglihatannya pada seekor monster yang hanya terlihat sebagai gambar transparan berwarna merah. Seperti itulah kondisi yang paling tepat untuk menggambarkan sebuah visi yang menembus ruang dan jarak.


Monster itu terlihat seperti serigala berbulu putih dengan tanda petir pada dahinya.


Monster itu disebut Anjing Pelacak Dewa. Level kekuatannya lebih tinggi dari Singa Kaisar yang baru mereka taklukkan. Masih di level kaisar, tapi sudah mencapai tingkat tertinggi.


Lagi-lagi monster elemen ganda! pikir Shen Zhu. Tapi kemudian ia ingat mereka juga belum mendapatkan kristal dengan elemen petir mengingat semua peserta tak ada yang memiliki elemen petir.


Lim Hua memiliki elemen air. Lian Ze, elemen angin. Zhen Juan, elemen logam. Zhang Junda elemen kayu. Tan Liu, elemen tanah. Tiao, elemen es. Jialin dan Jiangwu elemen api.


Sekarang kita akhirnya tahu kenapa kakak-beradik Bao itu tak pernah akur!


Elemen mereka tenyata berlawanan. Seperti ayah-ibunya.


Ah, benar juga! Shen Zhu menyadari. Perempuan gila ini juga belum mendapatkan kristal!

__ADS_1


Shen Zhu mengalihkan penglihatannya ke sisi lain Gurun Salju Abadi untuk mencari monster yang memiliki elemen es murni untuk Tiao.


Seekor monster beruang berbulu tebal sedang mendengkur di dalam goa.


Tingginya seperti kingkong. Cakarnya setajam pisau.


Beruang Petapa! Shen Zhu menyimpulkan. Kekuatan spiritualnya sudah mencapai ranah galaksi. Benar-benar lawan yang sulit! pikirnya.


Meski sudah mencapai ranah galaksi yang sudah hampir mencapai tingkat menengah tanpa ia sadari, Shen Zhu tak pernah menganggap tinggi dirinya dan meremehkan lawan.


Selama ia memulihkan diri di sisa jatah waktunya, ia tetap memperhitungkan kekuatan lawan dan mempersiapkan diri.


Setelah semua orang selesai memulihkan diri dan hari sudah mulai terang, mereka melanjutkan perjalanan menuju Gurun Salju Abadi.


Jiangwu menoleh ke belakang berkali-kali untuk mencari keberadaan Tianba. Lalu mendesah dan menggeleng-geleng. Bajingan egois! batinnya tak habis pikir, masih sedikit jengkel mengingat kejadian di sungai.


Shen Zhu mengikuti arah pandangnya dan mencoba menenangkannya, "Jangan khawatir," katanya. "Kalau tak salah tebak, dia mungkin kembali ke sungai untuk mengambil kristal Ulat Lumpur Hydra dan pulang ke perguruan."


"Sial!" gerutu Jialin sambil mengepalkan tangannya. "Kenapa aku baru ingat kristal itu belum diambil!"


"Untuk apa menyesal?" sergah Tiao dengan tetap memasang ekspresi datar. "Kristal itu tak cocok untukmu. Bahkan untuk Tianba. Bisa dibilang, kristal itu tak berguna untuk kalian!"


Ternyata hanya murid Asrama Tujuh yang sangat beruntung! pikir Shen Zhu. Tak ada guru yang lebih baik dari Guru Yu, batinnya penuh syukur.


Kakak-kakak seperguruannya diam-diam bertukar pandang, melayangkan isyarat pikiran yang sama.


"Aku juga diberitahu Adik Zhu," Tiao mengaku. "Awalnya aku mendengarnya dari Kak Hua. Jadi aku menanyakannya pada Adik Zhu."


"Gaya bicaramu berbelit-belit," dengus Jialin tak sabar.


"Singkatnya, kalau mau mencari kristal, cari monster yang elemenya sesuai dengan elemen kita," jelas Tiao.


Jialin mengerjap dan menatap kakaknya dengan ketertarikan baru.


Ini adalah pertama kalinya mereka saling bicara, bisa dikatakan baru kali ini Tiao mengajari adiknya.


Diam-diam Jialin mengerling ke arah Shen Zhu. Tidak disangka Bocah Tengik ini telah membuat banyak perubahan! pikirnya. Lalu ia melirik Jingwu. Bahkan murid Asrama Satu Putra mengaku dirinya lemah! katanya dalam hati.

__ADS_1


Lamunannya terusik oleh bunyi kepak di atas kepalanya.


Semua orang serentak mengarahkan pandangan mereka ke langit yang masih redup, tampak seekor burung raksasa berbulu merah-kuning dan hijau menukik dan meluncur, menghilang menembus ke dalam awan tebal, lalu tiba-tiba terbang cukup rendah hingga terlihat lagi.


Lalu kepak sayapnya terdengar sangat dekat, bergema di bukit batu yang terjal, dan suara berkaok nyaring membuat mereka bergidik.


"Phoenix Api!" gumam Shen Zhu. Lalu berhenti tiba-tiba, yang secara otomatis membuat semua orang serentak ikut berhenti. "Cocok untuk Kak Wu dan Kak Jialin," Shen Zhu menambahkan.


Jialin dan Jiangwu serentak memasang kuda-kuda dan mengeluarkan pedang mereka.


"Kalau begitu serahkan saja pada kami!" kata Jialin penuh tekad. "Kalian lanjutkan saja!"


"Baik!" sahut Shen Zhu. Ia mengangguk pada Tiao dan yang lainnya, kemudian melanjutkan perjalanan.


Phoenix Api itu baru mencapai level tiga puluh. Shen Zhu percaya Jialin seorang diri saja bisa menaklukkannya.


Tak ada perlu dikhawatirkan! pikirnya. Lagi pula kenapa aku harus peduli? Perempuan gila itu selalu merundungku!


Meski begitu, hati kecilnya berkata lain. Bagaimanapun ia tak bisa tak peduli pada tim. Finalis Sepuluh Besar akan menjadi bagian penting dalam Ujian Ksatria.


Kalau saja misi ini tak masuk penilaian, aku sudah menenggelamkan mereka di sungai! katanya dalam hati.


Shen Zhu tahu misi ini juga menguji kerja sama tim. Dan ia tahu persis dengan kembalinya Tianba lebih dulu sudah menjadi masalah besar bagi seluruh penilaian. Kuharap Tianba tersandung di tebing dan jatuh pingsan sampai kami kembali, harapnya dalam hati.


"HIAAAAAAAT!" teriakan Jialin menggema di sekeliling hutan.


SLASH!


SLASH!


Semburat cahaya dari ujung pedangnya berkilat-kilat di belakang rombongan.


Tiao menoleh sekilas ke belakang untuk melihat aksi adik perempuannya.


Jialin dan Jiangwu melayang dan memutar di udara sambil mengayunkan pedang mereka ke arah burung raksasa itu dari dua arah berlawanan.


Monster unggas itu berkaok nyaring mengeluarkan suara melengking sambil menyemburkan api dari paruhnya.

__ADS_1


Jialin dan Jiangwu berkelit cepat dengan teknik terbang meliuk dan berputar-putar.


Tak sampai setengah dupa, keduanya sudah berhasil menaklukkan binatang itu dan menyusul rombongan.


__ADS_2