
Para finalis Sepuluh Besar itu berangkat dengan empat kereta kuda dalam pengawalan yang seadanya.
Dua di antaranya adalah kereta ekslusif yang khusus untuk putra dan putri ketua dengan masing-masing dikawal dua sais dan empat pengawal bersenjata.
Dua kereta lainnya mengangkut finalis lain dengan masing-masing kereta berisi empat orang tanpa pengawalan kecuali seorang sais.
Shen Zhu dan Lim Hua bergabung dalam satu kereta bersama Tianba dan murid Asrama Satu Putra lainnya.
Waktu menjelang malam ketika iring-iringan kereta kuda itu melintas di kaki gunung entah di mana, memasuki jurang sempit di antara tembok-tembok tinggi yang tercipta dari batu gunung, seakan-akan gunung itu terbelah oleh sebilah pisau, memberi jalan untuk mereka lewat.
Tempatnya tampak menyeramkan.
Hujan gerimis turun dan udara dingin menusuk tulang. Bukan waktu yang tepat untuk aktivitas di luar ruangan, pikir Bao Tiao yang memiliki sifat dasar manja. Kalau boleh memilih, pemuda itu lebih baik membaca buku di dekat perapian atau bermeditasi di kamar pribadinya di kediaman ayahnya yang serba ada.
Teman-teman seperjalanannya—yang ia yakini—murid-murid Asrama Tujuh banyak tertawa dan bercerita di kereta lain di belakangnya, membuat suasana dalam kereta terdengar seperti ruang perjamuan. Rasa kebebasan seolah bernyanyi di antara tawa lepas mereka. Membuat sang putra ketua yang terhormat tersengat oleh perasaan iri.
Sementara para penumpang kereta lain tertawa-tawa, Bao Tiao mendesah diam-diam untuk mengenyahkan perasaan tertekan.
Bao Tiao terkenal sebagai pecinta ketenangan, padahal sebenarnya hanya tak ingin orang lain melihat kelemahannya.
Sekonyong-konyong kereta mereka tersentak.
Para pengawal memekik di luar kereta.
Bao Tiao mengerutkan keningnya. Menyimak dengan waspada.
Dan sebelum ia menyadari apa yang terjadi. Kedua saisnya sudah terkapar dengan bersimbah darah.
"Sicarii!" teriak para pengawal kereta Jialin.
Sedetik kemudian, dahan-dahan pohon di sekeliling mereka tersentak dan bergetar.
SLASH!
SLASH!
Sejumlah belati melesat dari berbagai penjuru, dan dalam sekejap sejumlah pengawal memekik tertahan dan berjatuhan.
Sicarii atau lebih dikenal sebagai 'manusia belati' adalah kelompok pembunuh bayaran. Dianggap sebagai salah satu unit pembunuhan terorganisasi yang paling awal dari jubah dan belati. Rata-rata mereka membawa sicae---belati kecil yang diselipkan di balik jubah mereka. Itulah sebabnya kenapa mereka disebut sicarii---manusia belati.
Kereta berhenti mendadak, dan Jialin tersapu dalam teriakan di dalam kereta lain di antara berondong tembakan belati, ledakan logam yang berbenturan di sisi kereta.
Pada saat itulah Shen Zhu mendengar suara berderak nyaring yang membahana.
Terdengar teriakan dan benturan logam di mana-mana. Untuk sesaat, Shen Zhu hanya bergeming. Diam-diam mendengarkan kelebatan halus yang melecut-lecut di sekelilingnya.
Tianba dan rekannya bertukar pandang dengan mata dan mulut membulat.
Seseorang menyentakkan tirai kereta mereka hingga terbuka.
Shen Zhu melihat sekilas pakaian serba hitam lengkap dengan penutup kepala dan selubung wajah.
"Cepat keluar!" Hardikan-hardikan kasar itu terdengar di sana-sini.
Semua orang berteriak seperti orang gila, membuat dunia seakan kiamat.
Tangan-tangan kasar merenggut Lim Hua dan mengempaskan pemuda itu keluar bersama yang lain.
__ADS_1
Lim Hua berguling dan menghela bangkit tubuhnya dengan susah payah, tapi pria berpakaian ninja misterius itu menjejakkan tumit sepatunya di tengkuk Lim Hua hingga pemuda itu kembali terjerembab dengan wajah tersuruk di rerumputan.
Shen Zhu menjentikkan jarinya menyentil udara kosong.
SLAAAASSSH!
Energi cahaya berwarna merah melesat keluar dari ujung jarinya seperti laser. Si penyerang terlempar dengan perut tertembus cahaya itu.
Lim Hua spontan melompat berdiri sambil menghunus pedangnya dan menerjang ke arah ninja lainnya.
Ninja itu melejit dan memantul setinggi lima kaki dari permukaan tanah, kemudian melayangkan sebelah kakinya ke arah Lim Hua dan mendaratkan tendangan di bahu pemuda itu.
BUGH!
Bersamaan dengan itu sejumlah pria berseragam ninja lainnya berhamburan keluar dari persembunyian mereka dan melesat ke arah Shen Zhu dan teman-temannya.
SLASH!
SLASH!
Sejumlah belati meluncur deras laksana semburan hujan.
Trang!
Trang!
Beberapa berhasil ditangkis.
Jleb!
Dua pengawal terjengkang dari kudanya.
"Lindungi Putri Jialin!" teriak salah satu pengawal sambil menggeliat-geliut di antara kepungan para penyerang.
Tiga ninja merangsek ke arah Shen Zhu sambil menjujukan mata pedang mereka dari tiga arah berlawanan.
Tapi terluput.
Pemuda itu melentingkan tubuhnya dalam posisi kayang kemudian dalam sekejap sudah melejit lagi sambil menyapukan tendangan membadai.
Ketiga ninja itu berhasil menghindarinya.
Pemuda itu melompat mundur dan menerjang kepungan sekali lagi dengan lonjakan yang lebih tinggi.
Pada saat yang sama, Lim Hua terlempar dan terpelanting ke dinding tebing.
BRUAK!
"Berlutut!" hardik salah satu ninja pada Lim Hua, lalu terdengar suara-suara berdebuk ribut di sekelilingnya. "Kubilang berlutut!"
Shen Zhu melihat ninja itu mendaratkan pukulan di bagian belakang lutut salah satu kakak seperguruannya hingga pemuda itu tertelungkup di lumpur yang dingin dan basah akibat gerimis. Pemuda itu megap-megap mencoba bernapas. Tangan kasar ninja itu menangkap lengannya dan memutarnya ke belakang.
Di sanalah murid-murid Asrama Tujuh disalib tengkurap di atas permukaan tanah basah dengan kepala miring ditindas tumit sepatu para Sicarii.
Shen Zhu mengedar pandang dengan mata terpicing. Merasa sedikit janggal.
Kakak-kakak seperguruannya tersungkur atau berlutut di sana-sini dalam tekanan kaki para penyerang.
__ADS_1
Jialin dan kakaknya, Tianba dan rekannya, hanya berdiri mengangkat kedua tangan di sisi wajah mereka di bawah todongan pedang di kiri-kanan.
"Serahkan cincin penyimpanan kalian!" Salah satu ninja menghardik mereka sambil mengacung-acungkan pedangnya dengan sikap mengancam.
Tidak benar! Shen Zhu menyadari.
Tiba-tiba saja ia menarik sudut bibirnya membentuk seringai tipis. "Ingin merampok harta karunku?" tantangnya. "Boleh saja!" Shen menjentikkan jari menyentil cincin di telunjuknya, dan seketika pedangnya melesat keluar dan menembus perut pria yang menginjak kepala kakak seperguruannya.
SLAAAASSSH!
Pria itu terlempar ke belakang dengan perut tertikam.
Semua orang di sekelilingnya tersentak dan terperangah.
Shen Zhu menekuk telunjuknya dan seketika pedang itu kembali melingkar di telunjuknya sebagai cincin.
Semua orang mengerjap dengan tegang.
"Siapa lagi yang mau cincinku?" tantangnya lagi sambil merentangkan jemari di sisi wajahnya, memperlihatkan cincin warisan di telunjuknya.
Salah satu dari perampok itu mengalungkan pedangnya di leher Jialin, mencoba mengancam Shen Zhu.
Shen Zhu kembali menyeringai. Kemudian menjentikkan jarinya lagi, menyentil bola cahaya seukuran kelereng ke arah Jialin.
Jialin terpekik ngeri dengan wajah memucat.
TRAAAAANG!
Pedang di leher Jialin terpental dan jatuh ke tanah.
Jialin menelan ludah dan tergagap.
Serangan Shen Zhu mendarat tepat di leher pria yang mengalungkan pedang di leher Jialin
Diam-diam Jialin mendesah lega. Sesaat tadi ia berpikir Shen Zhu sedang mengincar dirinya.
Sebenarnya Shen Zhu memang berniat menakut-nakutinya.
"Ada lagi?" tantang Shen Zhu sekali lagi.
Para perampok serentak waspada.
Detik berikutnya, perampok lainnya mendorong Tiao dan melemparkannya dengan kasar ke tanah, lalu menerjang ke arah Shen Zhu sambil mengayunkan pedangnya.
Tiao jatuh tersungkur tanpa seorang pun mempedulikannya.
"Baiklah!" seloroh Shen Zhu sambil mengulurkan sebelah tangannya ke depan dan menyentakkan kelima jemarinya. "Bagaimana kalau kubagi rata?"
SLAAAASSSH!
Lima perampok terpelanting bersamaan dan tewas seketika.
Jialin terpekik seraya membekap mulutnya dengan jemari.
Tiao mengerjap dan menelan ludah dalam posisi masih tiarap.
Tianba bertukar pandang dengan rekannya diam-diam.
__ADS_1