Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
17


__ADS_3

"Siapa?" Shen Zhu mengerling ke balik bahunya, namun tidak melihat tanda-tanda seseorang akan menerkamnya dari belakang.


SLASH!


SLASH!


Dua lembar daun soraya lagi!


WUSSSHHH!


Lagi-lagi Shen Zhu berhasil menepis serangan itu dengan daun kering.


Shen Zhu menyentakkan kepalanya ke samping dan berbalik serentak. Memutar tubuhnya ke belakang.


Tapi seseorang mendarat di belakangnya. Lebih tepatnya, di depannya tadi.


Bagaimana bisa? Shen Zhu membatin takjub. Bagaimana bisa seseorang melontarkan serangan dari arah yang berlawanan?


Dengan waspada, Shen Zhu menggulir bola matanya ke samping, mengintip orang di belakangnya melalui ekor matanya.


Orang itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil berdeham dan menatap Shen Zhu.


"Tuan!" Shen Zhu terpekik dan buru-buru berbalik menghadap ke arah semula, untuk kemudian membungkuk memberi hormat. Sudah berapa lama dia memperhatikanku? ia bertanya-tanya dalam hatinya. Mendadak cemas rahasianya telah terbongkar.


"Apa kau selalu memisahkan diri seperti ini saat berlatih?" Pertanyaan Bao Hu berhasil membuat Shen Zhu tergagap.


"Tidak selalu, Tuan!" jawab Shen Zhu tetap membungkuk sambil menautkan kedua tangannya di depan wajah. Tidak berani menatap pria yang telah mengadopsinya. Ia tahu persis lelaki paruh baya itu tak pernah menyukainya. Tapi ia tetap menghormatinya mengingat jasa ketua sekte itu meski terpaksa.


Seperti halnya pria itu terpaksa mengadopsinya, Shen Zhu juga terpaksa menghormatinya.


"Jadi kau mulai memisahkan diri saat latihan setelah kau menemukan ruang warisan?" tanya Bao Hu bernada menyelidik.


"Anda sudah tahu?" pekik Shen Zhu terkejut. Akhirnya mengangkat wajah. Tapi kedua tangannya masih tertaut di depan wajah.


Pria itu terkekeh samar. Lebih terdengar seperti mendengus daripada tersenyum. "Menyimpan rahasia juga salah satu dari sifat ksatria," katanya sambil menurunkan kedua tangannya dari dada, kemudian melipat keduanya di belakang tubuhnya. Lalu melangkah pelan, mendekat pada Shen Zhu.


Shen Zhu kembali menunduk.


"Tidak ada yang melihat," tukas Bao Hu sambil merenggut kedua bahu Shen Zhu dan menegakkan tubuhnya. "Tidak perlu bersikap formal!" katanya.


Shen Zhu menurunkan kedua tangannya dan mengerjap.

__ADS_1


"Ikut aku!" instruksi Bao Hu sambil berjalan melewati Shen Zhu, lalu menjejakkan sebelah kakinya untuk kemudian melejit melambungkan tubuhnya ke udara dan mendarat di puncak salah satu bukit batu tak jauh dari situ.


Shen Zhu mengikutinya.


Begitu Shen Zhu mendarat di sisinya, Bao Hu merenggut pergelangan tangan pemuda itu dan membawanya terbang melesat dalam kecepatan komet.


"WHOAAAAA…!" teriakan Shen Zhu yang panik melengking nyaring ke langit tinggi dan baru berakhir setelah mereka mendarat di depan gerbang sebuah bangunan tua yang telah menjadi reruntuhan.


BRUK!


Shen Zhu terhenyak dan jatuh tersungkur. Belum terbiasa dibawa terbang dengan kecepatan seperti itu.


"Betul-betul payah!" ejek Bao Hu di antara senyum gelinya yang disembunyikan.


Shen Zhu menarik bangkit tubuhnya dan mengedar pandang.


Bao Hu memimpin jalan menuju reruntuhan di belakang gerbang tua tadi. Berjalan pelan dengan kedua tangan terlipat di belakang tubuhnya.


Reruntuhan kuno itu adalah peninggalan leluhur Sekte Bao. Letaknya di perbatasan wilayah antara Sekte Bao dan wilayah Sekte Majusi---perguruan sihir aliran majus. Jauh di kedalaman hutan di sisi lain gunung di mana perguruan Sekte Pedang Baouhu berdiri. Jaraknya sekitar lima ratus kilometer dari perguruan.


Tempat Pelatihan Khusus Sekte Bao yang terkenal itu.


Di depan sebuah sumur tua yang ditutup sebongkah batu besar, Bao Hu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Shen Zhu. "Dengar, Nak!" katanya. "Aku tidak berniat jahat."


Shen Zhu spontan mengerutkan keningnya.


"Ini adalah tempat paling keramat yang dimiliki Sekte Bao, namanya Kolam Petaka," jelas Bao Hu sambil mengayunkan sebelah tangannya ke arah batu yang menyumbat lubang sumur di depannya, kemudian menggulingkan batu itu dengan kekuatan telekinesis. "Dari sinilah pedangmu diambil."


Shen Zhu serentak terbelalak dan menghambur ke tepi sumur itu, kemudian melongok ke dalam.


"Masuklah!" instruksi Bao Hu. "Di dalam sana kau mungkin bisa menemukan potongan pedangmu."


Shen Zhu memutar tubuhnya menghadap ke arah Bao Hu, kemudian membungkuk hormat dengan kedua tangan tertaut di depan wajah.


"Ketahuilah, Shen Zhu!" Bao Hu menepuk pelan sebelah bahu Shen Zhu. "Pedang yang memilihmu adalah takdir anugerah sekaligus kutukan. Kau mungkin harus menanggung risiko yang sangat besar dan berbahaya. Semuanya tergantung pada takdirmu."


Setelah mengatakan itu, Bao Hu melayangkan sebelah tangannya ke arah Shen Zhu, kemudian menceburkan pemuda itu ke dalam sumur dengan menggunakan telekinesis.


"KYAAAAAAAAAAAAAAAA…!" teriakan Shen Zhu melengking sekali lagi. Lalu menghilang bersama kegelapan yang menelannya.


BRUUUUUSH!

__ADS_1


Shen Zhu tercebur ke dalam air dan gelagapan karena tak siap. Dengan panik, ia menggerak-gerakkan kedua tangan dan kakinya mengais-ngais mencari tumpuan.


Setelah berkutat cukup lama di dalam air, Shen Zhu akhirnya berhasil menarik dirinya ke permukaan air dan menemukan pijakan untuk menarik tubuhnya keluar dari kolam dan menepi.


Begitu ia menyisi, ia terpekik menyadari sekujur tubuhnya berlumuran darah. Ia memandangi kedua tangannya, dan memeriksa dirinya untuk mencari luka pada tubuhnya. Tapi tidak menemukannya. Ia menoleh ke arah kolam dan terperangah.


Ternyata kolam itu berisi darah. Itukah sebabnya kolam ini dinamai Kolam Petaka? Shen Zhu bertanya-tanya dalam hatinya.


Ia menarik bangkit tubuhnya dan mendapati dirinya sedang berdiri di atas sebongkah batu pipih di tengah-tengah kolam darah tadi. Satu-satunya cahaya yang meneranginya berasal dari lidah-lidah api seperti obor berwarna merah yang menyembur dari retakan di permukaan batu itu.


Shen Zhu berjongkok di depan semburan api itu dan mengamatinya dengan dahi berkerut-kerut. Merasa tak asing dengan pemandangannya.


Di mana aku pernah melihatnya? Shen Zhu mencoba mengingat-ingat.


Potongan pedang! Shen Zhu menyadari. Ia ingat saat pedang itu memilihnya, ia melihat pedang itu menancap di atas semburan api itu.


Potongan pedangnya tertanam di dalam batu.


Bagaimana cara mengambilnya? Shen Zhu mulai berpikir keras.


Lalu ia merentangkan jemari tangannya yang mengenakan cincin dan merasakan cincinnya mulai bereaksi.


Cincin itu bergetar di jarinya, kemudian mencelat keluar dan terbang ke langit-langit gua dan terpental kembali ke arah Shen Zhu dalam bentuk pedang yang siap menikam.


Dan sebelum Shen Zhu menyadari apa yang terjadi, sebelum ia sempat bereaksi, pedang itu sudah menembus ulu hatinya.


JLEB!


Jerit kesakitan melengking nyaring dari mulutnya.


Tubuh Shen Zhu terangkat hingga mengambang di atas permukaan batu. Seperti orang sedang digantung.


Bersamaan dengan itu, seluruh tempat di sekelilingnya bergetar dan berkeretak. Angin kencang bergemuruh di atas permukaan kolam hingga kolam darah itu bergejolak dan bangkit seperti badai tsunami, lalu bergulung membentuk sulur-sulur berwarna merah yang kemudian menerjang Shen Zhu dari berbagai arah, merajam tubuhnya di sana-sini.


Gelombang panas menyengat Shen Zhu seperti sambaran petir, membuat tubuhnya bergetar dan menghentak-hentak.


Detik berikutnya…


DUAAAAARRRR!


Ledakan cahaya berwarna-warni membuncah dari tubuhnya bersama lolongan panjang dari mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2