
Bintang pagi naik dengan tenang…
Pergerakan nasib siap diputar.
Ketika cahaya bintang menghilang…
Di sinilah hari terlahir.
Orang-orang muda di dunia, akan memulai perjalanan yang tidak diketahui dunia yang telah berada dalam kegelapan terlalu lama.
Mereka akan merangkul cahaya hidup lagi.
Inilah ramalan orang Majus!
Inilah awal untuk mengakhiri perang yang tak berujung.
Ketika harapan diselimuti kegelapan, bintang-bintang muda akan bersinar!
Mereka tak kenal takut…
Mereka akan menantang dunia dengan kekuatan yang tak terbayangkan.
Perburuan yang tak terhitung jumlahnya…
Petualangan yang tak terhitung jumlahnya…
Pertarungan yang tak terhitung jumlahnya…
Semua ini akan usai pada akhirnya!
Ini adalah masa kehancuran…
Ini adalah masa kekacauan…
Ini adalah usia bintang yang bersinar…
Lihat saja!
Apakah harapan bagi manusia tidak akan pernah keluar?
"Putaran pertama adalah kompetisi internal," Bao Yu memberitahu. "Setiap peserta akan bersaing dengan peserta lain dengan keahlian yang sama. Ahli pedang akan melawan ahli pedang. Ahli sihir akan melawan ahli sihir."
Murid-murid Bao Yu menyimak dengan serius.
Shen Zhu belum kembali.
__ADS_1
"Di antara ratusan pesaing di setiap aliran, biasanya hanya sepuluh teratas yang akan terpilih," Bao Yu melanjutkan. "Tujuh puluh peserta dari tujuh aliran akan memasuki final. Setiap kelompok ksatria akan diambil dari tujuh aliran ini. Jadi, selamanya tujuh puluh pemenang ini memenuhi syarat untuk bergabung dengan Aliansi Pemburu Iblis."
"Lalu untuk apa kami bertarung di babak final?" tanya Tan Nuo dengan dahi berkerut-kerut.
"Tujuan babak final adalah untuk membandingkan kekuatan," jelas Bao Yu. "Mereka yang berada di peringkat atas boleh memilih satu orang dari aliran lain untuk menjadi rekan tim. Selain itu, tentu saja Aliansi telah menyiapkan hadiah. Terutama tiga teratas, mereka akan mendapat harta karun yang paling diinginkan di dunia."
"Wow!" Murid-muridnya berseru bersamaan.
"Ini tiket kalian!" Bao Yu membagi-bagikan pelat khusus untuk mendaftar. "Sekarang pergilah ke aula pendaftaran!"
Tiao mengerling ke arah gerbang dengan gelisah.
Orang banyak berjejal di sepanjang jalan masuk, mulai dari gerbang sampai ke pekarangan. Tapi tidak ada tanda-tanda Shen Zhu sudah kembali.
"Semoga berhasil!" Bao Yu menyemangati. "Aku akan menunggu penampilan terbaik kalian di Arena Ujian Ksatria!"
"Hmh!" Murid-muridnya membungkuk serempak dengan hormat tentara.
Bersamaan dengan itu…
Sepasang kaki dengan sepatu armor bergerak melewati tembok-tembok yang sudah ambruk dan berlubang-lubang, melalui celah-celah yang menganga, membentuk semacam latar belakang dari kerangka-kerangka bangunan dan ruang-ruang kosong, kemudian sampai di gerbang Markas Besar Aliansi Ksatria.
Tatapan para wanita sekarang terpaku pada wajah lancip putih porselen dengan mata rubah berwarna gelap dibingkai alis tegas yang sangat serasi dengan hidung mancungnya yang mendongak angkuh di atas sepasang bibir tipis berwarna merah. Bentuk dagunya yang bulat sangat serasi dengan wajah lancipnya.
Mata rubahnya memberikan tampilan mata pengembara padang belantara yang biasa digunakan untuk meneropong jauh ke medan gelap. Rahangnya yang tinggi menegaskan wajah kokoh yang pantang menyerah. Semua itu menggambarkan kekuatannya sebagai seorang master spiritual yang patut diperhitungkan di medan laga.
Sempurna!
Muda, tampan, berkelas.
Tunggu dulu!
Kenapa pemuda tampan berkelas berjalan kaki?
Dengan hening, para wanita membuka jalan untuk membiarkan pemuda itu lewat.
Merasa dirinya jadi pusat perhatian, pemuda tampan selangit itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Hanya untuk sok aksi!
Tapi lalu terpekik ketika Shen Zhu melintas di sisinya dan melewatinya.
Mustahil! batinnya terkejut. Ini tak mungkin! Bagaimana mungkin ada orang yang lebih tampan dariku di dunia ini? pikirnya tak bisa terima. Kenapa bisa lebih tampan dariku?
Shen Zhu mengerling sekilas ke arah pemuda itu melalui sudut matanya. Lalu berjalan mendahuluinya. Menyusuri jalan besar dengan tanaman sebagai pagar, bergegas ke pekarangan Markas Besar Aliansi Ksatria, di mana guru dan kakak-kakak seperguruannya menunggu.
__ADS_1
Orang banyak berderet dan berseliweran di sana-sini. Berpasang-pasangan, sendiri-sendiri atau berkelompok-kelompok.
Semua orang mengenakan jubah armor beraneka warna dalam berbagai motif. Beberapa mengenakan ikat pinggang dan ikat kepala dari logam mulia dengan batu permata. Beberapa mengenakan hiasan kepala berbentuk sayap di belakang telinga dan hiasan tangan berupa gelang armor yang membungkus setengah lengan mereka.
Setiap warna mewakili klan, hiasan kepala, hiasan tangan dan ikat pinggang mewakili kasta.
Semua mata sekarang berpaling pada Shen Zhu.
Pemuda tampan berkelas tadi mengerjap dan berdeham. Buru-buru memperbaiki ekspresi wajahnya yang sempat tercengang, memasang kembali ekspresi elegan seorang bangsawan. Kemudian mengekor di belakang Shen Zhu dengan gaya elegan yang jelas dibuat-buat.
Tak lama kemudian, sekelompok remaja menyeruak melewati pemuda tadi.
Jubah dan kain selubung mereka berwarna hitam, mewakili tanah dan angin.
Ikat kepala, ikat pinggang dan hiasan tangannya dari rhodium---logam mulia warna hitam, mewakili hikmat—kasta bangsawan kelas dua. Setara dengan ahli teori.
"Sekte Majus!" bisik beberapa orang tanpa bisa menutupi kekaguman mereka.
Salah satu pemuda dari Sekte Majus itu berparas memukau dengan sedikit misteri.
Pemuda tampan berkelas tadi terpekik lagi. "Kenapa kau juga begitu tampan?"
Pemuda Majus itu meliriknya sekilas dengan raut wajah datar. "Minggir!" desisnya bernada dingin. "Kau menghalangi jalan."
"Kau—" pemuda tampan berkelas itu memelototinya sambil menudingkan telunjuk ke wajah pemuda Majus itu.
Tapi pemuda Majus itu mengabaikannya.
Kelompok itu sekarang menyeruak melewati Shen Zhu.
Shen Zhu terkesiap melihat rombongan itu. Tatapannya terpaku pada kakak perempuannya yang berada di barisan paling depan diapit gurunya dan pemuda tampan misterius tadi, memasang wajah seolah-olah tidak mengenalnya.
Shen Zhu membuka mulutnya sambil mengulurkan sebelah tangannya ke arah kakaknya, tapi cengkeraman tangan seseorang di lengan hanfunya menyentakkan Shen Zhu. "Kakak!" pekiknya terkejut.
Jialin tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya. "Aku—" cepat-cepat ia menarik tangannya dari lengan hanfu Shen Zhu dan tergagap-gagap. "Tadi aku melihatmu di toko senjata," katanya terbata-bata. "Aku berusaha memanggilmu, tapi…" ia menggantung kalimatnya ketika menyadari Shen Zhu tak sedang memperhatikannya.
Perhatian Shen Zhu kembali ke arah rombongan Sekte Majus dan mendesah. Rombongan itu sudah bergerak semakin jauh membelah kerumunan sementara rombongan lain sudah memblokir jalan di depan Shen Zhu.
Jialin langsung terdiam.
"Lewat sini!" Shen Zhu tiba-tiba merenggut pinggang Jialin dan menuntunnya membelah kerumunan.
Jialin tergagap-gagap ketika coba memprotes tapi tubuhnya malah terseret arus kerumunan ke sana-kemari. Mau tak mau dia pun mengikuti Shen Zhu.
Bao Yuwen menunggu mereka di pelataran sementara yang lain sudah memasuki gedung.
__ADS_1
Begitu kedua remaja itu muncul, Bao Yuwen spontan mengerling ke tangan Shen Zhu di pinggang Jialin dengan mata terpicing.
Wajah Jialin langsung merona dan ia salah tingkah, sementara Shen Zhu tak segera menyadari situasinya.