
"HIAAAAAAAT!"
SLAAAASSSH!
Jialin melontarkan energi cahaya berbentuk sabit dari ujung pedangnya ke arah monster mirip serigala dalam gerakan memutar di udara.
DUAAAAARRRR!
Tiao melontarkan energi cahaya berbentuk bola kristal di sisi lainnya.
GROAAAAAAARRR!
Beruang sebesar kingkong meraung sambil meninju-ninju dadanya sendiri.
Shen Zhu berdiri di hadapan beruang itu dengan waspada. Pedangnya sudah terhunus di tangan kanannya.
Di belakang Shen Zhu, delapan finalis lain sedang mengepung si Anjing Pelacak Dewa—serigala berbulu putih itu.
Lim Hua terpelanting ketika ia coba melontarkan energi cahaya berbentuk kubah ke arah serigala itu. Kilat berkeredap dari dahi serigala itu dan menyengat Lim Hua seperti aliran listrik.
"Ini tidak berhasil!" Lim Hua menyadari. "Elemen air hanya akan membuatku terkena serangan balik!"
"Biar kucoba!" Lian Ze melontarkan energi cahaya berbentuk kubah dengan elemen angin ke arah serigala itu. Tapi level kekuatannya tak cukup kuat untuk melontarkan serigala itu.
"HIAAAAAAAT!" Jialin melesat ke arah serigala itu dari sisi lain dalam gerakan yang sama—memutar di udara sambil mengayunkan pedangnya dan melontarkan energi cahaya berbentuk sabit.
SLASH!
Serigala itu mengedik sedikit, tapi tak sampai jatuh.
Di sisi lain, Shen Zhu sudah melejit sambil mengayunkan pedangnya mengincar rahang beruang raksasa yang dalam sekejap sudah menorehkan bekas sayatan yang meninggalkan bara api.
Beruang itu menggeram dan mengayunkan cakarnya ke arah Shen Zhu. Tapi dengan cepat pemuda itu sudah melejit ke belakang tengkuk beruang raksasa itu dan mengayunkan pedangnya lagi.
SLAAAASSSH!
Luka sayatan baru tercipta di tengkuk beruang itu.
GROAAAAAAARRR!
Beruang itu kembali meraung, bersahutan dengan lolongan serigala.
Gurun salju itu bergetar dan berkeretak ketika serpihan bebatuan berlapis es mendadak rontok akibat getaran yang ditimbulkan dari suara kedua monster itu.
"Formasi sihir gabungan!" teriak Tiao menginstruksikan.
Lalu secara serentak kedelapan remaja itu menyimpan pedang mereka masing-masing dan memasang kuda-kuda, bersiap mengeluarkan jurus-jurus spiritual. Kemudian saling menggabungkan kekuatan spiritual mereka dari delapan penjuru angin.
Sebuah formasi sihir berbentuk cakram tercipta dari gabungan kekuatan mereka, kemudian mengambang di atas kepala serigala berbulu putih itu dan menekannya.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, Shen Zhu melayang turun di atas kepala beruang raksasa dengan lingkaran sihir di bawah kakinya.
Sedetik kemudian…
BUUUUUUMMM!
Kedua monster itu seketika remuk berkeping-keping. Ledakan besar-besaran membuncah bersama cahaya dan angin kencang yang menyemburkan serpihan salju, bongkahan es dan pecahan batu.
Kecuali Shen Zhu, semua orang tersapu hingga radius ratusan meter.
Shen Zhu melejit dengan gerakan salto ketika ledakan itu terjadi, lalu mendarat di puncak salah satu tebing.
Beberapa saat kemudian, dua buah kristal melayang naik dari pecahan kedua monster itu.
Shen Zhu melesat dari puncak tebing itu, menyambar kedua kristal tadi dan mendarat di dekat Lim Hua. Lalu membungkuk mengulurkan sebelah tangannya untuk membantu kakak seperguruannya berdiri.
Semua orang di sekeliling mereka pun beranjak bangkit sambil terengah-engah.
"Kita harus segera menyingkir dari sini sebelum monster lainnya berdatangan," kata Shen Zhu.
Lalu dengan kompak semua orang mengangguk setuju. Entah sejak kapan mereka akhirnya mulai akur dengan Jialin dan Jiangwu.
Perjalanan itu terasa seperti sudah bertahun-tahun hingga mereka lupa bahwa mereka tak pernah sedekat itu.
Entah berkat Shen Zhu atau karena tantangan yang terpaksa ditanggung bersama, misi itu benar-benar menyatukan mereka tanpa mereka sadari.
Suasana kebersamaan itu terasa lebih ceria ketika mereka sudah berbalik ke arah jalan pulang.
Sesekali mereka juga terpaksa bertarung dengan monster yang mereka temui sepanjang perjalanan pulang.
Pada akhirnya, kristal yang mereka dapatkan semakin lengkap. Bahkan Jiangwu juga mendapatkan kristalnya sendiri meski level kekuatannya tidak sebaik kristal-kristal langka yang didapatkan Shen Zhu.
Bisa dikatakan, mereka menuai panen besar!
Jadi, begitu mereka tiba di tempat mereka menambatkan kereta kuda, sekelompok orang asing sudah menunggu untuk merampok mereka.
Bukan Sicarii yang ingin membalas dendam!
Hanya gerombolan penyamun yang biasa beraksi di perbatasan Hutan Perburuan.
Tianba juga berada di sana dalam keadaan terikat dan babak belur.
Shen Zhu tersenyum miris melihat pemuda itu. Nasibnya benar-benar buruk! cemoohnya dalam hati. Dia pasti sudah menjual informasi untuk menukar nyawanya, Shen Zhu menyimpulkan. Kalau tidak, para perampok itu sudah membunuhnya!
"Serahkan cincin penyimpanan kalian!" gertak salah satu perampok itu sambil menodongkan pedangnya ke leher Tianba yang duduk bersimpuh di bawah kakinya. "Kalau tidak, nyawa teman kalian akan melayang."
"Teman?" Jialin mendengus sinis sembari mendelik pada Tianba. "Teman apa?"
"Adik—" pekik Tianba dengan ekspresi syok.
__ADS_1
Perampok itu akhirnya benar-benar mengayunkan pedangnya ke arah Tianba.
Tianba langsung memucat.
Tapi ketika mata pedang itu nyaris menebas leher Tianba, pedang itu tiba-tiba terpelanting dan perampok itu terpuruk sambil menekuk perutnya. Kemudian ambruk dan tidak bergerak lagi.
Tianba membeku dengan mata terbelalak.
Semua orang terperangah.
Bahkan Shen Zhu.
"Berani melukai murid Sekte Bao?" Suara seseorang menggelegar dari belakang para perampok itu.
Semua orang tersentak dan menoleh ke arah pemilik suara itu.
Seorang pria berwajah cantik melayang turun di sisi Tianba dengan kedua tangan terlipat di belakang tubuhnya.
"Guru!" Murid-murid Asrama Tujuh berseru bersamaan.
Jialin dan Tiao mengerjap dan tergagap.
Pada saat yang sama, para perampok itu serentak menerjang ke arah Bao Yu.
Bao Yu menarik sebelah tangannya, mengayunkan kipas yang menjuntai terikat dari pergelangan tangannya, dan seketika para perampok itu tersapu dan terpelanting hingga radius puluhan meter.
Kesepuluh remaja itu menyilangkan kedua tangan di depan wajah untuk membentengi diri dari hempasan angin bercampur debu yang membuncah dari kibasan kipas Bao Yu.
Energi yang sangat mengerikan! pikir semua orang.
Detik berikutnya, kawanan perampok itu menghela bangkit tubuh mereka dan lari tunggang-langgang.
"Mau kabur setelah membuat kekacauan?" geram Bao Yu sambil mengayunkan sebelah tangannya ke samping dan menyentakkan kelima jarinya.
Energi cahaya berbentuk jarum melesat dari sela-sela jemarinya dan menjatuhkan semua perampok itu dalam sekali hentak.
DUAAAAARRRR!
Para perampok itu terjerembab bersamaan dan tidak bergerak lagi.
Semua orang mengerjap dan terkesiap.
Tiao menelan ludah dan menatap pamannya dengan ekspresi ngeri. Dia sudah menerobos! pikirnya. Bagaimana bisa?
Semua orang tahu Bao Yu tak bisa naik tingkat. Tapi tak banyak yang tahu dantiannya telah pulih dan menerobos tingkat dalam sekejap.
Lalu secara tiba-tiba dan tanpa peringatan, Bao Yu mengerling ke arah Tiao, dan seketika pemuda itu mengerjap dan tertunduk. "Paman," sapanya nyaris tak terdengar. Bao Yu dan kedua keponakannya tak pernah saling bicara. Itu adalah pertama kalinya Tiao menyapa pamannya. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Pria berparas cantik itu hanya mengangguk sekilas menanggapinya. Lalu mengerling ke arah murid-muridnya.
__ADS_1
"Guru!" Murid-murid Asrama Tujuh menghambur ke arah guru mereka seperti anak ayam menemukan induknya.