
Shen Zhu sudah hampir sampai ketika terdengar kegaduhan dari kemah mereka.
Pekik-jerit para wanita dan anak-anak di antara teriakan-teriakan kasar yang mengintimidasi.
Gerombolan pria tidak dikenal tiba-tiba mengepung kemah mereka dan menggasak harta benda klan Liu.
Para pemuda dan laki-laki bertarung mati-matian untuk memberontak. Tapi gerombolan orang asing itu membawa senjata dan kemampuan beladiri mereka tidak sebanding dengan penduduk desa.
Para pria tergolek di sana-sini dalam keadaan terluka. Para wanita meratap dan anak-anak gemetar ketakutan.
Beberapa orang mulai menyesal telah mengikut Shen Zhu dan bersungut-sungut.
"Mungkin tidak seharusnya kita mempercayai pemuda itu!"
"Kenapa kita semua dengan bodohnya percaya saja dan mengikutinya?"
"Bukankah kubilang tujuan kita adalah sarang iblis?" Tiba-tiba Shen Zhu sudah berada di tepi lapangan, duduk tenang di atas kudanya sambil menggendong kucing kecilnya. Kudanya tampak seperti menari di bawahnya, melenggok ke arah api unggun.
Semua orang tersentak dan menoleh ke arah Shen Zhu. Tidak terkecuali para perampok.
"Bocah tengik dari mana?" hardik salah satu dari mereka sambil menunjuk Shen Zhu dengan pedangnya.
"Kembalikan barang-barang mereka!" perintah Shen Zhu dengan suara datar.
Para perampok itu tergelak dan terbahak-bahak.
"Kau kira siapa dirimu? Bos kami?" cemooh perampok lainnya.
Seorang gadis menjerit dan meronta-ronta dalam cengkeraman salah satu perampok.
"Lepaskan!" Shen Zhu menoleh pada perampok itu.
Lagi-lagi para perampok itu terbahak-bahak.
"Kalau begitu tertawa saja sampai kau mati," gumam Shen Zhu acuh tak acuh. Lalu tertunduk mengusap kepala kucingnya.
Para perampok itu terbahak-bahak semakin keras. Mulut mereka semakin lebar. Semakin lama, semakin lebar. Dan mereka tidak bisa berhenti tertawa. Hingga mengeluarkan air mata. Hingga wajah mereka memerah seperti tercekik. Hingga keringat membanjir di wajah mereka.
Barang-barang dan senjata di tangan para perampok itu terlepas satu per satu. Tangan mereka terangkat ke wajah mereka, ke leher. Mencekik diri sendiri dengan kalang kabut, memaksa dirinya untuk berhenti tertawa. Tapi tidak berhasil. Mereka bahkan tak sanggup berkata-kata.
Para penduduk terkesiap dengan mata dan mulut membulat. Tak yakin dengan apa yang dilihatnya. Tidak mengerti apa yang terjadi.
Gadis yang disandera para perampok itu menoleh ke sana kemari dengan kebingungan. Lalu ibunya merenggut pergelangan tangannya dan menariknya menjauh dari gerombolan perampok yang masih tertawa itu.
Tertawa hingga tercekik, dan satu per satu para perampok mulai tumbang dan menggelepar. Lalu berhenti tertawa. Berhenti bergerak. Berhenti bernapas.
Mati!
Para penduduk menoleh ke arah Shen Zhu dengan tatapan ngeri.
__ADS_1
Shen Zhu mengangkat wajahnya dengan tenang dan tanpa ekspresi. "Singkirkan bangkai-bangkai tikus itu," katanya pada para pemuda.
Para pemuda itu serentak membungkuk pada Shen Zhu dan berpencar. Para pria beristri spontan bergerak membantu mereka menggotong para perampok yang mati itu dan membuangnya ke dalam ngarai. Para wanita memunguti barang-barang mereka dan membenahinya ke tenda mereka.
"Ambil senjata mereka untuk kalian!" Shen Zhu berkata pada para pemuda.
Para pemuda itu menanggapi dengan antusias.
Setelah semuanya selesai, Shen Zhu mengeluarkan hasil buruannya di dekat api unggun.
Para penduduk itu terperangah antara senang dan takjub.
"Tuan Muda memburunya?" tanya pemuda yatim-piatu yang jarang terdengar suaranya.
"Kucingku," jawab Shen Zhu tanpa beban.
"Apa—" semua orang kembali terperangah.
"Buatlah makan malam!" instruksi Shen Zhu lagi.
"Baiklah!" para pria bergegas dengan antusias.
Para wanita mulai sibuk meracik bumbu, sementara para lelaki menguliti binatang spiritual itu.
Shen Zhu melompat turun dari kudanya dan menambatkannya. Lalu mendekat ke api unggun dan memanggil semua anak.
Anak-anak itu menghampirinya dengan gembira.
"Hmh!" Anak-anak itu mengangguk bersamaan.
Anak laki-laki berusia sebelas tahun yang rumahnya terbakar juga sudah siuman dan bergabung dengan mereka.
Shen Zhu tersenyum lembut. "Jangan takut," katanya sambil mengusap bahu anak laki-laki yang baru siuman itu. "Ada aku!"
Anak laki-laki itu mengangguk.
Seorang wanita melirik ke arah Shen Zhu. Itu adalah pertama kalinya ia melihat Shen Zhu tersenyum. "Kurasa dia bisa diandalkan," bisiknya pada wanita lain.
Para wanita lainnya menoleh ke arah Shen Zhu.
"Menurutku Tuan Muda sangat baik," bisik wanita lainnya.
"Aku tidak menyesal mengikutinya," kata wanita yang lainnya.
Shen Zhu mengeluarkan sesuatu dari cincin penyimpanannya di depan anak yang baru siuman itu. "Ini untukmu," katanya.
Anak-anak lainnya tercengang bersamaan.
Sebongkah kristal sebesar buah pir berwarna merah darah mengambang di atas telapak tangan Shen Zhu, memancarkan cahaya yang berkilauan.
__ADS_1
"Ini disebut kristal darah," Shen Zhu memberitahu. "Bisa membantu kalian menjadi lebih kuat."
"Kuat?" Anak-anak itu berseru antusias.
Shen Zhu mengangguk seraya tersenyum tipis. "Kristal darah diambil dari binatang spritual seperti itu," jelasnya sambil menunjuk ke arah monster yang sedang dikuliti para pria di tepi ngarai.
Anak-anak itu serentak mengikuti arah pandangnya dan menggumam takjub.
"Itu adalah monster tingkat empat," Shen Zhu memberitahu. "Kekuatan spiritualnya sudah mencapai empat puluh. Namanya Lembu Petarung. Kristal ini didapat dari tubuhnya."
"Whoaaaaa…!" Anak-anak itu kembali menggumam.
"Seraplah ini," Shen Zhu mengulurkan kristal yang mengambang di telapak tangannya ke arah anak laki-laki yang baru siuman. "Ini akan membantu pemulihanmu."
"Hmh!" Anak laki-laki itu mengangguk dengan patuh.
"Kau sudah mengerti caranya?" tanya Shen Zhu.
Anak laki-laki itu mengangguk lagi.
"Kalau begitu seraplah," kata Shen Zhu. "Aku akan menjagamu."
Anak laki-laki itu mengambil kristal itu dengan kedua tangannya, kemudian menyisi dan duduk bersila di tempat yang lebih lapang. Ia melepaskan kristal itu, dan membiarkannya mengambang di depan wajahnya.
"Kalian jangan mengganggunya," Shen Zhu menasihati anak-anak lainnya.
Anak-anak itu mengangguk patuh.
"Tuan Muda," seorang pria menghampiri Shen Zhu setelah makan malam dan semua orang beristirahat. "Aku mohon maaf karena telah meragukanmu," sesalnya.
"Tidak perlu menyesal," jawab Shen Zhu sambil menoleh ke arah pria itu. "Bagaimanapun tadi itu memang salahku. Aku yang meninggalkan kalian."
"Tuan Muda sudah menyelamatkan kami!" tukas pria itu.
"Hanya kebetulan datang tepat waktu," sahut Shen Zhu.
Tak lama kemudian, dua pria lainnya bergabung. Diikuti pria yang rumahnya dibakar dan para pemuda.
"Tuan Muda, terima kasih sudah menyelamatkan kami," kata mereka.
"Aku mencelakakan kalian," sahut Shen Zhu bernada muram.
"Tidak benar," para pria itu menggeleng. "Kami sungguh menyesal telah menyalahkan Tuan Muda."
"Sudahlah!" Shen Zhu menandaskan. "Beristirahatlah, perjalanan kita masih sangat panjang."
"Tuan Muda-lah yang harus beristirahat," tolak pria yang rumahnya dibakar. "Kami akan berjaga bergiliran."
Pria lainnya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Baik," jawab Shen Zhu tanpa ekspresi. Kemudian duduk bersila di tempat sepi dan mulai bermeditasi untuk memulihkan diri. Ia belum memulihkan diri sejak siuman.