Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
111


__ADS_3

Sejenak Shen Zhu terserap ke dalam kegelapan, lalu mengambang di antara kesadarannya yang timbul-tenggelam.


Tubuhnya melayang ringan seperti mengapung di dalam air.


Alunan seruling berubah seperti desir angin yang mendirikan bulu roma. Sesekali berubah menjadi gemuruh yang mendebarkan. Lalu suara-suara yang mencemooh terdengar bising di dalam kepalanya.


"Gadis Kecil!"


"Lemah!"


"Kucing Kecil penakut!"


"Dari sekian banyak pusaka hanya pedang tua karatan yang memilihmu?"


"Tidak berguna!"


Suara-suara itu menggema tindih-menindih. Suara wanita, suara laki-laki, semuanya bercampur bersahut-sahutan. Berbisik rendah di antara suara tawa kering di kejauhan. Terdengar begitu ribut di kepalanya.


"Apakah kau layak menjadi pewaris dewa petaka?" Suara dirinya menggaung seperti tambur.


Lalu suara-suara bisikan lainnya berubah menjadi hardikan-hardikan kasar yang mengintimidasi. Terdengar seperti datang dari berbagai penjuru bumi.


Sangat berisik!


Shen Zhu mengerang dan memaksa dirinya untuk sadar sepenuhnya, mencoba membuka matanya. Tapi kelopak matanya seakan saling melekat satu sama lain.


Pekik-jerit kesakitan dan tangisan tak berdaya mulai bermunculan seperti ratapan seisi bumi. Meneriakinya untuk meminta bantuan.


Ketika Shen Zhu berhasil membuka matanya, seluruh tempat di sekelilingnya dipenuhi banyak orang. Anak-anak lemah yang dikeroyok, wanita yang dibakar, lelaki yang dipancung, tua renta yang ditindas, peperangan yang bergolak, semua adegan penindasan bermunculan di sekelilingnya seperti kenyataan.


Shen Zhu berputar-putar meneliti semua pemandangan itu, tapi setiap satu putaran, pemandangannya berubah-ubah. Membuat Shen Zhu tak tahu apa yang harus dilakukan.


Pemandangan itu membuat hatinya pilu hingga nyaris gila. Seluruh emosi negatif menguasainya. Marah, sedih, takut, iba, kecewa, cemas, putus asa dan tak berdaya.


"AAAAAAAAAAAAARRRRRRGH!" Shen Zhu melolong seperti serigala yang terluka di bawah sinar bulan. Lalu jatuh terpuruk, tertunduk dan berlutut sambil menangis. Bahunya berguncang akibat kesedihan yang tak jelas.


Terdengar kepakan sayap, lalu kegelapan mengungkungnya. Sepasang sayap gelap menyelimutinya, membuainya hingga merasa lemas. Kemudian mulai terkantuk-kantuk.


Sebilah sabit terayun di atas kepalanya.


Shen Zhu tersentak dan menghela bangkit tubuhnya. Menarik dirinya menjauh dari pelukan sepasang sayap itu. Lalu semua pemandangan mengerikan tadi lenyap dalam sekejap.


Ia kembali berdiri di tengah lembah gersang seperti puing kapal yang habis terbakar.


Enam pria yang mirip dirinya kembali mengepungnya, sementara si pemain seruling tetap berleha-leha di dahan pohon kering.


Alunan seruling dan pelukan sepasang sayap gelap itu mendatangkan ilusi! batin Shen Zhu memperingatkan dirinya. Lalu mulai memasang kuda-kuda, mengeluarkan pedang dan Rantai Petaka-nya. Bersamaan dengan itu, tubuhnya meledak mengeluarkan semburan api berwarna merah darah.


Semua pria yang mirip dirinya juga mengeluarkan semburan api berbeda-beda warna. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Lalu masing-masing mereka mengeluarkan senjatanya.


Pemain seruling tetap memainkan serulingnya, auranya berwarna merah darah. Suara serulingnya mengeluarkan sulur-sulur asap seperti jelaga.

__ADS_1


Setiap kali Shen Zhu mengeluarkan teknik pedang, pemilik pedang melawannya dengan teknik rumit yang belum pernah dilihatnya. Begitu juga dengan penggunaan rantai, atau teknik elemen dan energi spiritual. Kekuatan dan teknik mereka berada jauh di atas Shen Zhu.


Mereka jelas bukan lawanku! Shen Zhu menyadari.


Bagaimanapun mereka semua adalah spirit dewa kuno yang paling misterius. Semua pusaka dan bakat spiritual Shen Zhu berasal dari mereka.


Lebih dari itu, Shen Zhu belum memiliki semua pusaka.


Bagaimana aku akan menghadapinya? Shen Zhu bertanya-tanya dalam hatinya.


Apa inti dari ujian ini bukan mengalahkan mereka? pikir Shen Zhu. Barangkali mereka hanya memperlihatkan teknik baru untuk mengajariku!


Shen Zhu mencoba menepikan diri. Tapi mereka tidak berhenti. Mereka terus menyerang dan menderanya.


Tidak benar! Shen Zhu menyadari. Ujian ini hanya akan berakhir jika aku mengalahkan mereka.


Tiba-tiba Shen Zhu tak yakin ujian ini bisa dilewatinya.


Sejak awal sampai sekarang, mereka tak kenal lelah dan tidak terluka, katanya dalam hati.


Cara mereka bertarung seakan hanya bermain-main. Sementara energi Shen Zhu terus terkuras dan perlahan melemah. Tubuhnya terasa semakin berat dan sulit digerakkan akibat terlalu lelah, kesadarannya timbul-tenggelam di bawah pengaruh sihir dari alunan seruling.


Serangan demi serangan tak dapat dihindarinya.


Kalau terus begini aku bisa mati, Shen Zhu membatin getir. Semakin menunda waktu, aku akan semakin dalam bahaya.


Tidak bisa begini terus! tekadnya dalam hati. Harus segera mencari cara untuk memecahkan perangkap.


Ini bukan tentang pewaris keterampilan! Shen Zhu menyimpulkan. Bukan tentang pewaris pusaka atau kombinasi dari keduanya. Tapi tentang integras.


Menempuh jalan milik sendiri!


Keterampilan khusus yang hanya milikku sendiri di alam semesta… seharusnya mengintegrasi secara sempurna keterampilan dan pusaka.


Lalu Shen Zhu teringat kitab kehidupan yang tertanam dalam tubuhnya, untaian rantai emas yang terbentuk dari rangkaian huruf dan dan kata-kata.


Ujian Ksatria sepuluh tahun lalu…


Lalu kipas Bao Yu.


Itu dia! Shen Zhu berseru dalam hatinya. Kemudian menghunus pedangnya di depan dada menghadap ke atas, lalu menyentil mata pedang itu.


TIIIIIIING!


Suara berdenting nyaring mendominasi.


Waktu seolah terhenti. Seluruh tempat di sekelilingnya mendadak beku dan senyap.


Zainan berhenti meniup serulingnya.


Seluruh tempat mendadak hening.

__ADS_1


Shen Zhu melayangkan pedangnya di atas kepala.


GRAAAAAAKKK…!


Pedang Shen Zhu terbelah menjadi tujuh bagian dengan warna berbeda-beda, kemudian merekah membentuk kipas.


Detik berikutnya, Shen Zhu melontarkan rantai petaka dari telapak tangannya ke gagang pedang yang telah berubah menjadi gagang kipas itu, lalu menyentakkannya dan meliukkan tubuhnya, terbang memutar seraya melontarkan ketujuh pedangnya.


SLAAAASSSH!


Lingkaran formasi sihir tercipta dari kibasan pedangnya yang sudah menebar ke tujuh arah berlawanan.


Bersamaan dengan itu, Shen Zhu meledakkan kedua sayapnya.


DUAAAAARRRR!


Ledakan cahaya emas membuncah bersama dentuman mahadahsyat yang menyapu seluruh tempat di sekelilingnya.


Setiap helai sayapnya berubah menjadi belati dengan rantai emas dari rangkaian huruf dan kata-kata, ketujuh pedangnya menikam semua sosok yang mirip dirinya, lalu belati-belati emas itu mengoyakkan mereka dan meledakkannya.


Bumi berguncang dan berdentum-dentum. Semua orang di seluruh penjuru bumi terkesiap.


Permukaan tanah menyemburkan cahaya emas yang melesat menembus langit.


Shen Zhu membeku dengan kedua tangan terentang. Rambut dan jubahnya melecut-lecut di sekeliling tubuhnya, angin kencang bergemuruh di bawah kakinya. Bulu-bulu sayapnya bertebaran ringan seperti dandelion. Butiran-butiran cahaya berwarna-warni merebak berkelap-kelip.


Seluruh tempat di sekelilingnya berubah terang benderang dan berkilauan seperti disiram cairan emas.


Seluruh bumi tersaput cahaya terang. Seisi bumi mendadak senyap ditelan keheningan gaib. Seluruh aktivitas terhenti serentak. Semua orang tercengang menatap langit.


Alam dewa mendadak gempar.


"Putra Mahkota telah lahir!"


Begitulah pendapat langit.


"Seseorang baru saja menjadi dewa!"


Begitulah pendapat bumi.


Xiao Mao dan kelompok dewa pemburu yang menyamar sebagai peserta Ujian Ksatria saling bertukar pandang dengan sorot mata berbinar-binar. Mereka duduk berderet di bangku penonton dalam gedung arena di Markas Besar Aliansi Ksatria.


Ketua Aliansi membeku dengan alis bertautan. Menatap nanar udara kosong dengan raut wajah cemas.


Para kaisar tersenyum samar penuh harapan.


Para ketua dan tetua sekte mendesah penuh tekad.


Semua orang di seluruh penjuru bumi berlutut serentak tanpa aba-aba.


"Dewa! Berkatilah kami!" harap semua orang di seluruh dunia.

__ADS_1


__ADS_2