Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
24


__ADS_3

"Itu dia!" Jianyin bergumam sambil berjalan mondar-mandir di depan jendela bulat di ruang bacanya. "Aku sudah menemukannya," bisiknya penuh semangat. Matanya berkilat-kilat penuh ambisi. "Dan aku akan mendapatkannya!" janjinya pada diri sendiri. "Aku tahu aku akan mendapatkannya!" ia meyakinkan dirinya.


Tak lama kemudian, pintu geser ruang bacanya terkuak membuka.


Jianyin berhenti mondar-mandir dan berbalik ke arah pintu.


Dua orang pelayan wanita membungkuk padanya sambil mengapit seorang pemuda ke tengah ruangan.


"Tianba memberi hormat pada Nyonya Ketua!" pemuda itu membungkuk pada Jianyin, memberi salam soja.


Zhao Tianba adalah Ketua Asrama Satu Putra. Murid unggulan Perguruan Sekte Pedang Baohu. Kepala gerombolan serigala berbulu landak. Antek-antek Jialin.


Jianyin secara khusus memanggilnya dengan diam-diam melalui kedua pelayan wanita itu, sementara semua orang di sana-sini sedang bermeditasi untuk memulihkan diri.


Beberapa orang sudah mulai sibuk mengevakuasi korban jiwa dan menyiapkan pemakaman.


Semua orang sedang sibuk saat ini. Saat yang tepat untuk membuat konspirasi.


"Tak ada yang melihatmu, kan?" tanya Jianyin dengan mata terpicing.


"Tidak ada, Nyonya!" jawab Tianba.


"Kalau begitu bangunlah!" titah Jianyin terdengar tak sabar.


Kedua pelayan wanita tadi segera menghambur keluar dan menutup pintu, lalu berjaga di depan pintu itu.


Tianba menarik bangkit tubuhnya dan berdiri dengan kikuk.


Jianyin mendekat dan bersedekap. "Tianba, aku tahu kau adalah murid terbaik yang pernah kami miliki," katanya berbasa-basi. "Kau seharusnya murid unggulan nomor satu!"


Tianba mengerjap dan tertunduk dengan ekspresi getir. Merasa sedikit terpukul mengingat hasil uji kekuatan spiritual.


Seolah bisa membaca pikiran Tianba, Jianyin melangkah ke sisi Tianba seraya berbisik, "Kau ingin tahu kenapa murid-murid Bao Yu bisa lebih unggul?"


Tianba menelan ludah dan tertunduk semakin dalam.


"Karena jumlah mereka lebih sedikit, maka sumber daya mereka lebih besar!" Jianyin menambahkan. "Kau bisa lebih unggul dari mereka kalau sumber dayamu cukup."


Tianba hanya mengerjap. Tak tahu bagaimana harus bereaksi.


"Kau ingin membalas dendam?" Jianyin mengerling ke arah Tianba melalui sudut matanya.


Tianba mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya.


"Kau ingin menjadi lebih kuat lagi untuk mengalahkan mereka semua?" tanya Jianyin lagi.


Tianba menelan ludah dengan susah payah, kemudian mengetatkan rahang dan menggertakkan giginya. "Benar," jawabnya penuh tekad.


"Aku bisa membantumu," kata Jianyin. Lalu melirik pemuda itu sekali lagi melalui ekor matanya. "Aku bisa membantu keduanya. Membalas dendam… dan mendapatkan sumber daya!" Ia menambahkan. "Tapi sebelum itu, aku ingin memberimu sebuah misi. Dan kita akan bertukar keuntungan!"


Tianba mengerjap sekali lagi. Mencoba memberanikan diri untuk memandang wajah sang nyonya.

__ADS_1


Dengan senyuman licik, wanita itu membengkokkan jemarinya ke arah Tianba.


Tianba mengangkat sebelah alisnya dan membungkuk, mendengarkan wanita itu berbisik di telinganya.


"Aku akan memenuhi janjiku setelah kau menyelesaikan misi!" Jianyin menambahkan seraya menarik wajahnya menjauh dan mendongakkan hidung. Lalu kembali bersedekap.


Tianba membeku ragu.


Wanita itu menyenggol lengannya dan kembali berbisik, "Aku tahu kau selalu menyukai Jialin!"


Tianba tertunduk sedikit tersipu. Tapi masih terlihat ragu.


"Kenapa?" geram Jianyin tak sabar. "Apa kau takut?" tantangnya setengah mencemooh.


"Tidak!" sergah Tianba cepat-cepat. "Tentu saja tidak! Hanya saja…"


"Kau tidak percaya padaku?" Jianyin memelototinya.


"Aku percaya pada Nyonya!" Tianba langsung membungkuk dengan kedua tangan tertaut di depan wajah. "Hanya tidak percaya pada diriku!"


"Tidak punya kepercayaan diri, bagaimana kau bisa merayu putriku?" sindir Jianyin memprovokasi.


"Aku akan melakukannya!" Tianba dengan terpaksa mematuhinya, kemudian membungkuk, memberi salam dan menarik diri.


"Dan jangan sampai ada orang lain yang tahu!" Jianyin memperingatkan sebelum pemuda itu menghilang di balik pintu.


Tianba membungkuk sekali lagi. Lalu menghilang di balik pintu.


Jianyin memutar tubuhnya memunggungi pintu, kemudian kembali ke jendela. Memandang lepas ke pekarangan sambil bersedekap, mengawasi putranya yang sedang berlatih dengan gigih.


****TRAAAAANG****!


"Sembilan ratus sembilan puluh tujuh!"


TRAAAAANG!


"Sembilan ratus sembilan puluh delapan!"


TRAAAAANG!


"Sembilan ratus sembilan puluh sembilan!"


"Seribu!"


TRAAAAANG!


Sedikit terlalu gigih!


Terlalu ngotot!


Bao Tiao terhuyung dan terengah-engah, lalu jatuh berlutut dengan bertumpu pada pedangnya. Kedua lututnya gemetar tak terkendali. Keringat membanjir di sekujur tubuhnya. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan hanfu-nya. Lalu mendongak ke arah langit dengan tatapan nanar.

__ADS_1


Wajahnya terlihat sedih dan murka. Seperti rubah kecil yang terluka di bawah sinar bulan.


Ia menghela bangkit tubuhnya lagi. Mengayunkan pedangnya lagi. Mengulang hitungan dari awal.


TRAAAAANG!


"Satu!"


TRAAAAANG!


"Dua…" Napasnya kembali tersengal. Lalu kembali terhuyung. Tapi tak ingin berhenti. Meski tenggorokannya serasa tercekik. Meski tubuhnya lemas dan gemetaran. Ia menggeram murka setiap kali kakinya goyah karena tak sanggup menahan beban tubuhnya. Lebih merasa murka kepada dirinya.


"HIAAAAAAAT!"


Jianyin memandang sedih putranya dan mendesah berat. Lalu menggeleng dan berpaling dari jendela.


TRAAAAANG!


TRAAAAANG!


TRAAAAANG!


Tebasan demi tebasan terdengar semakin lemah di luar sana, semakin lamban. Terlalu dipaksakan.


Tidak akan lama lagi, Putraku! batin Jianyin. Tidak lama lagi aku akan membalikkan keadaan. Kau akan menjadi ksatria tiada tanding dan menjadi pemimpin yang paling disegani.


Di sisi lain bukit, di belakang benteng pertahanan, orang-orang sedang sibuk menguburkan jenazah.


Sebagian orang menggali lubang, sebagian bahu membahu mengumpulkan mayat-mayat dari berbagai sudut bangunan perguruan dan mengumpulkannya di sekitar lubang yang telah digali.


Mayat-mayat itu dibariskan dengan ditutup kain seadanya.


Shen Zhu meletakkan batu nisan di atas salah satu kubur yang telah digalinya dan menempatkan salah satu guru di dalamnya.


Murid-murid wanita duduk bersimpuh di sekeliling kuburan itu sambil menangis.


Shen Zhu menatap sedih pemandangan bisu kematian itu dengan perasaan terluka.


"Ketua sudah menghubungi Markas Besar Aliansi Ksatria!" Suara familier seseorang menarik perhatiannya.


Shen Zhu mengerjap dan menoleh, lalu memutar tubuhnya dan membungkuk dengan kedua tangan tertaut di depan wajah, "Guru!"


Murid-murid wanita yang sedang menangis itu segera beranjak dan membungkuk serentak ke arah Bao Yu, "Paman Guru!" sapa mereka bersamaan.


Murid-murid lainnya menoleh pada mereka, kemudian berbondong-bondong menghampiri Bao Yu dan mengerumuninya.


"Mereka akan mengutus orang ke sini untuk mengatur pembangunan kembali perguruan kita," Bao Yu mengumumkan. "Tapi…" ia menggantung kalimatnya dan mengedar pandang, memandangi wajah-wajah sedih semua anak dengan ekspresi muram. "Orang yang sudah meninggal tetap tak bisa dikembalikan lagi!" Ia menambahkan, menyadarkan semua orang pada kenyataan.


Murid-murid wanita kembali menangis. Murid-murid lainnya tertunduk dengan ekspresi muram.


"Beristirahatlah!" Bao Yu menepuk sebelah bahu Shen Zhu. "Kau sudah bekerja terlalu keras. Kau bahkan belum memulihkan diri setelah pertarungan." Ia menurunkan tangannya dari bahu pemuda itu dan melipat kedua tangannya ke belakang. Lalu berbalik dan menuntun jalan ke arah perguruan.

__ADS_1


Shen Zhu mengekor di belakangnya.


__ADS_2