Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
16


__ADS_3

"Kakak! Paman!" Bao Yu menautkan kedua tangannya di depan wajah. "Aku pantas dihukum," katanya dengan sopan. "Mengenai luka muridku… sebetulnya didapat dari perundungan yang kulakukan bersama murid-muridku yang lain."


"Apa?" Seisi ruangan serentak melengak menatap Bao Yu.


Para wanita membekap mulut dengan jemari mereka.


"Beberapa tahun silam, aku pernah meneliti berbagai macam sumbatan dalam tubuh yang menghambat perkembangan qi dan menerbitkan Sepuluh Teori Ekstrem Mengatasi Sumbatan Qi," tutur Bao Yu tanpa mengurangi rasa hormatnya. "Salah satunya adalah menghancurkan dantian. Tapi entah itu ahli beladiri biasa maupun mereka yang ada di Aliansi Ksatria… tak ada yang mempercayai teoriku."


Dantian mengacu pada wilayah di mana qi---energi vital yang ada di dalam segala hal seseorang gagal.


"Sejak dulu, tak ada ahli beladiri yang mengatasi sumbatan qi dengan meremukkan dantian," Bao Yu melanjutkan. "Meski aku memiliki keyakinan pada teoriku, tapi belum pernah ada yang mencoba. Teori yang pernah kukeluarkan, hanya teori tanpa bukti karena tak ada yang mau mencoba. Praktek adalah satu-satunya cara untuk menguji kebenaran."


"Kau mempertaruhkan nyawa muridmu demi teori?" Bao Hu mendesis dengan nada mencela.


"Adik tidak berani!" Bao Yu tetap merendah. "Kecuali… ada alasan kuat yang melatarbelakanginya."


"Latar belakang?" Tetua Yun mengerutkan keningnya.


"Latar belakang Liu Shen Zhu tak sederhana," jawab Bao Yu. "Ayahnya adalah seorang pemburu harta karun dan ahli pusaka misterius. Liu Hanzou!"


"Liu Hanzou?" Seisi ruangan kembali memekik.


"Maksudmu…" Tetua Yun tergagap-gagap.


"Benar," sahut Bao Yu memotong perkataan pamannya. "Si Penggali Kubur!"


"Mustahil!" gumam Bao Hu tak percaya.


"Dan yang terpenting…" Bao Yu menambahkan. "Pusaka yang memilihnya berasal dari ras dewa."


"Apa?" Seisi aula memekik sekali lagi.


Bao Yu melayangkan telapak tangannya di atas cincin permata yang melingkar di jari tangan lainnya dan seketika sebuah manual---buku panduan keluar dari cincin itu dan mendarat di telapak tangannya.


Cincin itu adalah cincin penyimpanan, salah satu atribut penting yang wajib dimiliki para ksatria dan ahli beladiri spiritual.


Fungsinya hampir sama dengan gudang penyimpanan pribadi, tapi bisa dibawa ke mana-mana. Setiap permata pada cincin penyimpanan merupakan ruang dimensi dengan minimal kapasitas penyimpanan seluas dua puluh meter kubik.


Bao Yu melayangkan manual yang dikeluarkan dari cincin penyimpanannya ke arah Bao Hu dengan menggunakan kekuatan spiritual yang lebih dikenal dengan istilah telekinesis.

__ADS_1


Bao Hu membuka manual itu, mempelajarinya sesaat dan terperangah. "Pedang Dewa Petaka?" pekiknya tidak percaya.


Seisi aula kembali berdengung oleh gumaman gelisah.


Semua orang tahu Pedang Dewa Petaka bisa meluluhlantakkan satu kerajaan dalam sekali tebas. Bahkan satu benua.


"Pedang jelek itu—" Bao Hu tergagap.


"Diberkati pusaka dewa, tentu mustahil selemah itu," Bao Yu memberi kesimpulan setelah penjelasan panjangnya.


Kesimpulan itu dibutuhkan untuk para peserta sidang yang telah mengetahui terlalu banyak fakta yang disodorkannya.


Pada akhirnya, Bao Yu dibebaskan setelah yakin tidak terbukti melakukan pelanggaran yang Menentang Kehendak Langit.


Tapi selepas sidang darurat itu, Bao Hu tak bisa berhenti memikirkan Shen Zhu. Ia terlihat gelisah sepanjang hari hingga mengabaikan semua tanggung jawabnya.


Merasa tak puas hanya berdiam diri, Bao Hu akhirnya memutuskan untuk memata-matai sendiri Asrama Tujuh.


Kakak-kakak seperguruan Shen Zhu sedang berlatih di lereng bukit ketika Bao Hu menyelinap keluar dari ruangan pribadinya tanpa sepengetahuan semua orang, tapi Shen Zhu entah di mana.


Bao Hu mendarat di salah satu bukit batu dan memeriksa sekitar dengan menggunakan kekuatan telepatinya. Lalu akhirnya menemukan keberadaan Shen Zhu.


Anak laki-laki itu rupanya sedang menyepi di tepi ngarai di sisi lain bukit, jauh terpisah dari kakak-kakak seperguruannya.


Shen Zhu sedang duduk bersila di atas sebongkah batu pipih menghadap ke arah ngarai, sedang belajar mengontrol pedangnya dengan telekinesis.


Setidaknya itulah yang disimpulkan oleh Bao Hu ketika ia mendapati pemuda itu sedang duduk bersila sambil mengulurkan sebelah tangannya, menyalurkan energi cahaya berwarna merah darah ke arah pedangnya melalui telapak tangan.


Bao Hu melipat kedua tangannya di depan dada, mengusap dagu dengan buku jarinya sambil memperhatikan pemuda itu dengan mata terpicing. Elemen api! batinnya terkejut.


Benarkah dia ditolak di laut elemen?


Sekarang elemen api itu melahap pedang karatan yang diam mengambang di depan pemuda itu.


Apa tepatnya yang sedang coba ia lakukan? Bao Hu bertanya-tanya dalam hatinya.


Kenapa pedang itu hanya melayang diam?


Apa dia belum mengerti cara mengontrolnya?

__ADS_1


Lama Bao Hu memperhatikan rangkaian prosedur itu hingga pedang tua itu mulai meleleh dan hanya menyisakan segumpal logam yang secara perlahan mulai berubah menjadi cincin.


Shen Zhu memutar telapak tangan menghadap ke atas dan menggerakkan satu jarinya, dan seketika cincin itu terpasang di jari itu.


Ruang warisan! batin Bao Hu terkejut.


Beberapa pusaka memiliki ruang warisan di mana pemilik pusaka terkait tidak membutuhkan panduan untuk mengembangkan kemampuannya. Roh pedang akan memandu orang yang dipilihnya sampai menguasai teknik yang paling rahasia.


Teknik rahasia ruang warisan biasanya hanya dimiliki oleh pemilik ruang warisan itu sendiri.


Dan yang terpenting, ruang warisan hanya dimiliki pusaka tertentu.


Bao Hu merasa tersengat oleh rasa hormat.


Tiba-tiba saja ia menyesal telah mengabaikan Shen Zhu dan membiarkannya menjadi murid Bao Yu.


Menjadi murid Bao Yu artinya menjadi Murid Luar. Tidak terikat sepenuhnya dengan Perguruan Sekte Pedang Baohu, meski masih termasuk keluarga besar Sekte Bao.


Yang disebut Asrama Tujuh itu adalah perguruan pribadi milik Bao Yu. Tidak termasuk Perguruan Sekte Pedang Baohu. Hanya tempatnya saja pernah menjadi bagian dari Perguruan Sekte Pedang Baohu.


Setelah Bao Yu mendapatkan lencana kelas satu ahli teori, Bao Yu mendapatkan hak sepenuhnya atas Asrama Tujuh.


Dengan kata lain, Sekte Bao memiliki dua perguruan. Asrama Tujuh dan Perguruan Sekte Pedang Baohu.


Sebagai pemilik perguruan, Bao Hu sangat menyesal mengetahui murid luar mendapat perolehan nilai lebih tinggi. Tapi sebagai ketua sekte, ia punya harapan untuk memperbaiki kedudukannya di aliansi.


Shen Zhu menarik bangkit tubuhnya dan menggeliat meregangkan otot-ototnya.


Sejurus kemudian, pemuda itu sudah melesat cepat, melompati undakan runcing bebatuan yang tidak teratur, melompat-lompat di dinding tebing, mendaki puncak dalam sekejap.


Mencapai puncak bukit, ia memutar tubuhnya di udara dalam gerakan salto, dan mendarat di lapangan rumput di sisi lain bukit. Lalu berjalan menyusuri jalan setapak menuju halaman belakang perguruan di mana kakak-kakak seperguruannya sedang berlatih.


Tapi lalu pemuda itu berhenti dan menyimak. Mendadak waspada. Ia bisa mendengar gerakan halus sesuatu sedang melesat ke arahnya. Lebih halus dari semilir angin.


SLAAAASSSH!


Shen Zhu menyentakkan sebelah tangannya ke samping, menghujamkan ujung telunjuk dan jari tengahnya ke udara kosong. Dan seketika selembar daun kering di dekat kakinya terbang melesat mengikuti kibasan tangannya.


GLAAAAARRR!

__ADS_1


Ledakan cahaya berpendar bersama hempasan angin yang menyapu seluruh tempat di sekeliling Shen Zhu.


Daun kering yang dilontarkannya menebas selembar daun soraya yang masih hijau yang sedang melesat ke arah Shen Zhu seperti belati yang dilontarkan seseorang dari tempat tersembunyi.


__ADS_2