
Shen Zhu melayang diam di atas tunggangannya yang putih terang seperti bulan, memandangi gelembung raksasa yang mengungkung sebuah daratan yang berkilauan seperti kebun permata.
Serbuk cahaya berwarna emas bertebaran di udara bersama bola-bola cahaya berwarna-warni sebesar biji lada seperti taburan salju dan dandelion.
Bahkan tumbuh-tumbuhan dan binatang kecil juga bercahaya seperti lampion berwarna-warni.
Seperti negeri dongeng di dalam bola kristal.
Daratan itu tidak terlihat oleh mata biasa. Hanya samudera raya yang membentang luas seolah tak berujung, Laut Elemen yang terlihat seperti lautan kaca berisi serbuk cahaya berwarna-warni.
Kuda terbang tunggangan Shen Zhu melayang turun dalam gerak lambat, kemudian mendarat di pekarangan sebuah istana.
WUUUUSSSH!
Angin kencang berhembus dari pijakan kakinya. Seluruh tempat di sekelilingnya tersapu hingga radius ratusan meter.
Sejumlah Tentara Abadi berderet di sepanjang jalan masuk dari gerbang hingga ke pekarangan seperti patung perak. Jubah armor dan rambut mereka melecut-lecut diterpa angin yang tercipta dari pijakan kaki tunggangan Shen Zhu.
Memang habitat klan peri! pikir Shen Zhu sedikit takjub. Aura dewa bahkan tak bisa menekan mereka.
Jika saat itu Shen Zhu mendarat di tengah-tengah kumpulan manusia biasa, beberapa orang mungkin terlempar dan terserak hingga radius ratusan meter.
Para pengawal itu serentak waspada dan memasang kuda-kuda sambil menghunus tombak mereka.
"Siapa?" hardik salah satu pengawal yang berjaga di serambi.
Shen Zhu menelengkan kepalanya sedikit dan tersenyum miring. "Katakan pada Kaisar, Cucu Tersayang datang berkunjung!" katanya pada penjaga itu.
"Lancang!" hardik salah satu penjaga itu seraya mengetukkan ujung tombaknya di lantai serambi.
Dua pengawal abadi dengan kekuatan spiritual ranah surgawi tingkat menengah serentak melesat ke arah Shen Zhu dan menyilangkan tombak di depan wajahnya.
Shen Zhu tersenyum miring sekali lagi, kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan mendongakkan hidungnya ke arah pintu aula dan berteriak, "Kakek! Apa kau di dalam?"
"Bocah Tengik dari mana berani mengaku cucu Baginda!"
Empat Ksatria Ranah Surgawi Tingkat Menengah melesat dari empat penjuru dan serempak menodongkan tombak di sekeliling Shen Zhu.
Tiba-tiba pintu aula terbentang membuka dan pekarangan istana tersapu angin kencang yang mahadahsyat.
WUSSSHHH!
__ADS_1
DUAAAAARRRR!
Para pengawal yang berderet di sepanjang jalan masuk ke pekarangan tersapu hingga jatuh berlutut seraya menekuk perut mereka dan berpegangan pada tombaknya masing-masing.
"Biarkan dia masuk!" perintah suara menggelegar dari dalam aula singgasana yang bercahaya seperti matahari. Suara terlatih seorang Master Spiritual Ranah Surgawi Tingkat Tinggi yang menebarkan aura tekanan intimidasi yang bisa menumbangkan sebatang pohon di alam manusia.
Rambut dan jubah Shen Zhu melecut ke belakang seperti diterpa angin kencang. Tapi tubuhnya dan juga kudanya tidak tergoyah. Raut wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Hanya mengerjap saat tersenyum samar. Lalu menghela pelan kudanya menuju beranda.
Kuda putih terang dari klan dewa itu berhenti di dasar tangga yang mengarah ke teras aula.
Shen Zhu melangkah turun dan berjalan pelan meniti tangga, melewati dua pengawal yang berlutut di lantai dengan gemetar, kemudian memasuki aula singgasana.
SLAAAASSSH!
SLAAAASSSH!
Setiap pijakan kaki Shen Zhu menumbangkan pengawal yang berderet di sepanjang jalan masuk hingga ke tangga altar singgasana.
Sesosok bayangan putih terang bertengger di kursi singgasana seperti berkas cahaya matahari yang membias tersaput kabut.
Legenda kaisar misterius yang tidak satu pun rakyatnya bisa melihat wajahnya ternyata bukan sekadar isapan jempol para pendongeng.
Setiap satu langkah menuju altar singgasana memiliki aura tekanan yang terus meningkat.
Cerita tentang para pengawal yang tidak bisa mendekati singgasana kaisar menjadi terasa masuk akal seiring langkahnya yang kian mendekat.
Shen Zhu melangkah dengan hati-hati dan penuh perhitungan. Berusaha supaya tidak terpental dan menjadi lelucon para pengawal yang meremehkan kedatangannya sejak awal.
Satu demi satu anak tangga berhasil ia tapaki, aura tekanan di anak tangga masih terasa tidak mengancam. Dan ia berhasil mencapai altar singgasana.
Shen Zhu menatap lurus ke arah sosok bias yang menunggunya di kursi singgasana, aura tekanan terasa semakin besar di dekat kursi singgasana.
Entah kursinya, entah sosok yang duduk di atasnya yang memiliki aura tekanan yang mengintimidasi, pikir Shen Zhu. Tapi tahta itu takkan terancam kecuali dewa menginginkannya.
Altar singgasana itu diliputi aura dewa.
Shen Zhu bisa merasakan aura tekanan spiritual ranah surgawi tingkat tinggi dalam jarak satu kaki dari kursi singgasana. Tapi untungnya bukan masalah bagi Shen Zhu.
Level sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan, Shen Zhu menyimpulkan. Satu tingkat di bawah kekuatan spiritual dewa.
Shen Zhu mengerjap dan menatap wajah penguasa benua itu. Akhirnya bisa melihat jelas.
__ADS_1
Seraut wajah lancip putih porselen dibingkai rambut putih metah. Alis, kumis dan janggutnya juga berwarna putih. Begitu juga dengan jubahnya yang dilapisi armor kristal. Sepasang hiasan kepala berbentuk sayap di belakang kedua telinganya juga berwarna kristal. Mahkota peri. Menjadikan sosok itu terlihat seperti lampu pijar.
Sepasang mata abu-abu balas menatap ke dalam mata Shen Zhu dengan ekspresi tenang yang familier.
Raut wajah ramah yang mematikan!
Sekarang Shen Zhu tahu dari mana ayahnya mewarisi garis wajah lembut yang misterius.
Sepasang mata dan bibirnya seolah selalu tersenyum, tapi aura yang dipancarkannya seperti pembunuh berdarah dingin.
"Kakek!" Shen Zhu berbisik lirih seraya mendekat dan berjongkok di depan tua renta itu yang entah sudah berapa puluh tahun usianya. Mungkin juga sudah seratus tahun. Shen Zhu meraup kedua tangan di pangkuan kakeknya dengan hati-hati. "Aku Liu Shen Zhu, putra Hanzou!"
Sorot mata pria tua itu menghangat. Tapi tubuhnya seolah sulit digerakkan. Ia tetap bersandar lemas dan memaksa senyum. Tangannya seolah membeku dalam genggaman Shen Zhu. "Xiao Zhu," desisnya seakan telah mengenal Shen Zhu sepanjang waktu. "Akhirnya kau datang!"
Shen Zhu mengerjap dan menelan ludah. "Kau sudah tahu aku akan datang?" tanyanya dengan suara tercekat.
"Aku sudah menunggumu," jawab kaisar itu dengan suara parau seperti sedang menahan tangis.
Shen Zhu mengusap-usap punggung tangan kakeknya seraya memaksa senyum.
Sebuah kesadaran mengejutkan Shen Zhu.
Sekujur tubuh pria tua itu ternyata lumpuh!
"Sudah berapa lama Kakek duduk di sini?" Shen Zhu bertanya dengan prihatin.
"Dua puluh tahun," jawab kakeknya. "Tidak satu pun bisa memindahkanku ke tempat tidur," katanya dengan sedih.
"Aku akan memindahkanmu ke tempat tidur," Shen Zhu beranjak dan menggamit lengan kakeknya.
Seorang pria tua berjubah putih melayang dari sudut belakang aula singgasana, kemudian mendarat di dekat Shen Zhu.
"Dewa Kecil!" pria itu menghardik Shen Zhu. "Apa yang kau lakukan?"
"Dia cucuku!" sergah Kaisar dengan tenang. "Putra Mahkota!"
Pria itu langsung terdiam, kemudian membungkuk pada Shen Zhu dengan kedua tangan tertaut di depan wajah, memberikan salam soja. "Pangeran!" sapanya dengan patuh.
Shen Zhu mengerling melewati bahunya dengan mata terpicing.
"Dia Ksatria Pengawal-ku," Kaisar memperkenalkan.
__ADS_1
"Beritahu aku di mana kamar Kakek!" instruksi Shen Zhu pada Ksatria Pengawal itu.
"Mari!" Pria itu melayangkan sebelah tangannya ke arah pintu di sudut belakang aula singgasana.