
Pemilik tujuh elemen adalah bakat yang langka! sesal Guru Fang, ketua sekte aliran zen itu. Kenapa aku tidak menyadarinya?
"Bocah Tengik…" Long Hua Ze menggeram seraya menghela bangkit tubuhnya. "Beraninya kau menyerang wajahku!"
Shen Zhu masih melayang di atas permukaan lantai dengan kedua mata menyala merah. Raut wajahnya terlihat dingin meski kelopak matanya membara.
"Kau membuatku benar-benar marah!" hardik Hua Ze sambil memasang kuda-kuda dan menggerak-gerakkan kedua tangannya, mengayunkan kipasnya dalam tarian misterius yang membentuk jurus-jurus spiritual yang cukup langka.
Tak lama kemudian, tubuhnya menyemburkan api berwarna merah darah. Kipasnya juga berkobar-kobar. Sebuah lingkaran sihir tercipta di belakang punggungnya dan seekor elang perak dengan kepala menyerupai kepala naga menyembul keluar dari lingkaran sihir itu, kemudian melayang turun dan mendarat di sisi Hua Ze.
Para peserta tercengang dengan takjub. "Monster tingkat sembilan!"
Monster tingkat sembilan adalah monster dengan usia kultivasi sembilan ratus ribu tahun.
Elang itu menelengkan kepalanya dan memperhatikan Shen Zhu. Lalu tiba-tiba terbang kembali dan menghilang ke dalam lingkaran sihir tadi.
"Hei—" Hua Ze terpekik.
Semua orang terperangah dengan kebingungan.
"Kenapa rasanya elang itu seperti melarikan diri?" gumam seorang juri dengan dahi berkerut-kerut.
"Apa latar belakang anak ini?" para peserta melirik ke arah Shen Zhu seraya menggumam takjub. "Bahkan monster tingkat sembilan melarikan diri!"
"Apa kau manusia?" pekik Hua Ze tergagap-gagap.
"Sudah terlambat untuk berubah pikiran sekarang," gumam Shen Zhu bernada dingin. Suaranya terdengar seperti desau air bah di kejauhan.
Dengan sedikit kalang kabut, Hua Ze melontarkan belati berantai dari ujung kipasnya, namun dengan cepat Shen Zhu menangkap semuanya dalam satu genggaman, kemudian menyentakkannya hingga Hua Ze terlempar ke arah Shen Zhu.
Hua Ze melejit seperti direnggut di bagian pinggangnya dan melayang di depan Shen Zhu. Lalu dalam sekejap kedua tangannya sudah terikat di pinggangnya, terlilit rantainya sendiri.
"Ksatria Nomor Tujuh-tujuh menang!" Pemandu acara mengumumkan.
Arena meledak oleh tepuk tangan dan jeritan histeris para wanita.
Shen Zhu menurunkan Hua Ze di lantai dan membungkuk dengan hormat tentara. Lalu berbalik dan mengulurkan sebelah tangannya ke samping. Pedang imitasinya melesat dari lantai dan dalam sekejap sudah kembali berada di dalam genggamannya.
Hua Ze duduk terpuruk dalam posisi berlutut dengan kedua bahu menggantung lemas di sisi tubuhnya. Raut wajahnya terlihat syok. Dan ketika ia kembali ke tempat duduknya di tempat para peserta Jalur Juara, gadis maskulin dari aliran tinju mencemoohnya.
"Masih merasa tampan?"
Gouw Anio terkikik menanggapinya.
"Selanjutnya Nomor Dua melawan Nomor Tujuh!"
Gouw Anio berhenti tertawa dan terperangah, kemudian menyentakkan kepalanya ke samping, menatap gadis maskulin di sisi Hua Ze yang duduk di sebelahnya dengan mata dan mulut membulat.
Hua Ze tergelak dengan ekspresi puas.
__ADS_1
Tjia Qianxi, si gadis maskulin itu menyeringai ke arah Gadis Pemanggil seraya memukulkan tinju ke telapak tangannya.
Gadis Pemanggil itu menjerit ketakutan sambil melejit ke arena dengan bertumpu pada payungnya.
Tjia Qianxi melompat menyusulnya dengan gerakan salto memukau dan mendarat dalam posisi kuda-kuda.
Para penonton bersorak dan bertepuk tangan dengan semangat.
"Pertarungan dimulai!" teriak wasit memberi aba-aba.
Gadis Pemanggil gelagapan, "Kakak! Jangan pukul wajahku!" pintanya kalang kabut.
"Kalau begitu pastikan payungmu lebih keras dari tinjuku," cemooh Qianxi, kemudian menerjang ke arah Anio seraya mengayunkan tinjunya.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAA!" Gadis Pemanggil itu menjerit lagi seraya melejit dengan payungnya menghindari serangan Qianxi.
Tinju Qianxi menghujam udara kosong, ia mendarat di lantai dalam posisi setengah jongkok setengah berlutut. Satu lututnya bertumpu di lantai, sementara lutut lainnya terlipat di depan dada.
Anio cekikikan sambil terbang berputar-putar mengelilingi Qianxi seperti sedang menari.
Qianxi mengerang sambil memukulkan tinjunya ke lantai. "Mau main kucing-kucingan?" Ia menarik bangkit tubuhnya dan kembali memasang kuda-kuda. "Kita lihat sampai mana kau bisa melarikan diri!" geramnya sambil menerjang lagi.
Anio meliukkan pinggangnya dan melompati bahu Qianxi dengan gerakan ringan seperti hanya sedang menari, kemudian mendarat di belakang Qianxi.
Refleks Qianxi mengayunkan sikutnya ke belakang.
Ketika Qianxi memukulkan tinjunya lagi ke depan, Anio sudah berpindah tempat ke sisi lainnya.
Begitu seterusnya setiap kali Qianxi mengayunkan pukulan, Anio selalu berpindah tempat.
Benar-benar membuat frustrasi! pikir Qianxi. Lalu memutuskan untuk mengubah strategi.
Ia memusatkan tenaga dalamnya ke telapak tangan, kemudian memukulkan tinjunya di lantai arena yang sudah berkali-kali diperbaiki dengan kekuatan sihir para panitia. Sekarang lantai itu kembali meledak dan hancur berkeping-keping.
Serpihan bebatuan berterbangan di sekeliling Qianxi, yang dalam sekejap langsung disapu dan dilontarkan ke sana kemari dengan tinju dan tendangannya yang luar biasa cepat seperti tarian kematian.
Gouw Anio akhirnya mulai kewalahan dan memutuskan untuk mengakhiri aksi kucing-kucingan itu.
Ia mulai mengeluarkan keahlian utamanya sebagai elementalis.
"Akhirnya mulai terlihat seperti pemanggil!" gumam Qianxi bersemangat. Lalu membungkuk dan memukulkan tinjunya lagi ke telapak tangan dengan kedua lutut tertekuk dalam sikap kuda-kuda.
Gouw Anio mengambang di udara di tengah-tengah lingkaran formasi sihir yang tercipta dari mantra pemanggil arwah, matanya terpejam, mulutnya komat-kamit, gaun mungil dan helai rambutnya melecut-lecut di tengah pusaran angin dan kemilau cahaya. Payungnya melayang di bawah sebagai tumpuan kakinya.
Arena bergetar dan bergemuruh. Sebuah pintu ganda batu kuno menyembul di permukaan lantai.
Lalu ketika pintu itu terkuak, aura yang sangat kuat menebar ke seluruh arena.
Para hadirin serempak menegang.
__ADS_1
Lantai arena berguncang dan berdentum-dentum.
Qianxi menarik satu kakinya ke belakang dan menekuk lututnya siap menerjang. Kedua tangannya sudah terkepal di depan wajah.
Sesosok raksasa berkepala macan berbulu kuning kecoklatan dengan bintik-bintik hitam melangkah keluar.
Para penonton terperangah dengan ngeri.
Di luar dugaan semua orang, Anio sendiri menjerit ketakutan dan menghambur menjauhi monster itu dan lari tunggang langgang meninggalkan arena.
Para penonton melengak menatap gadis itu.
Sedetik kemudian…
BUM!
BUM!
DUAAAAARRRR!
DUAAAAARRRR!
Arena membuncah oleh ledakan cahaya dan gelegar halilintar.
Tubuh Qianxi berkeredap dan berpindah-pindah tempat dalam sekejap sambil mengayun-ayunkan tinju dan mendaratkannya bertubi-tubi di titik-titik mematikan di tubuh binatang iblis itu. Setiap pukulannya menciptakan semburat cahaya di sana-sini.
Gorgon itu terlempar ke sana-kemari dalam berondongan pukulan secepat kilat.
Begitu cepat hingga Qianxi terlihat seperti lebih dari satu.
Para penonton terkesiap dengan mata dan mulut membulat. Tanpa sadar menahan napas.
Tak lama kemudian…
BUUUUUUUMMMMM!
Aula menggelegar tersapu ledakan dahsyat yang tak terkira.
Gorgon raksasa itu terjerembab setengah terkubur di lantai arena yang telah meledak.
Anio berhenti di tangga dan berbalik. Lalu tertunduk menatap lantai arena dengan mata dan mulut membulat.
"Xiao Meimei, kau mau lari ke mana?" hardik Qianxi sambil menyeruak ke arah tangga.
"Aku mengaku kalah! Aku mengaku kalah!" Gouw Anio tergagap-gagap seraya menyilangkan kedua tangannya di depan wajah dan menjatuhkan dirinya. "Aku gagal memanggil lagi," rengeknya hampir menangis.
Para penonton mengerjap menatap Gadis Pemanggil itu dengan sorotan geli.
Qianxi berhenti di depan gadis itu seraya mendesah pendek.
__ADS_1