
"Whoaaaaa…!" Shen Zhu berseru gembira setelah tunggangan gurunya mulai mengudara. "Guru! Rekan monstermu sangat memukau," katanya dengan riang. "Bisa terbang setinggi ini!"
Bao Yu hanya tersenyum tipis dan menggeleng-geleng. Ia berdiri di depan dengan kedua tangan terlipat di belakang tubuhnya, sementara Shen Zhu dan Tiao duduk di belakangnya.
Tiao juga hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Apa rekan monsterku juga bisa seperti ini?" Shen Zhu bertanya-tanya dengan ekspresi senang dan penasaran seorang anak kecil.
Bao Yu tiba-tiba tertunduk dengan ekspresi muram. Lalu berbalik menghadap Shen Zhu. "Shen Zhu," ungkapnya dengan suara parau. "Aku benar-benar minta maaf tak pernah memberitahumu hal ini."
Shen Zhu mengerjap dan mendongak menatap gurunya.
Bao Yu mendesah berat. "Aku akui perkembanganmu di luar perkiraan, tapi…" ia menggantung kalimatnya dan tertegun sesaat.
Shen Zhu bertukar pandang dengan Tiao.
"Kau masih sangat muda. Belum pernah ada ksatria yang mendapatkan tunggangan di bawah usia dua puluh tahun," jelas Bao Yu dengan ekspresi muram.
Shen Zhu langsung terdiam.
"Paman, meski belum pernah ada ksatria yang mendapatkan tunggangan di bawah usia dua puluh tahun, tapi juga belum pernah ada ksatria yang mencapai ranah galaksi di bawah usia dua puluh tahun," Tiao menginterupsi.
"Benar," sahut Bao Yu sambil memaksakan senyum. "Itu sebabnya aku berani bertaruh. Namun… jika kau tak menemukan monster yang cocok, jangan memaksakan diri!" Ia menasihati.
"Guru jangan khawatir!" Shen Zhu meyakinkan gurunya. "Aku takkan mengecewakanmu!" tekadnya.
Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah mendarat di pintu gerbang Tanah Perjanjian Darah.
Pintu gerbang itu sepintas terlihat seperti gerbang batu biasa. Letaknya di puncak undakan batu di tengah-tengah hutan tanpa pagar pembatas di kiri-kanan. Bisa dikatakan tidak ada gunanya melewati gerbang karena seluruh tempat di kiri-kanannya tidak dipagari seperti layaknya fungsi sebuah gerbang.
Tapi sayangnya hutan yang terlihat di sekeliling gerbang itu bukan Tanah Perjanjian Darah yang sebenarnya.
__ADS_1
Untuk bisa mencapai Tanah Perjanjian Darah, setiap orang harus melewati gerbang itu.
Gerbang itu semacam gerbang teleportasi. Siapa pun yang melewati gerbang itu, takkan keluar di hutan yang terlihat di belakangnya.
Singkatnya, begitu seseorang memasuki gerbang itu, mereka akan menghilang dalam penglihatan mata biasa.
Untuk memasukinya, mereka juga harus mendapat izin terlebih dulu dari Tetua Suci Penjaga Tanah Perjanjian. Dan itu tidak seperti bertamu ke rumah seseorang di mana kita hanya tinggal mengetuk pintu dan orang itu segera mempersilahkan masuk.
Kehadiran para tunggangan spiritual itulah yang akan membuatnya datang ke pintu gerbang. Dengan kata lain, hanya tamu dengan tunggangan spiritual yang diperkenankan menemuinya.
Tetua Suci Penjaga Tanah Perjanjian itu mengenakan pakaian serba putih berlapis kain selubung putih yang menjadi tudung kepala hingga menutupi separuh wajahnya. Rambut panjangnya yang juga berwarna putih menyembul keluar dari balik kain selubung yang menjuntai di kiri-kanan dadanya.
"Kami dari Perguruan Sekte Pedang Baohu, membawa murid-murid untuk mencari tunggangan!" kelima guru itu serempak berlutut dan menyilangkan sebelah lengan di depan dada dengan jemari terkepal, memberikan hormat tentara.
Murid-murid mereka serentak ikut berlutut.
"Berikan surat izin kalian!" pinta Tetua Suci Penjaga Tanah Perjanjian itu dengan ekspresi dingin yang misterius. Suaranya terdengar seperti tiupan angin, namun bernada mengintimidasi.
Bao Yu mengeluarkan surat gulung dari balik dada hanfunya dan mengulurkannya ke arah tetua suci itu dengan kedua tangan menadah di depan wajahnya.
Tetua suci itu melipat kedua tangannya ke belakang dan membaca satu per satu data semua murid. Lalu tiba-tiba mengerutkan keningnya. Bola matanya bergulir ke arah Shen Zhu. "Ksatria Ranah Galaksi semuda ini?" gumamnya bernada sangsi.
Semua orang masih tertunduk dengan posisi masih berlutut.
"Ksatria Ranah Galaksi, kemarilah!" perintah Tetua Suci Penjaga Tanah Perjanjian.
Shen Zhu membungkuk dengan hormat tentara sebelum akhirnya beranjak bangkit dan menghampiri tetua suci itu.
Tetua suci itu menaruh sebelah telapak tangannya di bahu Shen Zhu, dan seketika pemuda itu merasa bahunya seperti ditekan beban ratusan ton hingga kedua lututnya tertekuk.
"Ternyata benar Ksatria Ranah Galaksi," gumam sang tetua sambil mengusap dagu dengan buku jarinya. Ia menurunkan telapak tangannya dari bahu Shen Zhu. Lalu mengerling ke arah Bao Yu.
__ADS_1
Bao Yu membungkuk lagi dengan hormat tentara.
Tetua suci itu menggeleng-geleng, lalu beralih pada Shen Zhu. "Anak Muda," katanya. "Setiap ksatria hanya punya sekali kesempatan seumur hidup untuk memilih monster di Tanah Perjanjian Darah. Setelah kau memasuki Tanah Perjanjian Darah, kau akan bertemu banyak masalah. Mempertaruhkan kesempatan berharga seperti ini… apakah kau sudah memikirkannya dengan baik?"
"Aku siap menanggung risikonya, Tetua Suci!" tekad Shen Zhu. Lalu membungkuk sekali lagi.
"Baiklah!" Tetua suci itu mendesah pendek. Lalu menadahkan sebelah tangan di depan dadanya.
Semburat cahaya berwarna emas memancar keluar dari telapak tangannya bersama sebuah pelat berbentuk seperti belati bermata dua dengan tulisan kuno bercahaya berwarna emas.
Tetua suci itu menyentuh dahi Shen Zhu dengan ujung telunjuknya.
Sebuah tanda seperti simbol kuno berwarna emas menyala tertera di dahi Shen Zhu.
"Tanda pada dahimu diperlukan untuk menandatangani perjanjian dengan monster. Jika ada monster yang mendekatimu, kau bisa berkomunikasi dan menempelkan tanda ini pada dahinya." tetua suci itu memberitahu. Lalu mengulurkan pelat di tangan satunya pada Shen Zhu. "Jika dalam tujuh hari tak dapat menemukan monster yang cocok, pelat ini akan menyala dan mengirimkanmu keluar. Apa kau sudah mengerti?"
"Aku sudah mengerti!" Shen Zhu menjawab yakin.
"Masuklah!" kata tetua suci itu.
Shen Zhu berbalik ke arah Bao Yu dan membungkuk dengan kedua tangan tertaut di depan wajah. "Aku akan segera kembali," katanya penuh tekad.
Bao Yu menanggapinya dengan anggukan singkat.
Shen Zhu mengangguk pada kakak-kakak seperguruannya, lalu berbalik dan bergegas ke arah gerbang. Sejurus kemudian, ia sudah menghilang di balik gerbang.
Tetua suci itu beralih pada murid-murid yang lain, "Yang kukatakan pada temanmu tadi, kalian sudah mendengarnya dengan jelas?" tanyanya.
"Sudah, Tetua Suci!" Murid-murid itu menjawab serempak.
Lalu tetua suci itu melakukan hal yang sama pada semua murid dan murid-murid itu bergegas menyusul Shen Zhu.
__ADS_1
"Yang paling kecil itu sangat berbakat," kata tetua suci pada guru-guru mereka setelah murid-murid itu memasuki gerbang. Pria tua itu melipat lagi kedua tangannya ke belakang. "Tapi… di Aliansi Ksatria, belum pernah ada ksatria yang mendapatkan tunggangan di bawah usia dua puluh tahun. Sangat mustahil untuk mendapatkan monster. Kalian sebagai guru, apakah tidak terlalu ambil risiko? Terlalu terburu-buru ingin berhasil!"
Bao Yu dan rekan-rekannya sesama guru hanya tertunduk.