
Shen Zhu tak ingat berapa lama ia tidak sadarkan diri. Ketika ia tersadar, ia merasakan sesuatu menindih bahunya, dadanya, kakinya dan sebelah tangannya.
Ia menggerakkan jemarinya perlahan, sesuatu yang lembut dan hangat tertaut pada jemarinya.
Perlahan ia membuka matanya dan mendapati dirinya di tempat yang sama sekali asing.
Langit-langit di atas kepalanya terlihat seperti taring yang bertonjolan. Di ujung kakinya terlihat sebuah lubang besar seperti mulut gua.
Tidak salah lagi! pikirnya. Aku memang sedang berada di dalam gua. Tapi di mana?
Ia mengangkat sedikit kepalanya, kemudian tertunduk, memeriksa dirinya dan mendapati tubuhnya bertelanjang dada. Punggung tangan seseorang tertangkup di dadanya. Shen Zhu tergagap dan mengangkat tangannya yang tertaut pada sesuatu. Tangan seseorang lagi. Shen Zhu menyentakkan kepalanya ke samping dan terkesiap. Sesuatu yang menindih bahunya ternyata kepala seseorang.
Seorang gadis dengan pakaian serba ketat berwarna hitam mengkilat.
Shen Zhu terlonjak dan terduduk. Sesuatu yang menindih kakinya juga ternyata kaki gadis itu.
Shen Zhu berteriak dan melompat seraya menepiskan tangan gadis itu.
Gadis itu terperanjat dan terduduk, "Kakak!" pekiknya gembira. "Kau sudah bangun!"
Shen Zhu berdiri terhuyung seraya memegangi kepalanya. "Xiao Mao!" desisnya. Sekilas ia mendengar suara kucing itu dalam kepalanya.
Gadis di depannya beranjak dari tempat tidur yang diukir dari batu seperti altar persembahan di sebuah kuil, kemudian mendekat ke arah Shen Zhu.
Shen Zhu beringsut menjauhinya seraya menatap gadis itu dengan dahi berkerut-kerut. "Kau…" ia akhirnya mengenali gadis itu. Gadis yang ditemuinya di dalam lubang di Rimba Ilahi. "Kenapa kau di sini?"
"Tentu saja untuk menjagamu!" sembur gadis itu dengan raut wajah kesal.
Suara Xiao Mao lagi! pikir Shen Zhu seraya memegangi kepalanya.
"Xiao Mao!" panggilnya seraya mengedar pandang. Mencari-cari keberadaan kucing kecilnya. Tapi seluruh tempat di sekelilingnya terlihat hampa dan aneh.
Kabut tipis mengambang dan sebuah cahaya berwarna-warni berpendar dari suatu sudut dalam gua.
Tempat itu dikelilingi kolam yang menyala seperti aurora dengan dinding batu yang bertonjolan seperti taring raksasa.
Gadis itu memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak.
"Di mana Xiao Mao?" Shen Zhu tergagap-gagap ketika gadis itu mencoba mendekatinya.
__ADS_1
"Masih mau mencari ke mana?" Gadis itu menoyor pelipis Shen Zhu.
"Kau—" Shen Zhu tersentak ketika menyadari suara kucing kecilnya tidak berasal dari kepalanya, tapi keluar dari mulut mungil gadis itu. "Xiao… Mao…?"
Gadis itu mengangguk-angguk dengan tampang kekanak-kanakan seraya menggamit lengan Shen Zhu.
"Mustahil!" Shen Zhu menepiskan kedua tangan gadis itu yang menggamit lengannya.
"Haish!" Gadis itu menginjak punggung kakinya sembari cemberut dan bersedekap.
"AAARRRRGH!" Shen Zhu mengerang dan melompat-lompat dengan satu kaki seraya mengusap-usap punggung kaki satunya.
"Benar-benar tak tahu terima kasih," gerutu gadis itu sambil menudingkan telunjuk ke arah Shen Zhu dengan gaya merajuk. "Aku sudah menyelamatkanmu, merawat dan menjagamu selama sepuluh tahun, kau malah tidak mengenaliku!"
"Sepuluh tahun?" Shen Zhu menaikkan sebelah alisnya.
"Benar, Tuan!" Sebuah suara teduh kebapakan menyela mereka dari mulut gua.
Shen Zhu menoleh ke sumber suara dan mendapati seekor singa berkepala manusia tahu-tahu sudah bertengger di mulut gua.
Monster Dewa Penjaga Harta Karun.
"Bagaimana bisa?" Shen Zhu terperangah.
"Perbedaan waktu antara dunia manusia dan manusia dewa adalah seribu hari," singa berkepala manusia itu memberitahu. "Tuan sudah tertidur selama tiga hari lebih di alam dewa. Perkiraan waktu di dunia manusia sudah berlalu sepuluh tahun."
"Kenapa aku bisa berada di alam dewa?" tanya Shen Zhu tak habis pikir.
"Dewi Lie Ren tak punya pilihan," jawab singa penjaga dua alam itu seraya mengerling ke arah gadis berpakaian serba ketat berwarna hitam mengkilat di samping Shen Zhu.
Shen Zhu mengikuti arah pandangnya dengan ekspresi bingung.
"Aliansi Ksatria segera memburu Tuan seusai Ujian Ksatria," tutur singa itu. "Setiap sekte dikecam dan setiap orang yang dicurigai melindungi Tuan diancam hukuman penjara. Menyembunyikan Tuan di luar sana sangatlah berisiko. Perintah penangkapan Tuan dan penolong Tuan sudah tersebar ke seluruh benua."
"Penolong?" Shen Zhu mengerutkan keningnya semakin dalam.
"Sesaat setelah Tuan tertikam tombak, Dewi Lie Ren melarikan Tuan!" jawab singa penjaga itu.
Tertikam? Shen Zhu tersentak dan mendadak gusar, tiba-tiba teringat sesuatu. "Guru—"
__ADS_1
"Tuan tidak perlu khawatir," sela singa penjaga itu. "Mereka semua baik-baik saja. Guru Tuan pulih sesaat setelah Tuan terluka. Selama Tuan tidak sadarkan diri, Dewi Lie Ren selalu mengawasi situasi Sekte Bao dan Sekte Majus. Dewi juga mengirim banyak utusan untuk melindungi semua orang yang Tuan cintai."
Shen Zhu mengerling ke arah Xiao Mao dengan raut wajah bersalah.
"Tunggu dulu!" Shen Zhu tiba-tiba mengangkat sebelah tangannya. Dewi Lie Ren? pikirnya. Lieren artinya pemburu.
Shen Zhu menoleh ke arah Xiao Mao sekali lagi dan memicingkan matanya. "Kau Dewa Pemburu yang dikatakan Tetua Suci Sekte Darah?"
"Aku lebih suka kau memanggilku Xiao Mao," gumam gadis itu dengan ekspresi manja.
"Kau bukan monster?" tanya Shen Zhu tak yakin.
"Mana ada monster secantik ini?" rengek Xiao Mao seraya menghentak-hentakan kakinya di lantai seperti gadis kecil yang sedang merajuk.
"Mereka bilang kau pusaka dewa," gumam Shen Zhu semakin bingung.
"Setinggi apa pun kekuatan spiritual manusia, tidak satu pun benar-benar sempurna," sela singa penjaga itu bernada menyayangkan.
Shen Zhu mengalihkan pandangannya lagi ke arah singa berkepala manusia itu.
"Sesaat setelah Tuan keluar dari portal, penjaga tanah perjanjian darah itu melihat kemunculan Dewi Lie Ren," cerita singa berkepala manusia itu. "Tapi kekuatan spiritualnya tak cukup untuk menjangkau jarak yang lebih dekat sehingga mereka tak bisa berkomunikasi. Jadi ia hanya bisa menebak-nebak dan menyimpulkan berdasarkan apa yang ia pahami. Tentang pusaka dewa dan tentang kemunculan seorang dewa yang kemudian mereka simpulkan sebagai suatu kesalahan yang mungkin menentang langit."
"Dengan kata lain, mereka mengira aku melarikan binatang peliharaan dewa pemburu dan dewa pemburu akhirnya memburuku?" Shen Zhu menimpali.
"Benar," jawab singa penjaga itu.
Shen Zhu tiba-tiba tergelak.
Singa berkepala manusia itu mendesah dan menggeleng-geleng.
Xiao Mao membeliak sebal.
"Lalu kenapa kau terikat di gua?" tanya Shen Zhu seraya melirik Xiao Mao dengan ekspresi mengejek.
"Dewa Zainan menyegelnya," jelas singa penjaga itu.
"Apa?" Shen Zhu mengerjap dan menyentakkan kepalanya ke samping, melontarkan tatapan tajam pada Xiao Mao.
Gadis itu mengetuk-ngetukkan kedua telunjuknya di depan dada sambil tertunduk dan tersipu-sipu.
__ADS_1
"Memang benar, Dewi Lie Ren adalah pusaka dewa. Binatang peliharaan Dewa Zainan," cerita singa penjaga itu. "Gorgon Permaisuri berusia satu juta tahun!"