Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
107


__ADS_3

"Jangan bunuh aku! Jangan bunuh aku!" ratap pria terakhir dari gerombolan tamu yang tidak diundang itu.


Para guru dan tetua sekte Shu bertukar pandang dengan gelisah.


"Bawa aku ke sekte kalian!" instruksi Shen Zhu pada pria yang tersungkur di bawah kakinya.


"Baik, baik!" Pria itu menarik bangkit tubuhnya dan menuntun jalan dengan lutut gemetar.


Semua orang sekte Shu masih membeku. Tak tahu apa yang harus dilakukan.


Xiao Mao melompat ke punggung Shen Zhu dan menancapkan cakarnya di bahu Shen Zhu untuk menahan tubuhnya.


Shen Zhu meraih kucing itu dan memindahkannya ke pangkuannya, lalu mencengkeram tengkuk pria dari sekte lain itu dengan tangan lainnya, kemudian membawanya terbang melesat secepat kilat.


Orang-orang sekte Shu mendongak menatap udara kosong dengan ekspresi tak berdaya.


Beberapa saat kemudian, Shen Zhu sudah mencapai gunung di mana sebuah sekte yang lebih besar dari sekte Shu berdiri.


Sekte Shenlu!


Sekte pedang aliran Zen.


Murid-murid perguruan Sekte Shenlu itu sedang berlatih ketika Shen Zhu muncul.


Langit di atas kepala mereka mendadak mendung. Awan gelap merayap seperti bayangan raksasa yang datang dari arah gunung di mana Shen Zhu mendarat.


Orang-orang sekte Shenlu membeku serentak dan mendongak dengan mata dan mulut membulat.


Apa yang terjadi? pikir mereka. Kenapa cuaca berubah seketika?


Kilat berkeredap di puncak gunung di mana Shen Zhu bertengger, disusul gelegar halilintar yang membuat semua orang tersentak.


Detik berikutnya, tubuh pria yang menjadi sandera terlempar ke pekarangan, mendarat di tengah-tengah semua orang yang sedang berlatih, kemudian tersentak dan tidak bergerak lagi.


Orang-orang sekte Shenlu serentak terpekik. Suasana berubah gaduh.


"Apa yang terjadi?" teriakan seorang pria menggelegar dari pelataran aula singgasana ketua. Lalu seorang pria paruh baya melangkah keluar pintu.


Shen Zhu melayang turun dari gunung dan mendarat di pekarangan, tepat di depan tangga yang mengarah ke teras aula singgasana ketua. "Kau ketua sekte Shenlu?" tanya Shen Zhu tanpa ekspresi. "Lu Mingse?"


"Benar, kau siapa?" sahut ketua itu dengan arogan.


"Aku ketua sekte Shu," jawab Shen Zhu tetap datar dan tanpa ekspresi. "Aku membunuh klanmu!"

__ADS_1


"Apa?" Lu Mingse memelototi Shen Zhu. "Beraninya kau membunuh klanku!" Lalu menerjang ke arah Shen Zhu.


Shen Zhu melipat sebelah tangannya ke belakang dan membusungkan dada. Seuntai rantai melecut dari balik punggungnya seperti selendang, kemudian mencambuk perut ketua sekte Shenlu.


Semua orang di pekarangan tersentak dan beringsut mundur. Ketua mereka jatuh berlutut dan terseret hingga beberapa meter.


"Ketua!" Dua anggota menghambur ke arah pria itu dan menggamit lengannya di kiri-kanan, kemudian membantunya berdiri.


Murid-murid lainnya serentak menerjang ke arah Shen Zhu.


Rantai Shen Zhu melecut sekali lagi, menyapu semua orang dalam satu kibasan.


DUAAAAARRRR!


"LANCANG!" Suara hardikan menggelegar dari puncak bangunan yang paling tinggi, seorang pria berjubah putih dengan aura ungu melayang diam di atas atap. "Siapa yang berani mengacau?"


"Putra Dewa," jawab Shen Zhu tanpa beban.


"Berani menghujat dewa!" hardik pria berjubah putih itu. Janggutnya yang tak kalah putih melecut-lecut di depan dadanya. Rambutnya yang juga putih berkibar-kibar di belakang tubuhnya bersama jubahnya.


"Turun!" perintah Shen Zhu dengan suara datar seperti menegur anak kecil yang berpura-pura dirinya seorang jagoan.


"Kau—" pria berjubah putih dengan rambut dan janggut tak kalah putih menggeram dan tergagap karena terlalu marah. Kemudian menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya di depan dada dalam sikap kuda-kuda.


Shen Zhu tidak bereaksi.


Tapi semua ilusi pedang itu tiba-tiba berhenti beberapa inci di depan wajah Shen Zhu, membeku dan memudar seperti percikan api membentur dinding es.


Bersamaan dengan itu, sejumlah pria berseragam ninja dengan selubung wajah dan caping bermunculan entah dari mana, kemudian berderet di atas atap setiap bangunan.


Para murid di pekarangan serentak mengepung Shen Zhu.


Shen Zhu mengedar pandang ke atap, kemudian mengerling sekilas ke sekeliling. "Belum terkumpul semua," katanya bernada kecewa.


"Sudah mau mati masih berani berlagak!" hardik Lu Mingse.


"Berisik!" desis Shen Zhu sambil melontarkan tatapan tajam ke arah pria itu dan seketika pria itu menguap menjadi serpihan debu.


"Ketua!" Semua orang berteriak.


"Sangat berisik!" Shen Zhu berdecak dan menoleh ke samping. Semua orang yang ditatapnya juga menguap menjadi debu.


"Bagaimana mungkin?" Pekik kerumunan di sisi lain.

__ADS_1


Shen Zhu menoleh ke arah mereka, dan seketika nasib mereka juga tak ada bedanya. Menguap menjadi serpihan debu.


"Siapa kau sebenarnya?" Teriak salah satu pria di atas atap.


"Aku…" Shen Zhu memalingkan wajahnya dan mendongak. "Adalah aku!" bisiknya bernada tajam.


Semua orang yang berbaris di atap serentak tersentak, hampir melejit karena takut menguap secara tiba-tiba.


Tapi tidak terjadi apa-apa.


Shen Zhu hanya tersenyum miring. "Kalian tak boleh mati semudah itu," ejeknya. Segel ranahku hampir meledak karena terlalu banyak mengeluarkan kekuatan spiritual, katanya dalam hati. Kemudian mengeluarkan rantai petaka dari telapak tangannya.


Para ninja di atas atap itu bergerak bersamaan dalam sikap kuda-kuda seragam. Menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemari mereka di depan dada, kemudian melontarkan cahaya berbeda-beda warna ke satu titik yang sama.


Cahaya putih terang meledak dari gabungan aura mereka, membuat seluruh tempat hanya terlihat putih.


Gabungan elemen! Shen Zhu menyimpulkan. Kemudian menebarkan asap gelap dari telapak tangan satunya.


Bersamaan dengan itu, pria tua berjubah putih membuat formasi sihir dengan kekuatan spiritual yang lebih besar. Seekor naga raksasa berwarna ungu transparan menggeliat keluar dari lingkaran sihir di belakang punggungnya seperti terjangan air laut.


Rantai gelap Shen Zhu menerjang ke arah naga itu dalam bentuk naga raksasa berwarna hitam pekat. Sementara sulur-sulur asap gelap di tangan lainnya menjalar seperti tanaman rambat yang memenuhi seluruh tempat dalam sekejap, membuat seluruh tempat mendadak kering dan gersang.


Angin kencang menggemuruh membetuk pusaran gelap yang menyedot seluruh cahaya putih yang tercipta dari gabungan tujuh elemen para ninja.


Langit di atas kepala mereka berpendar dan berkedip-kedip, hitam dan putih.


Cakrawala dicekam kegelapan gaib yang berdentum-dentum. Kilat berkeredap di kaki langit. Angin kencang bergemuruh seperti badai tsunami.


Membuat semua orang di seluruh tempat mendongak menatap langit dengan kengerian yang tak terkira.


"Apa yang terjadi?" Semua orang bertanya-tanya.


"Kenapa langit menunjukkan fenomena aneh?"


"Pertanda apa ini sebenarnya?"


Sebagian orang menyimpulkan sebagai pertanda munculnya gerhana. Sebagian lagi menyimpulkan bencana dunia segera tiba.


Lalu halilintar menggelegar dan langit kembali terang.


Para ninja sekte Shenlu terserak di sana-sini tanpa cahaya kehidupan.


Pria berjubah putih jatuh terpuruk di pelataran aula singgasana ketua seraya menekuk perutnya. Darah kental menetes di sudut bibirnya. Kulit wajahnya terlihat sama putihnya dengan rambut dan jenggotnya juga jubahnya.

__ADS_1


Detik berikutnya, pria itu mendesah dan jatuh tersungkur. Lalu tidak bergerak lagi.


__ADS_2