
Hari pertama Putaran Ketiga Ujian Ksatria…
"Hari ini, tujuh peserta Jalur Juara akan bergabung dengan kalian," Ketua Aliansi memberi sambutan. "Namun… aku tidak berharap yang terkuat dari peserta jalur reguler adalah yang pertama pergi. Jadi, bertahanlah sedikit lagi. Sudah berjalan sejauh ini, sudah terlambat untuk menyerah. Apakah kalian takut?"
"Tidak!" para peserta jalur reguler menjawab serempak dengan suara lantang.
"Kalau begitu selamat berjuang," Ketua Aliansi menyemangati. "Dengan ini, aku menyatakan, Putaran Ketiga Ujian Ksatria resmi dibuka!"
Arena meledak oleh tepuk tangan spektakuler dan sorakan semangat para hadirin.
Ketua Aliansi berbalik dan kembali ke tempat duduknya, begitu juga dengan semua orang.
"Ini terlalu kejam," gumam Jialin bernada getir. "Peserta Jalur Juara itu rata-rata sudah mencapai ranah galaksi tingkat menengah. Para peserta jalur reguler tak banyak punya peluang. Sebagian besar dari kita akan tersingkir," katanya pada Tiao.
"Jangan terlalu khawatir," sela Bao Yuwen menenangkan. "Lawan kalian bukan salah satu dari mereka."
Baru selesai Bao Yuwen mengatakannya, pemandu acara sudah mengumumkan, "Ksatria Nomor Tujuh-tujuh melawan Ksatria Nomor Lima!"
"Apa?" Jialin dan Bao Yuwen tersentak bersamaan.
Shen Zhu mengerjap dan mengerling ke arah deretan bangku peserta Jalur Juara.
Long Hua Ze balas mengerling sembari menyeringai.
Lalu ketika kedua peserta itu melangkah turun, arena didominasi oleh pekik jerit para wanita.
Para pria mengerling ke arah para wanita yang menjerit-jerit histeris itu dengan sorotan muak.
"Wah! Ternyata kau memang lumayan tampan," komentar Hua Ze bernada mencemooh. "Tapi sedikit terlalu lembut."
"Mulutmu lumayan enteng," Shen Zhu balas mencemooh. "Tampaknya lawan yang enteng!"
Para peserta jalur reguler terperangah mendapati kelancangan Shen Zhu.
"Masih kecil tapi mulutnya sudah lumayan besar!" komentar seorang peserta seraya tersenyum geli.
"Dia memenangkan semua pertarungan," sergah peserta lain. "Bersikap arogan bukan hal yang berlebihan baginya!"
Peserta lainnya lagi membeliak sebal menanggapi mereka.
Hua Ze memegangi kipasnya di depan dada dan melipat sebelah tangannya ke belakang. Lalu tersenyum miring. "Kudengar… kau memenangkan semua pertandingan. Kuharap kau tidak mengecewakanku. Jangan coba-coba menggunakan keterampilan sampah di depanku!"
Shen Zhu balas tersenyum miring, kemudian menarik sebelah tangannya ke samping, menjatuhkan pedangnya dan bersedekap.
Para wanita membekap mulut mereka dengan telapak tangan.
__ADS_1
"Benar-benar arogan," dengus Hua Ze, kemudian menyentakkan kipasnya dan seketika semburan api berwarna merah darah berkobar di ujung kipasnya.
Sejurus kemudian, pemuda tampan berkelas itu sudah melejit memantulkan tubuhnya dan mengayunkan kipasnya dalam gerakan memutar di udara.
SLASH!
SLASH!
Sejumlah belati berapi-api terlepas dari kipas itu dan melesat ke arah Shen Zhu.
Shen Zhu memantulkan tubuhnya ke udara dan memutar dalam gerakan bervariasi seperti tarian.
Semua belati itu melesat melewatinya.
Tapi dalam sekejap, belati-belati itu berhenti dan berbalik serentak, kemudian melesat sekali lagi ke arah Shen Zhu dari arah belakang.
Shen Zhu tersentak dan memutar tubuhnya dalam gerakan salto, tapi pada saat yang sama Hua Ze menerjang ke arahnya dengan sebelah tangan terulur menyemburkan kobaran api yang menyerupai bintang berekor dari telapak tangannya.
Tubuh Shen Zhu berkeredap dan meledak menyemburkan cahaya terang berwarna-warni.
Para penonton menahan napas.
"Lagi!" pekik para juri.
"Tidak salah lagi! Itu memang Teknik Penyatuan Agung!" timpal yang lainnya.
Sejumlah belati yang menyala-nyala itu terlontar ke sekelilingnya membentuk lingkaran yang berputar-putar mengikuti gerak tubuhnya.
Bersamaan dengan itu, serpihan cahaya berwarna-warni dari ledakan tubuh Shen Zhu menyantu dan kembali berkeredap memunculkan sosok utuh Shen Zhu, tepat di tepi roda belati Hua Ze dan hampir tersayat.
Dengan cepat Shen Zhu melentikkan tubuhnya ke belakang dan bersalto untuk kemudian menukik ke bawah, lalu mendarat di lantai dalam posisi berlutut.
Hua Ze tertunduk dan menyeringai, kemudian mengendap turun dengan ringan dan seketika belati-belati di sekelilingnya menukik tajam dan melesat serentak ke arah Shen Zhu.
Shen Zhu menyilangkan kedua tangannya di depan wajah dan semburat cahaya merah transparan berpendar membetuk kubah.
Hua Ze terkekeh sinis, "Kau kira cangkang kura-kura busukmu bisa menghalangiku?" cemoohnya seraya menyentakkan kipasnya lagi.
GRAAAAAKKKK!
Sejumlah belati lagi, melesat ke arah Shen Zhu, kali ini masing-masing belati memiliki rantai.
SLAAAASSSH!
SLAAAASSSH!
__ADS_1
Belati-belati itu menancap di kubah pelindung Shen Zhu.
Hua Ze menarik rantainya yang berpangkal pada kipasnya dan seketika kubah pelindung itu meledak berkeping-keping.
Jyang Ryu tersenyum getir di bangku peserta Jalur Juara. Kalau kau tak mengeluarkan kekuatanmu yang sesungguhnya, kau akan kalah! katanya dalam hati. Ditujukan kepada Shen Zhu.
Sampai sejauh ini peramal tampan itu masih belum bisa mengungkap kuasa yang melatarbelakangi Shen Zhu. Hanya tahu bahwa pemuda itu memiliki pusaka dewa. Tapi tak tahu dewa yang mana, sementara Shen Zhu dengan keras kepala mempertahankan rahasia kekuatannya tetap menjadi misteri.
Bahkan para hadirin termasuk juri dan para pejabat kehormatan, tampaknya belum menyadari pemuda itu memiliki pusaka dewa.
Detik berikutnya, Hua Ze sudah menyeruak secepat kilat seraya mengayunkan tinjunya ke arah Shen Zhu.
Pada saat yang sama, Shen Zhu juga menerjang ke arah Hua Ze dengan tendangan memutar di udara. Sebuah lingkaran hitam berbentuk cakram berpendar dari ayunan kakinya menyapu sekelilingnya.
BLAAAAAASSSSHHHH!
Hua Ze terpental dan tersapu hingga puluhan meter.
Semua orang tersentak dan terkesiap.
"Keterampilan apa itu?" Para juri terpekik bersamaan. Begitu juga dengan semua orang.
Hua Ze mengamati cakram itu dengan dahi berkerut-kerut, berusaha mempelajarinya.
Tidak ada yang tahu cakram itu sebenarnya apa, bahkan Bao Yu.
Bao Yu mengerutkan keningnya seraya mengusap dagu dengan buku jarinya. Energi gelap pekat ini… yang menyelubungi Shen Zhu selama ini, pikirnya.
"Apakah itu pusaka? Atau formasi sihir?" Orang banyak mulai bertanya-tanya.
"Kelihatannya seperti formasi sihir, tapi elemen apa yang berwarna hitam?" gumam para tetua.
"Anak ini memang memiliki banyak sekali rahasia!" desis Kaisar dengan mata terpicing.
Jyang Ryu mengamati lingkaran itu dengan alis bertautan. Sebenarnya dia mewarisi kuasa dewa yang mana? batinnya tak habis pikir.
Cakram itu sekarang berpendar di bawah kaki Shen Zhu dalam radius sepuluh meter seperti lingkaran sihir.
Shen Zhu melayang diam di udara di atas lingkaran itu seraya menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya di depan dada dan wajahnya. Matanya terpejam dalam waktu yang lama.
Dan ketika pemuda itu membuka mata, bola matanya bersinar merah. Lidah-lidah api berpendar di ekor matanya.
Anak ini aneh! pikir Jyang Ryu. Dia mengeluarkan banyak keterampilan dewa tapi tidak mengungkap identitasnya.
Ketua sekte aliran zen tiba-tiba mengerjap. Merasa sedikit familier dengan energi gelap pekat itu.
__ADS_1
Bayang-bayang peristiwa ketika tubuh lemah Shen Zhu terlempar keluar dari Laut Elemen melintas dalam benaknya. Anak itu jatuh tersungkur sambil terbatuk-batuk. Tubuhnya yang basah mengeluarkan asap tipis berwarna gelap. Seperti bara api yang disiram air.
Dia tak pernah ditolak Laut Elemen! Ia menyadari. Gelap pekat adalah warna gabungan tujuh elemen!