
SLAAAASSSH!
SLAAAASSSH!
Sejumlah belati melesat dari kegelapan ke arah para ninja yang diutus Aliansi Ksatria.
"Ada penyergapan!" Pemimpin mereka memberitahu dengan berbisik, lalu saling menginstruksikan dengan bahasa isyarat.
Pengawal bayangan dari klan Liu itu menyelinap ke tempat yang paling gelap tanpa meninggalkan suara seraya melontarkan sejumlah belati lagi.
Dua mata-mata terpuruk dan jatuh tersungkur.
"Sicarii!" Pemimpin mereka menyadari. Lalu bergegas meninggalkan perbatasan wilayah Sekte Bao dan Sekte Majusi itu dengan teleportasi.
Tapi pengawal bayangan klan Liu itu sudah lebih cepat menghadangnya dengan teknik yang sama, kemudian melontarkan empat belati ke empat titik paling mematikan di tubuh pemimpin mata-mata itu.
Pemimpin mata-mata dengan pelat Aliansi Ksatria itu tewas seketika dalam kebisuan.
Pengawal bayangan dari klan Liu itu merenggut pelat Aliansi Ksatria dari ikat pinggang komandan divisi itu dan menggantungnya di ikat pinggangnya sendiri.
Dua ninja melesat keluar dari hutan dan mendarat di belakangnya. "Kapten—" bisik mereka ragu-ragu.
Pengawal bayangan klan Liu itu membeku sesaat, kemudian menoleh ke belakang dengan perlahan.
Kedua ninja dari divisi mata-mata Aliansi Ksatria itu serentak waspada.
Pengawal bayangan itu tak mau ambil risiko, ia menjatuhkan bom asap, kemudian melontarkan sejumlah belati dan menghabisi keduanya. Lalu menghilang di dalam kegelapan dan kepulan asap.
Pada waktu bersamaan, Jyang Ryu baru saja tiba di perbatasan, bersamaan dengan para tetua suci dan beberapa ahli lainnya dari berbagai sekte.
Pengawal bayangan itu menurunkan penutup wajahnya dan berbaur dalam kerumunan untuk mengawasi situasinya.
Proyeksi Dewa Petaka menurunkan seruling dari bibirnya ketika para petinggi sekte tiba, kemudian menoleh ke belakang dan menguap menjadi kepulan asap.
Shen Zhu menarik bangkit tubuhnya dan mencabut pedangnya. Kemudian berdiri menghadap semua orang.
Orang-orang banyak yang berkerumun di lembah mendongak menatap Shen Zhu yang bertengger di puncak salah satu bukit batu yang menjadi pembatas desa. Semua orang bergumam rendah seperti lebah yang sedang gelisah. Tatapan mereka terpaku pada wajah yang tersembunyi di bawah tudung jubah berwarna gelap itu dengan penasaran.
Shen Zhu tetap bergeming. Helai rambut dan tepi jubahnya melecut-lecut diterpa angin yang masih terdengar seperti seruling.
Tak lama kemudian Bao Yu muncul dari balik bukit yang menjadi pembatas wilayah.
__ADS_1
Jyang Yue menyeruak dalam kerumunan dengan panik, mengalihkan perhatian semua orang.
"Tianjin!" jerit Jyang Yue bernada cemas. "Di mana putraku? Ada yang lihat putraku?"
"Aku tak apa-apa!" sahut Tianjin dari depan kerumunan.
Semua mata serentak menoleh ke arah anak itu.
"Syukurlah kau baik-baik saja!" Jyang Yue menyongsongnya dan memeluknya.
"Aku baru saja pemanasan," gerutu Tianjin.
"Anak nakal ini sangat terobsesi dengan pertarungan," kata Jyang Yue pada semua orang.
Beberapa orang memuji Tianjin dan mengatakan anak laki-laki itu telah menyelamatkan mereka, menarik perhatian lebih banyak orang lagi.
Jyang Yue terkekeh gelisah dan mengangguk pada semua orang.
Jyang Ryu melirik kakaknya dengan mata terpicing.
Jyang Yue mengirimkan isyarat melalui lirikan matanya.
Semua mata serentak berpaling pada mereka, begitu juga dengan para tetua dari berbagai sekte.
Ketika semua orang kembali menoleh ke puncak bukit, sosok Shen Zhu sudah menghilang. Begitu juga dengan Xiao Mao, hilang tanpa jejak di dalam kerumunan.
Beberapa saat kemudian, sekelompok petugas dari Aliansi Ksatria datang sebagai pahlawan kesiangan.
"Mohon maaf atas keterlambatan kami!" Pemimpin pasukan ksatria itu memberi hormat tentara pada Bao Yu dan Jyang Ryu.
"Kami juga datang terlambat!" tukas Bao Yu sambil membungkuk memberikan salam soja, diikuti Jyang Ryu di sampingnya.
Para tetua suci dari berbagai aliran bergabung dengan mereka dan kepala desa.
Para penduduk mengerumuni mereka sambil berbisik-bisik.
"Kami tidak mengira akan kedatangan begitu banyak tamu besar di desa kecil kami, mohon maaf atas penyambutan yang tidak layak!" Kepala desa itu membungkuk pada mereka memberikan salam soja, kemudian menggiring semua orang ke Balai Desa.
Beberapa ksatria menyisir seluruh tempat dan menginterogasi semua orang sementara pemimpin pasukan mereka berbincang-bincang dengan para tetua dan kepala desa.
Dua orang ksatria memeriksa puncak bukit di mana Shen Zhu melakukan formasi besar, kemudian menemukan pelat Aliansi Ksatria tergeletak sembarang seolah tidak sengaja dijatuhkan.
__ADS_1
Kedua ksatria itu saling bertukar pandang dengan dahi berkerut-kerut, kemungkinan menyerahkan hasil temuan mereka pada pemimpin mereka.
Bao Yu bertukar pandang dengan Jyang Ryu diam-diam ketika ksatria itu menyerahkan pelat temuannya pada pemimpin mereka sambil berbisik-bisik.
Anak nakal itu belum berubah, batin Bao Yu. Dasar Pengacau!
Sementara itu di luar desa, sebuah kereta kuda melaju pelan di jalan berkerikil menuju kota kecil di kaki gunung Majusi.
"Selanjutnya Tuan mau ke mana?" tanya sang kusir yang tak lain adalah pengawal bayangan dari klan Liu. Pria itu sudah mengganti pakaiannya dengan setelan khas yang biasa dikenakan kusir kereta para bangsawan.
"Ke mana saja aku bisa bertemu dengan Kaisar," jawab penumpang di dalamnya.
Shen Zhu duduk bersandar di dalam kereta sembari mengusap-usap kepala kucing kecil berbulu hitam di dalam pangkuannya. Ia juga sudah mengganti pakaiannya dengan hanfu sutra memukau yang biasa dikenakan para bangsawan. Semua itu mereka dapatkan dari Xie Ma tanpa sepengetahuan semua orang Sekte Majusi.
"Baiklah, kalau begitu kita cari penginapan di kota berikutnya untuk menyusun rencana," kata pengawal itu. "Beberapa hari lagi Ujian Ksatria kembali dibuka. Kaisar takkan melewatkannya!"
"Daftarkan lima pemuda yang kubawa ke Sekte Liu, dua pembunuh level satu, satu pembunuh level dua dan satu pembunuh level tiga, lalu tambahkan Xiao Mao!" perintah Shen Zhu.
"Xiao Mao?" Pengawal itu mengerutkan keningnya, lalu menoleh ke belakang melalui ekor matanya. "Maksud Tuan… Kucing kecil?"
"Benar, kucingku!" jawab Shen Zhu tanpa beban.
"Apa?" Pengawal itu mengerjap dan tergagap. "Tuan sedang bercanda, kan?"
"Kenapa?" Tirai kereta tiba-tiba terkuak, seraut wajah mungil muncul dan memelototi pengawal itu. "Kau meragukan kemampuanku?"
Pengawal itu tersentak dan berteriak. "Sejak kapan kau—"
"Lakukan saja!" Xiao Mao menoyor pelipis pengawal itu sembari menggerutu.
"Ba---baik, baik!" Pengawal itu menjawab terbata-bata. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, kapan tuannya menyelundupkan seorang gadis. Lebih dari itu, kecantikan Xiao Mao membuatnya jauh lebih gugup.
Shen Zhu tersenyum tipis seraya bersedekap.
Xiao Mao duduk di sampingnya dan menggamit lengan pemuda itu dan bergelayut manja.
"Sudah kubilang jauhkan wajahmu saat kau menjadi gadis!" Shen Zhu mendorong pelipis Xiao Mao dengan ujung jarinya untuk menjauhkan wajah gadis itu.
"Kalau begitu aku kembali menjadi kucing saja!" gerutu Xiao Mao bernada merajuk.
Pengawal bayangan mereka mendengarkan dengan dahi berkerut-kerut. Benar-benar kucing? pikirnya masih tak percaya.
__ADS_1