
Shen Zhu memutar kudanya dan melesat ke arah lembah pemakaman bekas desa kelahirannya.
Pusaka yang tidak pernah sampai ke Markas Besar Aliansi Ksatria masih tertinggal di desa kami, Shen Zhu menyimpulkan. Lalu melompat turun dari kudanya dan menghambur ke area pemakaman keluarganya.
Ia memyisir seluruh tempat di mana rumahnya dulu berdiri. Huruf-huruf berwarna emas bermunculan dari permukaan tanah seperti uap, kemudian berderet membentuk rangkaian kata dan kalimat yang berisi informasi mengenai setiap orang yang sudah mati, mengambang di beberapa tempat di atas setiap pusara seperti papan transparan.
Shen Zhu membaca salah satunya dengan raut wajah terluka.
Jiang Mu Cui, generasi kelima Kaisar Jiang. Liu Cui, istri Pangeran Liu Hanzou.
Tulisan berwarna emas itu mengambang di atas salah satu pusara tanpa nama di sudut benteng.
Itu adalah makam ibunya!
Berdampingan dengan makam seorang pelayan yang mengabdi pada keluarganya selama puluhan tahun.
Shen Zhu memutar tubuhnya ke samping, dan mengedar pandang dengan gelisah. Mencari makam ayahnya. Kemudian menemukannya di tengah-tengah diapit sejumlah makam pelayan dan para pengawal yang tidak berasal dari klan Liu. Jauh terpisah dari makam ibunya.
Hati Shen Zhu serasa teriris. Pemakaman massal seperti itu terasa memilukan.
Aku harus membenahinya! tekadnya dalam hati. Lalu membungkuk di atas pusara ayahnya dan mengerutkan dahi.
Liu Hanzou, generasi keempat Kaisar Liu. Putra Mahkota kekaisaran Liuwang. Jenderal Perang dinasti Longshizu.
Putra Mahkota? Shen Zhu membatin getir. Jenderal Perang?
Apa artinya ini?
Lalu ia menoleh ke arah pusara ibunya. "Generasi kelima Kaisar Jiang!" bisiknya. "Generasi keempat Kaisar Liu…"
Sebuah manual terbuka dalam tubuhnya, kemudian muncul di depan wajahnya dalam bentuk buku transparan dengan tulisan berwarna emas.
Dikatakan kekaisaran Jiangnan dan kekaisaran Liuwang adalah dua kekaisaran termasyhur di benua Xuang, berperang selama bertahun-tahun untuk memperebutkan wilayah satu sama lain. Perang berakhir secara damai melalui ikatan pernikahan antara Putri Kaisar Jiang dengan Putra Mahkota kerajaan Liuwang. Jiang Mu Cui dan Liu Hanzou.
Tapi pemberontakan terjadi di hari pernikahan mereka. Kaisar Jiang tewas dalam pertempuran dan pemimpin pemberontak merebut tahtanya, menyandera keluarga Jiang termasuk menantu mereka, Putra Mahkota Liu, untuk ditukar dengan kekaisaran Liuwang.
__ADS_1
Kaisar Liu memilih perang.
Putra Mahkota Liu diberi dua pilihan, memimpin perang untuk melawan kekaisarannya sendiri atau menerima hukuman mati.
Putra Mahkota memilih perang!
Pemimpin pemberontak yang telah resmi menjadi kaisar itu menyandera keluarga Jiang sebagai jaminan.
Liu Hanzou menancapkan pedangnya di perbatasan di tengah-tengah sengitnya pertempuran. Bumi terbelah dan air laut membuncah dari retakan tanah yang dibuatnya, kemudian menenggelamkan kekaisaran Liuwang.
Revolusi itulah yang disebut sebagai Dinasti Longshizi. Masa awal kekuasaan Kaisar Long yang pertama.
Kekaisaran Liuwang terhapus dari sejarah. Lenyap dari muka bumi.
Kaisar Long tak puas dengan hilangnya negara besar itu, tapi kemenangan Liu Hanzou tak bisa dipungkiri.
Dengan terpaksa keluarga Jiang dibebaskan dan Liu Hanzou diangkat sebagai Jenderal Perang kekaisaran Longshizi. Namun di balik pengangkatan itu, Liu Hanzou sebenarnya dituntut untuk merebut wilayah lain yang sama besar dengan kekaisaran Liuwang sebagai ganti rugi.
Setelah Liu Hanzou mewujudkannya, ia pun dihalau dari kekaisaran.
Pada saat itulah Liu Hanzou mendirikan Sekte Liu dan membangun Kuil Zainan, menciptakan Pilar Kedua Dewa Petaka.
Bumi bergetar dan bergemuruh. Angin ribut membuncah dari lingkaran sihir itu, menyapu seluruh lembah.
Shen Zhu berlutut di tengah lingkaran itu dengan kedua tangan bertumpu pada gagang pedangnya. Rambut dan jubahnya melecut-lecut seperti pusaran air terkena amukan badai.
Sebuah formasi sihir tercipta di bawah kakinya, berpusat pada titik di mana pedangnya menancap. Asap gelap mengepul dari beberapa titik lingkaran berpola simbol-simbol kuno, membentuk pusaran gelap di sana-sini.
Sejumlah kepala bertudung gelap menyembul keluar dari dari permukaan tanah melalui lingkaran transparan berwarna emas di bawah kaki Shen Zhu, kemudian berdiri mengelilinginya. Semuanya berjubah gelap dengan tudung kepala. Semuanya membawa sabit bergagang panjang.
Shen Zhu memusatkan konsentrasinya untuk mengendalikan para malaikat jurang maut itu. Lalu dalam waktu singkat, mereka mulai menggali semua makam, memindahkan setiap kerangka berdasarkan posisi dalam keluarga.
Kepala keluarga dimakamkan di tempat paling depan berdampingan dengan makan istrinya, di belakangnya makam anak-anak dan para menantu atau cucu dan cicit, lalu makam tetua keluarga, terakhir para pengawal dan para pelayan. Kemudian menamai semua pusara menurut data masing-masing pribadi berdasarkan kitab kehidupan.
Semuanya dilakukan Shen Zhu hanya dengan berlutut dengan kedua tangan berpegangan pada gagang pedangnya, otaknya yang bekerja keras mengendalikan semua malaikat maut.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, Shen Zhu mendirikan sebuah kuil di puncak salah satu bukit yang masih menjadi bagian wilayah desa itu dari puing bangunan yang tersisa menggunakan kekuatan spiritualnya.
Kuil Zainan!
"Orang pertama yang berdoa pada Dewa Petaka di kuil ini akan kuangkat menjadi Pilar Keempat Dewa Petaka!" Shen Zhu berikrar sebelum beranjak meninggalkan pemakaman.
Sejumlah mata-mata Aliansi Ksatria bermunculan di sudut-sudut tersembunyi, mengendap-endap di balik bongkahan batu di dinding tebing untuk mengintip kegiatan Shen Zhu. Kemudian melaporkannya ke Markas Besar Aliansi Ksatria.
"Sejumlah utusan langit membenahi pemakaman di desa yang dihancurkan," pemimpin mata-mata itu melaporkan.
"Utusan langit?" Ketua Aliansi mengerutkan keningnya. "Membenahi pemakaman?"
"Seperti…" ketua pasukan mata-mata itu berpikir keras sebelum dapat menyimpulkan, "Malaikat kematian!"
"Kenapa langit menurunkan malaikat maut?" Ketua Aliansi mendesis dengan raut wajah tegang. "Apa ini semacam peringatan?"
"Tampaknya tidak," jawab pemimpin pasukan mata-mata itu. Lalu tercenung sesaat dan kembali berpikir keras. Mencoba mencerna sebuah adegan yang terekam dalam benaknya.
Sebelum mereka pergi, pemimpin pasukan itu sempat melihat salah satu malaikat berjubah gelap berlutut di depan malaikat yang berjubah putih, mengulurkan sebatang seruling emas dengan kedua tangannya.
"Mereka datang untuk pusaka Liu," pemimpin pasukan mata-mata itu menambahkan dengan suara tercekat.
"Apa?" Ketua Aliansi tersentak dan berbalik dengan mata terpicing. "Utusan Langit menggali makam untuk mencari pusaka Liu?"
Pemimpin pasukan mata-mata itu membungkuk sekali lagi, "Hanya perkiraan!" Ia mengaku.
Bersamaan dengan itu, utusan lainnya muncul di tengah ruangan, berlutut ke arah Ketua seraya menautkan kedua tangannya di depan wajah. "Kami menemukan lokasi formasi besar di sungai bekas Gunung Zainan yang dihancurkan!"
"Klan Liu!" Ketua Aliansi menggeram seraya memukulkan tinjunya ke permukaan meja. "Bocah Tengik itu sudah menjadi dewa!"
Kedua utusan yang berlutut di tengah ruangan terperanjat bersamaan. Lalu saling melirik dengan raut wajah tegang.
Tak lama kemudian, Ketua Aliansi menyelinap keluar markas dengan menyamar, mengenakan pakaian ninja dengan penutup wajah dan caping. Kemudian mendarat di area pemakaman desa yang dihancurkan.
Pemakaman itu tampak jauh lebih tertata. Setiap pusara memiliki nama, lengkap dengan tahun kelahiran dan tahun kematiannya.
__ADS_1
Sempurna!
Pekerjaan yang hanya bisa dilakukan seorang dewa.