Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
115


__ADS_3

Ada yang rindu para peserta Ujian Ksatria sepuluh tahun lalu?


Ini edisi khusus untuk kalian yang merindukan mereka!


Tjia Qianxi, si wanita perkasa pemilik tinju terkuat dari sekte prajurit aliran tinju sedang berlatih di barak ksatria bersama pria tampan berkepala botak alias alkemis brutal yang tidak mengerti caranya mengolah obat.


Mereka sedang berlomba untuk memperebutkan rekor tinju terkuat dan meledakkan puluhan samsak.


Seorang ksatria wanita dari aliran sihir berkutat di belakang mereka, memperbaiki samsak yang rusak dengan frustrasi.


Shi Tan, ninja katana dari aliran zen sedang bermeditasi di tempat tidurnya ketika suara terompet berbunyi di menara.


Semua kesenangan di Kota Pangkalan serentak terhenti. Semua orang bergerak serentak menyiapkan senjata dan bersiap-siap.


Terompet perang berbunyi menandakan klan iblis datang menyerang.


"Bersiap di posisi masing-masing!" teriakan lantang para kapten divisi menggema di sana-sini.


"Bersiap melawan musuh!"


Qianxi dan Li Qinfeng menghambur meninggalkan ruang latihan dan bergegas ke kamar masing-masing, memasang seragam dan baju zirah, kemudian bergabung dengan pasukan.


Ksatria wanita dari aliran sihir melemas kelelahan akibat terlalu banyak menggunakan energi spiritual untuk memperbaiki samsak yang dihancurkan kedua prajurit brutal itu.


Ketika semua orang bersiap-siap, gadis itu malah bersila dan bermeditasi untuk memulihkan diri.


"Waktunya sudah mendesak!" hardik kaptennya. "Tidak ada waktu untuk berlatih."


"Kekuatan spiritualku terkuras habis," erang gadis penyihir itu hampir menangis.


Tiao dan para murid asrama tujuh yang telah menjadi guru, sedang mengawasi murid mereka di kelas masing-masing di perguruan Sekte Bao ketika sebuah simbol kuno menyala di punggung tangan mereka.


Itu adalah rune perjanjian keanggotaan Aliansi Ksatria. Meski mereka diberi kebebasan untuk memilih berkarir di luar markas, panggilan misi itu tak bisa diabaikan.


Setiap juara tujuh puluh besar Ujian Ksatria yang berkarir di luar Kota Pangkalan terikat kontrak itu dan dituntut untuk selalu memenuhi panggilan sebagai pasukan bantuan, kecuali mereka menjadi ketua sekte atau pejabat kekaisaran.


Long Hua Ze sudah terbebas dari kontrak seperti itu karena sudah menjadi kaisar. Begitu juga dengan Xiawu, kembaran Qianxi dan Jyang Ryu yang sudah menjadi ketua sekte.


Liu Xie Ma yang sudah menjadi Nyonya Besar sekte dan Long Yueyan yang sudah menjadi permaisuri juga sudah terbebas dari kontrak semacam itu.


Sisa orang-orang Sekte Bao yang masih terikat dengan tanggung jawab itu, termasuk Jialin.


Sekte itu mendadak gaduh ketika mereka menerima panggilan misi dan secara mendadak sejumlah guru terpaksa menggantikan mereka.


Setiap kali terompet perang dibunyikan, Sekte Bao adalah yang paling sibuk dalam sepuluh tahun terakhir.

__ADS_1


Genderang perang di perbatasan berdentum-dentum. Lima Pilar Dewa menyala serentak sebagai mercusuar.


Kota Pangkalan terdengar bising dan ribut. Suara-suara teriakan para pemimpin pasukan dan teriakan semangat para ksatria membahana di antara suara-suara berdebuk dan berdentang senjata logam dan perisai.


Monster-monster iblis meringkik dan menggeram tak kalah ribut. Pekik-jerit dan tawa kering mereka terdengar seperti mesin penggiling raksasa.


"Atur formasi!" teriak seorang jenderal di benteng pertahanan. "Lindungi benteng!"


"Isi daya Menara Pertahanan!" instruksi jenderal lain di salah satu menara yang dirancang khusus untuk melontarkan panah raksasa yang membutuhkan kekuatan spiritual gabungan para ksatria.


"Pemanah bersiap!" Instruksi seorang kapten.


Pasukan pemanah yang berderet di sepanjang balkon di dinding benteng meregangkan busur dengan gerakan seragam.


"Pasukan iblis sudah mencapai jangkauan tembakan!" hardik seorang perwira.


"Tembakan meriam!" teriak Jenderal Menara Pertahanan.


BUUUUUM!


BUUUUUUUMMM!


DUAAAAARRRR!


Panah raksasa yang disebut meriam itu meledak menyapu sebagian besar gerombolan monster iblis serigala yang menyeruak ke arah benteng.


SLAAAASSSH!


Ribuan anak panah melesat serempak ke arah gerombolan iblis lainnya di baris kedua.


Di sisi lain, Qianxi dan Li Qinfeng sedang mengamuk di tengah-tengah kepungan iblis bersayap yang berhasil menerobos penjagaan.


"HIAAAAAAAT!" Geraman penuh tekad Qianxi menggelegar mengalahkan teriakan semangat para ksatria laki-laki. "Lebih banyak lagi!" tantangnya. "Ini tak cukup untuk kubunuh!"


Li Qinfeng menggocoh kedua tinjunya tak kalah sengit.


"Ayo bertanding siapa yang membunuh lebih banyak!" Qianxi menantang Qinfeng dengan suara lantang.


"Siapa takut!" sahut Li Qinfeng tak kalah lantang.


Lalu keduanya menerjang bersamaan ke arah gerombolan iblis bersayap yang terbang menukik ke arah mereka.


"Shi Tan! Bantu pertahanan!" teriakan Jyu Jieru menggema di tengah-tengah kepungan iblis bersayap di sisi lain benteng.


Jyu Jieru adalah pemilik jurus Tapak Budha yang melegenda. Pria itu sedang berusaha mengeluarkan jurus andalan itu untuk menghalau gelombang serangan yang paling deras. Tapi ia membutuhkan sedikit waktu untuk memusatkan kekuatan spiritualnya.

__ADS_1


Shi Tan melesat ke arah Jieru dan memantul-mantul di sekelilingnya, menghalau setiap serangan yang datang ke arah Jieru dengan kedua pedang pendeknya.


"Pencipta alam semesta yang kekal, dengarlah panggilanku!" Suara Gouw Anio melenting di langit malam. Gadis Pemanggil itu akhirnya muncul di tengah-tengah geliat pertempuran, melayang diam di atas pusaran angin ribut yang tercipta dari aura sihirnya yang sudah mencapai ranah surgawi.


Sebuah lingkaran sihir tercipta di belakang punggungnya, sebuah gerbang muncul di bawah kakinya dalam pusaran angin.


GROAAAAAAARRR!


Seekor monster raksasa menerjang keluar dari gerbang itu, kemudian melejit melompati dinding dan mendarat di tengah-tengah gerombolan iblis. Lalu mengamuk memangsa setiap monster yang dijangkaunya.


"Gawat!" teriak salah satu perwira bernada gusar. "Klan Reptilian sudah memanjat tembok pertahanan!"


Sejurus kemudian, ratusan monster melata menerjang pasukan pemanah secara serentak.


DUAAAAARRRR!


Para pemanah itu tersapu dalam sekejap dan terlempar ke sana-kemari.


Suasana bertambah kisruh.


"Cepat hentikan mereka!" instruksi seorang jenderal.


"Target mereka adalah Menara Pertahanan!" salah satu perwira memperingatkan.


"Ke mana perginya pasukan bantuan?" teriak Mayor Jenderal Divisi bernada murka.


Liu Tang tersentak di tengah kepungan monster gagak yang sangat agresif. Mendengar pasukan bantuan dikecam, tak elak membuyarkan konsentrasinya.


Liu Tang adalah Jenderal pasukan bantuan, setiap anggota adalah tanggung jawabnya.


Liu Tang mendadak lengah.


Melihat peluang itu, gerombolan monster gagak serempak menyerang Liu Tang.


Tiba-tiba irama tipis seruling mengalun di awang-awang. Waktu mendadak terhenti. Seluruh tempat menjadi beku.


Shen Zhu melayang turun dalam gerak lambat, kemudian mendarat ringan dan menjejakkan ujung kakinya di punggung salah satu monster gagak.


Kedua tangannya memegangi seruling yang menempel di bibirnya. Sulur asap gelap seperti jelaga mengalir keluar dari ujung serulingnya, kemudian menjalar ke seluruh tempat di sekelilingnya dan melilit setiap monster yang membeku beberapa inci dari Liu Tang.


Detik berikutnya, ia melayang turun dari punggung gagak raksasa dan mendarat di belakang Liu Tang seraya menurunkan seruling dari mulutnya.


DUAAAAARRRR!


Semua monster yang terlilit sulur asap gelapnya meledak bersamaan.

__ADS_1


Liu Tang tersentak dan terperangah. "Xiao Zhu! Kenapa kau ada di sini?"


__ADS_2