
Perlu diketahui bahwa dewa petaka adalah pengendali malapetaka. Hukum dan penebusan, anugerah dan kutukan, semuanya berada di satu tangan. Itu sudah seperti mengepal dan merekahkan telapak tangan baginya.
Kekacauan dan kedisiplinan adalah keahliannya.
Jangan coba-coba memprovokasinya!
Ia bisa mendatangkan yang mana saja dalam satu jentikan jari.
Dan Shen Zhu mewarisi anugerah itu.
Mendatangkan masalah padanya sama saja dengan memberinya makanan ringan.
Itulah yang terjadi ketika Jialin mencoba membakar Shen Zhu dengan elemen api yang dimilikinya.
Pertama, Shen Zhu juga memiliki elemen api.
Kedua, meski sama-sama api, tingkatan suhu api juga berbeda-beda. Ada yang bisa membakar kertas, ada yang bisa membakar besi.
Tingkatkan suhu elemen api yang dimiliki Shen Zhu bahkan bisa membakar jiwa.
Mencoba membakarnya, bukankah sama saja dengan menyiramkan air ke lautan?
Sama sekali tak berpengaruh!
Di akhir ledakan itu, semua mata terpana. Terperangah dalam kebisuan yang membingungkan.
Jialin tersuruk dengan tubuh gemetar, menggantung lemas di dada Shen Zhu. Kedua tangannya mencengkram hanfu pemuda itu sambil menyusupkan wajahnya di dada Shen Zhu. Bahunya berguncang sementara ia terisak.
Shen Zhu membeku dengan kedua tangan masih terlipat di belakang tubuhnya. Ia menarik kepalanya ke belakang, menjauhkan wajahnya sedikit. Tatapannya terpaku pada Jialin. Sebelah alisnya terangkat tinggi. Sedikit mengernyit atau meringis. Mungkin juga kedua-duanya.
Orang-orang mengerjap dan mengerutkan dahi. Tak yakin dengan apa yang dilihatnya.
Tiao tergagap dengan mata dan mulut membulat sementara tubuhnya masih terlantar di tanah dalam posisi setengah duduk setengah terlentang, mendongak dengan kedua sikut menopang punggungnya.
Tianba menatap nanar pemandangan itu dari tengah kerumunan, melewati bahu semua orang. Terjebak dalam lara yang membingungkan. Meratapi kepahitan janggal yang menggelayut di lehernya, menelan kesesakan misterius yang menusuk dadanya, menyesali keputusasaan gaib yang tertinggal di balik punggungnya.
Baru sekali ini Tianba melihat Jialin begitu rapuh. Baru sekali ini dia melihat gadis terangkuh yang pernah dikenalnya menyerah dengan begitu pasrah, menggelayut di dada seorang musuh.
__ADS_1
Kepahitan menyergap Tianba.
Tiba-tiba saja ia merasa dunianya ditunggang-balikkan.
Tapi ia bahkan tak tahu kenapa ia begitu merana. Seperti mau mati rasanya!
Seluruh tubuhnya gemetar karena geram. Pakaian armornya terasa membebani bahunya. Kakinya lemas seperti kertas. Kepalanya berdenyut-denyut.
Jialin menyusupkan wajahnya semakin dalam ke dada Shen Zhu, "Kenapa?" desisnya terisak-isak. "Kenapa kau melakukannya?"
Shen Zhu menelan ludah dan tergagap.
"Aku tahu selain Paman Yu, keluargaku tak pernah baik padamu," Jialin mendesis lirih. "Aku selalu membencimu. Aku selalu mengganggumu. Dan aku harus kehilangan ibuku untuk selamanya? Apakah ini sesuai?"
Para tetua serentak tertunduk. Sebagian bertukar pandang dengan gelisah.
"Aku membalas kebencian dengan kebencian," tukas Shen Zhu bernada sarkas. Rahangnya mengetat ketika ia bicara. Suaranya mendesis tajam menusuk sanubari. "Kau membenciku, kubalas kau dengan kebencian. Setiap perundungan yang pernah kalian lakukan padaku, semuanya sudah kuperhitungkan dan akan kubalas satu per satu. Semuanya akan datang pada waktunya. Kalian hanya perlu menunggunya!" bisiknya bernada ancaman.
Para tetua terkesiap mendengar penuturannya. Meski hanya berupa bisikan, nada tajam Shen Zhu memperjelas intonasinya hingga terdengar oleh semua orang.
"Tapi ibumu," Shen Zhu menambahkan. "Tak hanya merancang pembunuhan untukku, dia bahkan menggadaikan hukum langit untuk mempersulitku. Dan aku menebusnya dengan hukum langit!"
Jialin langsung terdiam. Tergagap dan memucat. Merencanakan pembunuhan? pikirnya tak yakin. Menggadaikan hukum langit?
Tiba-tiba ia tersentak dan menarik wajahnya menjauh dari dada Shen Zhu, lalu mendongak menatap wajah pemuda itu dengan mata dan mulut membulat. Kedua tangannya masih mencengkeram dada hanfu pemuda itu. "Mustahil!" desisnya terbata-bata. Kelopak matanya bergetar. Bola matanya bergerak-gerak gelisah. "Ibuku memang tak pernah menyukaimu. Tapi tak sampai ingin membunuhmu. Kau hanya seorang bocah tengik di matanya!"
"Maka dia nenek sihir di mataku!" sergah Shen Zhu bernada ketus.
"Kau—" Jialin tergagap.
Shen Zhu mengatupkan mulutnya dengan raut wajah ketus. Alisnya bertautan memperlihatkan ketidaksukaan.
Jialin merasa sedikit takjub melihat perubahannya. Tapi sekaligus ngeri. "Apa kau benar-benar Liu Shen Zhu?" tanyanya sangsi.
"Menurutmu?" Shen Zhu balas bertanya dengan ekspresi semakin ketus.
Dia benar-benar berbeda! batin Jialin. Ia menatap ke dalam mata Shen Zhu.
__ADS_1
Pemuda itu balas menatapnya dengan sorot dominan yang bisa membuat semua wanita tertunduk.
Dia belum pernah mengangkat wajahnya selama ini, pikir Jialin. Dia belum pernah benar-benar menatapku. Begitu pun sebaliknya.
"Apa kau sudah bisa berdiri?" Pertanyaan ketus Shen Zhu menyentakkan Jialin. Mata pemuda itu bergulir ke bawah, ke dadanya.
Pada saat itulah Jialin menyadari kedua tangannya masih mencengkeram pakaian Shen Zhu sementara semua orang sedang menatap mereka.
Jialin menarik tangannya cepat-cepat dan tertunduk. Ia bisa merasakan darah mengaliri wajahnya dan membakarnya. Jialin kalang-kabut, tentu saja. Lalu berbalik dan berlari menjauh sambil membekap mulutnya dengan jemari tangannya.
Semua mata bergulir mengikuti gerakannya.
Jialin bisa merasakan tatapan mereka membakar punggungnya ketika ia berlari menjauh dari kerumunan, dan merasa dirinya seperti perempuan nakal yang kedapatan sedang merayu suami orang dan dilabrak oleh istrinya.
Jialin berharap bumi terbelah dan menelannya sekarang juga. Lebih berharap lagi bumi terbelah dan menelan semua orang di Sekte Bao kecuali dirinya.
Ia belum pernah merasa semalu ini dalam hidupnya.
Tianba mengerjap dan menelan ludah, memandangi punggung Jialin dengan ekspresi terluka. Lalu tertunduk dan tercenung. Ia mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya dan menghela napas dalam-dalam, kemudian mengerling ke arah Shen Zhu seraya mengetatkan rahangnya.
Shen Zhu berbalik dan membungkuk di atas kepala Tiao seraya mengulurkan sebelah tangannya ke arah pemuda itu. "Kakak! Kau baik-baik saja?"
Tiao mengerjap dan menggeleng. "Aku tak apa-apa!" jawabnya cepat-cepat, kemudian menyambut uluran tangan Shen Zhu dan menghela bangkit tubuhnya.
Bao Yu berbalik ke dalam asrama diikuti murid-muridnya. Shen Zhu mengekor di belakang mereka, menuntun Tiao ke dalam asrama, yang secara otomatis membuat kerumunan mulai memudar.
Tianba sudah menghilang dari tempatnya tanpa satu pun menyadarinya, baik ketika ia masih berada dalam kerumunan, hingga menghilang entah ke mana.
Sementara itu, Jialin sudah mencapai pintu masuk kediaman keluarganya yang megah, berlari melewati semua penjaga dan mengabaikan ayahnya yang juga mengabaikannya, mengabaikan semua orang. Tumit sepatunya mengetuk-ngetuk lantai dan membahana di sepanjang koridor dalam ruangan besar dengan kubah tinggi menjulang.
Tanpa mengurangi kecepatan langkahnya, Jialin menyelinap ke dalam kamarnya, menutup pintu dan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Lalu bergelung memeluk dirinya sendiri.
Memalukan! batinnya mengutuk diri.
Ini tak mungkin terjadi, pikirnya. Tidak pada diriku. Tidak pada Bao Jialin. Bagaimanapun aku adalah putri seorang ketua sekte.
Aku pasti sudah gila! ratapnya dalam hati.
__ADS_1
Ini adalah hal paling gila yang pernah kurasakan seumur hidupku. Seolah-olah seorang wanita nakal telah mengambil alih tubuhku.