
"Guru, apa yang membuatmu datang?" Lim Hua bertanya sambil menghampiri gurunya dengan tergopoh-gopoh.
"Laporan!" jawab Bao Yu. "Seorang pengawal pulang dalam keadaan sekarat dan mengabarkan bahwa kalian diserang."
Para remaja itu menahan napas.
Tianba langsung tertunduk.
Shen Zhu mengerling padanya diam-diam. Ternyata memang dia! katanya dalam hati.
Bao Yu mengikuti lirikan matanya, kemudian mengayunkan kipasnya lagi dan seketika tali rami yang mengikat tubuh Tianba terputus.
Tianba menarik bangkit tubuhnya dan membungkuk ke arah Bao Yu dengan kikuk, "Terima kasih, Paman Guru Yu!"
Shen Zhu masih membeku di tempatnya, tidak ikut-ikutan menyerbu gurunya seperti yang lain.
"Sudah jauh-jauh datang ke sini, kau bahkan tak menyapaku?" gerutu Bao Yu sambil melotot pada Shen Zhu.
Shen Zhu terkekeh dan mengusap bagian belakang kepalanya. Lalu membungkuk ke arah gurunya memberikan salam soja. "Senang, Guru sudah datang!"
"Senang melihat kalian semua selamat!" Bao Yu menyentakkan kipasnya dan menutupnya. Lalu berbalik dan menyilangkan kedua tangannya ke belakang. "Ayo kita pulang!" katanya. Kemudian memimpin jalan.
Tak lama kemudian, sejumlah pengawal datang menyongsong mereka dan melepaskan kuda yang ditambatkan.
Sejumlah pengawal lain menunggu mereka di kaki bukit di atas kudanya masing-masing.
"Beruntung sekali ada pengawal yang masih hidup," gumam Shen Zhu setelah mereka berada di dalam kereta bersama gurunya.
Tiao dan Jialin kembali berada di kereta terpisah dalam pengawalan ekslusif.
Zhen Juan dan Zhang Junda berada dalam satu kereta bersama Tianba dan Jiangwu.
"Beruntung?" Bao Yu mengerling ke arah Shen Zhu. "Aku tak yakin itu adalah keberuntungan!" sindirnya.
Lim Hua spontan bertukar pandang dengan Lian Ze.
"Waktu itu—" Lim Hua tergagap teringat sesuatu.
Saat para Sicarii itu sudah berhasil dilumpuhkan, mereka sempat memeriksa para pengawal dan kusir mereka bersama Shen Zhu sebelum melanjutkan perjalanan.
Shen Zhu merenggut satu tubuh pada bahunya, tubuh pertama yang terpegang, berusaha membalikkannya.
Lim Hua bisa mendengar pria itu mendesah.
__ADS_1
Pengawal itu menarik tangan Shen Zhu dengan gemetar, terasa lengket dan basah dan sebenarnya sudah berlumuran darah. Di balik jubah pria itu, yang segera dibuka Shen Zhu dengan cara merobeknya, Shen Zhu merasakan sesuatu yang lembut dan hangat. Ususnya terburai keluar dari luka di perutnya.
Pada saat itulah Lim Hua melihat Shen Zhu mencabut belati di perut pengawal itu dan menyayat telapak tangannya sendiri, kemudian menekankan telapak tangannya di atas perut pengawal yang terkoyak itu.
Lim Hua melirik ke arah Shen Zhu.
Shen Zhu kembali terkekeh sambil mengusap bagian belakang kepalanya.
Bao Yu hanya tersenyum samar sambil menggeleng-geleng.
"Pengawal itu…" Lim Hua menjilat bibir bawahnya dan menelan ludah, tiba-tiba tak tahan membayangkan kondisi terakhir pengawal itu. "Bagaimana keadaannya?"
"Tak jadi mati!" jawab Bao Yu sekenanya.
Lim Hua dan Lian Ze serentak terperangah. Lalu kembali menatap Shen Zhu.
"Pengawal itu sudah menceritakan semuanya," Bao Yu memberitahu. "Kau sedang dalam masalah besar!" katanya pada Shen Zhu.
Shen Zhu langsung tertunduk. "Tak ada yang bisa dilakukan," bisiknya tak berdaya.
"Aku tidak menyalahkanmu," Bao Yu menenangkan Shen Zhu. "Tapi aku juga tak bisa menyalahkan pengawal itu. Bagaimanapun pulih mendadak dari kondisi sekarat adalah pengalaman yang luar biasa. Sekarang semua orang sudah menunggu untuk mengorek rahasiamu. Kuharap kau punya jawaban yang bagus untuk menghadapi sidang darurat!"
"Sidang darurat?" Ketiga remaja itu terpekik bersamaan.
"Guru benar," kata Shen Zhu sambil mengusap bagian belakang kepalanya lagi. "Ini masalah besar!"
Lim Hua dan Lian Ze menatap mereka dengan raut wajah penasaran. Tapi tidak satu pun berani bertanya.
Begitu mereka tiba di perguruan, penyambutannya di luar dugaan.
Semua orang sudah menunggu di pekarangan. Ketua dan Nyonya Ketua, para guru dan para tetua, hingga tetua yang tidak pernah menampakkan diri di perguruan.
Jialin mengedar pandang dengan terkejut. "Apa yang terjadi?" gumamnya. "Kenapa para tetua suci turun gunung semua?"
Tianba juga tercengang di kereta lainnya.
Shen Zhu menghela napas panjang dan mencoba menenangkan diri sebelum melangkah turun dari kereta.
Para finalis Sepuluh Besar itu langsung digiring ke aula singgasana ketua. Kesepuluh remaja itu serentak menegang.
Nyonya Ketua menatap Tianba dengan mata berkilat-kilat penuh ancaman. Lalu menatap Shen Zhu dengan sorot penuh kebencian.
"Perlihatkan hasil perburuan kalian!" perintah Bao Hu dengan ekspresi datar.
__ADS_1
Tiao melirik sekilas ke arah Shen Zhu, yang kemudian dibalas anggukan singkat. Lalu ia mengeluarkan semua kristal dari cincin penyimpanannya, diikuti Lim Hua dan yang lainnya.
Jialin dan Jiangwu juga mengeluarkan kristal mereka.
Seisi ruangan terkesiap melihat panen besar mereka.
Tianba tertunduk dengan ekspresi gugup. Kristalnya telah dirampok dan ia lupa, tak mengambilnya lagi.
"Misi perburuan kali ini membuat mataku benar-benar terbuka!" komentar salah satu tetua.
"Apa kalian mendapatkan kristal itu sendiri-sendiri?" tanya tetua lainnya.
Tiao membungkuk dengan kedua tangan tertaut di depan wajahnya. "Sebagian besar didapat oleh Adik Zhu," katanya berterus terang. "Tapi karena dia memiliki elemen api, aku yang menyimpannya!"
Semua mata dalam ruangan tertuju pada Shen Zhu.
Shen Zhu membungkuk dengan sopan. "Beberapa mereka dapatkan sendiri," ia menambahkan. "Terutama yang elemennya sesuai dengan mereka."
"Apa?" para guru terpekik bersamaan. "Kalian sudah mengerti inti dari misi ini?"
Shen Zhu mengerling ke arah gurunya secara diam-diam.
Bao Yu memalingkan wajahnya sambil menutup mulutnya dengan kepalan tangan.
Bao Hu menggerakkan sebelah tangannya dan seketika dua pelayan wanita melangkah ke tengah ruangan membawa nampan kosong.
Para remaja itu melayangkan semua hasil panen mereka ke atas nampan.
Lalu kedua pelayan itu bergegas meninggalkan ruangan.
"Para tetua akan menilai hasil perburuan kalian. Hasil perhitungan poin akan diumumkan besok. Untuk sementara waktu, kalian beristirahatlah dulu!" instruksi Ketua. "Kecuali Shen Zhu!" ia menambahkan.
Para finalis itu serentak menoleh ke arah Shen Zhu.
Shen Zhu mengangguk pada mereka, mencoba meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Lalu para finalis itu meninggalkan aula, sementara Shen Zhu tetap tinggal. Beberapa guru menggiring mereka keluar.
Bao Yu tetap tinggal dan mengisyaratkan pada murid-muridnya untuk mengerti situasinya.
Murid-muridnya mematuhi isyarat itu dalam diam.
Tak lama setelah murid-murid itu dihalau keluar, pengawal yang selamat itu memasuki ruangan dengan diapit dua algojo.
__ADS_1
Shen Zhu menatap pria itu dengan syok. Apa mereka memenjarakan seseorang hanya karena dia tak jadi mati? batinnya tak habis pikir.