Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
45


__ADS_3

"Perolehan poin misi perburuan sepuluh teratas kali ini sungguh di luar dugaan," Tetua Yun akhirnya mengumumkan hasil perhitungan poin para peserta di aula perguruan seusai ritual pembangkitan ilahi. "Ini merupakan rekor tertinggi dalam sejarah Sekte Bao, mungkin juga dalam sejarah Aliansi Ksatria. Dua ratus ribu poin lebih, setara dengan dua juta Yuan!"


Aula menggelegar oleh tepuk tangan dan sorakan spektakuler.


"Ditambah sembilan ratus sembilan puluh sembilan poin yang tidak diserahkan," Tetua Yun menambahkan. "Total perolehan poin dua ratus sembilan puluh sembilan. Dan kami menganggap nilai Kristal Naga Bulan Darah seribu poin. Meski peserta tidak menyerahkannya untuk dihitung sebagai poin, tapi karena kristal itu diberikan secara percuma pada Tetua Suci Pertama, kami akan menghitungnya sebagai poin! Jadi total hadiah untuk peserta adalah tiga juta Yuan."


Tepuk tangan kembali menggelegar.


"Berikutnya, kami akan menyerahkan hadiah ini pada juara satu," Tetua Yun melanjutkan. "Mengenai bagaimana pembagian hadiah, itu tergantung pada kesepakatan kalian sendiri."


Tiao mengangguk ke arah Shen Zhu untuk mempercayakan pengambilan hadiah itu, begitu juga dengan ketujuh orang lainnya. Jialin hanya terdiam, tidak berani mengangkat wajah untuk menatap Shen Zhu.


Shen Zhu melangkah ke tengah aula dan seorang pelayan wanita menghampirinya dengan membawa nampan berisi pelat yang khusus untuk menyimpan dan mentransfer uang, semacam ruang dimensi penyimpanan yang bisa saling mengisi antar sesama ruang dimensi sejenis. Seperti kartu kredit di zaman modern.


Sebut saja… Kartu Transaksi!


"Aku tahu, kalian memiliki sedikit konflik pribadi," tutur Tetua Yun setelah Shen Zhu kembali ke tempatnya.


Jialin dan Shen Zhu langsung tertunduk.


"Tapi anak muda harus bisa berpikiran terbuka," nasihat Tetua Yun. "Ke depannya, mungkin kalian perlu bertarung bersama, terutama dalam Ujian Ksatria nanti. Menambah satu teman lebih baik daripada menambah musuh. Jadi… aku berharap kalian bisa mengenyampingkan dendam pribadi dan bersatu."


Murid-murid Asrama Tujuh bertukar pandang dengan Jiangwu dan saling mengangguk.


"Misi kalian selanjutnya adalah mencari Tunggangan Ksatria," Tetua Yun melanjutkan. "Kali ini bergantung pada takdir kalian masing-masing. Di sini kalian tak boleh saling membantu maupun saling menyerang. Selain dengan monster, kalian tak bisa menjalin komunikasi. Sekarang beristirahatlah! Besok pagi kalian berangkat ke Tanah Perjanjian Darah."


Satu per satu semua orang mulai beranjak dari aula.


Para peserta berkerumun.


"Poin akan dibagi rata," kata Shen Zhu.


"Tidak! Aku tak bisa menerimanya!" tolak Jiangwu sungkan. "Bagaimanapun aku tak banyak membantu. Adik Zhu yang paling banyak menaklukkan monster. Kukira… semuanya pasti setuju kalau kau menerima lebih banyak!"


"Benar!" Yang lainnya menimpali.

__ADS_1


"Kita satu tim. Tanggung jawab dan hak kita sama," tukas Shen Zhu.


"Adik! Aku juga tak bisa menerimanya!" sergah Tiao.


"Baik!" tantang Shen Zhu seraya tersenyum jahil. "Kalau begitu tiga juta Yuan untukku saja!"


"Apa—" para peserta itu serentak tergagap. Bahkan Jialin.


Shen Zhu menghambur keluar aula sambil cengengesan, pura-pura kabur.


Aksi kejar-kejaran pun mulai terjadi, yang lama kelamaan mulai berubah menjadi pertarungan satu lawan sembilan. Tanpa sadar jadi latihan.


Sejak Shen Zhu terbangun dari tidur panjangnya yang misterius, keisengan seperti itu sudah hampir menjadi kebiasaan di Asrama Tujuh, di mana Shen Zhu kerap memprovokasi kakak-kakak seperguruannya untuk bertarung dengan cara usil.


Entah itu dengan menaruh kayu bakar atau ember air dengan serampangan secara sengaja hingga menggencet punggung kaki kakak seperguruannya, atau pura-pura menyenggol mereka saat sedang bekerja, apa saja yang memancing keributan yang berakhir dengan aksi kejar-kejaran dan saling baku-hantam.


Tak disangka cara itu ternyata lebih efektif untuk melatih refleks dan pastinya lebih menyenangkan karena terasa seperti bermain-main.


Bahkan Bao Yu sampai terinspirasi untuk menjadikan keisengan itu sebagai metode pelatihan baru.


Bao Yu dan para tetua memperhatikan mereka dari beranda aula sambil bersedekap. Menilai dan mendiskusikan kemampuan masing-masing peserta.


"Aku tidak menyangka hampir semua dari mereka terlahir dengan kekuatan spiritual penuh," komentar Tetua Yun.


SLASH!


SLASH!


Ledakan-ledakan cahaya berpendar di pekarangan depan aula.


Pertarungan satu lawan sembilan di pekarangan itu berlangsung semakin sengit sekaligus jenaka. Mereka saling baku-hantam sambil tertawa-tawa.


Para penonton menyemangati Shen Zhu sambil bertepuk tangan dan melompat-lompat. Beberapa orang sampai mengacung-acungkan tinju ke udara. Beberapa hanya tergelak dan terbahak-bahak.


Raut wajah Jialin mulai mencair dan lebih bersemangat.

__ADS_1


Cara berlatih seperti ini… ternyata lumayan menyenangkan! pikir Jiangwu yang juga terbiasa dengan agenda pelatihan ketat.


Sifat jahil Shen Zhu yang lama terpendam akibat sumbatan misterius dalam tubuhnya ternyata berpengaruh cukup besar terhadap sekian banyak orang. Perubahannya ternyata juga mengubah dunia di sekitarnya.


Terutama setelah Tianba pergi, hubungan sesama murid antara satu sama lain sekarang menjadi lebih terbuka tanpa pandang bulu. Tidak ada lagi jurang pemisah antara asrama satu dengan asrama lainnya. Semua murid dari tiap asrama seakan tidak ada bedanya. Akhir-akhir ini mereka semua lebih sering terlihat latihan bersama di lapangan ketimbang hanya berlatih sendiri-sendiri di pekarangan asrama mereka masing-masing.


Tidak ada lagi aksi tindas-menindas antar asrama.


Tidak ada lagi senioritas!


Yah, tapi jadinya suasana di perguruan seperti taman kanak-kanak sekarang.


Shen Zhu semakin terkenal sebagai Si Bocah Tengik Pengacau Tingkat Langit.


"Aku masih penasaran berapa kira-kira kekuatan spiritual bawaan Liu Shen Zhu," gumam tetua lainnya. "Sayang sekali dia sudah mencapai ranah galaksi. Kalau melakukan ritual pembangkitan ilahi padanya, takutnya malah akan menurunkan level kekuatannya kalau kekuatan spiritual bawaannya ternyata kurang dari seratus."


"Bisa menaklukkan monster berusia sembilan ratus tahun… kurasa level kekuatannya sudah meningkat lagi!" timpal tetua lainnya lagi.


"Kuharap dia mendapatkan tunggangan yang bagus!" Tetua Yun mendesah pendek. "Belum pernah ada ksatria yang mendapatkan tunggangan di bawah dua puluh tahun."


Bao Yu langsung terdiam.


Pertarungan satu lawan sembilan itu berakhir dengan semua orang tertawa terengah-engah sambil membungkuk menekuk perutnya masing-masing. Lalu ambruk bersama di pekarangan, menjatuhkan diri di rerumputan sambil meredakan napas.


Keesokan harinya, lima orang guru dengan tunggangan terbaik diutus untuk mengantar mereka ke Tanah Perjanjian Darah dengan masing-masing membawa dua murid di atas tunggangan mereka.


"Whoaaaaa…!" Murid-murid perguruan serempak berseru takjub ketika kelima guru itu memanggil tunggangan mereka.


Ratu Unicorn adalah tunggangan paling memukau milik guru Asrama Satu Putri, guru Jialin. Ukurannya sebesar gajah. Bulunya putih menyala dengan kaki dan tanduk berwarna emas. Sayapnya berbulu biru. Sebuah mahkota emas melingkar pada tanduk di puncak kepalanya. Jialin dan Jiangwu berangkat dengan tunggangan itu bersama guru Jialin.


Shen Zhu dan Tiao berangkat dengan tunggangan milik Bao Yu. Seekor merak raksasa yang tak kalah besar dari Ratu Unicorn.


Namanya Merak Galaksi.


Sesuai dengan namanya, bulu merak itu bercahaya dan berwarna-warni seperti galaksi. Bentuk ekornya sama persis dengan kipas milik Bao Yu. Penuh warna, penuh cahaya namun mematikan, seakan menggambarkan kepribadian pemiliknya.

__ADS_1


Dikatakan Merak Galaksi bisa menyapu dan meratakan sebuah gunung saat merentangkan ekornya seperti ketika Bao Yu mengibaskan kipasnya. Benar-benar mewakili kepribadian Bao Yu.


__ADS_2