
Sidang darurat itu berakhir dramatis ketika Jianyin akhirnya diseret dua algojo berbadan besar untuk diamankan sementara di ruang tahanan.
Mula-mula perempuan itu menjerit histeris dan menangis untuk menarik simpati suaminya. Lalu meratap dan memohon-mohon belas kasihan para tetua.
Tidak satu pun menggubrisnya.
Menentang langit tetaplah menentang langit!
Begitulah prinsip para petinggi sekte aliran putih. Bahkan ketua tidak berdaya.
Tak peduli siapa pelakunya, menentang langit harus ditindak sesuai hukum langit.
Sayangnya, menurut hukum langit, menggunakan aroma terlarang yang mengundang kejahatan dianggap melakukan ritual pemanggilan iblis. Dan itu sama artinya dengan bersekutu dengan iblis.
Hukuman untuk sekutu iblis adalah diserahkan pada iblis untuk diperbudak selama-lamanya.
Jadi, para tetua memutuskan untuk mengirim Jianyin ke reruntuhan kuno leluhur sekte dan meninggalkannya di sana dalam keadaan terikat dengan tanda di dahinya yang menyatakan bahwa ia adalah milik iblis.
Menyadari dirinya tak tertolong lagi, Jianyin berteriak murka mengutuk Shen Zhu dan mengancamnya, "Rasa maluku hari ini, akan kubalas berlipat ganda!"
Shen Zhu menanggapinya dengan seringai iblis. Memangnya siapa di sini yang titisan Dewa Petaka? batinnya tak kalah iblis.
Bao Yu memperhatikan Shen Zhu secara diam-diam. Kemudian tersenyum sedih. Yang penting dia masih muridku, batinnya getir. Sedikit ngeri dengan perubahan Shen Zhu.
Jianyin merasa tersengat melihat senyuman Shen Zhu. Ia menyentakkan tangannya dari cengkeraman para algojo, memberontak sekuat tenaga untuk menerkam pemuda itu. "Bocah tengik ini dipenuhi tipu daya!" jeritnya sambil meronta-ronta. "Dia menjebakku!"
Ketua sekte terpuruk di singgasananya dengan raut wajah terguncang. Tidak bereaksi ketika istrinya meneriakinya, "Suamiku! Suamiku!"
Para algojo menghela Jianyin dengan sentakan keras yang membuat wanita itu semakin histeris.
Satu per satu para tetua dan guru-guru mulai beranjak dari tempatnya masing-masing, ketika sang ketua bergegas keluar aula dengan langkah-langkah limbung.
Bao Yu menghampiri Shen Zhu diikuti ketiga tetua suci.
"Anak Muda!" Tetua Suci Bao Fu menyentuh sebelah bahu Shen Zhu. "Terima kasih sudah membuat waktuku tak sia-sia," ungkapnya dengan santun.
Shen Zhu membungkuk pada mereka, "Bagaimanapun para tetua suci sudah turun gunung," katanya. "Mesti ada perkara langit yang harus diurus," timpalnya menjengkelkan.
Para tetua suci itu terkekeh dan menggeleng-geleng. Tentu saja para tetua suci itu mengerti maksud sindiran Shen Zhu.
Pengaduan Jianyin telah membuat mereka terpaksa turun gunung, tapi lalu Jianyin membuat kehadiran mereka menjadi sia-sia ketika terbukti pengaduannya bukan perkara langit. Sesuatu yang tidak layak mereka tangani.
Jadi Shen Zhu membuat perkara Jianyin menjadi layak untuk ditangani tetua suci.
__ADS_1
Diam-diam Bao Yu memijat-mijat pelipisnya sendiri sambil mengerang dalam hatinya. Bocah Tengik ini ternyata punya mulut lumayan besar, batinnya. Di samping otak besar dengan kepala tak kalah besar!
Guru Yu pasti lupa pesan paman Spiderman!
"Seiring kekuatan besar, datang tanggung jawab yang besar!"
Di dalam jiwa yang besar, tertanam hati yang besar.
Orang-orang besar bertemu orang-orang besar membicarakan rencana besar.
Orang-orang kecil bicara besar untuk mengecilkan orang lain dan membesarkan hatinya sendiri.
Orang-orang besar menyelesaikan masalah besar dengan memperhitungkan masalah-masalah kecil.
Orang-orang kecil membesar-besarkan masalah kecil untuk memperbesar masalah sendiri.
Lho kok jadi bicara yang besar-besar?!
Forget it!
Biarkan orang-orang besar melakukan hal-hal besar.
Tugas kita?
HAHAHAHA…
Kembali ke cerita!
Sampai di mana tadi?
Ah, ya!
Guru Yu!
"Anak Nakal!" Guru Yu mengeplak kepala Shen Zhu saat mereka dalam perjalanan menuju asrama. "Kau membuatku terkena serangan jantung hari ini," katanya menggerutu. "Aku bisa cepat tua kalau kau begini lagi!"
"Kalau begitu carilah istri secepatnya!" sahut Shen Zhu seenak perutnya.
"Apa?" Bao Yu memelototinya.
Shen Zhu terkekeh sambil mengedikkan sedikit kepalanya ketika Bao Yu mengulurkan tangan untuk menoyor kepalanya lagi.
"Anak kecil tahu apa?" sembur Bao Yu, akhirnya berhasil menoyor kepala Shen Zhu lagi.
__ADS_1
Shen Zhu mengusap-usap kepalanya sambil cengengesan.
"Kau tak lihat Nyonya Ketua tadi?" Bao Yu mengingatkan. "Perempuan semakin tua semakin mengerikan!"
Shen Zhu tergelak dan terbahak-bahak. Seketika usia aslinya terlihat jelas.
Masa remaja memang masanya penuh ekspresi.
Bao Yu mengerling melalui sudut matanya dan tersenyum samar. Dia yang seperti ini lumayan menyenangkan, pikirnya. Tidak kaku seperti pedang jeleknya yang sudah karatan!
"Para Sicarii sangat setia kawan," Guru Yu memperingatkan, setelah sejenak terdiam. "Jika salah satu dari mereka terbunuh, anggota lainnya akan menuntut balas." Ia menoleh pada Shen Zhu dan menambahkan, "Dengan cara Timur—"
Kau sentuh saudaraku, maka kepalamu akan berada di ujung tombakku! Shen Zhu menimpali dalam hatinya.
"Kau harus berhati-hati!" Bao Yu berhenti dan menepuk sebelah bahu Shen Zhu.
"Aku sudah tahu," sahut Shen Zhu sambil membungkuk dengan kedua tangan tertaut di depan wajah.
"Tenaga pembunuh di organisasi ini ada tiga level," Bao Yu menurunkan tangannya dari bahu Shen Zhu dan berbalik, "Dilihat dari caranya yang terlalu frontal, kelompok yang dikirim untuk menghabisimu seharusnya hanya pembunuh level satu," tuturnya sambil meneruskan langkah.
Shen Zhu menjejeri langkah gurunya sambil menyimak penuturannya. Raut wajahnya berubah dengan cepat. Serius dan sok tua!
"Setiap anggota setidaknya pernah membunuh beberapa anggota militer yang setingkat dengan mereka," Bao Yu menambahkan. "Tenaga pembunuh level satu ini minimal sudah mencapai ranah galaksi tingkat awal dan segala cara yang sangat kejam. Bahkan jika aku terpaksa dihadapkan dengan mereka juga harus sangat berhati-hati. Tak disangka mereka semua mati di tanganmu dalam satu serangan dengan tanpa perlawanan." Sungguh tak bisa dibayangkan! Ia menambahkan dalam hati.
Bao Yu duduk bersila di depan meja rendah lesehan di ruang bacanya, sementara Shen Zhu menyiapkan sepoci teh untuk mereka.
"Dengar!" kata Bao Yu setelah Shen Zhu menaruh nampan di meja, menuangkan teh dan duduk di sampingnya. "Saat Ujian Ksatria nanti… apa pun yang terjadi, jangan pernah gunakan segel dewamu!"
"Hmh!" Shen Zhu mengangguk penuh tekad.
"Di mana pun, jika tidak benar-benar mendesak, jangan pernah mengeluarkannya!" Bao Yu menambahkan.
Shen Zhu mengangguk lagi. Ia baru saja membuka mulutnya, bersiap untuk mengatakan sesuatu ketika pintu geser ruang baca Bao Yu tiba-tiba berderak membuka dan Jialin menerobos masuk dengan ekspresi murka.
"Bocah Tengik!" Jialin berhenti di tengah ruangan dan berkacak pinggang. "Tak disangka binatang kecil sepertimu ternyata begitu licik!" Jialin menudingkan telunjuk ke arah Shen Zhu. "Kau menjebak ibuku!"
"Apa tidak terbalik?" tukas Shen Zhu sambil balas berkacak pinggang. "Ibumu yang menjebakkku!"
"Kau—" Jialin spontan tersulut emosi dan menerjang ke arah Shen Zhu.
"Jialin!" Bao Yu menghardiknya sambil beranjak berdiri, dan seketika angin kencang membuncah dari gerakan tubuhnya.
Jialin tersapu dalam teriakan ketika tubuhnya terlempar ke dinding.
__ADS_1
"Apa kau tak pernah diajari sopan santun?" geram Bao Yu sambil menatap Jialin dengan intensitas tatapan yang bisa mengunci setiap gerakan.