Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
69


__ADS_3

"Selanjutnya, Alkemis Nomor Lima Puluh melawan Penyihir Nomor Tiga-tiga!" Pemandu acara mengumumkan. "Silahkan menuju arena!"


TRAK!


TRAK!


Seorang gadis berpakaian ketat dengan jubah bertudung merah kirmizi melangkah ke tengah arena. Ujung tongkat emasnya yang berkilauan mengetuk-ngetuk lantai, ujung jubahnya terseret di lantai hingga semester lebih ke belakang.


Para penonton pria terperangah dengan mata berbinar-binar.


Kaisar mengerang diam-diam seraya memutar-mutar bola matanya.


Long Yueyan!


Putri tertua Kaisar Jiangnan---negeri di mana Ujian Ksatria ini diselenggarakan.


Kakak perempuan Long Hua Ze.


Cantik, anggun dan glamor. Sebenarnya sedikit terlalu menor. Dan mulutnya tak kalah besar dari adiknya.


Tak lama berselang, seorang pria berusia dua puluh lima tahun melangkah ke tengah arena dari sisi lain.


Pemuda itu mengenakan mantel kulit berwarna hitam mengkilat tanpa lengan dan tanpa pelindung bahu, memperlihatkan dengan jelas otot-otot tangannya yang bertonjolan. Pergelangan tangannya hanya mengenakan gelang kulit yang sama yang hanya membungkus seperempat lengannya. Ikat pinggangnya terbuat dari kulit yang sama.


Yang benar saja? pekik Yueyan dalam hatinya. Otot-otot berkilauan itu bisa dimiliki seorang Alkemis?


"Dia seorang Alkemis?" Jialin terperangah di tempat duduknya. "Kekar sekali," gumamnya bernada heran.


Tiao dan Shen Zhu serempak menoleh ke arah peserta dari aliran alkemis itu dengan dahi berkerut-kerut.


Aneh sekali! pikir Shen Zhu. Kelihatannya Alkemis itu sedikit terlalu brutal.


Para ketua serentak mengerling ke arah pemilik perguruan alkemis.


Pemilik perguruan alkemis itu spontan tergagap-gagap. "I---i---itu faktor pribadi," tukasnya terbata-bata. "Tidak ada hubungannya dengan sekte alkemis!" ia berkilah.


"Karena Alkemis tak bisa menyerang, asal bisa bertahan selama sepuluh menit, maka dianggap menang!" Pemandu acara memberitahu.


Long Yueyan menyeringai di bawah tudung jubahnya. "Nomor Lima Puluh," katanya bernada intimidasi, lembut namun arogan khas kaum bangsawan kelas satu. "Yang berdiri di depanmu sekarang… adalah juara pertama di Babak Penyisihan Aliran Sihir. Genius Nomor Satu di Jiangnan. Penyihir Mulia paling berbakat yang tak terkalahkan dalam sejarah."


Kaisar membeliak sebal.


Long Hua Ze mendengus dengan tampang muak.


"Selain wanita yang paling cantik di Benua Xuang tentunya," Yueyan menambahkan.

__ADS_1


Giliran para wanita sekarang yang membeliak sebal. Beberapa orang bahkan mencebik dan menggerutu.


"Calon Ketua Sekte Alkemis, Pewaris Tahta Jiangnan yang tidak diragukan lagi," cerocos Long Yueyan.


"Pewaris apa?" Hua Ze menggeram di tempat duduknya. "Perhatikan citra dirimu, dasar Rubah Licik Bermulut Besar!" hardiknya sambil beranjak dan hampir menerjang ke tengah arena.


Gouw Anio dan Qianxi segera menyergap lengan pemuda itu di kiri-kanannya dan menahannya dengan kalang kabut.


"Tuan Alkemis yang agak tampan," lanjut Yueyan tidak mempedulikan sekitar. "Bagaimana kalau kau mengaku kalah saja?" bujuknya seraya menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada seperti sikap orang sedang berdoa dan mengerjap-ngerjapkan matanya dengan gaya menggoda.


"Wuaaaaahhhh…!" Tuan Alkemis yang agak tampan itu menanggapinya dengan tatapan berbinar-binar hingga terhuyung saking terpesona. Lalu bertekuk lutut dan mengaku kalah.


Lalu pemandu acara mengumumkan, "Penyihir Nomor Tiga-tiga menang!"


Dan seluruh arena meledak oleh tepuk tangan spektakuler dan jeritan histeris para penggemar Long Yueyan.


Hanya dalam imajinasi Yueyan!


Kenyataannya…


"Mengaku kalah?" Alkemis Nomor Lima Puluh itu melipat kedua tangannya di depan dada. Sebelah alisnya terangkat tinggi. "Di mana harga diriku sebagai Juara Satu Babak Penyisihan Aliran Alkemis?" dengusnya bernada sinis.


Yueyan terhenyak dan terbelalak.


"Memangnya kenapa kalau penyihir?" geram Alkemis Nomor Lima Puluh penuh tekad. Lalu membungkuk dan memukulkan tinjunya ke telapak tangan. "Keluarkan saja semua jurusmu dan terima tinjuku!" teriaknya sambil menerjang ke arah Yueyan.


Refleks Yueyan melontarkan energi cahaya berbentuk kubah dari tongkatnya dan menciptakan manna pelindung.


Alkemis itu mengayunkan tinjunya bersiap memecah sihir pertahanan Yueyan.


"Tu---tu---tunggu, tunggu!" Yueyan mengibas-ngibaskan kedua tangannya di depan wajah. "Tuan Alkemis yang agak tampan," rayunya sekali lagi. "Apa kau tak melihatnya dengan jelas? Aku punya tongkat sihir paling legendaris dalam sejarah. Aku sendiri bahkan belum terlalu pandai mengendalikannya. Kalau tidak berhati-hati… dikhawatirkan bisa melukai wajahmu yang agak tampan."


"Sangat bertele-tele!" hardik Alkemis Nomor Lima Puluh sambil mendaratkan tinjunya di permukaan kubah transparan yang membentengi Yueyan dan seketika manna pelindung itu meledak berkeping-keping. "Kau ingin bertarung atau tidak?" tantangnya sembari menerjang sekali lagi.


Yueyan melejit dan lari terbirit-birit. Mustahil! pikirnya panik. Aku gagal menakut-nakuti alkemis ini. Bahkan kecantikanku tidak berpengaruh apa-apa padanya! Apa dia laki-laki?


Alhasil aksi kejar-kejaran pun terjadi. Arena pertarungan berubah menjadi lintasan balap lari.


Sesekali Yueyan menghambat Alkemis itu dengan menciptakan manna pelindung dengan tingkat kekuatan yang berbeda-beda.


Tapi alkemis itu selalu berhasil memecahkannya hanya dengan tinjunya.


"Apa dia benar-benar Alkemis?" Para penonton terperangah dengan raut wajah kebingungan.


"Sihir tak punya mata!" jerit Yueyan pada Alkemis Nomor Lima Puluh itu. "Aku hanya berusaha menasihatimu, tapi kau malah tidak terima," cerocosnya sambil terus berlari mengelilingi arena, sementara Alkemis itu terus memburunya. "Kalau sampai terjadi apa-apa padamu nanti, kau jangan menyesal!"

__ADS_1


"Omong kosong apa?" sergah Alkemis itu sambil terus berlari mengejar Yueyan. "Sihirmu tak punya mata, tinjuku juga tak punya mata!"


"Kau ini sebenarnya laki-laki atau bukan?" teriak Yueyan sambil mempercepat larinya.


"Jangan lari, Penyihir Genius Nomor Satu Jiangnan yang tak terkalahkan!" ejek Alkemis Nomor Lima Puluh. "Terima tinjuku sekali saja!"


Yueyan menjerit ketakutan. Alkemis gila ini ternyata tak bisa ditakut-takuti dan sangat brutal! katanya dalam hati. Aku harus menjauh darinya!


"Apa sebenarnya yang dia lakukan?" gumam Shen Zhu. "Kenapa dia terus menghindar?"


"Bagaimana bisa yang seperti ini menjadi juara pertama dalam babak penyisihan aliran sihir?" Peserta lain di bangku penonton menggumam dengan sikap mencela.


"Kau pasti mata-mata yang menyamar sebagai alkemis!" teriak Yueyan sambil mengayunkan tongkatnya dan meninggalkan kubah pelindung yang lebih kuat lagi.


Tapi lagi-lagi alkemis itu berhasil meledakkannya dengan tinjunya.


"Masih mau lari sampai kapan?" teriak Alkemis itu. Kemudian melontarkan segumpal api berwarna biru ke arah Yueyan.


Yueyan menjerit lagi, tapi lalu berhasil menghindari serangan itu dengan melentikkan tubuhnya dalam posisi kayang.


Bola api itu membentur dinding pembatas.


Untung saja aku jauh lebih gesit, pikir Yueyan sambil menarik kembali tubuhnya hingga berdiri tegak, kemudian menoleh ke arah Alkemis itu sambil menyeringai. "Kau lihat kecepatanku?" katanya penuh percaya diri.


Alkemis itu menanggapinya dengan balas menyeringai sembari bersedekap.


Yueyan spontan memicingkan matanya dengan curiga.


Bersamaan dengan itu, bola api yang membentur dinding arena memantul dan kembali melesat ke arah Yueyan.


BUUUUM!


Yueyan jatuh terjengkang dengan wajah coreng-moreng oleh jelaga.


Para penonton membekap mulutnya menahan tawa.


Yueyan menarik bangkit tubuhnya dan menggeram. "Tidak boleh menyerang wajah!" rengeknya hampir menangis. "Tak kusangka kau begitu brutal," rutuknya dengan gaya merajuk kekanak-kanakan. Lalu mulai memasang kuda-kuda dan menggerak-gerakkan tongkat dan jemari tangannya di depan wajah.


"Akhirnya mulai terlihat seperti penyihir!" sindir Alkemis Nomor Lima Puluh.


"Biar kutunjukkan kehebatanku," gertak Yueyan.


Sedetik kemudian, sebuah formasi sihir berlapis tercipta di lantai, di sekeliling pinggang dan di atas kepala Yueyan.


Arena mulai berguncang dan bergemuruh.

__ADS_1


Para penonton menahan napas dengan ekspresi tegang.


Aura yang ditebarkan formasi sihir itu terasa mengintimidasi.


__ADS_2