Pusaka Dewa Petaka

Pusaka Dewa Petaka
131


__ADS_3

"Karena tempat ini sudah diketahui pihak Aliansi, cepat atau lambat, tempat ini juga akan berakhir sama seperti keempat sekte," tutur Shen Zhu setelah Yanxi menjelaskan situasinya. "Kalian semua akan dipindahkan ke Benua Jingling!" Ia memutuskan.


Semua orang saling bertukar pandang.


Pembicaraan itu berlangsung cukup lama di aula singgasana ketua.


"Tapi ide kapal pesiar ilegal sepertinya kali ini takkan berhasil," sela Yanxi sebelum Shen Zhu mengatakannya.


Shen Zhu menoleh pada ninja itu dengan tatapan geli. "Aku tak bilang kapal pesiar," sergahnya seraya tersenyum miring. "Kalian, yang tersisa di sini, semuanya adalah ahli beladiri," katanya. "Aku takkan memanjakan kalian!" ia menambahkan dengan ekspresi licik.


"Kau—" Yanxi tergagap dengan raut wajah jengkel.


Seisi ruangan terkekeh menanggapinya.


"Dewa apa kau sebenarnya?" gerutu Yanxi sembari cemberut dan bersedekap.


Shen Zhu tersenyum tipis, kemudian mengedar pandang. "Kali ini hanya bisa mengandalkan tunggangan kalian," katanya pada semua orang.


"Tapi…" seseorang menyela dengan raut wajah muram. "Beberapa tunggangan tak bisa terbang."


"Meski tak bisa terbang, rata-rata binatang spiritual adalah ahli teleportasi," tukas Shen Zhu. "Lagi pula…" ia menggantung kalimatnya dan menoleh pada Xiao Mao. "Dia Dewa Penjaga Harta Karun sekarang," katanya.


Semua mata bergulir ke arah Xiao Mao.


"Dia bisa membuat formasi besar untuk membuka gerbang teleportasi dengan kapasitas setara kapal pesiar," jelas Shen Zhu.


"Entah kenapa aku merasa seperti singa tua ompong mendengar penjelasanmu," gumam Xiao Mao sembari bersedekap dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi tetua di sisi Shen Zhu.


Seisi ruangan terkekeh menanggapinya.


Tak lama kemudian, seorang ninja memasuki aula dengan terburu-buru. "Lapor!" pekiknya seraya menjatuhkan dirinya di lantai, berlutut ke arah singgasana ketua dengan kedua tangan tertaut di depan wajah. "Divisi Prajurit sudah kembali!"


"Bawa kemari Tjia Qianxi dan Li Qinfeng!" perintah Shen Zhu tanpa ekspresi.


"Baik," ninja itu membungkuk sekali lagi, kemudian menarik bangkit tubuhnya dan berbalik. Lalu bergegas keluar aula.


Beberapa saat kemudian, Qianxi dan Qinfeng memasuki aula dengan raut wajah lelah.


"Dewa Zhu! Dewi Lieren!" Qianxi mengerjap dengan wajah semringah. "Kalian sudah kembali?" serunya gembira. Kemudian membungkuk memberikan salam soja, diikuti Qinfeng di belakangnya.


"Bangunlah!" kata Shen Zhu, kemudian mempersilahkan keduanya duduk di deretan bangku Tiao dan kakak-kakak seperguruannya.

__ADS_1


"Apa Kaisar Jiangnan sudah mati?" kelakar Shen Zhu tanpa tertawa.


Seisi ruangan tertawa.


"Dia menarik pasukan setelah lima kekaisaran mengirim bala bantuan untuk pihak Aliansi," jelas Qianxi.


"Ada hal lain," sela Li Qinfeng.


"Katakan!" Shen Zhu mempersilahkan.


"Kota Pangkalan tiba-tiba diserang monster dari Klan Darah," tutur Li Qinfeng. "Bersamaan dengan itu, klan iblis juga menyerbu benteng. Para ksatria yang terikat kontrak dengan Aliansi Ksatria berdatangan dari seluruh benua. Tunggangan spiritual di bumi terancam punah!"


Shen Zhu mendesah dan melipat kedua tangannya di depan dada, kemudian melirik Xiao Mao. Gadis itu balas meliriknya dengan sorot bertanya. "Kau adalah gembala mereka sekarang," Shen Zhu tersenyum nakal sembari menaik-naikkan sebelah alisnya.


Xiao Mao mengerang sembari memutar-mutar bola matanya.


Shen Zhu mengeluarkan seruling pusaka dari cincin penyimpanannya dan mengulurkannya pada Xiao Mao. "Jemput mereka!" perintahnya. "Singa Kecil!" Ia menambahkan setengah menggoda.


Xiao Mao menerima seruling itu dengan raut wajah tak berdaya.


Shen Zhu berpaling pada Yanxi. "Kumpulkan semua orang di pekarangan kuil!" ia menginstruksikan.


Shen Zhu mengakhiri diskusi itu dan menggiring semua orang ke arah kuil, kemudian menuntun Xiao Mao ke atas altar.


Jingwei segera menyisi dan turun dari altar, bergabung bersama Yanxi di bawah tangga.


Shen Zhu melayangkan sebelah tangannya yang memakai cincin penyimpanan ke sekeliling, menyerap semua pusaka yang tertanam dalam lukisan timbul di dinding dan menyimpannya untuk kemudian dipindahkan ke kuil baru di Benua Jingling. Ia menepuk lembut puncak kepala Xiao Mao yang secara otomatis membuat gadis itu mengulum senyumnya dengan tersipu-sipu.


Jialin mengawasi mereka diam-diam, lalu tertunduk dan berpaling dengan sedih.


Shen melangkah turun dari altar, melipat kedua tangannya ke belakang, kemudian berbalik dan berhenti di bawah tangga, di antara Yanxi dan Jingwei, kemudian mendongak memandangi Xiao Mao dengan penuh kelembutan.


Jialin mengerling ke arah Shen Zhu melalui sudut matanya dengan raut wajah terluka. Dia tak pernah sekali pun melirikku, batinnya getir. Di matanya hanya ada si Kucing Kecil itu saja.


Xiao Mao menjejakkan sebelah kakinya dan berputar-putar dengan hanya bertumpu pada ujung jari sebelah kaki sementara kaki lainnya terlipat ke belakang dalam pose yang indah, lalu meniup seruling Shen Zhu.


Sebuah lingkaran sihir tercipta di bawah kakinya dengan pola khas gerbang ilahi milik singa berkepala manusia.


Tubuh Xiao Mao melayang dan berputar-putar dalam tarian ringan dan lembut seperti gerakan khas balet sembari memainkan serulingnya.


Semua mata terpukau oleh keindahannya.

__ADS_1


Di Kota Pangkalan…


Monster-monster spiritual yang sedang gencar-gencarnya mengacau tiba-tiba berhenti bergerak, kepala mereka bergulir serempak ke arah yang sama.


Gunung Zainan!


Monster-monster itu membeku seakan berada dalam pengaruh hipnotis.


Liu Tang menyadari kejanggalan itu dan mengikuti arah pandangan mereka. Ia tidak mendengar suara seruling yang dimainkan Xiao Mao. Tapi ia tahu sesuatu di Gunung Zainan sedang mengalihkan perhatian monster-monster itu.


Lalu secara tiba-tiba dan tanpa peringatan, binatang-binatang itu melesat ke arah yang sama dan meninggalkan Kota Pangkalan tanpa menoleh lagi.


Para ksatria terkesiap melihat tingkah mereka.


"Apa yang terjadi?" gumam beberapa orang. "Kenapa mereka tiba-tiba melarikan diri?"


"Jangan lengah!" teriakan lantang seorang jenderal menyentakkan mereka.


Klan iblis masih menyerang di sana-sini. Tidak terpengaruh seperti kawanan binatang spiritual dari ras dewa.


Para ksatria kembali sibuk.


Gerombolan tunggangan spiritual sudah berada cukup jauh dari Kota Pangkalan, bergerak lurus seperti kawanan semut yang mematuhi perintah dan mengikuti aliran yang sudah ditetapkan, tanpa peduli dengan rintangan.


Tak sampai setengah dupa, gerombolan binatang spiritual itu sudah menembus ranah pelindung dan berkerumun di sekeliling Xiao Mao seperti anak ayam menemukan induknya.


Semua orang terpaksa menyisi untuk memberikan ruang.


Xiao Mao menarik seruling dari mulutnya dan mengendap turun dengan ringan, mendarat di lantai di tengah-tengah ratusan monster bertampang sangar namun mendadak jadi penurut, rebah tengkurap di sekeliling Xiao Mao seperti anak-anak kucing yang kekenyangan.


Semua orang memandang takjub ke arah mereka.


"Ternyata kau memang berbakat menjadi Ibu Monster," goda Shen Zhu seraya tersenyum miring.


"Apa kau belum pernah dicakar monster?" Xiao Mao mendelik pada Shen Zhu sembari cemberut.


Shen Zhu menggigit bibir bawahnya menahan senyum.


Semua orang melirik mereka dengan malu.


"Berangkatlah!" instruksi Shen Zhu kembali memasang wajah serius. "Aku akan menemui Kaisar Jiangnan dan menyanyikan beberapa lagu untuk menghiburnya," ia menambahkan seraya berbalik dan melangkah menjauh dari altar.

__ADS_1


__ADS_2